PAHLAWAN TERPILIH

PAHLAWAN TERPILIH
Merasa Diremehkan


Setelah Ratu Elisia pergi tidak lama kemudian Ferik Reagon datang ketempat Willy.


Ferik Reagon masih terbang diangkasa dengan Gripon yang dia tunggangi, Fallion senang dia meraung kesenangan.


Iyak ....


Iyak ....


Maria merespon Fallion, kemudian mengajak Willy untuk segera keluar.


"Pangeran ke 3 ayo itu pahlawan Ferik sudah datang, lihat Fallion sangat senang sampai tidak mau diam"


"Ayo kita keluar, buka pintunya"


Maria membukakan pintu kemudian Fallion dengan semangat keluar dari menara pengawas itu.


Willy dan Maria kemudian naik ke punggung Fallion dan Fallion pun terbang keangkasa.


Mereka berangkat kehutanan menuju goa tempat kakek Fahetar, setelah sampai merekapun turun dan masuk kedalam Goa.


Sedangkan Fallion dan Gripon milik Ferik Reagon berada di luar mereka disuruh untuk pergi meninggalkan tempat tersebu dan nanti kalau ada peluit berbunyi mereka pun harus kembali.


"Nak Willy dan Maria, masih pagi sudah datang dan siapa orang yang kamu bawa kesini"


Kakek Fahetar menyambut Willy dan Maria. Sedangkan kakek Fahetar disana sedang duduk di kursi batu sambil meminum air teh.


"Hormat kepada Penyihir Agung Volyaw Fahetar, saya Ferik Reagon cucu buyut dari Legia Lareagon"


Kakek Fahetar tertawa


"Hahaha.... ternyata Willy membawa cucu buyut si Jirah hitam, dari mana kamu bisa kenal dengan cucu buyut dari Legia si Jirah hitam"


Willy cengangas cengeges sambil garuk-garuk kepala


"Maaf kek Willy tidak cerita kepada kakek, dia yang telah menilai bejana Ilahi waktu 3 tahun yang lalu dan Minggu kemarin Willy tersesat di kerajaan Lareagon dan kak Ferik yang mengantarkan Willy pulang"


Kakek Fahetar tertawa


"Hahahaha.... Takdir sungguh ini sudah menjadi takdir yang maha kuasa, saya sudah tahu maksud mu datang kesini, pasti karena heran Willy bisa sehebat sekarang kan"


Ferik Reagon mengangguk, kemudian kakek Fahetar berkata lagi


"Lalu pasti kamu menanyakan siapa guru dari Willy dan kenapa dia bisa ilmu beladiri pedang seperti mu"


Ferik Reagon mengangguk lagi kemudian di membungkukan badannya.


"Tebakan penyihir agung semuanya itu benar mohon angkat saya juga sebagai murid anda"


"Hahaha... sebelum kakek tua ini menjadi guru mu aku ingin melihat kemampuan mu dulu"


Kakek Fahetar menengok kepada Maria.


"Bertanding lah dengan Maria dan gunakan ilmu beladiri yang kamu miliki apabila kamu tidak bisa menahan serangan serangan dari Maria maka jangan harap kamu bisa menjadi murid ku"


Ferik Reagon merasa diremehkan karena dia seorang pahlawan dan calon Raja dari kerajaan Lareagon maka dia sedikit menyombongkan diri.


"Baiklah hanya melawan gadis ingusan saya tidak akan kalah, seorang pahlawan seperti saya tidak akan bisa di kalahkan dengan mudah"


Kemudian Kakek Fahetar memerintahkan mereka untuk bersiap, Maria tersenyum karena selama Willy tidak ada berlatih dengannya dia jadi galau harus berlatih sendiri dan hanya melawan Golem batu buatan kakek Fahetar.


Yang kekuatan dari Golem batu tersebut sebanding dengan Pahlawan terkuat dengan kekuatan tempur 1.000 poin. Tetapi Maria bisa menahan serangan dari Golem batu tersebut.


Sekarang kakek Fahetar menyuruh Maria bertarung dengan pahlawan asli, dia sangat senang sekali dan ingin segera menunjukan kekuatan barunya kepada Willy.


Maria mengeluarkan senjatanya berupa tombak dari sihir dimensi item Book. Disana Willy kaget


"Maria sihir apa itu barusan kenapa bisa langsung ada tombak di tangan mu apa itu sulap atau apa"


Maria memukulkan tombaknya pelan ke kepalanya Willy.


