TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
199


Arga masih diam tertegun ditempatnya, Ia tak bisa berkata kata lagi hanya diam namun merasakan pesona Sara yang sangat menggoda imannya.


Jika saja Arga cabul dan tak peduli dengan perasaan Sara, mungkin Arga sudah membawa gadis itu ke ranjang dan memperkosanya namun Arga sadar, dia bukan pria yang seperti itu.


Arga tak ingin hal pertama yang harus Ia nikmati disaat yang tepat hancur hanya karena Ia tidak bisa melawan hawa nafsunya saat ini.


pintu kamar mandi terbuka, kini Sara sudah memakai pakaian lengkap. Dress selutut dengan motif bunga yang membuatnya terlihat sangat cantik, apalagi rambut Sara yang masih basah dan berantakan membuatnya semakin menggoda.


"Siapa yang membelikan bajunya? Kenapa ukurannya bisa pas?" Heran Sara.


"Zil."


"Gila, anak buah dan atasan sama sama cabul." oceh Sara.


Arga tak mengubris ucapan Sara, Ia mengambil hairdryer lalu memberikan pada Sara, "Keringkan rambutmu, aku tak mau Ayah salah paham jika kau keluar dengan rambut basah."


Sara mengerutkan keningnya tak mengerti, "Salah paham bagaimana?"


Arga tersenyum tengil, "Ayah pasti mengira kita melakukan malam pertama."


Seketika Sara tersedak, "Kau gila?"


Arga tertawa, Ia mengambil handuk bersih di lemari lalu membawanya masuk ke kamar mandi.


"Dia benar benar gila dan cabul!" omel Sara mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


Sara sudah selesai mengeringkan rambutnya, Ia bersiap untuk turun ke bawah namun langkah kakinya terhenti saat pintu kamar mandi terbuka, Ia menyempatkan untuk melihat ke arah Arga.


Sara tertegun, melihat Arga hanya melilitkan handuk di pinggangnya, dada pria itu terbuka dan terlihat sangat seksi. Sara tak menyangka dibalik tubuh Arga yang terlihat biasa namun didalamnya sangat indah dan seksi.


"Kenapa menatapku seperti itu, apa kau terpesona?" tanya Arga dengan tatapan mata tengil.


"Kau terlalu percaya diri." omel Sara lalu keluar dari kamar Arga.


Deg... Deg... Deg ... Jantung Sara mulai berdetak kencang.


"Kenapa akhir akhir ini jantungku sering berdetak kencang? Jangan jangan aku memilik penyakit jantung." gumam Sara lalu menggelengkan kepalanya, "Oh tidak, tidak mungkin."


Sara turun ke bawah dimana sudah ada Herman dimeja makan.


"Arga belum bangun?"


Sara menggelengkan kepalanya, "Sudah Om, baru ganti baju."


Herman berohh ria, "Mulai sekarang jangan panggil Om lah, panggil saja Ayah seperti Arga." pinta Herman.


"Tapi Om..."


"Ayah bener tuh kan sebentar lagi mau jadi menantunya." celetuk Arga yang baru saja datang dan langsung bergabung disamping Sara.


"Udah panggil Ayah saja biar tambah akrab." kata Herman yang langsung diangguki oleh Sara.


"Semalam Wira menelepon, dia bilang kalau kamu sudah menerima lamaran Arga?" tanya Herman ingin memastikan.


"Sudah Om... Eh Yah." Sara masih salah memanggil Herman.


"Kalau begitu jangan lama lama, kalian harus segera menikah." pinta Herman, "Biar nanti Zil yang urus semuanya, kalau bisa kalian menikah minggu depan."


Arga dan Sara sama sama terkejut dengan permintaan Herman.


"Minggu depan Yah? Apa tidak terlalu cepat?" tanya Sara.


"Lebih cepat lebih baik. Jangan menunda lagi."


"Aku sih siap siap aja Yah, mau besok pun aku siap." kata Arga yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Sara.


"Kalau besok terlalu cepat tapi kalau minggu depan kalian memiliki waktu untuk mengurus keperluan pernikahan." kata Herman.


Mau tak mau Sara akhirnya menuruti permintaan Herman.


"Kalau begitu Sara ngikut saja lah Yah."


"Nah gitu dong baru calon istriku." ucap Arga mengelus kepala Sara.


Sara ingin menolak elusan Arga namun melihat Herman menatapnya full senyum membuat Sara tak punya pilihan lain selain diam dan menurut.


"Kita mau kemana?"


"Ada lah pokoknya." balas Arga mulai melajukan mobilnya.


Lagi lagi Sara hanya bisa diam dan pasrah, entah kemana Arga akan mengajaknya pergi.


Mobil yang dikendarai Arga melewati pohon tumbang yang kini sudah diambil dan tidak menghalangi jalan lagi.


Sara berdecak kembali mengingat, gara gara ada pohon tumbang Ia harus menginap dirumah Arga.


Sementara itu dirumah Wira...


Semua orang juga berkumpul untuk sarapan bersama. Raut wajah Wira tampak cerah dan bahagia pagi ini.


"Mau pergi Ran?" tanya Faris pada Rani melihat Rani berpakaian rapi padahal hari ini weekend.


"Iya mas, mau kerumahnya mas Dylan."


Faris mengangguk, Ia tak ingin terlalu mengatur Rani karena Rani sudah dewasa. Ia cukup percaya pada Rani jika Rani bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Tumben Sara belum turun? apa belum bangun ya?" tanya Vanes melihat kursi Sara masih kosong.


"Semalam Sara nginep dirumahnya Arga." kata Wira.


Semua orang terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Wira.


"Papa bolehin?" tanya Vanes.


Wira mengangguk, "Terpaksa, ada pohon tumbang di gang masuk rumahnya Arga dan mobil nggak bisa lewat."


Vanes berdecak.


"Mereka juga sebentar lagi akan menikah, jangan terlalu khawatir." ucap Wira yang akhirnya diangguki oleh Vanes.


"Tapi Papa keliatan seneng banget pagi ini, apa karena itu?" tanya Faris yang sedari tadi memperhatikan Papa mertuanya.


"Bukan karena itu, Papa seneng karena setelah sarapan Papa mau kerumah Sri, Anaknya Sri mau ketemu sama Papa."


"Vanes ikut Pa!" ucap Vanes dengan girangnya.


"Ya sudah kalau kalian mau ikut juga nggak apa apa." kata Wira.


"Putranya Bik Sri sudah memberi restu buat Papa?" tanya Faris memastikan.


Wira menggelengkan kepalanya, "Papa nggak tahu, semalam Bik Sri telepon Papa dan bilang kalau putranya mau ketemu. Ya semoga saja ini kabar baik." ucap Wira penuh harap.


"Ya sudah Pa, kalau begitu Faris sama Vanes ikut menemani Papa ke rumah Bik Sri." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Wira.


Selesai sarapan, semua orang bersiap untuk berangkat ke kampung halaman Bik Sri. Mereka pergi menggunakan mobil yang dikemudikan oleh mang Ujang.


"Perjalanan menggunakan mobil kira kira 5 jam jadi kita sampai disana pukul 1 siang." kata Faris melihat maps dalam ponselnya.


"Papa pasti nggak sabar ya?" goda Vanes.


Wira tersenyum, "Nanti kalau respon putranya Bik Sri baik, Papa mau langsung menikahi Bik Sri." ungkap Wira.


"Udah nggak sabar banget nih Papa." Faris ikut menggoda.


Wira hanya bisa tersenyum menanggapi godaan anak dan menantunya.


Setelah melewati 5 jam perjalanan didalam mobil, akhirnya Wira dan keluarganya sudah sampai didepan rumah sederhana dimana sudah ada Bik Sri yang berdiri didepan pintu dan disamping Bik Sri ada pemuda tampan yang wajahnya mirip dengan Bik Sri.


Melihat Bik Sri, Vanes berlari dan langsung memeluk Bik Sri, "Kangen ... Kapan Bibik balik ke kota?"


Arka terkejut melihat Ibunya dipeluk oleh wanita muda cantik yang Arka tebak wanita itu adalah majikan ibunya.


"Sebaik itukah mereka?" batin Arka.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa