TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
174


Arga masih menikmati ranjang empuknya namun ketenangan Arga diganggu oleh tangan seseorang yang mengguncang tubuhnya.


Arga membuka matanya, melihat Herman berdiri disamping ranjang sambil mengguncang tubuhnya.


"Bangun!" pinta Herman.


"Apa sih yah... Orang lagi weekend juga!" omel Arga lalu kembali tidur.


"Bangun, mandi trus ikut Ayah!" ajak Herman masih terus mengguncang tubuh Arga hingga pria itu kesal dan akhirnya bangun.


"Mau kemana yah?" tanya Arga sambil mengucek matanya.


"Anterin Ayah ke pemancingan."


Arga berdecak, "Ada sopir, ada Zil juga ngapain ngajak Arga!" kesal Arga.


"Nanti kamu bakal lihat cewek cantik." ucap Herman.


Arga kembali berdecak, meski begitu Ia pun segera bangun dan pergi mandi.


Dan benar saja apa yang ayah katakan jika Arga akan bertemu cewek cantik. Saat ini Arga berjalan mendekat ke arah Sara dan Wira. Ia sempat melihat tatapan Sara yang terkejut padahal Ia pun juga terkejut. Awal pertama bertemu Sara, gadis itu memakai pakaian santai, celana jeans panjang dan sweater. Setelah itu Arga bertemu Sara saat dikantor dan selalu memakai setelan kantor namun saat ini Sara berbeda, ya dengan dress floral dan juga rambut yang dicempol tinggi memperlihatkan kecantikan Sara dan juga leher putih mulus milik Sara yang membuat Arga menelan ludahnya.


"Gila nih cewek." batin Arga semakin dekat semakin membuat jantungnya berdegup kencang.


"Papa sama Om Herman mau mancing dulu, kalian kalau bosan pergi jalan jalan saja." ucap Wira langsung merangkul Herman dan membawa pria itu pergi tanpa menunggu jawaban dari Sara.


Arga menatap ke arah Sara begitu juga Sara. Keduanya masih saling diam, belum ada yang memulai pembicaraan hingga akhirnya Arga tak tahan dan memulai bicara lebih dulu, "Disamping pemancingan ada resort, mau kesana?" ajak Arga.


Sara mengangguk, kali ini Ia tak protes seperti biasa.


Awalnya Arga berjalan lebih dulu namun akhirnya Ia menggandeng tangan Sara dan beruntung Sara hanya diam dan menurut.


"Sedikit ada perkembangan." gumam Wira melihat Arga dan Sara pergi bergandengan tangan.


"Yah, aku harap mereka tidak macam macam sebelum pernikahan." Herman membalas gumaman Wira.


Wira tertawa, "Aku percaya dengan mereka, sepertinya tidak mungkin mereka melakukan hal bodoh." ucap Wira.


Herman berdecak, "Anak muda jaman sekarang sulit untuk dipercaya."


Wira kembali tertawa hingga Ia merasa ada yang menarik pancingnya.


"Bravo, rejeki gue hari ini." Wira memamerkan ikan besar yang terjebak di kail pancingnya.


"Setelah ini gue yang bakal dapet." ucap Herman tak mau kalah.


Sementara itu Arga dan Sara berjalan memasuki resort. Banyak pria yang menatap ke arah Sara penuh kagum membuat Arga cemburu.


"Mau makan apa ngopi?" tanya Arga.


"Ngopi aja, aku udah sarapan." balas Sara.


"Oke, duduk disini biar aku pesenin." pinta Arga pergi meninggalkan Sara disalah satu tempat duduk.


Arga baru saja selesai memesan, Ia ingin menghampiri Sara namun melihat ada yang mencoba mendekati Sara.


"Kesini sama siapa?" tanya seorang pria yang duduk didepan Sara namun Sara hanya diam saja tak mengubris pertanyaan Pria nakal itu.


Arga yang geram langsung menyentak pundak pria itu, "Woy, ngapain Lo disini?"


Pria itu menatap Arga aneh, "Siapa Lo?"


"Gue suaminya!"


Pria itu awalnya terkejut lalu melihat ke jari manis Sara, tidak ada cincin yang melingkar disana membuat pria itu tertawa mengejek Arga, "Gila ya Lo, nggak usah ngaku ngaku, mana ada orang nikah ga pake cincin!"


Arga berdecak lalu menatap Sara kesal, "Kenapa cincin nya nggak dipake sih!" ucap Arga memulai dramanya.


"Ketinggalan sayang, kamu sih buru buru." balas Sara yang membuat Arga tersenyum lebar tak menyangka jika Sara mau meladeni dramanya.


Pria yang tadinya duduk itu tampak malu dan segera beranjak dari duduknya, "Gue giben juga Lo!" sentak Arga membuat pria itu berlari.


Kini Arga duduk didepan Sara, menatap Sara kesal, "Lagian kamu juga kenapa sih cuma nganterin mancing aja pakai dandan cantik!" ucap Arga untuk pertama kalinya mengomeli Sara.


"Mana ada dandan sih, orang nggak pake make up." balas Sara malas.


"Bikin apa?"


"Nggak ada, nggak apa apa." ucap Arga yang tadinya ingin mengatakan jika Sara membuat kaum pria ***** namun Ia tak jadi mengatakan itu karena tak ingin menyinggung Sara.


"Nggak usah pakai dicempol gitu, biasanya juga nggak dikuncir." omel Arga lagi.


Sara menghela nafas panjang lalu melepaskan cempolnya, "Puas?"


Arga tersenyum, tak menyangka karena lagi lagi Sara menuruti permintaannya.


"Aneh, kenapa hari ini sikapnya beda banget." batin Arga.


Pelayan resort datang membawa 2 cangkir kopi dan sepiring ote ote.


Arga menyesap kopinya diikuti oleh Sara yang juga menyesap kopinya.


Diam diam Sara memperhatikan Arga namun tanpa disadari oleh Sara, Arga melihat tatapan mata Sara kepadanya.


"Kamu nggak marah?" tanya Sara memberanikan diri.


Arga menatap Sara heran, "Marah kenapa?" Arga balik bertanya sambil mengambil satu buah ote ote untuk Ia nikmati.


"Soal ucapanku semalam, aku minta maaf." ucap Sara dengan raut wajah penuh penyesalan.


Arga tersenyum, "Perasaan memang nggak bisa dipaksa tapi harus diusahakan."


Entah mengapa ucapan Arga membuat Sara tersenyum.


"Kamu udah tahu kan kalau aku ngelamar kamu?" tanya Arga memastikan jika Wira sudah mengatakan pada Sara.


Sara mengangguk, "Sudah tapi aku memang belum bisa menjawab sekarang."


Arga kembali tersenyum, entah mengapa senyuman Arga menbuat Sara merasa tenang. "Mungkin kamu butuh bukti." ucap Arga.


Sara menunduk,


"Kamu pernah terluka dan kamu tidak ingin salah pilih jadi kamu meminta waktu sambil melihat bagaimana perjuangan aku. Apa aku salah?"


Kini Sara tersenyum lalu mengangguk, Ia tak menyangka jika Arga tahu apa yang Ia rasakan dan inginkan.


"Aku curiga." ucap Sara.


"Curiga kenapa?"


"Jangan jangan kamu dukun." kata Sara lalu tertawa.


Arga pun ikut tertawa, "Tumben bercanda biasanya judes."


Seketika tawa Sara terhenti mendengar ucapan Arga. Sara sendiri juga bingung bagaimana bisa Ia mengajak Arga bercanda seperti ini padahal biasanya Ia jarang bercanda dengan siapapun.


Suara ponsel Arga yang ada dimeja berbunyi. tampaknya ada satu pesan masuk.


Arga mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk.


Lagi lagi Arga tersenyum saat menatap layar ponselnya. Sara semakin penasaran siapa yang mengirim pesan hingga membuat Arga tersenyum seperti itu.


"Keliatannya kamu seneng banget." ucap Sara.


Arga mengangguk, "Dari grup temen tongkrongan. Biasalah." ucap Arga kembali meletakan ponselnya.


"Oh dari grup, kirain kalau..."


"Kalau apa?" tanya Arga menatap Sara.


Sara menggelengkan kepalanya, "Nggak apa apa kok."


Arga tersenyum nakal seolah tahu maksud Sara, "Jangan jangan kamu cemburu ya?"


Bersambung....


Jangan lupa lie vote dan komen yaa