"Dasar pangeran Bodoh ini namanya sihir dimensi item Book yang bisa menyimpan barang apapun di dalamnya, kakek Fahetar mengajari ku 2 Minggu lalu ketika kamu tidak ada"


Willy merengek kepada kakek Fahetar


"Kek kenapa tidak mengajariku juga sihir itu, hanya Maria saja yang diajari huh...curang"


"Kakek Fahetar bukan tidak mau mengajari kamu tau, cuma kamu nya saja yang tidak nanya"


Mulut Willy manyun sambil berkata


"Kalau tidak diberi tahu yang mana mungkin Willy tau padahal Willy sudah pulang semingg yang lalu"


Kakek Fahetar menengahi


"Sudah sudah nanti semua Sihir yang kakek punya akan kakek ajarkan kepadamu jadi sekarang jangan merajuk ya sekarang kita lihat dulu kemampuan dari Ferik yang akan bertanding melawan Maria"


Ferik Reagon mengeluarkan senjata pedang dari sarungnya kemudian Maria dan Ferik Reagon pun bersiap menunggu aba-aba dari kakek Fahetar.


"Ya siap mulai"


Tanpa ragu Maria langsung menerjang dan menyerang Ferik Reagon


"Ciat ...."


Prang....


Prang....


Tak ....


Blug....


Benturan antara tombak dan pedang beradu, Maria dan Ferik Reagon saling serang satu dengan yang lainnya.


Hiuk....


Hiuk....


Ayunan tombak melesat kearah Ferik Reagon, jurus demi jurus mereka keluarkan, beladiri pedang tingkat tinggi dari dasar sampai menengah sudah dikeluarkan oleh Ferik Reagon tetapi Maria masih bertahan dan belum kalah juga.


Ferik Reagon mulai kelelahan dan ayunan pedangnya sudah tidak terkendali, dia mulai putus asa karena jurus yang dia kuasai sudah habis dipakai dia bingung dan kalau dia sampai kalah dia akan malu.


Seorang pahlawan dari kerajaan Lareagon kalah oleh seorang anak perempuan yang memakai tombak, Ferik Reagon mulai stres, 2 kali dia akan mengalami kekalahan.


Dia adalah Dwarf yang tidak terkalahkan di kerajaan Lareagon tapi ketika melawan Willy waktu itu Ferik Reagon bisa di imbanginya.


Dan sekarang Ferik Reagon bertarung dengan Maria yang bahkan belum mengeluarkan semua jurus tombaknya Ferik Reagon sudah kewalahan setengah mati.


Sampai ayunan pedangnya sudah tidak terkendali dan hanya bisa bertahan saja karena jurus beladiri sudah habis dipake semua.


Kakek Fahetar menghentikan pertarungan mereka.


"Berhenti sudah cukup"


Mereka berdua pun berhenti saling menyerang, Maria berhenti kemudian berjalan mendekati Willy.


"Lihatlah apakah aku sudah hebat"


Willy merasa kagum kemudian memeluk Maria


"Kamu hebat Maria, sudah menguasai jurus tombak sampai ketingkat Mahir, kamu adalah master tombak yang hebat"


"Ih..apa apaan sih peluk peluk segala, malu tahu dilihat kakek Fahetar dan pahlawan Lareagon"


Willy melepaskan pelukannya, wajah Maria pun merah padam menahan malu.


Ferik Reagon Engos engosan karena kecapean setelah melawan Maria, tetapi Maria biasa saja bahkan keringat pun tidak menetes di dahinya.


Sedangkan Ferik Reagon dia bajunya sampai basah dengan keringatnya sendiri. Kaki Ferik Reagon lemas dia menahan dengan tumpuan pedangnya supaya dia tidak terjatuh dan tetap berdiri.


***


Maaf kepada Kaka pembaca karena banyak kata yang di ulang ulang dan mungkin tidak sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang benar, karena saya dari USA (urang Sunda asli) jadi agak susah menerjemahkan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia dan mungkin ada beberapa atau banyak bahasa daerah yang di tulis di cerita ini.


Terima kasih kepada Kaka pembaca yang sudah menyemangati dengan cara like and komen, dan juga sudah memberikan ketitik dan sarannya semoga saya sebagai penulis cerita ini bisa lebih baik lagi dalam menulis dan mengarang ceritanya jadi lebih menarik.


Saya selalu mengingatkan Jangan Lupa Kaka pembaca untuk, Like, Komen dan Vote biar *Rate** tinggi


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.