TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
66


Rizal mengacak barang barang yang ada diruangannya. Setelah resmi bercerai dari Vanes, hidupnya sangat hancur. Banyak tender yang gagal dan juga Ia kehilangan jejak Vanes.


Rizal sempat mendatangi rumah Wira, mantan mertuanya namun Wira mengatakan jika Vanes sudah pergi dari rumah itu.


Awalnya Rizal tak percaya hingga Wira membiarkan Rizal mengecek seisi rumahnya dan benar saja tidak ada Vanes disana bahkan lemari Vanes yang ada dikamarnya kosong tidak ada baju yang tertinggal.


Rizal frustasi, Ia merasa hancur saat ini.


"Bodoh, hanya mencari 1 gadis saja dan kau masih belum bisa menemukannya!" amuk Rizal pada 2 anak buahnya yang Ia perintahkan untuk mencari Vanes.


Tuan Wira pasti melakukan segala cara untuk menutupi keberadaan Nona Vanes Bos, jadi kami akan sulit mencari keberadaannya." kata salah 1 pria.


"Kalian saja yang bodoh, tidak becus bekerja!" umpat Rizal.


Dua pria berbadan kekar itu kesal dengan ucapan Rizal, mereka akhirnya mengebrak meja Rizal, "Tutup mulutmu! Kau pikir kami hanya bersantai saja! Kami juga sudah berusaha!" sentak salah satu pria.


"Sebaiknya kau segera transfer uang bayaran kami dan carilah orang lain saja. kami sudah tidak sudi bekerja denganmu!" tambah pria satunya penuh emosi.


"Enak saja kalian minta bayaran sementara belum menemukan wanita yang ku cari, ingat sampai kapanpun aku tidak akan membayar kalian jika kalian belum berhasil menemukan wanita itu!" tekan Rizal tanpa rasa takut.


"Ohh begitu," kedua pria berbadan kekar itu saling memandang satu sama lain lalu tersenyum dan menghampiri Rizal yang duduk kursinya.


Salah satu pria mencekal kemeja Rizal lalu menarik dan mendorong hingga jatuh ke lantai.


"Apa yang kalian lakukan! Diruangan ini ada cctv jika kalian macam macam aku akan melaporkan kalian ke polisi!" ancam Rizal.


Kedua pria itu tertawa, "Laporkan saja jika kau melaporkan kami sama saja kau membuka masalah."


Rizal tersenyum sinis, "Aku tidak main main, aku akan melaporkan kalian sekarang juga." ucap Rizal lalu mengambil ponselnya.


Kedua pria itu kembali tertawa, "Dia bodoh sekali pantas saja diceraikan oleh istrinya." ejek salah satu pria membuat Rizal batal menelepon lalu bangun dan mendorong pria yang berbicara itu.


"Kau mengatakan aku bodoh! Kalian yang bodoh."


Dua pria itu kembali tertawa, "Jika tidak bodoh lalu apa? Kau melaporkan kami dan kami pun akan mengatakan semua pada polisi jika kau menyuruh kami mencari orang bahkan berniat menculiknya."


Seketika raut wajah Rizal berubah pucat, menyadari kebodohannya.


"Bagaimana? Masih mau melaporkan kami?" ejek salah 1 pria yang akhirnya membuat Rizal diam.


"Atau begini saja, kami laporkan pada Tuan Wira agar kau dihabisi olehnya? Sepertinya akan jadi drama yang menarik." ucap Pria satunya lagi yang sontak membuat Rizal tak bisa berkutik lagi.


"Sialan, apa mau kalian!"


Kedua pria itu tersenyum puas, "Kami hanya minta bayaran kami tapi karena kau mempersulitnya jadi kami minta bayaran double."


"Kalian Gila! Aku tidak mau memberikan!" teriak Rizal.


"Baiklah jika tidak mau tidak masalah tapi jangan salahkan kami jika nanti perusahaan mu ini dihancurkan oleh Tuan Wira, kau cukup tau kan Tuan Wira seperti apa jika sedang marah." ucap pria itu yang akhirnya membuat Rizal pasrah dan menuruti keinginan kedua pria brengsek itu.


Rizal mengambil ponselnya dan segera mentransfer sejumlah uang yang di minta oleh kedua pria itu.


"Sebaiknya kalian pergi sekarang, aku sudah muak melihat kalian disini." umpat Rizal.


Kedua pria itu tersenyum puas, "Terima kasih banyak untuk uangnya, jangan lupa panggil kami lagi jika membutuhkan bantuan."


Rizal tersenyum sinis, "Aku tidak sudi!"


Setelah kedua pria itu pergi, Rizal kembali mengacak ruangannya hingga ruangan kini sangat berantakan.


Ia sudah kehilangan banyak uang namun masih belum bisa menemukan keberadaan Vanes, sungguh membuatnya sangat marah.


"Beraninya kau meninggalkanku seperti ini!"


...****************...


Selesai makan siang, Vanes kembali ke kelasnya karena setelah ini ada satu kelas lagi sebelum jam pulang.


Vanes duduk disalah satu kursi kosong, Ia sudah berada disini namun belum mendapatkan teman satu pun.


Brakkk... Meja Vanes digebrak oleh mahasiswi yang tadi berada diruangan Faris.


"Lo pacarnya Pak Faris?" tanyanya galak.


"Banyak masalahnya, baiknya Lo putusin Pak Faris atau Lo bakal tahu sendiri akibatnya!" ancam gadis itu.


"Kalau kamu mau aku putus, bilang saja sama Pak Farisnya sendiri suruh mutusin aku."


Brakkk... gadis itu kembali mengebrak meja, "Berani Lo sama gue!"


"Kenapa harus takut!"


"Udahlah Sil, nggak usah cari masalah. Bekingannya pak Faris, kita nggak akan menang." kata gadis lainnya yang ada dibelakang Sila. Ya nama gadis itu Sila.


"Inget ya, selama Lo masih berhubungan sama Pak Faris, Lo nggak akan tenang kuliah disini." ancam Sila lalu pergi dari kelas Vanes.


Vanes menghela nafas panjang, semua teman sekelasnya bahkan hanya menatap dirinya tanpa ada yang mau membantu satupun.


"Dia anak salah satu donatur dikampus ini, orangnya memang gitu agak songgong." ucap seorang gadis yang duduk dibelakang Vanes.


Vanes berbalik melihat ke arah gadis berkaca mata yang duduk dibelakangnya lalu tersenyum.


"Namaku Anne, kalau kamu?" tanya Gadis bernama Anne itu mengajak berkenalan.


"Aku Vanes."


"Namanya cantik secantik orangnya." puji Anne.


Vanes tersenyum, "Kau terlalu berlebihan. Ummm apa kau mau jadi temanku?" tanya Vanes yang langsung diangguki oleh Anne.


Vanes kembali mengulas senyum, Ia senang akhirnya memiliki seorang teman.


"Aku juga tidak memiliki teman karena mungkin aku terlalu culun, aku senang jika kau mau berteman denganku." ungkap Anne.


Dosen sudah masuk, keduanya pun segera mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Dosen hingga jam berakhir dan keduanya bersiap untuk pulang.


"Dimana rumahmu?" tanya Vanes saat berjalan keluar bersama Anne.


"Dibelakang kampus ini. Kutebak, kau pasti tinggal di kosan mahal sebelah timur kampus ini kan?" tebak Anne.


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Aku pernah melihatmu masuk kesana."


Vanes tersenyum, "Kapan kapan mainlah kesana." pinta Vanes.


Anne memgangguk, "Tentu."


Ehem... Suara deheman Faris terdengar dan terlihat pria itu sudah berdiri didepan Vanes dan Anne.


"Aku akan pulang sekarang, sampai ketemu besok Vanes." ucap Anne lalu berlari meninggalkan Vanes dan Faris.


"Ck, kau sudah memiliki teman, aku harap tidak diacuhkan." protes Faris.


Vanes tertawa, "Tentu saja tidak, umm apa kita pulang sekarang?" tanya Vanes.


Faris menggelengkan kepalanya, "Masih ada yang harus ku kerjakan jika kau mau pulang sekarang, aku akan mengantarmu." ucap Faris namun langsung digelengi oleh Vanes.


"Aku akan ikut bersamamu."


Faris akhirnya mengajak Vanes memasuki ruangannya, "Apa yang kau kerjakan?" tanya Vanes.


"Aku sedang menyimpan rekaman suara dilaptop ku."


"Rekaman suara apa?"


"Coba dengarkan ini."


Mata Vanes langsung saja melotot setelah mendengar rekaman suara yang disimpan oleh Faris.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa