TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
155


Faris dan Sara sudah memasuki mobil. Faris melajukan mobilnya menuju kantor. Sesekali Faris melirik ke arah Sara yang ada disampingnya, Sara terlihat murung dan sama sekali belum bicara sedari tadi.


"Apa ada yang membuatmu kesal?" tanya Faris memastikan karena Ia tak ingin Sara kesal mengingat Sara sedang sedih saat ini.


"Tidak ada, hanya saja aku malas dengan pria tadi."


"Arga? Kenapa? Apa kau mengenalnya?" tanya Faris.


"Tidak tapi ... Sudahlah jangan dibahas lagi."


"Baiklah baiklah, nikmati harimu dan jangan kesal." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Sara.


Sesampainya dikantor, Sara lebih dulu masuk meninggalkan Faris yang masih harus memarkir mobilnya.


"Apa Sara merasa risi dengan pria tadi?" batin Faris merasa ada yang janggal antara Sara dan Arga apalagi Faris memperhatikan Arga sering menatap Sara sampai tak berkedip, Faris mengira jika Arga tertarik dengan Sara sedangkan Sara tidak.


Faris menggelengkan kepalanya, Ia tak ingin terlalu memikirkan hal ini mengingat setelah ini ada banyak pekerjaan yang menunggunya.


Faris segera masuk menyusul Sara.


"Jadi kau menyukai keponakan Wira?" tanya Herman pada Arga setelah Arga meminta dijodohkan oleh Sara, "Jangan main main Arga, pernikahan tidak semudah yang kau bayangkan dan aku tidak ingin hubungan ku dengan Wira renggang karena kau menyakiti keponakannya!" ucap Herman menegaskan.


"Tidak Ayah, aku serius. Aku tidak bercanda dan tidak main main." kata Arga meyakinkan Herman.


"Bagaimana Ayah bisa percaya jika setiap hari kau masih pergi ke club dan bersenang senang dengan para Gadis disana!" sentak Herman.


"Ayah, aku pergi ke club karena ingin berpesta dengan teman temanku bukan karena bersenang senang dengan gadis. Sungguh aku tidak pernah memainkan seorang gadis." ucap Arga membela diri.


"Jika benar begitu kau harus membuktikan jika kau berubah dan mampu mengurus perusahaan setelah itu aku akan menikahkanmu dengan Gadis itu."


Arga tersenyum lebar, "Ayah sudah berjanji, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa mengurus perusahaan dengan baik, Ayah bisa mempercayaiku." ucap Arga yang langsung diangguki oleh Herman.


Herman beranjak dari duduknya, Ia merasa obrolannya dengan Arga berakhir, "Pulang kerumah, jangan keluyuran!" pinta Herman.


"Siap Ayah."


Herman menggelengkan kepalanya tak percaya melihat perubahan sikap Arga yang begitu penurut hanya karena seorang gadis.


"Mungkin ini jalan satu satunya agar aku bisa mendapatkan putraku kembali." gumam Herman sambil berjalan.


Dulu Arga adalah anak yang baik, penurut dan pintar namun sejak Ibunya meninggal, sikap Arga berubah. Tidak lagi menjadi anak baik bahkan memilih jadi berandal. Sering kabur dari rumah hingga membuat Herman meminta anak buahnya untuk mengejar Arga.


Semalam anak buahnya gagal menemukan Arga namun siapa sangka pagi harinya mereka berhasil menemukan Arga dan menyeretnya kemari.


Herman hanya ingin Arga menjadi penerus perusahaannya namun Arga menolak dan tidak ingin menjadi apapun padahal saat Ibunya masih hidup, Arga sudah setuju akan menjadi pewaris perusahaannya namun kini semua berubah.


"Kita kemana Tuan?" tanya sopir Arga saat Arga memasuki mobil.


"Kerumah Wira, kau masih ingat tempatnya kan?"


Sopir Arga mengangguk, "Tentu saja Tuan."


Mobil segera melaju meninggalkan hotel.


"Tuan muda..." seorang pria yang seumuran dengan Arga memasuki kamar hotel dimana Arga masih berada disana.


"Kau datang Zil." balas Arga menatap Zildan salah satu anak buah Herman yang kini ditunjuk menjadi asisten Arga.


"Sekarang waktunya kita ke kantor Tuan."


Arga menghela nafas panjang, "Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan pria tua itu."


Zil tersenyum, "Itu Ayah Tuan."


"Jangan memulai Zil atau aku ngambek dan tidak mau ke kantor." ancam Arga yang tentu saja membuat Zildan panik.


"Maaf Tuan maafkan saya."


Arga tersenyum lalu melewati Zildan bersiap pergi ke kantor untuk memulai aktifitas yang menyebalkan namun tetap Ia lakukan demi mendapatkan Sara, wanita yang membuat dirinya penasaran karena mampu membuat jantungnya berdegup kencang.


Sesampainya dikantor, Arga disambut meriah oleh karyawan kantornya. Pewaris perusahaan yang masih muda dan juga tampan begitulah mereka menyebut Arga.


"Dimana ruanganku?" tanya Arga pada Zil.


"Silahkan ikuti saya Tuan."


Arga mengikuti langkah kaki Zil sesekali Ia menatap ke sekitar dimana semua mata para gadis menatap penuh puja ke arahnya.


"Silahkan Tuan." ucap Zil membukakan pintu, mempersilahkan Arga masuk.


Arga memasuki ruangan yang cukup besar dan nyaman, ada kamar untuk istirahat jika Ia harus lembur hingga larut.


"Ck, katakan jika aku tidak waras Zil. Bagaimana bisa aku menerima tawaran Ayah." ucap Arga.


"Tidak Tuan, pilihan Anda sudah tepat." balas Zil.


Arga menatap malas Zil, "Tentu saja kau akan mengatakan itu karena kau berada dipihak Ayahku!" omel Arga dan Zil hanya tertawa.


"Jam berapa kita bisa istirahat Zil?" tanya Arga tampak tak sabar.


"Pukul 12 siang Tuan."


Arga menatap arlojinya, "Sekarang baru jam 10, kenapa lama sekali!" omel Arga.


Zil tersenyum, "Tuan bahkan belum memulai bekerja tapi sudah menginginkan istirahat."


"Jangan banyak protes Zil, nanti saat istirahat aku pinjam mobilnya."


Zil menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa Tuan, saya harus mengikuti Tuan kemanapun Tuan pergi."


"Aku tidak akan kabur Zil, apa kau tidak percaya padaku?" tanya Arga ingin menyakinkan Zil namun pria itu mengangguk menandakan jika Ia tak percaya dengan Arga.


"Sial, kau sama menyebalkannya dengan Ayah." omel Zil lagi.


"Kemana Tuan akan pergi, saya akan mengantar Tuan."


"Bahkan jika aku berkencan apa kau juga akan mengikutiku?" tanya Arga.


Zil mengangguk, "Tentu saja Tuan."


"Gila, kau benar benar maniak Zil."


Zil tertawa, "Silahkan mulai bekerja Tuan, saya akan keluar dan jika Tuan membutuhkan sesuatu panggil saja saya Tuan." ucap Zil lalu keluar dari ruangan Arga.


"Sial, aku merasa seperti tawanan yang sedang dipenjara!" omel Arga lagi lalu membanting dokumen yang ada dimeja.


Sementara itu Herman baru saja sampai dirumah Wira dan Ia langsung disambut oleh Wira. Mereka bahkan berpelukan.


"Aku menunggumu karena menantuku bilang jika kau akan datang." ucap Wira setelah keduanya berpelukan.


"Masuklah, kita berbicara didalam." ajak Wira yang langsung diangguki oleh Herman.


Keduanya kini sudah duduk diruang tamu dan Bik Sri segera membuatkan teh hangat untuk keduanya.


"Aku dengar kau koma. Apa sekarang sudah baik baik saja?" tanya Herman terlihat khawatir.


Wira mengangguk, "Seperti yang kau lihat, aku sudah sehat sekarang."


"Menantumu sangat pintar, aku merasa senang bertemu dengannya."


Wira tersenyum, "Ya dia memang membuatku bangga."


"Lalu keponakanmu..."


"Sara maksudmu?"


Herman mengangguk, "Iya, jika boleh aku ingin menjadikan Dia sebagai menantuku."


Sontak Wira terkejut mendengar ucapan Herman.


Bersambung...