
Faris menatap sorot mata Dylan, terlihat banyak hal yang Dylan rasakan saat ini. Sedih, marah, kecewa, Faris tahu, Faris bisa mengerti.
Faris menghela nafas panjang lalu menepuk bahu Dylan. Seharusnya saat ini Ia menghajar habis Dylan karena berani menodai adik sepupunya hingga hamil namun mengingat jika mereka saling mencintai dan lagi perlakuan bulik Siti yang cukup kejam pada Dylan dan Rani membuat Faris berada di pihak Dylan.
"Kamu sudah menyadari kesalahanmu?" tanya Faris yang langsung diangguki oleh Dylan.
"Kalian memang salah tapi bulik lebih keterlaluan, bagaimana bisa Ia berbuat seperti ini." ucap Faris masih tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bulik Siti.
Bagaimana bisa seorang Ibu membunuh cucunya sendiri hanya karena masih belum menginginkan putrinya menikah.
"Apa salahnya jika kami menikah mas? aku juga akan tetap peduli dengan keluarganya dan tetap memberi uang untuk mereka." ucap Dylan dengan bibir bergetar.
"Ada apa ini? Dimana Rani?" suara Asih terdengar mendekat. Asih menatap Dylan heran karena Dylan pulang sendiri, tak bersama Rani.
Dylan menatap Faris seolah meminta izin pada Faris apakah Ia boleh menceritakan pada Asih.
Faris menghela nafas panjang sebelum Ia menepuk nepuk sofa kosong yang ada disampingnya, "Duduk dulu Bu."
Asih ikut duduk disamping Faris, perasaannya tidak enak, Ia merasa telah terjadi sesuatu pada keponakannya.
"Apa yang terjadi dengan Rani?"
Dylan mulai menceritakan dari awal hingga akhir pada Asih membuat wanita paruh baya itu terkejut bukan main hingga telapak tangannya menyentuh dada merasa tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan adik iparnya itu pada putrinya sendiri.
"Apa kau yakin seperti itu Dylan?"
Dylan mengangguk, "Benar Bu, Ibunya Rani bahkan mengakui sendiri jika Ia melakukan itu pada Rani."
Asih menggelengkan kepalanya, seolah masih tak percaya, "Apa yang dipikirkan oleh Siti hingga Ia tega melakukan itu pada Rani."
"Bulik masih ingin memeras uang Rani Bu, tentu saja Ia tak ingin Rani menikah lebih cepat." kata Faris.
"Meskipun begitu tetap saja, tak seharusnya melakukan hal sekejam itu apalagi dengan calon cucunya sendiri." ucap Asih.
Ketiganya sama sama diam, seolah ikut kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Siti.
"Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang. Pasti saat ini Rani membutuhkan kita." kata Asih yang langsung diangguki Dylan.
"Rani harus bedrest selama 1 minggu dirumah sakit, saya tidak bisa selalu menemani karena harus bekerja jadi saya hanya bisa datang saat malam hari." ungkap Dylan.
Asih mengangguk mengerti, "Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Rani untukmu."
Setelah cukup berbicara, ketiganya bersiap untuk pergi kerumah sakit dan ditambah Vanes juga ikut kerumah sakit.
"Faris, Vanes sama Bu Asih pergi mas." ucap Sri pada Wira suaminya.
"Kemana mereka pergi?"
Sri menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu mas, tadi mereka mengobrol dengan Dylan lalu pergi setelahnya."
"Dylan? Bukankah Dylan pulang kampung sana Rani?" heran Wira.
"Tapi Rani tidak terlihat mas, apa mungkin terjadi sesuatu dengan Rani?" tebak Sri.
Wira menghela nafas panjang, "Sudah jangan dipikirkan dulu, kita tunggu saja Mereka pulang lalu tanyakan apa yang terjadi."
Sri mengangguk setuju.
"Tuan ada tamu..." suara Bik Tri terdengar mengetuk pintu kamar Wira dan Sri.
Sri bergegas membuka pintu kamar dan langsung mendapatkan tatapan sinis dari Bik Tri.
"Siapa yang datang?"
"Tuan Herman."
Mendengar nama Herman, Wira beranjak dari ranjang dan bergegas keluar.
"Tuan Herman sudah menunggu ditaman." ucap Bik Tri yang langsung diangguki oleh Wira.
Wira berjalan ke taman belakang dimana sudah ada Herman yang duduk manis disalah satu bangku taman.
"Kenapa rumahmu sepi sekali, dimana semua orang?" tanya Herman.
Wira tersenyum, "Semua orang siapa yang kau maksud?" Wira balik bertanya ditambah dengan bibir menyunggingkan senyum ejekan.
"Sialan, kau tahu siapa yang ku cari!" omel Herman.
Herman kesal lalu mengambil bungkus rokok yang ada dimeja lalu Ia lemparkan hingga tepat mengenai wajah Wira.
"Dia pergi." ucap Wira masih tertawa.
"Pergi kemana?"
"Aku juga tidak tahu, istriku bilang Dia pergi membawa banyak barang."
Herman tampak terkejut, "Apa mungkin dia pulang?"
Wira menggendikan bahunya, "Mungkin saja, lagipula untuk apa dia disini lama lama."
Herman berdecak kesal, "Sialan kau! Aku bertanya serius!"
"Kau pikir aku bercanda?"
Herman kembali berdecak, "jika dia pulang seharusnya dia berpamitan padamu kan?"
Wira mengangguk, "Dia pergi bersama Faris dan Vanes, aku juga tidak tahu pergi kemana."
"Sialan!" umpat Herman yang lagi lagi membuat Wira tertawa, "Mungkin saja dia pergi jalan jalan."
"Ya mungkin saja." balas Wira santai.
Herman masih menatap Wira kesal karena Wira berhasil menggodanya.
"Kira kira kemana mereka pergi?" tanya Herman lagi.
"Mana ku tahu!"
"Jika aku tahu dia akan pergi, aku akan datang lebih awal." ucap Herman terdengar kesal, "Sekarang untuk apa aku kesini jika tidak bisa bertemu dengannya!"
Wira kembali tertawa, "Kau bisa bersamaku, aku akan menemanimu mengobrol hingga mulutmu berbusa."
"Aku bosan melihatmu!" ucap Herman beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Wira.
"Hey mau kemana kau?"
"Pulang, aku akan datang lagi nanti malam."
Wira kembali tertawa, "Dasar menyebalkan!"
Sementara itu...
Faris, Vanes dan Asih baru saja sampai dirumah sakit tempat Rani dirawat.
Dylan segera membawa mereka keruangan rawat Rani.
Saat memasuki ruangan dan melihat keadaan Rani yang terbaring lemas, Asih pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Budhe... Jangan nangis." suara lemah Rani terdengar saat melihat Asih menangis.
Faris segera mendekati Ibunya lalu mengelus punggung Ibunya, "Jangan menangis lagi Bu, kasihan Rani pasti ikut sedih kalau lihat Ibu menangis." bisik Faris yang langsung diangguki oleh Asih.
Vanes mengambil beberapa tisu untuk menyeka air mata Asih.
"Maaf ya... Rani sudah mengecewakan semua orang." ucap Rani masih dengan suara lirih.
Asih mendekat lalu mengelus kepala Rani, "Jangan bicara seperti itu, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Jangan di ulangi lagi ya." kata Asih memberi nasihat untuk Rani.
Rani mengangguk, "Budhe sama Mas Faris nggak marah?" tanya Rani lalu melihat ke arah Dylan yang sama sekali tidak ada luka lebam diwajahnya. Rani pikir jika Dylan mengaku pada keluarganya, Dylan akan dihajar oleh Faris namun sepertinya Dylan terlihat baik baik saja.
"Budhe marah, tapi jika kalian menyesal dan menyadari kesalahan kalian, Budhe bisa mengerti." kata Asih.
"Jangan di ulangi lagi." Tambah Faris.
"Ibu..." Rani baru ingin bercerita namun Asih langsung menggelengkan kepalanya.
"Jangan dibicarakan lagi, Budhe sudah tahu semuanya."
Rani menghela nafas panjang, dadanya kembali terasa sesak jika Ia ingat apa yang sudah dilakukan Ibunya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa