
Vanes menutup pintu kamarnya lalu memukuli kepalanya. Ia merasa bodoh karena sudah mengajak Faris melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi.
Faris berusaha menjaganya namun Vanes malah menggodanya bahkan tak tahu malu mengajak Faris melakukan hal yang diharamkan oleh agama dan negara.
Vanes menghela nafas panjang, semua ini terjadi bukan karena Ia bodoh, genit atau murahan.
Vanes sudah menahan ini semua sejak lama.
Sebelum menikah dengan Rizal, Vanes belajar melalui internet tentang cara menyenangkan suami dan melayani suami dengan baik.
Vanes melakukan itu semua karena Ia pikir kehidupan pernikahannya akan berjalan dengan mulus namun siapa sangka ternyata tidak sesuai dengan apa yang Ia harapkan.
Vanes sering menonton video porno bahkan hingga kecanduan, Ia bahkan juga membeli lingerie untuk malam pertamanya dan semua usahanya itu sia sia karena Rizal tak menginginkannya.
Semenjak itu, Vanes hanya bisa menahan dan membayangkan bagaimana rasanya hingga Faris datang dan mengambil ciuman pertamanya membuat Vanes merasakan ingin lebih dari sekedar ciuman bibir.
Vanes merasa beruntung memiliki Faris yang konsisten menjaganya tanpa melakukan hal yang melanggar namun sesekali Ia malu dengan sikapnya yang murahan saat bersama Faris.
"Benar benar bodoh!" umpat Vanes pada dirinya sendiri.
Sementara itu Faris baru saja sampai dirumah. Ia masuk ke dalam dan melihat orangtuanya sudah duduk diruang tamu.
"Pergilah mandi setelah itu Bapak dan Ibu mau bicara." ucap Slamet.
Faris mengangguk dan menuruti ucapan Slamet. Faris sudah bisa menebak jika kedua orangtuanya itu pasti ingin membicarakan tentang Vanes.
Faris berharap ada kabar baik dimana orangtuanya akan memberikan restu untuknya dan Vanes.
Selesai mandi, Faris bergegas duduk bersama orangtuanya yang sudah menunggunya.
Awalnya mereka bertiga masih diam hingga Slamet menyodorkan sebuah amplop coklat besar pada Faris.
"Ini sertifikat salah satu ladang milik kita." ucap Slamet yang langsung membuat Faris terkejut.
"Untuk apa Pak?"
"Jual saja, uangnya bisa kau buat untuk melamar Neng Vanes."
Lagi lagi Faris terkejut, "Bapak dan Ibu merestui kami?"
Slamet dan Asih mengangguk, "Jika Neng Vanes adalah kebahagiaanmu, Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Faris tersenyum lalu tersungkur mencium kaki kedua orangtuanya bergantian.
Tak terasa air mata Faris menetes terharu dengan restu yang diberikan kedua orangtuanya.
"Faris seneng akhirnya Bapak dan Ibu memberikan restu untuk Faris namun sertifikat ini mungkin tidak Faris terima."
Kini giliran Slamet dan Asih yang terkejut, "Kenapa? Apa kurang?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Faris hanya ingin mengumpulkan uang sendiri tanpa merepotkan Bapak dan Ibu."
Asih berdecak tak terima, "Ini juga sudah kewajiban kami sebagai orangtuamu, jadi sebaiknya kau terima saja." pinta Asih.
Sekali lagi Faris menggelengkan kepalanya, Ia tetap kekeh tidak mau menerima sertifikat tanah itu, "Maaf, Faris tetap tidak mau menerima sertifikat ini."
Asih dan Slamet menghela nafas panjang, Mereka tak lagi memaksa karena percuma Faris juga tetap tidak akan menerima.
Asih mengeluarkan kotak beludru dari kantong bajunya, "Kalau ini Ibu harap kamu jangan menolak, ini cincin turun temurun dari nenek kamu, dulu Ibu juga diberikan ini saat akan menikah dengan Bapak kamu dan sekarang kamu bisa memberikan ini untuk Vanes."
Kali ini Faris mengangguk dan langsung menerima kotak beludru berisi cincin permata yang sangat indah itu.
