TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
183


Bik Sri membuatkan secangkir teh hangat untuk Wira. Ia segera menyodorkan secangkir teh hangat didepan Wira.


Awalnya Bik Sri ingin kembali ke kamar namun entah mengapa Ia malah ikut duduk didepan Wira.


"Tuan belum bisa tidur?" tanya Bik Sri.


Wira menggelengkan kepalanya, "Tadinya aku hanya ingin menunggu Sara pulang."


Bik Sri tersenyum, "Ada yang ingin saya katakan pada Tuan..."


"Bicaralah." ucap Wira usai menyeruput secangkir tehnya.


"Saya hanya ingin mengatakan alasan saya masih belum bisa menerima Tuan." ucap Bik Sri.


"Katakan apa itu."


"Yang pertama mungkin karena status kita berbeda Tuan."


Wira mengangguk, seolah sudah bisa menebak alasan Bik Sri, "Kau takut ada banyak orang yang mungkin akan membicarakanmu?"


Bik Sri mengangguk, "Benar Tuan."


"Lalu apa ada alasan lain?"


"Putra saya mungkin tidak memperbolehkan saya menikah lagi."


Wira menghela nafas panjang, "Apa aku sudah berbicara dengan putramu?"


Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Saat ini memang belum Tuan, hanya saja waktu itu setelah suami saya meninggal, ada yang datang untuk melamar saya dan putra Saya dengan tegas menolak lamaran pria itu." ungkap Bik Sri.


"Waktu itu mungkin putramu memang belum siap menerima Ayah baru. Cobalah berbicara dengannya, mungkin sekarang dia sudah bisa menerima jika kau akan menikah lagi." kata Wira yang langsung diangguki oleh Bik Sri.


"Saya meminta izin cuti untuk pulang kampung Tuan dan saya akan berbicara dengan putra saya." kata Bik Sri yang langsung diangguki oleh Wira.


"Jika dia setuju, ajak dia tinggal disini bersama kita, bukankah dia masih sekolah?"


"Tahun ini dia sudah lulus sekolah menengah ke atas Tuan, saya memang memiliki rencana untuk mendaftarkan kuliah dikota."


"Bagus, begitu lebih baik. hidup akan semakin bahagia saat kita bisa berkumpul dengan anak anak kita." kata Wira.


"Benar Tuan."


"Lalu kapan kau akan pulang?" tanya Wira.


"Besok sore Tuan, saya akan memesan tiket kereta besok pagi setelah pulang dari pasar."


Wira tampak diam sejenak sebelum akhirnya Ia kembali berbicara, "Sebaiknya kau pulang diantar ujang saja."


Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, saya lebih baik naik kereta dari pada diantar sama ujang."


Wira mengerutkan keningnya, "Memang kenapa?"


"Saya takut nanti jadi gosip dikampung halaman saya jika saya pulang diantar mobil."


Seketika tawa Wira membuncah, "Kau terlalu mendengarkan ucapan orang lain."


Bik Sri tersenyum, "Saya memang sedikit sensitif Tuan."


"Ya hati wanita memang berbeda dengan hati pria. Aku harap putramu mengizinkan mu untuk menikah lagi." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Bik Sri.


"Sekarang pergilah tidur." usir Wira.


"Baik Tuan, selamat malam." pamit Bik Sri segera beranjak dari duduknya.


"Ya selamat malam calon istriku." gumam Wira dengan suara sangat pelan, entah Bik Sri mendengar atau tidak.


Wira masih tersenyum melihat punggung Bik Sri yang berjalan ke kamar. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya dan tak menyangka jika hatinya bisa berdebar saat dekat dengan Bik Sri dan lagi Ia sangat menginginkan untuk bisa segera menikahi Bik Sri padahal sebelumnya Ia sudah berjanji pada Vanes jika Ia tak akan menikah lagi dengan siapapun namun kini Wira sudah mengingkari janjinya. Beruntung Vanes memberinya lampu hijau dan restu untuk dirinya menikahi Bik Sri.


Setelah menghabiskan secangkir teh buatan Bik Sri, Wira beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar untuk tidur.


Faris dan Vanes bersiap untuk turun dimeja makan. Vanes sudah mulai kembali aktifitas ke kampus sebelum Ia mengambil cuti untuk melahirkan 7 bulan lagi.


"Rani sudah pulang Bik?" tanya Faris pada Bik Sri melihat Rani tidak ada dimeja makan.


"Sudah Den, tengah malam tadi Neng Rani pulang kesini."


"Mungkin belum bangun mas... biar aku bangunin." ucap Vanes beranjak dari duduknya namun tangannya segera ditahan oleh Faris.


"Biar aku saja, kamu duduk sarapan." ucap Faris yang akhirnya diangguki oleh Rani.


Faris kembali naik ke atas. Ia segera mengetuk pintu kamar Rani namun masih belum mendapatkan respon dari Rani.


Faris iseng membuka pintu dan terbuka karena pintu tidak dikunci.


Faris memasuki kamar Rani dan melihat adiknya itu masih berbaring diranjang.


"Ran... Bangun." suara Faris terdengar lembut dan bisa membuat lelap Rani terusik.


"Mas Faris..." Rani tampak terkejut melihat Faris berdiri disamping ranjangnya.


"Kamu kesiangan, aku kesini buat bangunin kamu." ucap Faris.


Rani menghela nafas panjang, Ia melihat ponselnya sudah hampir pukul 7 pagi, Ia benar benar kesiangan.


"Apa ada masalah Ran?" tanya Faris melihat raut wajah Rani tak bersemangat.


"Ibu masih belum ngasih restu buat aku nikah sama Mas Dylan." curhat Rani, "Apa Ibu pengen aku kayak mbak Rina ya mas?"


"Husss, nggak boleh ngomong gitu Ran." ucap Faris lalu duduk di pinggir ranjang dan menepuk bahu Rani.


"Mungkin Ibu masih belum siap jika kamu menikah mengingat kamu baru beberapa bulan bekerja,"


Rani berdecak, "Padahal jika pun aku menikah, aku juga pasti masih mikirin orang rumah, aku masih transfer uang buat Ibu dan adik adik."


Faris tersenyum lalu menepuk bahu Rani, "Jangan salah paham dan jangan membenci Ibu Ran... Aku pikir wajar saja jika orang tua ingin melihat kita sukses sebelum menikah." kata Faris, "Ayah dan Ibumu sudah bekerja keras agar kamu bisa jadi sarjana dan bisa bekerja diperusahaan yang bagus seperti saat ini dan sekarang mereka ingin setidaknya merasakan uang dari putrinya ini." tambah Faris membuat Rani terdiam memikirkan ucapan Faris yang sedikit masuk akal.


"Ibu meminta jeda waktu 1 tahun untuk menikah mas." kata Rani.


"Nah, itu dikasih restu." ucap Faris.


"Iya tapi kalau 1 tahun terlalu lama mas, aku kasihan sama Mas Dylan karena dia pengennya bisa segera nikah." kata Sara.


Faris tersenyum, "Apa kamu takut kalau Dylan nggak sabar trus ninggalin kamu?" tanya Faris yang langsung diangguki oleh Rani.


"Padahal justru ini satu satunya jalan agar kamu bisa melihat ketulusan Dylan." kata Faris.


Rani menatap Faris tak mengerti, "Maksudnya gimana mas?"


"Kalau Dylan serius sama kamu, cinta sama kamu, tulus sama kamu pasti dia akan nungguin kamu sampai kalian bisa menikah."


Rani kembali terdiam, Ia sama sekali tak berpikir seperti yang dipikirkan oleh Faris.


"Bener nggak nih ucapan mas?" tanya Faris.


Rani tersenyum, "Bener juga sih mas."


"Nah kalau gitu, sekarang jangan kesal lagi sama Ibu. Jangan sampai kita durhaka sama orangtua hanya karena masalah seperti ini. Ingat Rani, seburuk buruknya orangtua, mereka akan selalu menyayanggi dan menjaga kita." nasihat Faris.


Rani kembali tersenyum, "Iya deh mas, nanti aku telepon Ibu buat minta maaf."


Faris ikut tersenyum lalu mengelus kepala Rani, "Buruan mandi dan sarapan karena pasti Dylan sudah menunggu kamu di bawah." pinta Faris yang langsung diangguki oleh Rani.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa