TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
39


Beberapa kali berhubungan dengan Mira, Nathan sengaja membuang benihnya ke dalam rahim Mira karena niatnya sejak awal ingin memiliki Mira dengan cara menjebak Mira.


Jika Mira hamil anaknya tentu saja mereka bisa menikah dan Mira akan menjadi miliknya seutuhnya.


Namun kini Nathan harus kembali merasa kecewa karena Mira tak mengakui dirinya sebagai ayah dari bayi yang dikandung. Lagi lagi nama Rizal lah yang disebut Mira dan dianggap sebagai ayah dari bayi yang dikandung Mira padahal Nathan sudah sangat yakin jika itu anaknya. setiap mereka selesai berhubungan, Nathan tidak membiarkan Mira minum pil penunda kehamilan. Nathan membuang semua pil yang ada diapartemen Mira tanpa sepengetahuan Mira. Memang cara yang licik namun nyatanya bisa membuat Mira hamil.


"Aku yakin ini anaknya Rizal."


"Bukan! Itu anak ku!" akui Nathan tak terima.


"Ada apa denganmu? Kita hanya bermain beberapa kali tak mungkin aku bisa hamil anakmu." Mira masih menyangkal.


"Coba diingat lagi Mira, Setiap kau berhubungan dengan Rizal, kau selalu minum pil penunda kehamilan sementara saat bersamaku, kau tidak minum pil itu." kata Nathan yang akhirnya membuat Mira terdiam.


Mira mencoba mengingat dan sialnya apa yang Nathan ucapkan benar. Terkadang dia dan Nathan melakukan saat dikantor dan Mira tak minum obatnya.


"Sial!" desis Mira.


Nathan tersenyum lega melihat Mira akhirnya sadar "Aku akan bertanggung jawab, kita akan meni-"


"Aku tidak sudi menikah denganmu!" potong Mira.


Nathan menatap Mira tak percaya, "Kita tidak tahu anak siapa yang ku kandung ini tapi aku tak ingin menikah denganmu." kata Mira mantap.


"Kau gila? Lalu kau akan meminta Rizal bertanggung jawab?" protes Mira.


"Tentu saja. Ini akan menjadi kesempatan ku untuk bisa memiliki Rizal seutuhnya." kata Mira sambil tersenyum puas.


Nathan menggelengkan kepalanya tak percaya, Ia emosi saat ini namun berusaha tetap tenang, "Baiklah, kita lihat saja apa Rizal mau bertanggung jawab, meninggalkan istrinya lalu menikahimu." kata Nathan.


Mira kembali tersenyum, "Tentu saja dia akan bertanggung jawab dan menikahiku. Jika itu terjadi, jangan pernah mengangguku lagi!" ucap Mira penuh percaya diri.


"Tapi Aku tidak yakin itu akan terjadi." Nathan tersenyum sinis lalu keluar dari kamar Mira. saat ini Nathan merasa muak dengan Mira jadi memilih pergi.


Sementara itu pagi dirumah Rizal terlihat berbeda dengan pagi sebelumnya.


Rizal tersenyum sumringah saat turun ke dapur dan melihat Vanes sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


Rizal sangat percaya diri jika Vanes kembali menjadi istri terbaiknya.


"Selamat pagi sayang." sapa Rizal ingin memeluk Vanes dari belakang namun beruntung Vanes cepat menghindar.


"Why? Apa aku tidak boleh menyentuh istriku sendiri?" protes Rizal.


Vanes mengangguk, "Aku ingin kau membuktikan semua ucapanmu lebih dulu,"


Rizal berdecak, "Baiklah, jika aku sudah membuktikan padamu, apa aku boleh menyentuhmu?"


"Tidak, kau tidak boleh menyentuhku sampai aku benar benar yakin padamu."


"Hey ini tidak adil!" protes Rizal.


"Bukankah sejak awal kau yang melakukan itu padaku? Aku hanya ingin kau merasakan apa yang kurasakan waktu itu." kata Vanes menatap Rizal sinis.


"Jadi kau ingin balas dendam?"


"Tidak, aku tidak balas dendam. Aku hanya belum siap untuk melakukan apapun tentang kita mengingat sejak pertama kita sudah seperti ini." kata Vanes.


Rizal menghela nafas panjang, "Baiklah baiklah, aku tidak akan melakukan apapun sampai kau mau."


Rizal memilih duduk dan menunggu sarapannya siap untuk dimakan.


2 piring sandwich diletakan dimeja makan. Keduanya pun akhirnya sarapan bersama.


"Hmm enak sekali sayang." puji Rizal ingin membuat Vanes senang padahal Vanes merasa hambar dengan semua pujian yang dilontarkan Rizal untuknya.


"Apa kau ingin liburan? Aku akan mengajukan cuti untuk kita bisa berlibur." kata Rizal saat keduanya selesai makan.


Rizal berdecak, "Jika kau berubah pikiran dan mau pergi katakan padaku."


Vanes hanya mengangguk.


Rizal bersiap untuk berangkat, Ia mengulurkan tangannya agar dicium oleh Vanes setelah itu Rizal berjalan keluar rumah.


"Kalau bosan kau bis datang ke kantor."


Seketika tawa Vanes membuncah, "Untuk apa aku kesana? Untuk melihatmu bersama selingkuhanmu?"


Rizal menghela nafas panjang, "Aku sudah berakhir dengannya, kau bisa datang jika tak percaya." tegas Rizal yang akhirnya diangguki oleh Vanes.


Setelah Rizal memasuki mobil dan pergi, Vanes kembali masuk ke dalam, duduk dimeja makan, melihat ke arah Bik Sri yang tengah membersihkan meja makan.


"Ada apa Non? Kenapa keliatan sedih? Kangen sama Den Faris?" tebak Bik Sri.


"Kenapa rasanya aneh gini ya Bik? Dulu aku pengen Mas Rizal sayang dan perhatian sama aku. Sekarang disaat apa yang ku ingin terkabul, rasanya malah membuat tidak nyaman." curhat Vanes.


"Karena dihati Mbak Vanes sekarang sudah ganti Den Faris jadi rasa bersama Tuan Rizal berubah hambar."


Vanes terdiam, apa yang dikatakan oleh Bik Sri memang benar. Perasaannya dengan Rizal memang sudah hambar, Ia sama sekali tidak berminat kembali mencintai Rizal. Rasanya sudah mantap untuk bercerai dengan Rizal.


"Tapi sekarang Mas Rizal malah minta kesempatan Bik mana pakai ngancam kesehatan Papa lagi." adu Vanes.


Bik Sri tersenyum, "Pria seperti Tuan, jika sudah sekali selingkuh pasti akan mengulang hal yang sama Non."


"Ya aku tahu Bik, aku hanya ingin melihat perubahannya dulu jika dia masih berhubungan dengan wanita itu mungkin aku akan langsung meminta cerai." kata Vanes mantap.


"Lalu bagaimana jika Tuan tidak berubah Non?"


Vanes tertawa, "Sepertinya tidak mungkin Bik."


Akhirnya Bik Sri pun ikut tertawa.


Sementara itu, Rizal baru saja sampai kantor, Ia segera masuk ke dalam melihat jam bekerja dikantornya sudah dimulai.


Rizal sempat berpapasan dengan Nisa, gadis itu memandangnya penuh arti seolah masih tak rela mengetahui Faris dipecat.


"Ada apa dengan tatapanmu? Apa kau merindukan Faris?" tebak Rizal.


Nisa menggelengkan kepalanya, "Tidak pak."


"Jika kau merindukan Faris, cari saja ke kampung halamannya." kata Rizal sambil tertawa lalu pergi meninggalkan Nisa.


Rizal membuka pintu ruangan, melihat Mira sudah berada diruangannya, menatapnya sambil tersenyum.


"Ada apa dengan wajah bahagiamu?" tanya Rizal mengerutkan keningnya.


"Aku ada berita bahagia untukmu." kata Mira langsung memeluk Rizal.


Rizal merasa tak nyaman lalu melepaskan pelukan Mira. "Kabar apa? Saham kita naik? Buyer kita meningkat atau-"


"Bukan sayang, bukan masalah itu."


"Lalu apa?" Rizal semakin penasaran.


Mira mengeluarkan sesuatu disaku bajunya lalu..."Aku hamil." ucap Mira memperlihatkan tespack bergaris dua yang membuat Rizal terkejut sangat terkejut.


"Hamil?"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaa