TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
52


Nathan mengetikan beberapa angka yang menjadi sandi apartemen Mira namun lagi lagi gagal, ini sudah keempat kalinya.


Nathan akhirnya menyerah, Ia terjatuh didepan pintu apartemen karena merasakan tubuhnya lemas dan kepalanya masih pusing akibat pukulan dari orang yang tak dikenalnya itu. Nathan sempat pingsan sebelum akhirnya Ia sadar pergi kesini karena Ia ingin segera bertemu dengan Mira, menjelaskan segalanya.


Nathan merasa saat ini Ia sedang dijebak karena sejak awal Nathan selalu bermain aman dengan para wanita, Nathan bahkan tidak merasa tidur dengan wanita hamil tadi.


Setelah bersama Mira, Nathan tidak pernah meniduri wanita manapun lagi. Hanya Mira, hanya dengan Mira, Nathan memberikan benihnya karena Mira lah wanita yang sudah Ia incar sejak lama.


"Sial, kepalaku berdarah!" umpat Nathan setelah sadar jika kepalanya ada luka hingga membuatnya berdarah.


Nathan kembali berdiri lalu mengedor pintu apartemen Mira, "Buka pintunya!" teriak Nathan.


Hingga tangan Nathan memerah, Mira masih belum membuka pintunya.


Nathan akhirnya kembali duduk didepan pintu, Kini Ia mendial nomor Mira namun lagi lagi tidak mendapat jawaban.


Nathan bahkan mengirimkan voice note, menjelaskan segalanya dan masih tak berhasil karena Mira tak membuka pesannya sama sekali.


"Sial, aku harus masuk. Tapi bagaimana caranya?"


Nathan berpikir sejenak hingga akhirnya Ia memiliki ide.


Nathan pergi ke bagian keamanan, Ia bertemu dengan beberapa orang yang mungkin bisa membantunya.


"Saya mohon, didalam apartemen calon tunangan saya sedang hamil. Pintunya tidak bisa dbuka, saya takut terjadi sesuatu padanya." pinta Nathan pada petugas keamanan itu.


Awalnya petugas keamanan itu tak mempercayai ucapan Nathan namun setelah Nathan memperlihatkan foto dirinya dan Mira akhirnya petugas keamanan itu percaya dan membantu Nathan.


Nathan tersenyum lebar saat pintu terbuka, Ia segera masuk dan tak lupa berterima kasih pada Para petugas yang sudah membantunya.


Kini Nathan sudah berada didalam apartemen Mira, Ia melihat wanita itu meringkuk disofa dan sudah memejamkan matanya.


Nathan mendekati sofa, lalu duduk dilantai agar bisa memandangi wajah cantik Mira.


Terlihat jelas mata sembab Mira yang bisa dipastikan jika wanita itu menangis hingga tertidur.


"Percayalah padaku, ku mohon percaya padaku." gumam Nathan sambil mengelus pipi Mira, membuat Mira akhirnya bangun.


"Apa yang kau lakukan disini?" sentak Mira dengan mata melotot.


Mira segera bangun dan menjauh dari Nathan.


"Kita dijebak, kau harus percaya padaku jika kita sedang dijebak. Aku sama sekali tidak mengenal wanita itu, ku mohon percaya padaku!" pinta Nathan dengan memohon.


Mira tersenyum sinis, "Berapa yang kau butuhkan? Katakan saja. Aku akan memberikan lalu pergilah. Jangan pernah mengangguku lagi!"


Nathan terkejut, tak menyangka dengan ucapan Mira. Selama ini apapun yang dilakukan untuk Mira benar benar tulus bukan tanpa sebab tapi Mira menuduhnya seperti itu.


Nathan sangat kecewa.


"Aku tidak butuh uangmu, aku hanya inginkan kamu dan anak kita."


"Stop! Jangan pernah mengatakan itu lagi. Aku tidak mendengar apapun. Kau sama saja dengan Rizal, hanya ingin memanfaatkan ku!" sentak Mira.


Nathan benar benar emosi dengan ucapan Mira, Ia yang tengah gelap mata pun mencium paksa Mira hingga membuat Mira memberontak dan menjerit ketakutan.


Mira beranjak dari sofa ingin berlari masuk ke kamar namun Nathan mencekal tangannya dan kembali menciumnya.


