TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
153


Ketiganya memasuki mobil dan Faris segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hening, tidak ada yang berbicara hingga akhirnya Faris yang lebih dulu memulai obrolan.


"Besok ikutlah ke kantor bersamaku." ajak Faris.


"Aku akan memikirkannya lagi."


"Aku harap ada kabar baik untuk besok." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Sara.


Faris, Vanes dan Sara memasuki rumah. Sudah pukul 10 malam dan pasti semua orang sudah tidur lelap dikamar mereka.


Faris dan Vanes memasuki kamar mereka diikuti oleh Sara yang juga masuk ke kamarnya.


Sara duduk dipinggir ranjang, mendadak Ia kembali mengingat Arga, pria yang baru saja Ia temui yang membuatnya kesal hingga saat ini.


"Aku benar benar malu, untuk apa pula aku harus menuruti permintaannya untuk mendesah seperti tadi, dasar menyebalkan!" omel Sara pada dirinya sendiri.


Sara menatap ke arah ranjangnya lalu berdecak, "Ck, aku tidur sendiri lagi!" ucap Sara lalu berbaring diranjang sambil memeluk bonekanya.


Mendadak Sara menjadi ingat dengan Ken dan langsung membuatnya sedih.


"Apa yang mereka lakukan sekarang? Apa mereka sedang bercinta?" gumam Sara sambil menatap langit langit kamarnya.


Dan apa yang dipikirkan Sara nyatanya benar terjadi. Ken baru saja bercinta dengan Alea, membuat gadis itu tersenyum senang karena Ken masih menggunakannya meskipun permainan Ken sangat kasar.


"Menginaplah Tuan." pinta Alea namun tidak digubris oleh Ken.


Pria itu sibuk memakai bajunya kembali lalu pergi begitu saja meninggalkan Alea.


Alea berdecak, "Dia sangat dingin."


Ken keluar dari rumahnya yang ditempati oleh Alea. Ia memilih tidur dihotel dari pada harus tinggal serumah dengan Alea.


Setelah memesan kamar hotel, Ken berbaring diranjang hotel.


Entah mengapa Ken merasa hampa, hasratnya sudah Ia lampiaskan pada Alea namun hatinya terasa kosong dan ada yang kurang.


"Biasanya kita akan bercanda tapi sekarang..." Ken tersenyum kecut mengingat kegagalan hubungannya dengan Sara.


"Kenapa rasanya sedih saat mengingat Sara? Apa aku mulai jatuh cinta padanya sekarang?" gumam Ken kembali tersenyum kecut, "Jatuh cinta setelah aku kehilangannya."


Ken memejamkan matanya, tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi mengingat tentang Sara.


...****************...


Pagi ini Faris berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya karena Ia memiliki janji temu dengan rekan bisnis Wira.


"Aku harap Sara mau bekerja dikantor lagi." kata Faris saat Vanes tengah memasangkan dasinya.


"Ya aku harap juga begitu, aku merasa kasihan jika Ia terus menerus sedih dirumah."


Faris mengangguk setuju, "Kita harus terus berusaha membuat Sara bangkit."


"Benar mas, aku setuju."


Keduanya pun turun kebawah untuk sarapan dan siapa sangka semua orang yang tinggal dirumah itu juga sudah berkumpul untuk sarapan bersama.


"Kau juga berangkat pagi Rani?" tanya Faris yang langsung diangguki oleh Rani.


"Ada data yang harus ku kirim pagi ini mas." balas Rani.


Faris bergantian menatap Sara, "Kau setuju untuk kembali bekerja?"


Sara mengangguk, "Kau bilang banyak anak anak kantor yang merindukan omelanku, aku juga sudah mempersiapkan untuk mengomeli mereka satu persatu." ucap Sara membuat seqqmua orang tergelak.


"Jangan membuat mereka kabur Sara!" Wira terdengar memperingatkan."


"Tentu saja tidak paman, tenang saja aku tidak akan membuat perusahaan Paman bangkrut."


Wira kembali tertawa, "Baiklah baiklah, aku percaya padamu." balas Wira, "Ngomong ngomong apa kau akan bertemu dengan Herman pagi ini Faris?" tanya Wira yang langsung diangguki oleh Faris.


"Iya Pa... kami akan bertemu dihotel yang sudah mereka pesan."


Wira mengangguk, Herman adalah teman baik Wira yang baru saja kembali dari luar negeri bersama keluarganya setelah berpuluh tahun tinggal diluar negeri.


"Herman memiliki anak laki laki, aku rasa dia yang akan mengurus perusahaan Herman."


"Siapapun yang akan meneruskan semoga kita masih bisa bekerja sama dengan baik."


Wira mengangguk setuju, "Katakan padanya untuk datang kesini."


"Baik Pa..."


Selesai makan siang, Vanes dan Sara memasuki mobil Faris untuk segera berangkat ke kantor tapi sebelum itu Faris akan mengantar Vanes ke kampus sedangkan Rani, Ia berangkat dijemput oleh Dylan kekasihnya.


"Seperti hubungan mereka akan serius." ucap Vanes menatap ke arah Rani yang sudah membonceng Dylan.


"Tapi aku tidak yakin jika Rani akan menikah secepat itu." ucap Faris.


"Jangan melarangnya." Vanes mengingatkan.


"Aku tidak melarangnya sayang hanya saja Rani baru saja bekerja dan pasti orangtuanya juga belum setuju jika Rani menikah sekarang."


Vanes menghela nafas panjang, "Aku harap tidak akan menjadi masalah untuk mereka."


Faris mengelus kepala Vanes, "Tidak sayang, tidak akan menjadi masalah apapun."


Ehem... Ehem... Suara deheman Sara terdengar dibangku belakang, "Apa kalian lupa jika masih ada aku disini?"


Faris tertawa, "Tidak, tentu saja kami tidak lupa. Maafkan kami." ucap Faris yang juga disambut gelak tawa Vanes dan Sara hanya memutar bola matanya malas.


Mobil Faris berhenti tepat didepan kampus. Vanes mencium punggung tangan Faris dan kali ini Faris tidak mendaratkan kecupan di kening Vanes untuk menjaga perasaan Sara.


"Sara aku akan turun sekarang, tolong jaga suamiku, jangan biarkan dia diambil oleh teman teman kantormu." ucap Vanes dengan nada bercanda.


"Jangan khawatir, aku pasti akan memasang kedua mataku untuk mengawasi Faris setiap saat." balas Sara.


"Kalian benar benar menakutkan!" ucap Faris.


Setelah Vanes turun, Faris meminta Sara untuk pindah duduk didepan dan Sara menuruti ucapan Faris.


"Kau ikut denganku saja pergi ke hotel."


"Tidak, aku langsung ke kantor saja." tolak Sara.


"Kenapa? Kau juga pemilik perusahaan. Kita harus kompak." pinta Faris tak menyerah.


"Baiklah, terserah kau saja."


Faris tersenyum senang karena Sara mau ikut dengannya untuk menemui Herman.


Keduanya sampai dihotel dan langsung disambut oleh beberapa anak buah Herman.


"Tuan Herman sudah menunggu diruangan." ucap Salah satu anak buah Herman yang langsung diangguki oleh Faris.


Faris dan Sara segera menuju ruangan tempat diadakan pertemuan.


"Saya Faris menantu Pak Wira dan ini Sara keponakan dari mertua Saya. Maaf jika kami datang terlambat." ucap Faris sambil menjabat tangan Herman.


Faris pikir pria yang bernama Herman masih muda namun ternyata Herman seumuran dengan Wira.


"Tidak masalah, aku juga sedang menunggu putraku. Sebentar lagi dia akan datang kesini." ucap Herman.


Ketiganya pun segera duduk dan tak berapa lama ada suara dari luar pintu, "Aku tidak mau masuk, kalian jangan memaksaku." teriaknya hingga suara itu kini sudah berada didalam.


Betapa terkejutnya Sara melihat pria menyebalkan yang semalam menabraknya sedang diseret oleh anak buah Herman.


"Anak nakal!" umpat Herman pada Arga putra semata wayangnya.


Arga tak mengubris ucapan Herman dan malah menatap ke arah Sara, semakin lama tatapan Arga berubah menjadi nakal, "Kau... Kita akhirnya bertemu lagi." ucap Arga.


Baik Herman maupun Faris sama sama menatap ke arah Sara.


Bersambung