
Di dalam gang Yarnt marah kepada Willy.
"Hai Wildan putra Eldra, itu adalah uang taruhan ku untuk mengalahkan Maria, kamu harus menggantikan nya kalau aku yang menang"
"Iya cerewet sekali sih kayak perempuan saja"
Maria pun menegur Willy
"Woy orang yang ada di belakang mu ini adalah perempuan tau"
"Eh iya maaf"
Si kakek tua pun menawarkan jasa
"Apa anak muda ini akan mengadakan pertarungan"
"Iya kek kami lagi mencari tempat untuk bertarung, rencananya di gang ini kita akan bertarung"
"Kalau begitu ikut kakek, kakek tau arena yang bagus untuk kalian bertarung"
Kakek tua itu pun bangun kemudian menuntun tangan Willy berjalan menuju arena yang kakek tua itu tahu.
"Eh Wildan putra Eldra, Maria mau kemana kamu apa kamu mau kabur"
"Sudah ikut saja kita rubah tempat kakek ini tau tempat bagus untuk mu bertarung melawan Maria"
Willy, Maria dan Yarnt mereka bertiga mengikuti kakek tua itu menuju sebuah gang lalu membuka pintu Rahasia dan masuk ke ruang bawah tanah.
"Wow ternyata di tempat seperti ini ada ruang bawah tanah"
Kakek tua pun tertawa
"Hahaha...iya anak muda disini dulu tempat pertarungan para petarung jalanan mereka berebut wilayah dengan bertarung di tempat ini"
"Apa ini sudah tidak di pake lagi kek"
Kakek tua menggelangkan kepalanya
"Sudah lama sekali tempat ini tidak di pake semenjak berdirinya arena stadium utama yang sekarang dipakai untuk kompetisi.
Para petarung jalanan lebih tertarik untuk Bertarung di tempat itu dari pada di sini, ditempat itu para pemenang akan langsung terkenal karena banyak orang yang menontonnya.
Sedangkan di arena bawah tanah ini gaya segelintir orang saja yang tahu jadi tempat ini sepi di telan waktu"
Mereka pun sampai di area pertandingan bawah Tanah.
Maria dan Willy meresa kagum
"Kek ini besar sekali panggung arena pertandinganya dan juga bangku penonton yang begitu banyak"
Kakek tua itu hanya tersenyum, dan Yarnt pun sudah tidak tahan lagi dia langsung masuk ke arena pertandingan.
"Ayo sini kamu Maria jangan banyak Lama, aku akan membalas kekalahan ku yang tadi, hai... Wildan putra Eldra kalau kamu mau ayo sekalian kamu juga lawan aku"
Yarnt menyombongkan dirinya, tetapi Willy menolaknya dan lebih memilih duduk di bangku penonton.
"Tidak perlu, cukup Maria saja yang melawan mu, aku nonton saja di bangku ini bersama kakek"
Willy dan kakek tua itu pun duduk, kemudian Maria pun menghampiri Yarnt dan naik keatas Arena.
Maria pun berkata kepada Yarnt.
"Bagai mana aturan pertandingan yang akan kita buat"
Yarnt pun membalas.
"Aku mau pertandingan bebas tanpa batas waktu, bebas menggunakan senjata dan menggunakan sihir.
Aturan kalah menang apabila salah satu menyerah atau pingsan atau tidak bisa melanjutkan pertandingan itu dinyatakan kalah"
Maria pun mengangguk
"Baiklah ayo kita mulai"
Willy pun berteriak kepada Maria.
"Hai Maria tolong di percepat ya, soalnya sebentar lagi pertandingan ku yang ke 2 akan segera dilaksanakan"
Maria pun mengacungkan jari jempolnya.
"Tenang saja tidak kurang dari lima menit dia akan aku kalahkan"
Mendengar kata kata dari Maria Yarnt pun naik pitam dia mengeluarkan sihir dimensi item Book dan mengeluarkan 2 buah pedang. Kemudian dia lapisi dengan sihir elemen api.
Maria pun melakukan hal yang sama dia mengeluarkan sihir dimensi item Book dan mengeluarkan tombaknya kemudian Maria aliri dengan sihir elemen petir.
Kakek tua itu pun sedikit kaget melihat Maria bisa mengeluarkan sihir spesial yaitu sihir elemen petir, karena biasanya seseorang hanya bisa mengeluarkan sihir elemen dasar saja.
Tetapi Maria bisa membuat elemen sihir baru berupa penggabungan dari sihir elemen api dan sihir elemen angin menjadikan sihir elemen baru yang spesial yaitu sihir elemen petir.
Kakek tua itu pun bertanya kepada Willy.
"Anak muda dari kerajaan mana kamu berasal"
Willy menjawab dengan cengegesan.
"Hehe...kek aku bingung menjawabnya"
"Kenapa harus bingung...."
"Aku putra ke 4 dari Raja Hendrik Jovanka, dan kakek ku Maharaja Alfred Eldragon dan aku sekarang tinggal di kerajaan Lareagon.
Bingung kan kek, sekarang aku menjadi peserta turnamen perwakilan dari kerajaan Lareagon"
Kemudian kakek tua itu pun bertanya lagi kepada Willy
"Kenapa kamu dan teman mu itu menyembunyikan kekuatan, padahal kalian berdua si jenius yang sebenarnya, bahkan masih kecil begini sudah mencapai level Pahlawan"
Willy garuk-garuk kepala
"Hehehe...kenapa kakek bisa tahu aku dan Maria berada di level Pahlawan, padahal orang orang dari Jovalavia mengenalku dengan sebutan Pangeran Sampah"
Kakek tua itu malah tertawa
"Hahahaha....kamu selalu merendah nak, kalau boleh tahu siapa guru yang melatih mu"
Willy pun ragu ragu untuk mengatakan siapa gurunya tetapi Willy berpikir lagi karena mungkin tidak akan tahu kalau Fahetar itu adalah seorang penyihir agung.
"Anu....guru ku bernama kakek Fahetar tetapi sekarang dia sudah meninggal"
"Kenapa kek, kakek tahu tentang guru ku"
Kakek tua itu menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kitab dan sebuah token emas.
"Ini ambilah semoga dengan adanya di tangan mu ke 2 benda ini bisa bermanfaat, kakek pergi dulu kalau sudah selesai segera lah keluar dari dari sini"
Kakek memberikan kitab dan token emas kepada Willy kemudian dia pergi.
"Terima kasih kek...."
Di atas arena Yarnt sudah mulai menyerang dengan kekuatan sihir elemen api secara penuh. Dan Maria pun bersiap untuk menyerang.
Yarnt tanpa basa-basi langsung menyerang Maria.
Wuss.....
"Hia...t"
Tebasan pertama Maria menghindarinya, tepasan kedua Maria tahan dengan tombaknya.
Trang....
Duwar....
2 kekuatan beradu sehingga membuat ledakan yang lumayan keras, Yarnt terhuyung ke belakang sejauh 3 meter.
Kemudian Maria dengan cepat menyerang Yarnt dengan tombak yang dilapisi dengan sihir elemen petirnya.
Hiuk....
Prang....
Duwar....
Maria dan Yarnt saling serang satu dengan yang lainnya sampai arena pertarungan pun bergetar karena ledakan dan hantaman kekuatan mereka berdua.
Beruntung arena pertandingan itu di pasang segel Sihir perbaikan otomatis sehingga apabila arena itu hancur maka dalam beberapa menit akan kembali ke bentuk semula.
Dan dingin pembatasan di area penonton sudah terpasang segel anti sihir sehingga serangan kuat sekali pun tidak akan sampai ke bangku penonton.
Yarnt sudah mengerahkan semua kemampuannya sampai batas level dirinya tetapi belum mampu mengalahkan Maria bahkan serangannya pun tidak sampai melukai Maria.
Di tempat duduk penonton Willy membuka kitab pemberian dari kakek tua itu dan kemudian muncul horogram manusia di dalam pikiran Willy memperagakan jurus.
"Ini adalah kitab beladiri tangan kosong, Jurus Taring serigala tingkat tinggi, siapa sebenarnya kakek tua itu"
Willy bertanya didalam hatinya, kemudian Willy menutup kitab itu dan memasukan kedalam sihir dimensi item Book beserta plakat emas pemberian kakek tua.
Willy berteriak kepada Maria.
"Maria mau berepa lama lagi kamu bermain ini sudah hampir 5 menit kamu belum selesai mengalahkan nya"
Maria pun menanggapi ocehan dari Willy.
"Iya bentar lagi juga beres..."
Mendengar percakapan antara Willy dan Maria yang menganggap lemah, Yarnt pun marah.
"Kurang ajar, baik lah aku yang akan mengakhiri pertarungan ini"
Yarnt mengeluarkan ilmu pamungkasnya.
"Jurus pedang kembar tarian bara api..."
Wuss....
Wuss....
Yarnt menyerang sambil berputar putar, Maria menghela napas.
"Heuh.... Sekarang selesai sudah pertarungan ini"
Maria pun mengarahkan tombaknya ke arah atas kemudian mengayunkannya ke arah Yarnt.
"Jurus tombak seribu petir...."
Krakak....
Duwar....
Duwar....
Duwar....
Yarnt terkena serangan petir sampai muka dan bajunya menjadi gosong dia pun tersungkur ke bawah dan tidak bisa bangkit lagi.
Maria pun bersorak
"Hore aku menang, berarti kamu kalah ya, sekarang tidak ada dendam di antara kita lagi"
Mulut Yarnt menganga sambil mengeluarkan asap, di tubuhnya masih mengalir listrik dari petir yang di lancarkan oleh Maria.
Willy beranjak dari tempat duduknya kemudian mendekati Yarnt sambil mengeluarkan 1 botol potion.
"Kalau kamu sudah bisa bergerak cepat lah minum Potion ini, aku tidak mau salah satu anak buah ku menjadi cacat karena serangan petirnya Maria"
Willy pun mengajak Maria untuk pergi.
"Ayo pergi kita kembali ke dalam stadion karena aku ada 1 pertandingan terakhir di babak penyisihan grup ini"
Maria pun pergi mersama Willy sebelumnya Willy melambaikan tangannnya kepada Yarnt.
"Terima kasih uangnya dan cepat kembali anak buah ku"
Willy dan Maria berjalan sambil melenggang dan kembali ke stadion.
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.