Mira berhasil melepaskan diri dan menampar pipi Nathan lalu Ia mengambil pisau buah yang tergeletak dimeja dan ditodongkan pada Nathan.


"Pergi! Jika tidak aku akan menusukkan pisau ini ke perutku!" ancam Mira.


"Jangan gila!"


"Aku tidak bercanda! Pergilah dan jangan menemuiku lagi!" ucap Mira.


Nathan menjambak rambutnya frustasi, Ia bahkan menjerit karena terlalu marah.


Jika Mira sampai menusukan pisau ke perutnya, bisa bisa bayi mereka mati, Nathan tidak mau itu terjadi jadi Ia memilih mengalah.


Setelah melihat Nathan pergi, Mira menjatuhkan pisaunya lalu menangis. Ia benar benar takut. Nathan membuatnya takut.


...****************...


Pagi ini Rizal sudah bisa pulang, karena keaadannya sudah membaik hingga dokter menyarankan untuk rawat jalan saja.


"Gara gara kau kecelakaan dan mobilmu rusak kita jadi naik taksi lagi." keluh Tantri mengingat mobil Rizal hancur karena menabrak pohon.


Rizal hanya menghela nafas panjang, Ia sedang malas menanggapi omelan Tantri.


"Jadi kapan kau akan membeli mobil lagi?" tanya Tantri.


"Jika aku sudah mendapatkan kembali perusahaanku."


Tantri berdecak, "Setelah ini jangan bersikap bodoh lagi. Hanya karena wanita kau memberikan segalanya hingga kita kembali miskin seperti ini!"


"Baiklah baiklah, sekarang lebih baik Mama turun karena aku ada urusan." ucap Rizal saat taksi sudah sampai dirumahnya.


"Simpan koper ini dirumah, aku sudah mengambil yang ku butuhkan." ucap Rizal lagi memberikan koper kecil berisi uang.


"Kau mau kemana?" selidik Tantri.


"Mama tidak perlu tahu yang pasti aku sedang berjuang untuk mendapatkan perusahaan ku lagi."


Tantri mengangguk mengerti, "Baiklah, jika urusanmu selesai cepatlah pulang, kau harus banyak istirahat." ucap Tantri lalu keluar dari taksi.


"Ke kafe merak ya pak." pinta Rizal yang langsung diangguki oleh sopir taksi.


Dengan kepala masih diperban, Rizal memasuki kafe itu dimana sudah ada 2 orang yang menunggu kedatangannya.


1 wanita yang tengah hamil dan 1 nya lagi pria yang tak lain adalah suami dari wanita itu.


"Aku tidak puas jika hanya berbicara lewat telepon jadi aku ingin menemui kalian secara langsung." kata Rizal duduk didepan kedua orang itu.


"Tidak apa apa Tuan, kami justru senang." ucap si pria itu.


Setelah mendengar jika perusahaan dikuasai oleh Mira, Rizal memang mencari tahu segalanya melalui pria yang ada didepannya itu.


Rizal mendapatkan informasi dari pria itu jika Mira berselingkuh dengan Nathan salah satu manager di perusahaannya.


Rizal tentu saja marah setelah mendengar pengkhianatan Mira. Meskipun Ia sudah tak memiliki perasaan dengan Mira tapi tetap saja Mira tak boleh mengkhianati dirinya seperti ini.


Rizal akhirnya membuat rencana untuk menghancurkan kepercayaan Mira pada Nathan melalui wanita hamil istri dari orang suruhannya itu.


Ia kini bisa tersenyum puas mendengar Mira bertengkar dengan Nathan karena dengan itu Rizal bisa membalas perbuatan Mira dan merebut lagi perusahaannya.


"Kalian bekerja dengan sangat baik, ini uang untuk kalian. Sesuai dengan yang sudah ku janjikan. 20 juta." ucap Rizal mengulurkan amplop coklat berisi uang yang sangat tebal.


Pasutri itu langsung tersenyum girang mendapatkan uang sebanyak itu.


"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak." ucap Pria itu.


Rizal mengangguk lalu beranjak dari duduknya, "Aku akan menghubungimu jika membutuhkan sesuatu lagi."


Bersambung.


Jangan lupa like vote dan komeenn.


Buat yg nanyain part Faris sama Vanes sabar dulu ya gaesss.. Karena aku maunya pelan2 nggak buru2 ...


semoga kalian gak bosen sama ceritanya..


Tencuuuu♡