
Jeritan Tantri terdengar saat tanganya ditahan dan diplintir oleh Ken yang baru saja datang. lagi lagi nyawa Wira diselamatkan oleh Ken. Sebelum Tantri sampai dan menusuk Wira, Ken lebih dulu mencekal tangan Tantri dan memlintirnya, tak peduli jika tangan Tantri patah, Ken benar benar sudah geram dengan wanita tua ini.
Ken melepaskan tangan Tantri setelah mendengar suara Wira, "Sudah, lepaskan saja." pinta Wira yang langsung diangguki oleh Ken.
Tak berapa lama, beberapa anak buah Wira berdatangan untuk menangkap Tantri.
Vanes dan Faris yang khawatir langsung mendekati Wira dan terlihat lega saat tahu Wira baik baik saja.
"Bawa dia kembali ke penjara."
Seketika Tantri histeris, "Tidak, aku tidak mau! Aku harus menyelesaikan acara pemakaman putraku!"
Tak peduli dengan teriakan Tantri, ketiga anak buah Wira langsung menyeret membawa Tantri keluar dari rumah Wira.
Vanes langsung memeluk Wira, "Sudah, tenang. Aku baik baik saja." ucap Wira sambil menepuk bahu Vanes.
Mata Wira dab Faris sempat bertatapan namun hanya sebentar sebelum akhirnya Wira memutus kontak mata lebih dulu.
"Lepas! Lepaskan aku! Aku ingin menemani anak ku!" teriak Tantri memberontak.
Ketiga anak buah Wira tak memperdulikan teriakan Tantri dan terus membawanya masuk ke dalam mobil.
"Brengsek! kalian semua brengsek!" umpat Tantri lalu menangis seperti anak kecil.
"Sepertinya dia kena gangguan jiwa, apa sebaiknya kita bawa kerumah sakit jiwa saja?" bisik salah satu anak buah Wira pada rekannya.
"Bodoh, dia ini psikopat. Bisa bisa dia membunuh dokter yang ada disana."
Sampai dikantor polisi, Tantri kembali dibawa masuk ke selnya.
"Dia sangat membahayakan nyawa Tuan kami, jangan sampai kabur." ucap salah satu anak buah Wira pada polisi yang berjaga.
"Tenang saja, aku akan menjaganya."
Ketiga anak buah Wira akhirnya kembali kerumah Wira setelah berhasil membawa Tantri kembali ke penjara.
Suasana duka semakin nampak saat mayat Rizal masuk ke dalam liang lahat. Tangis Asih dan Slamet pecah kehilangan keponakan yang sangat mereka sayangi itu.
Sesekali Faris menepuk bahu Asih agar ibunya itu lebih tegar lagi.
Selesai acara pemakaman, mereka kembali kerumah Wira.
Wira nampak menghampiri Asih dan Slamet.
"Menginap saja dirumah saya, nanti malam saya berencana mengadakan pengajian untuk Rizal."
Slamet tersenyum, sedikit tak menyangka jika Wira begitu ramah dan baik mengingat Rizal sudah menyakiti Vanes.
"Saya berterima kasih banyak karena Tuan masih mau memperdulikan keponakan saya."
"Tidak masalah, selama ini aku sudah menganggap Rizal sebagai putraku sendiri." kata Wira.
Rencananya Asih dan Slamet ingin segera pulang ke kampung namun karena ada acara pengajian yang diadakan oleh Wira, Asih dan Slamet mengurungkan niat mereka dan setuju menginap dirumah Wira.
Bik Sri, mantan asisten rumah tangga Rizal yang kini bekerja dirumah Wira nampak mempersiapkan kamar untuk Faris dan kedua orangtuanya.
"Apa tidak ada kamar lain?" tanya Asih pada Bik Sri.
"Kamarnya jelek ya?" heran Bik Sri.
Asih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya,"Kamarnya bagus, ini terlalu bagus untuk kami. Apa tidak ada kamar yang biasa saja?" tanya Asih.
Bik Sri tertawa, "Tidak ada mbak, ini kamar yang paling biasa dirumah ini. Kamar yang ada dilantai atas malah lebih bagus lagi."
Asih kembali menggelengkan kepalanya, "Saya disini saja."
"Saya permisi dulu, jika butuh sesuatu jangan sungkan meminta pada saya." kata Bik Sri.
"Terima kasih banyak." ucap Asih sebelum Bik Sri pergi.
Asih dan Slamet memutuskan istirahat sejenak sebelum acara pengajian nanti setelah sholat magrib sementara itu dikamar sebelah ada Faris yang juga sedang istirahat.
Sementara diruangan Wira, ada Ken dan juga Vanes disana.
Semua tamu sudah pulang, Ken berencana memberitahu Wira tentang penyebab kecelakaan Rizal.
"Jadi bagaimana?" tanya Wira tak sabar menunggu Ken bercerita.
Ken sempat memberi kode pada Wira karena ada Vanes disana.
"Ada yang sengaja merusak remnya Tuan."
Wira sedikit terkejut karena selama ini Ia mengira Rizal tidak memiliki banyak musuh seperti dirinya.
"Siapa pelakunya?"
"Nathan."
"Bukankah pria itu..."
Ken mengangguk, "Pria itu kini bersama dengan Mira mantan kekasih Rizal."
Vanes yang ada disana pun ikut terkejut, tak menyangka jika itu bukan kecelakaan biasa namun karena disengaja.
"Nathan cemburu karena Mira masih memikirkan Rizal jadi Ia membunuh Rizal agar Mira tidak lagi mengingat tentang Rizal Tuan."
Wira mengangguk paham, "Lalu apa polisi menyelidiki kasus ini?''
"Iya Tuan, mungkin sebentar lagi mereka akan menangkap Nathan."
Wira menghela nafas panjang, "Tidak ada kejahatan yang abadi."
"Benar Tuan."
Dan ditempat lain, Mira tampak menangis histeris setelah mendengar kabar berita kematian Rizal.
Meskipun Rizal pernah menyakitinya namun tidak sekalipun Mira melupakan tentang Rizal.
Kini Ia memang sudah menikah dengan Nathan namun dihatinya hanya ada Rizal seorang.
"Apa yang kau tangisi?" tanya Nathan saat pulang dari bekerja.
"Rizal meninggal." balas Mira dengan suara serak.
"Ohh, aku juga sudah mendengarnya."
"Aku ingin pergi kesana." pinta Mira.
Nathan menatap Mira tak percaya, "Dia sudah ada didalam kuburan, untuk apa kau kesana?"
Mira kembali menangis, "Aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir kali."
Nathan mengepalkan tangannya, Ia emosi dan ingin marah namun tidak melakukan apapun karena tak ingin menyakiti Mira.
Nathan memilih pergi, membiarkan Mira terus menangis.
Emosi Nathan kembali memuncak, saat Ia kembali dan melihat Mira masih menangis, Nathan menghela nafas panjang, Ia harus bersabar lebih bersabar lagi menghadapi Mira. "Berhentilah menangis dan makanlah, kau belum makan sejak siang." ucap Nathan yang sudah membawakan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
"Tidak, aku tidak mau makan!" ucap Mira lalu kembali menangis.
Pyarrrr ... Nathan memecahkan piring yang Ia bawa, mengejutkan Mira.
"Mau sampai kapan kau akan seperti ini? Pria itu sudah mati!"
Mira menunduk, tak berani menatap Nathan, "Aku tahu, aku hanya sedih. Apa tidak boleh?"
"Jangan menyiksa anak ku! Dia butuh makan sementara kau tidak mau makan."
Mira mendongak menatap Nathan, "Semua salahmu, jika saja aku tak mengandung bayi sialan ini, aku mungkin masih bahagia dengan Rizal."
Plakk... Kesabaran Nathan sudah habis. Ia emosi kembali mendengar umpatan Mira yang menyalahkannya.
"Dasar bodoh, aku mencintaimu sementara pria itu hanya menyakitimu."
Nathan membuka paksa baju Mira, tak peduli dengan Mira yang memberontak dan menangis, Nathan menikmati tubuh Mira untuk mendapatkan ketenangan.
Brak ... Brak... Suara pintu didobrak menganggu aktifitas Nathan.
Nathan mengumpat, memakai kembali celananya dan segera keluar untuk melihat siapa yang sudah berani mendobrak pintu rumahnya.
"Saudara Nathan, ikut kami. Anda ditangkap karena sudah melakukan pembunuhan terhadap saudara Rizal."
Seketika gemetar tubuh Nathan.
Bersambung...
Halo halooo... Cerita ini Insha Allah mau aku bikin panjaaaangg hehe jadi tetep support terusss ya guysss