TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
238


Melihat Rani sudah dijaga oleh Asih membuat Dylan sedikit tenang karena Dylan juga harus pulang dan merawat Ibunya yang lumpuh dirumah.


Dylan juga sedang ingin menenangkan dirinya karena saat bersama dengan Rani, Dylan jadi mengingat wajah kejam Ibu Rani yang sudah tega membunuh calon bayinya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu murung?" tanya Ibu Dylan saat Dylan baru masuk kerumah.


"Tidak ada apa apa Bu, hanya sedang lelah saja."


Ibu Dylan tersenyum, "Jadi kapan kamu dan Rani akan menikah? Apa sudah di tentukan tanggalnya?" tanya Ibu Dylan seolah tak sabar ingin melihat putra semata wayangnya menikah.


Dylan menggelengkan kepalanya, "Masih belum, kemarin kita tidak bertemu dengan orangtua Rani karena mereka sedang keluar kota jadi kami memutuskan untuk liburan saja." bohong Dylan.


Ibu Dylan kembali tersenyum, "Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja, pasti capek kan?"


Dylan mengangguk, "Apa Ibu sudah makan?"


"Sudah, jasa katering yang kamu carikan selalu datang tepat waktu saat jam makan jadi kamu tidak perlu khawatir."


Dylan kembali mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar.


Semenjak Dylan diangkat menjadi Ceo dicabang perusahaan, Dylan memang sengaja mencari jasa katering untuk Ibunya agar Ibunya bisa makan tepat waktu dan tidak perlu memasak lagi mengingat kondisi Ibunya yang lumpuh dan menggunakan kursi roda.


Kali ini Dylan juga terpaksa membohongi Ibunya perihal hubungannya dengan Rani. Selama ini Ibunya tidak tahu jika hubungannya dengan Rani terhalang restu orangtua Rani. Dylan juga tak ingin memberitahu Ibunya karena tak mau ibunya akan berpikir banyak bahkan mungkin akan sedih jika mengetahui segalanya.


"Maaf, Dylan terpaksa bohong." gumam Dylan lalu berbaring diranjangnya.


Pukul 8 malam...


Dylan bersiap untuk pergi kerumah sakit menggantikan Asih untuk menjaga Rani.


"Dylan mau nginep dikantor, ada banyak kerjaan." ucap Dylan terpaksa kembali membohongi Ibunya.


Ibu Dylan tak merasa curiga karena Dylan memang sering menginap dikantor.


"Kalau lelah istirahat, jangan dipaksa untuk bekerja."


Dylan mengangguk tak lupa mencium punggung tangan Asih sebelum Ia benar benar keluar dari rumah.


Sampai dirumah sakit, Asih, Faris dan Vanes masih berada disana menjaga Rani.


"Kalian pulang saja, Rani biar aku yang menjaga." pinta Dylan merasa tak enak karena sudah merepotkan.


"Tidak, aku akan menjaga Rani disini."


"Tidak perlu Bu, besok pagi Ibu masih harus kesini jadi sebaiknya saya yang jaga disini untuk malam ini." kata Dylan.


Faris langsung setuju dengan ucapan Dylan, "Dylan benar Bu, sebaiknya kita pulang untuk istirahat dirumah karena besok Ibu masih harus menjaga Rani."


Mendengar ucapan putranya, Asih akhirnya mengangguk dan menurut. Mereka pun pulang kerumah dan kini tinggalah Rani dan Dylan yang ada diruangan itu.


Keduanya sama sama diam seolah sedang sibuk dengan pemikiran masing masing.


"Tidurlah." ucap Dylan akhirnya mulai membuka obrolan.


"Aku masih belum mengantuk." balas Rani lalu menatap Dylan, "Apa kau marah padaku?"


Dylan langsung menggelengkan kepalanya, "Bagaimana bisa aku marah padamu."


"Sikapmu dingin sekali sejak semalam." ungkap Rani.


Dylan menatap Rani, "Maaf, aku juga butuh waktu untuk menerima semua ini."


Rani menghela nafas panjang, "Apa kau ingin meninggalkan ku setelah ini?"


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu." ucap Dylan sambil mengelus kepala Rani, "Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Apa kau akan menungguku lagi hingga kita diperbolehkan menikah?" tanya Rani dengan raut wajah penuh harap.


"Tentu saja, aku akan menunggumu sampai orangtuamu merestui hubungan kita."


Rani tersenyum lega, Ia pikir Dylan akan meninggalkannya karena masalah ini namun ternyata tidak, Dylan masih menunggunya.


Rani mengangguk, "Lalu kau tidur dimana?"


"Aku akan tidur disofa setelah kau tidur."


Rani kembali mengangguk dan mulai memejamkan mata.


Dylan menatap wajah polos Rani yang kini sudah terlelap. Meskipun saat ini Ia sangat kecewa namun sedikitpun Dylan tak pernah berniat untuk meninggalkan Rani. Apapun yang terjadi Ia akan selalu menunggu Rani mengingat Dylan sudah mengambil kesucian Rani jadi Ia akan bertanggung jawab sampai akhir.


...****************...


Herman sudah bersiap untuk pergi kerumah Wira. Siang tadi Ia tak bertemu dengan Dik Asih jadi malam ini Ia harus kesana lagi agar bisa bertemu dengan Dik Asih dan juga Ia ingin menanyakan kemana Dik Asih pergi siang tadi.


"Kalian mau kemana?" tanya Herman melihat Sara dan Arga juga berpakaian rapi.


"Ikut Ayah dong, pasti Ayah mau kerumahnya Papa Wira kan?" tebak Arga.


Herman berdecak, "Kalian menganggu saja!"


"Kami nggak akan gangguin Ayah kok, kan kami mau ketemu Papa Wira bukan dik Asih." tambah Sara sambil tertawa geli.


Herman melemparkan kunci mobil kepada Arga, "Ya sudah kalau gitu kamu saja yang nyetir."


"Ngajak Zil aja, biar dia yang nyetir."


"Zil sudah pulang." kata Herman.


Arga berdecak, Ia sedang malas menyetir mobil malah diminta menyetir mobil.


Ketiganya pun berangkat menuju rumah Wira dan sesampainya disana, Herman kembali dibuat kecewa karena Asih masih belum pulang.


"Sebenarnya kemana mereka?" tanya Herman dengan nada kesal pada Wira.


"Aku tidak tahu, nomornya Faris dan Vanes juga tidak bisa dihubungi." balas Wira yang mulai khawatir karena mereka bertiga pergi seharian tanpa memberitahu dirinya apapun.


"Ya sudah ditunggu saja dulu, kalau malam ini tidak pulang, kita meminta orang untuk mencari mereka." Saran dari Arga.


"Kamu benar, sebaiknya kita makan malam dulu saja." pinta Wira.


"Kalian makan saja, aku tidak nafsu makan." ucap Herman lalu duduk disalah satu sofa yang ada disana. Ia merasa tak tenang memikirkan kemana Asih pergi.


"Nggak usah lebay deh Yah, nanti malah sakit kalau nggak makan!" omel Arga.


Herman berdecak lalu menatap Arga kesal, "Kalau kamu lagi diposisi Ayah, ngeliat Sara belum pulang dan nggak tahu pergi kemana, apa kamu masih nafsu makan?"


Arga merangkul istrinya, "Sara tu istri aku Yah, kemanapun Sara pergi pastilah pamit dulu sama aku," ejek Arga.


Sara berdecak, "jangan godain Ayah mas, sudahlah kita makan malam saja." Sara menarik lengan Arga.


"Dasar Ayah bucin!" teriak Arga.


Wira juga ikut menertawakan Herman namun seketika Ia juga kabur, berlari ke meja makan melihat Herman menatap ke arahnya kesal.


Herman berdecak berkali kali diruang tamu sambil sesekali berdiri untuk melihat keluar rumah, berharap Asih segera pulang.


Hampir 1 jam menunggu akhirnya penantian Herman terbayarkan saat mendengar suara mobil diluar rumah.


Herman segera beranjak dari duduknya dan berlari keluar rumah.


Ia tersenyum lebar saat melihat Asih turun dari mobil.


"Om Herman..." Sapa Faris.


"Kalian kemana saja? Om sudah menunggu seharian."


Faris dan Vanes tersenyum geli, "Nungguin siapa nih Om? Aku, mas Faris apa Dik Asih."


Bersambung....