
Pagi pagi sekali Vanes diantar Faris pergi ke makam Mama Vanes.
Meskipun sudah lama Vanes tidak ke makam namun Makam Mama Vanes terlihat bersih dan terawat.
"Dulu sewaktu ada Mama, Papa sering mengajak kami liburan tapi setelah Mama meninggal Papa sama sekali belum pernah mengajak ku pergi berlibur." cerita Vanes sambil tersenyum nanar.
"Papa menjadi pendiam dan tidak banyak bercanda seperti saat masih ada Mama."
"Kau pasti sedih?"
Vanes mengangguk, "Aku sedih sekali dan sempat marah karena Mama pergi, semua jadi terasa hampa."
Faris mengelus bahu Vanes, Ia tak pandai menghibur seorang wanita jadi memilih menjadi pendengar yang baik.
Setelah membacakan doa, Faris dan Vanes bergegas pulang kerumah.
"Rasanya lega sekali ,setelah sekian lama akhirnya aku datang lagi kesini." ucap Vanes saat sudah berada didalam mobil.
"Pasti rasanya tambah senang karena kau datang bersamaku." celetuk Faris penuh percaya diri.
Vanes tertawa, "Kau sangat percaya diri."
Faris ikut tertawa, "Ya aku memang seperti ini.''
Sementara itu, Asih dan Slamet pergi ke kantor polisi dimana Tantri berada disana.
Sebelum pulang ke kampung, Asih ingin menyempatkan datang menjenguk Kakak satu satunya itu.
Diterima atau tidak, Asih sudah mempersiapkan hatinya agar tidak kecewa.
"Dia tidak mau bertemu dengan siapapun." kata Polisi yang berjaga.
"Semalam dia diberitahu kalau putranya tewas dibunuh suami selingkuhannya dan shock setelah itu dia ingin menyendiri." jelas polisi itu.
Asih menghela nafas panjang, Ia tak mungkin memaksa jika Tantri saja tidak mau bertemu. Asih dan Slamet akhirnya memutuskan untuk kembali kerumah Wira.
"Jadi Budhe tidak mau bertemu Bu?" tanya Faris yang kini berada dikamar yang ditinggali Asih dan Slamet.
"Ya, Budhe shock karena ternyata Rizal dibunuh sama suami dari selingkuhannya, apa kamu kenal dia siapa?"
Faris tampak mengingat sebelum akhirnya Ia mengangguk, "Nathan, apa mungkin dia?" tebak Faris.
"Entahlah, Ibu juga tidak tahu, polisi tidak menyebutkan namanya."
Faris mengangguk paham, "Kita pulang sekarang?"
"Ya, tidak enak jika menumpang dirumah orang terlalu lama."kata Slamet.
Pukul 10 siang, Faris, Asih dan Slamet berpamitan pada Wira untuk pulang, "Terima kasih banyak atas bantuannya sudah mengurus pemakaman keponakan kami." ucap Slamet pada Wira.
"Tidak masalah, Rizal juga sudah ku anggap putraku sendiri."
"Maaf atas perlakuan Kakak saya yang kurang menyenangkan." kata Asih mewakilkan Tantri.
Wira tersenyum, "Saya paham, saya tidak akan mempermasalahkannya lagi. Sebagai keluarga kita harus lebih peduli dengan kesehatan mental Tantri."
Asih dan Slamet mengangguk setuju.
Setelah berbicara cukup lama, Asih dan Slamet memasuki mobil bersama Faris dan Vanes yang ikut pulang ke kampung.
"Aku pikir kau masih ingin berada disini." kata Faris pada Vanes yang kini duduk disampingnya.
"Aku harus kuliah besok jadi aku ikut pulang sekarang."
Faris menahan senyumnya, terlihat seperti mengejek, "Alasan saja."
Vanes tertawa, "Memang benar begitu, aku tidak alasan."
"Baiklah baiklah."
Tanpa keduanya sadari, Slamet dan Asih yang duduk dikursi belakang tersenyum melihat keakuran Faris dan Vanes.
Selama ini Faris memang tidak pernah membawa pulang wanita, Ia hanya fokus belajar, belajar dan belajar hingga kini Slamet dan Asih bisa ikut merasakan betapa bahagianya Faris setelah mengenal Vanes.
Setelah mengantar Vanes sampai kos, mobil melaju menuju rumah Faris.
Semua tetangga yang melihat keluarga Faris pulang dengan naik mobil pun menjadi heboh. Ada yang ikut senang ada pula yang mencibirnya karena iri.
Sopir Wira langsung pulang setelah mengantar keluarga Faris.
"Saudara kok Bu." balas Asih, Faris dan Slamet masuk lebih dulu karena enggan berurusan dengan para tetangga julidnya itu.
"Lah punya saudara toh, emang habis dari mana?"
"Dari melayat bu ibu, keponakan saya meninggal." balas Asih jujur.
"Keponakan yang tinggal dikota itu?"
Asih mengangguk.
"Duh kasihan, udah nggak dapet transferan lagi dong." cibir salah satu tetangga yang seketika membuat hati Asih berdenyut nyeri.
Asih ingat, dulu sebelum Faris memiliki buku rekening sendiri, Asih menitip transferan Rizal di rekening tetangganya. Semenjak saat itu, tetangga Asih menganggap Asih sering mendapatkan transferan padahal waktu itu Rizal tidak memberikan uang secara cuma cuma tetapi Asih meminjamnya.
Dan Asih mengembalikan uang Rizal saat Faris sudah memiliki buku rekening sendiri jadi tidak ada yang tahu akan pinjaman uang itu.
Karena tak ingin banyak berkomentar, Asih memutuskan untuk tersenyum dan langsung masuk kerumah tanpa memperdulikan panggilan dari tetangganya yang masih ingin mengulik kehidupannya.
"Pasti pada ngomong macem macem sama Ibu." tebak Faris saat melihat raut wajah Asih yang berbeda.
"Ibu nggak pikirin omongan mereka."
Faris berdecak, "Pada usil banget sih sama keluarga kita!" omel Faris.
Asih tersenyum, "Pak Wira ternyata orang yang baik ya?"
Faris mengangguk lalu duduk disamping Ibunya, "Ya, Pak Wira sangat rendah hati."
Asih dan Faris diam cukup lama, keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing masing.
"Pak Wira minta Faris buat nikahi Vanes, menurut Ibu gimana?'"
"Ya sudah nikahi saja." jawab Slamet yang baru saja datang dan mendengar ucapan Faris.
"Ibu gimana?" tanya Faris masih ingin mendengar jawaban Ibunya.
"Kalau Ibu terserah kamu karena kamu yang akan menjalani, Ibu hanya bisa merestui."
"Jadi Ibu setuju?" tanya Faris sekali lagi.
Asih mengangguk membuat Faris tersenyum lebar.
"Mau melamar Neng Vanes kapan?" tanya Slamet yang langsung memudarkan senyum Faris.
"Belum tahu pak, Faris saja belum punya tabungan sama sekali."
Asih tersenyum, "Ibu punya lahan kosong kalau-"
"Nggak Bu, Faris nggak mau jual apapun. Faris mau berusaha sendiri ngumpulin uang buat nikahi Vanes."
"Padahal Ibu belum selesai ngomongnya tapi udah dipotong aja." cibir Asih , "Maksud ibu, lahan itu bisa kamu gunakan buat usaha sampingan, biar uang kamu cepet ngumpulnya." kata Asih yang akhirnya membuat Faris tersenyum.
"Lahan yang mana Bu?"
"Itu dekat jalan baru. Kan ramai. Coba kamu bikin usaha apa gitu siapa tahu memang rejekimu dan bisa buat modal nikah." kata Asih.
Faris akhirnya mengangguk, "Nanti Faris pikirin lagi ya Bu."
Dan semalaman Faris tidak bisa tidur karena memikirkan usaha apa yang akan Ia jalankan.
"Akhirnya..." gumam Faris setelah mendapatkan ide usaha yang akan Ia jalankan, Faris baru bisa tidur setelahnya.
Pagi pagi sekali, Faris sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan ide usahanya.
"Ibu pikir kamu belum bangun ternyata kamu sudah dari luar dan bawa apa itu?" tanya Asih melihat Faris membawa kantong plastik.
"Adonan bakso Bu, Faris sudah nemu ide usaha."
"Mau jualan bakso?"
Faris mengangguk, "Bakso bakar, kan disini belum ada yang jualan bakso bakar." ucap Faris sambil tersenyum penuh harap.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa