
Faris sedang memanasi motornya, siap untuk berangkat ke kampus. Saat Ia akan melajukan motornya, Ani yang tadi masih berada dirumahnya tampak berlari menghampirinya.
"Mas bareng dong." pinta Ani tanpa menunggu persetujuan dari Faris langsung naik ke motor begitu saja.
"Nggak jalan kaki aja?" Faris belum melajukan motornya.
"Oh jadi nggak boleh naik?" Ani terdengar ketus.
"Bukan gitu Ani, biasanya pagi gini banyak ibu ibu kumpul buat beli sayur nanti kalau lihat kita bisa jadi gosip." ucap Faris.
Ani berdecak lalu turun dari motor Faris, dengan memanyunkan bibirnya Ani berjalan keluar dari pekarangan rumah Faris.
Faris awalnya tak peduli, Ia ingin segera pergi ke kampus namun karena jalannya searah dengan rumah Ani, Faris pun akhirnya tak tega melihat Ani jalan kaki.
"Ya sudah aku anter kamu sampai rumah."
Ani tersenyum mengembang lalu kembali naik ke motor Faris.
"Tapi nggak usah pegangan." pinta Faris saat merasakan tangan Ani melingkar diperutnya.
"Iya deh iya."
Faris melajukan motornya menuju rumah Ani, sepanjang perjalanan semua orang dikampung tampak memandang ke arah mereka. Faris sudah bisa memastikan akan ada gosip yang tersebar setelah ini.
"Masuk dulu mas." pinta Ani saat sudah sampai didepan rumahnya.
"Nggak bisa soalnya aku harus segera ke kampus." tolak Faris membuat Ani memanyunkan bibirnya.
"Eh ada Faris." Suara pak Kades terdengar dibelakang Ani.
Melihat ada Pak Kades, Faris segera mematikan motornya lalu turun dari motor untuk menjabat tangan petinggi dikampungnya itu.
"Kerja dimana sekarang?" tanya Pak Kades sambil menepuk bahu Faris.
"Di universitas pak jadi dosen tapi masih membantu, nanti kalau melanjutkan sekolah lagi ya bisa diangkat jadi Dosen tetap." ungkap Faris.
"Wah bagus dong, kalau libur main kesini Ris." pinta Pak Kades.
"Baik pak, kapan kapan main kesini. Sekarang mau berangkat dulu, takut telat." pamit Faris yang langsung diangguki Pak Kades.
"Hati hati ya mas Faris." teriak Ani yang langsung dibalas senyuman oleh Faris.
Faris kembali melajukan motornya, menyusuri jalanan sambil setengah melamun memikirkan sikap Pak Kades yang mendadak baik dan ramah padanya padahal sebelumnya tidak seperti itu.
Faris ingat saat dulu meminta tanda tangan pak Kades untuk mencairkan beasiswanya, Pak Kades tampak sinis dan bahkan mengucapkan kata kata yang nylekit, "Kalau nggak mampu kuliah, nggak usah pakai gaya pengen kuliah, merepotkan orangtua saja."
Faris benar benar masih ingat kata kata itu. Sangat menyakitkan hatinya, padahal waktu itu orangtuanya saja sanggup membiayai kuliahnya namun orang lain malah mengatainya seperti itu.
"Aneh, apa karena sekarang aku udah kerja trus dia jadi baik sama keluarga aku? Pakai acara nganter kue segala." gerutu Faris.
Sesampainya dikampus, Faris menuju ruangannya, sepanjang koridor semua mahasiswi tampak melirik ke arahnya penuh kagum mengingat dikampus ini, Faris dosen termuda dan juga tampan, tentu banyak mahasiswi yang mencoba menggodanya, ingin menjadi kekasihnya.
"Apa lagi itu." ucap Faris saat melihat ada kotak kecil dimejanya. Hampir setiap hari ada yang kotak hadiah dimeja ruangannya namun tidak ada satupun yang dibuka oleh Faris.
Faris menyimpan hadiah itu dilemari hingga kini lemarinya sudah penuh dengan hadiah.
Faris berdecak, "Bagaimana bisa mereka menyukai pria miskin sepertiku." Faris tersenyum geli lalu menutup lemarinya.
Selesai menyiapkan bahan, Faris pergi ke kelas untuk mulai bekerja hari ini.
...****************...
Mira kembali merasakan kepalanya pusing dan perutnya mual. setelah tahu jika Ia hamil hampir setiap pagi Mira merasakan itu.
"Istirahatlah, biar aku yang handle pekerjaanmu." pinta Nathan sambil menyodorkan teh madu hangat untuk Mira.
"Tidak, aku masih belum mempercayaimu!" ucap Mira.
"Apa yang kau takutkan?" Nathan terlihat kesal karena sejak kemarin Mira tidak membiarkannya membantu.
Mira terdiam, banyak hal yang Ia takutkan saat ini. Jika boleh jujur, Ia merasa puas sudah bisa menghancurkan Rizal namun di sisi lain, Ia juga merasa takut, takut jika karma itu datang lalu menghancurkan dirinya melalui Nathan.
Tidak... Hal seperti itu tidak boleh terjadi, Mira tak akan mempercayai siapapun dengan mudah.
Nathan mengelus punggung Mira, "Istirahat saja, aku bisa menghandle semua pekerjaanmu."
"Tidak! Kubilang tidak!" teriak Mira sambil menatap tajam Nathan.
Nathan terkejut namun sedetik kemudian Ia bisa memahami jika emosi orang hamil kadang memang tidak stabil.
"Baiklah sayang, lakukan apapun yang membuatmu senang, aku ada disana untukmu." kata Nathan menujuk ke arah meja kerjanya.
Mira tak lagi mengatakan apapun, hanya mengangguk lalu mengabaikan Nathan.
Jam makan siang, Mira tak bisa makan apapun karena pasti akan muntah lagi dan lagi. Ia hanya minum jus itupun tertentu, hanya buah mangga dan alpukat saja.
"Aku sudah mengabari orangtuaku jika akan menikahimu jadi kapan orangtua kita akan bertemu?" tanya Nathan selesai makan siang.
"Bertemu?" Mira tampaknya masih belum mengerti dengan arah pembicaraan Nathan.
"Ya bertemu, bukankah kita akan menikah?"
"Kita menikah?"
Nathan terlihat mulai kesal, "Ada apa denganmu? Apa kau tak ingin menikah denganku?"
"Tidak, hanya saja kenapa harus secepat ini."
Nathan berdecak, "Lalu apa kau ingin menunggu bayi kita lahir dulu? Kau tidak malu?"
Mira terdiam, Ia ingat dulu Rizal juga pernah mengatakan hal yang sama, mengajaknya menikah namun ternyata gagal karena Ibu Rizal telah menjodohkan Rizal dengan gadis kaya raya.
Mira takut, hal yang sama akan terulang. Disaat Ia sudah mencintai Nathan, pria itu akan mencampaknnya sama seperti yang dilakukan Rizal sekarang.
"Aku hanya takut." ucap Mira lalu meneteskan air matanya.
"Apa yang kau takutkan?"
"Kau pasti akan membuangku sama seperti yang dilakukan oleh Rizal."
Nathan menghela nafas panjang lalu merengkuh tubuh Mira, "Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan mencintaimu sampai akhir."
"Bohong!"
"Aku bisa membuktikannya."
Mira kembali diam, merasakan rengkuhan Nathan yang masih belum dilepaskan.
"Kita akan menikah dan akan hidup bahagia setelah ini." ucap Nathan melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Mira.
"Lalu bagaimana jika Rizal membalas kita?"
"Tentu saja aku akan melindungimu, percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu."
Mira menatap Nathan, tidak ada kebohongan dari sorot mata Nathan membuat Mira akhirnya percaya.
Dan kini sikap Mira sedikit lebih baik, tidak ketus seperti tadi.
Rencananya sore ini Mira dan Nathan ingin memeriksakan kandungan. Nathan tampak antusias dan senang hingga bibirnya mengulas senyum tanpa henti.
"Kau begitu senangnya?" tanya Mira saat menatap Nathan.
"Ya tentu saja, aku sangat senang." Nathan membuka pintu mobil untuk Mira.
Namun baru saja ingin masuk, suara seseorang menghentikan Mira, "Nathan... Kau harus tanggung jawab!"
Seketika Nathan dan Mira menengok ke arah suara dimana ada seorang wanita muda yang tengah hamil besar.
"Kau harus tanggung jawab, ini anakmu!"
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa