
Vanes terkejut setengah mati saat melihat Faris pulang padahal ini masih siang hari apalagi Faris pulang membawa bucket bunga dan juga coklat untuknya.
"Bagaimana bisa kau pulang disiang hari?"
"Kepala ku pusing Mbak jadi-" Faris tak melanjutkan ucapannya karena Vanes langsung menyentuh dahi Faris seolah khawatir terjadi sesuatu pada Faris.
"Tidak sakit mbak, hanya pusing memikirkan bagaimana caranya agar Mbak Vanes tidak marah lagi jadi aku pikir bunga dan coklat ini bisa membantu." kata Faris dengan senyuman manisnya.
"Jadi kau pulang karena pusing masalah kita bukan pusing sakit?"
Faris tertawa, "Mas Rizal mengira aku sakit jadi memintaku pulang tapi aku sudah membereskan pekerjaanku mbak jadi aman ditinggal." ungkap Faris.
Tanpa disadari Vanes tersenyum, Ia benar benar tak menyangka jika Faris akan melakukan hal gila seperti itu hanya karena ingin maaf darinya.
Faris kembali mengulurkan buket bunga dan coklatnya, "Yang semalam itu namanya Nisa mbak, asisten aku dikantor. Dia baik sama aku jadi aku cuma mau balas kebaikan dia aja. Jangan marah lagi ya mbak." kata Faris.
Vanes kembali tersenyum, menerima bunga dan coklat Faris, "Aku tidak marah, memangnya siapa yang marah."
Faris tersenyum geli melihat tingkah Vanes, Ia gemas dan rasanya ingin mengigit pipi chubby Vanes namun Faris sadar, Ia tidak boleh melakukan hal diluar batas.
"Besok weekend aku mau pulang kampung, Mbak Vanes mau dibeliin apa?" tawar Faris.
"Pulang?" raut wajah Vanes terlihat kecewa.
"Iya mbak, udah kangen Bapak sama Ibu."
"Pulang berapa hari?" tanya Vanes seolah tidak mau ditinggal oleh Faris.
"Mungkin cuma sehari mbak lagian liburnya juga sehari kan?"
Vanes mengangguk lega, hanya sehari tidak perlu khawatir pikir Vanes.
"Dicobain mbak coklatnya." kata Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Makan bareng." ajak Vanes menyodorkan coklat yang sudah Ia buka untuk Faris.
"Enggak, buat mbak Vanes aja." tolak Faris.
Vanes mengambil 1 coklat lalu Ia suapkan untuk Faris, mau tak mau akhirnya Faris menerima suapan coklat dari Vanes.
"Rasanya kayak coklat." celetuk Faris yang langsung membuat Vanes tertawa.
"Tapi manis banget apalagi kalau makannya sama ngeliatin mbak Vanes, bisa diabetes aku." goda Faris yang lagi lagi membuat Vanes tertawa.
"Dasar perayu." kata Vanes.
"Aku kayak gini cuma sama Mbak Vanes aja kok, seriusan deh." Faris mengacungkan 2 jarinya untuk meyakinkan Vanes.
"Ya kan aku nggak tahu, karena aku nggak ikut kamu kencan sama cewek lain." celetuk Vanes lalu memanyunkan bibirnya.
"Seriusan Mbak Vanes, aku nggak ada apa apa sama Nisa." Faris kembali panik membuat Vanes tertawa.
"Aku cuma bercanda." Vanes tertawa.
Faris yang gemas akhirnya mencubit pipi Vanes namun setelah itu Faris malah jadi kikuk dan tak enak.
"Maaf mbak maaf."
Vanes kembali menikmati coklatnya, sesekali Ia menyuapkan pada Faris agar keduanya tak merasa sungkan lagi.
Sementara itu dikantor, Rizal tampak uring uringan apalagi saat Ia mendengar jika besok saat weekend Rizal harus keluar kota untuk menemui kliennya.
"Ada apa denganmu? Bukankah biasanya kau bahagia. Kita bisa pergi keluar kota bersama dan liburan." kata Mira menatap Rizal penuh keheranan.
"Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun."
"Lalu kita batalkan saja kerjasamanya?" tanya Mira.
Mata Rizal langsung melotot, "Apa kau gila? ini proyek besar mana mungkin kita batalkan!"
"Lalu bagaimana mau mu?" Mira terlihat pusing.
"Kau saja yang datang bersama Nathan dan Faris."
Kepala Rizal semakin berdenyut, saat ini Ia ingin masa pendekatan dengan Vanes dan jika Ia pergi tak akan ada waktu untuknya dan Vanes. Bisa bisa sepupunya yang menang banyak karena hanya Farislah yang selalu menemani Vanes jika Ia tidak ada.
Tidak, Rizal tidak akan memberikan kesempatan Faris untuk mendekati Vanes meskipun Rizal percaya jika Faris tidak mungkin mendekati Vanes.
"Nanti aku pikirkan lagi, jika aku bisa, aku akan segera menghubungimu namun jika tidak, batalkan saja kerjasamanya." ucap Rizal.
Mira menatap Rizal dengan mata menahan tangis. Ia benar benar tak menyangka jika pria yang sangat Ia cintai itu sudah berubah. Selama ini Mira banyak berkorban untuk Rizal, Ia rela menjadi selingkuhan dan mendapatkan cibiran dari berbagai pihak termasuk teman temannya sekantor namun kenyataannya yang Ia dapat tidak sesuai dengan yang Ia korbankan.
Mira tak sanggup lagi menatap Rizal karena jika Ia tetap berdiri disini menatap Rizal hatinya terasa sangat sakit.
Mira keluar dari ruangan dan pergi ke rooftop kantor, tempat yang selalu Ia tuju disaat seperti ini karena disana ada Nathan.
Namun saat sampai disana, kosong. Tidak ada Nathan, Mira pikir pria itu sedang sibuk jadi Mira memutuskan untuk berdiri disana sendirian sambil melihat pemandangan kota di siang hari yang panas ini.
Mira dikejutkan dengan tangan yang melingkar dipinggangnya, ada yang memeluknya dari belakang, "Aku melihatmu berlari ke sini jadi aku menyusulmu." suara pemilik tangan yang membuat hati Mira sedikit tenang.
Nathan, ya hanya pria itu yang ada untuknya disaat seperti ini.
Mira berbalik lalu memeluk Nathan. Mira merasa lebih baik saat bersama Nathan.
"Apa dia menyakitimu lagi?" tanya Nathan sambil mengelus kepala Mira penuh sayang.
"Dia sudah banyak berubah."
Nathan tersenyum sinis, "Dia mencampakan istrinya karena dirimu semakin lama dia akan mencampakanmu demi wanita lain. Pria seperti itu tidak akan bertahan lama dengan 1 wanita." kata Nathan membuat tangis Mira pecah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Mira sambil terisak.
"Kau harus melakukan seperti yang kukatakan malam itu." kata Nathan.
"Tapi aku tidak tega melakukan itu."
Nathan berdecak, "Aku yakin sebentar lagi dia akan meninggalkanmu, jika kau tidak percaya lakukan yang ku katakan ini dan kau bisa melihat jika dia sudah tidak mencintaimu lagi."
"Bagaimana caranya?"
Nathan membisikan sesuatu pada Mira dan kali ini sepertinya Mira setuju dengan rencana Nathan.
Jam pulang pun tiba, Rizal bersiap untuk pulang.
"Tidak menginap?" tanya Mira.
Rizal menggeleng, "Aku harus pulang."
"Baiklah, aku juga akan pulang."
Rizal mengangguk dan langsung melewati Mira begitu saja.
Sesampainya dirumah, Rizal langsung menemui Faris karena ingat jika Faris tadi pulang karena sakit.
Rizal membuka kamar Faris dan melihat pria itu tengah mengemasi baju ke dalam tas.
"Mau kemana Ris?"
"Besok libur mas, rencana mau balik kampung."
Rizal tersenyum senang, jika Faris tidak ada dirinya juga bisa pergi tanpa khawatir meninggalkan Vanes.
"Cuma sehari mas, biar nggak bolos kerja."
"Aku kasih kamu 3 hari buat liburan, lagian proyek kamu juga udah selesai kan, nungguin proyek yang baru masih seminggu lagi atau kalau tidak kamu bisa kerja online."
Tentu saja tawaran Rizal membuat Faris senang, "Bener boleh gitu mas?"
"Iya, nikmati liburan kamu Ris." kata Rizal menepuk bahu Faris lalu keluar dari kamar Faris.
Rizal mengambil ponselnya untuk menghubungi Mira dan mengatakan jika Ia bisa pergi besok pagi.
"Sekarang aku tenang meninggalkan Vanes tanpa takut mereka bisa berduaan." ucap Rizal lalu tersenyum lebar.
Bersambung...