"Ibu yakin ingin memberikan pada Vanes?"
Asih mengangguk, "Jika Neng Vanes adalah wanita yang kau pilih dan kau cintai makan berikan itu padanya."
"Jadi kapan rencana mu ingin melamar Vanes?"
...****************...
Beberapa hari berlalu,
Rizal merasa frustasi karena tidak ada satupun yang berhasil Ia lakukan untuk membunuh Wira.
Pertama, Ia mencoba menyogok salah satu pelayan dirumah Wira untuk memberikan racun pada makanan Wira namun dengan tegas pelayan itu menolak dan gagal lah rencana pertama Rizal. Karena tidak ingin pelayan itu memberitahukan pada Wira tentang niat jahatnya, Rizal mengancam akan membunuh pelayan itu jika sampai mengadukan pada Wira dan itu sudah membuat pelayan Wira ketakutan.
Rencana kedua, Rizal ingin menyelinap dibasement kantor Wira, Ia ingin merusak rem mobil milik Wira agar blong dan terjadi kecelakaan namun lagi lagi gagal karena penjagaaan mobil Wira yang sangat ketat.
Dan sekarang Ia masih memikirkan bagaimana menghancurkan Wira agar Ia bisa kembali dengan Vanes.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Tantri melihat Rizal hanya berbaring disofa rumahnya dan tak bersiap pergi ke kantor padahal ini sudah siang.
"Semua tender gagal membuatku malas pergi ke kantor." balas Rizal.
"Bodoh, jika seperti itu bisa bisa bangkrut perusahaanmu." omel Tantri.
Rizal berdecak, "Berhenti mengomeliku! Mama hanya membuatku semakin pusing."
Mata Tantri melotot tak percaya, "Beraninya kau berbicara seperti itu pada Mama!"
Rizal menghela nafas panjang, "Saat ini aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk membunuh Wira, Jika Mama terus mengomel, kepalaku bisa pecah dan aku tidak akan bisa berpikir lagi!"
Tantri tersenyum sinis, "Kau saja yang bodoh, hanya membunuh pria tua seperti Wira saja tidak bisa. Kali ini Mama yang akan melakukannya sendiri." ucap Tantri dengan tegas membuat Rizal melotot tak percaya.
"Jangan gila Ma, jika Mama tidak hati hati, Mama pasti akan tertangkap karena Wira dijaga ketat oleh pengawalnya!" nasehat Rizal.
"Tunggu saja, Mama tidak akan gagal sepertimu." ucap Tantri dengan senyuman mengejek lalu pergi meninggalkan Rizal.
Tantri berjalan keluar rumahnya, setelah memesan taksi tak berapa lama taksinya datang dan Ia segera masuk.
Tantri sampai dihotel berbintang dimana siang ini akan ada acara pertemuan para Pengusaha dan pejabat negara.
Salah satu pengusaha yang datang adalah Wira.
Tantri tidak ingin menyiakan kesempatan emas ini. jauh hari Ia sudah mendaftar sebagai pelayan dibagian makanan.
Tantri sudah menyiapkan bubuk racun sianida yang rencananya akan Ia berikan pada minuman Wira.
Jam yang ditunggu pun tiba, semua pengusaha dan pejabat negara sudah berdatangan satu persatu termasuk Wira.
Semua orang tampak membawa pengawalnya masing masing untuk perlindungan, takut sewaktu waktu jika ada yang menyerang mengingat mereka adalah orang penting dan pasti memiliki musuh.
Tantri memakai wig serta make up yang tebal agar tidak dikenali, rencananya Tantri sendirilah yang akan memberikan kopi berisi racun pada Wira.
Dan tepat dijam yang sudah ditentukan, Semua pelayan tampak keluar untuk menghidangkan kopi termasuk Tantri.
Dengan senyuman lebar, Tantri meletakan secangkir kopi disamping Wira.
"Terima kasih." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Tantri.
Wira mengangkat cangkir kopi bersiap untuk meminumnya namun dengan cepat Ken merebut cangkir itu.
"Jangan diminum Tuan."
Seketika semua pandagan tertuju pada Ken termasuk Wira yang terlihat tak suka melihat sikap tidak sopan belum pernah Ken lakukan.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn