
Rani... Mendengar nama Rani, Ken merasa tak asing dengan nama itu hingga akhirnya Ia ingat jika Rani adalah gadis kampung sepupu Faris yang datang dipernikahan Faris dan Vanes waktu itu.
"Dia lulusan akuntansi terbaik dikampusnya, kau boleh menolak jika tidak setuju." kata Faris seolah tak ingin memaksa Sara karena meski dirinya sudah menjadi direktur tetap saja Faris harus menampung saran dari orang lain dan tidak melakukan apapun sesuka hatinya.
"Tidak masalah, kita bisa mencobanya." ucap Sara tanpa keraguan, "Bagaimana menurutmu mas?" tanya Sara pada Ken.
"Siapapun itu asal bisa bekerja denganku, aku sama sekali tidak masalah." kata Ken.
"Baiklah jika seperti ini, minta adikmu itu datang ke kota agar bisa segera bekerja."
Faris mengangguk, "Nanti aku akan menghubunginya."
"Untuk sementara biarkan Rani tinggal disini mas, lagipula banyak kamar yang kosong." pinta Vanes.
"Aku juga berpikir begitu karena aku khawatir dengan keamanannya jika dia tinggal sendiri kosan." kata Faris, "Terima kasih sayang sudah mau mengerti dan mengizinkan Rani tinggal disini."
Vanes mengangguk, "Sama sekali tidak masalah mas,"
Setelah sarapan selesai, Faris segera mengantar Vanes ke kampus.
"Apa hari ini Mas pulang malam lagi?" tanya Vanes pada Faris.
"Aku belum tahu sayang, ada apa? apa kau menginginkan sesuatu?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku hanya bertanya mas."
Sesampainya didepan kampus, Vanes bersiap untuk turun dari mobil. Sebelum turun Vanes tak lupa mencium punggung tangan Faris.
"Jika nanti siang ada waktu luang, aku akan menjemputmu." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Vanes keluar dari mobil, menunggu mobil Faris melaju meninggalkan Vanes.
Setelah mobil Faris tak terlihat lagi, Vanes tak masuk ke gedung kampus melainkan berbalik, berjalan menuju halte bus.
Disana Vanes memesan taksi online untuk pergi kerumah sakit.
Vanes berencana memeriksa rahimnya karena sudah hampir 4 bulan dirinya menikah dengan Faris namun tak kunjung hamil.
Awalnya Vanes ingin mengajak Faris namun karena kesibukan Faris membuat Vanes berinisiatif pergi kerumah sakit sendiri.
"Pasien Dokter Chan." panggil Suster setelah Vanes menunggu hampir 1 jam lamanya.
Vanes segera masuk keruangan Dokter Chan, disana Ia langsung disambut senyuman manis Dokter Chan.
"Anda masih terlihat muda, apa keluhannya?" tanya Dokter Chan yang termasuk dokter obgyn terbaik dirumah sakit itu.
"Saya sudah menikah hampir 4 bulan dok tapi kenapa tak kunjung hamil."
Dokter Chan tersenyum, "Jika masalahnya seperti itu seharusnya anda datang membawa suami anda untuk diperiksa bersama jadi kita bisa melihat siapa yang tidak sehat sehingga menyebabkan tak kunjung hamil." kata Dokter Chan.
"Bagaimana kalau saya diperiksa lebih dulu dok? Jika hasilnya baik saya akan membawa suami saya untuk periksa."
Dokter Chan mengangguk, "Begitu juga tidak masalah, kalau begitu mari kita mulai pemeriksaan." ajak Dokter Chan.
Vanes mengikuti langkah kaki Dokter Chan menuju ruang pemeriksaan. Dengan dibantu beberapa perawat, pemeriksaan pun dimulai.
Awalnya Vanes pikir pemeriksaan tidak akan lama. Ia sengaja membolos 1 kelasnya untuk periksa dan akan kembali lagi ke kampus namun ternyata ada banyak pemeriksaan lain yang membuat Vanes akhirnya tidak bisa pergi ke kampus.
pukul 11 semua pemeriksaan sudah selesai namun Vanes masih harus menunggu hasil pemeriksaan lagi dan membutuhkan waktu hampir 2 jam lamanya.
"Semua baik baik saja, rahim mu sehat dan tidak ada masalah." kata Dokter Chan setelah hasil pemeriksaan selesai.
"Kalau begitu apa mungkin suami saya yang bermasalah Dok?"
"Kemungkinan karena kualitas ****** yang tidak baik atau mungkin karena memang mandul. Kalau bisa segera bawa suami anda kesini agar kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut." kata Dokter Chan yang akhirnya diangguki oleh Vanes.
"Baik Dok, terima kasih banyak."
Vanes keluar dari ruangan Dokter Chan membawa hasil pemeriksaannya.
Ia berniat pulang kerumah karena sudah sangat terlambat untuk pergi ke kampus dan semua kelasnya pun juga sudah habis.
Sebelum keluar dari rumah sakit, Vanes duduk sejenak dikafetaria untuk minum dan istirahat disana.
Ia menyalakan ponsel yang sedari tadi Ia matikan dan ternyata ada banyak pesan serta panggilan dari Faris.
Apa belum pulang?
Aku menunggumu sayang.
Waktu istirahat ku hampir habis, apa kamu belum pulang?
Aku kembali ke kantor sekarang jika memang belum pulang.
Pesan terakhir yang baru dikirim 2 menit yang lalu membuat Vanes buru buru mendial nomor Faris.
"Apa sudah pulang?" tanya Faris dari telepon, "Aku masih menunggumu diluar kampus." tambah Faris.
"Aku sedang tidak dikampus mas." balas Vanes dengan suara pelan karena jujur Vanes takut jika Faris akan marah mengetahui dirinya melakukan pemeriksaan.
"Tidak ke kampus? Lalu kemana?"
"Aku dirumah sakit."
"Rumah sakit? Dimana?" Faris terdengar sangat terkejut hingga suaranya sedikit keras.
"Mas aku baik baik saja, aku hanya-"
"Katakan rumah sakit mana? Diruang apa?" potong Faris membuat Vanes menghela nafas panjang.
"Rumah sakit sakura medika mas."
Panggilan dimatikan sepihak oleh Faris.
"Padahal aku baik baik saja, aku bahkan belum selesai berbicara." gumam Vanes kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
Vanes berjalan keluar rumah sakit, Ia akan menunggu Faris diluar saja.
Dan baru saja sampai didepan, Vanes sudah bisa melihat Faris berlari ke arahnya.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi padamu sayang?" tanya Faris menyentuh tubuh Vanes dari atas sampai bawah hingga Ia sadar tidak ada yang lecet ataupun luka disana.
Vanes menghela nafas panjang, "Aku baik baik saja mas."
"Lalu kenapa kau pergi ke rumah sakit?"
"Ayo kita masuk ke mobil dan aku akan ceritakan semuanya padamu." ajak Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
Keduanya pun memasuki mobil dan Vanes segera memberikan hasil pemeriksaan pada Faris.
Dengan cepat, Faris membaca setiap lembaran kertas tanpa ada yang tertinggal.
"Dinyatakan sehat? Apa maksudnya ini?" tanya Faris masih tak mengerti.
"Aku akan mengatakan semua pada Mas tapi janji jika Mas tidak boleh marah?"
"Baiklah, katakan sayang apa yang terjadi?"
"Aku memeriksa rahimku karena kita sudah menikah hampir 4 bulan namun tak kunjung hamil.'' ungkap Vanes.
Raut wajah Faris terlihat terkejut namun seketika berubah dan tersenyum, "Lalu kenapa tidak mengajak ku? Kita bisa periksa bersama."
Vanes berdecak, "Apa mas Faris lupa, aku sudah mengajak Mas Faris beberapa kali tapi mas selalu menolak karena sibuk dengan urusan kantor."
Faris kembali tersenyum karena Ia ingat jika Vanes sudah mengajaknya berkali kali namun dirinya selalu menolak karena alasan kantor.
"Baiklah, aku akan segera meluangkan waktu agar kita bisa periksa milik ku juga." ucap Faris lalu mengelus kepala Vanes.
"Sekarang aku jadi khawatir." gumam Faris.
"Khawatir kenapa mas?"
"Bagaimana jika ternyata aku yang mandul?"
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa