
Willy dan Maria telah kembali ke penginapan dia pun memesan makanan kepada resepsionis "Mbak aku pesan makanan yang paling enak dan minumannya ya, ingat jangan sampai di taburi oleh racun ya"
Sambil berucap Willy tersenyum mengejek kepada resepsionis itu, karena wanita resepsionis itu lah yang memberitahukan kepada orang dari tentara bayaran armor Putih untuk membegal dirinya.
Resepsionis itu pun raut wajahnya berubah menjadi masam, dia tersenyum dengan ekspresi yang di paksakan "Baik tuan muda aku akan menyiapkannya segera"
Willy pun mengajak Maria untuk masuk ke dalam kamar yang dia sewa dan menunggu makanan datang.
Wanita resepsionis itu menggertakan giginya dan bergumam "kurang ajar, bagai mana bisa mereka masih hidup, apa orang orang itu belum membegal kedua anak ini, kalau begitu aku tidak akan mendapatkan uang bayaran sebagai informan"
Kemudian resepsionis itu pun pergi ke dapur dan memerintahkan koki untuk menyiapkan makanan yang enak dan minumannya.
Setelah itu dia menghubungi temannya yang ada di belakang penginapan tersebut.
"Hai Boy, cari tahu tentang kelompok Abang apakah mereka sudah membegal kedua anak itu, dan bagai mana sekarang situasinya, soalnya aku melihat anak itu baik baik saja " perintah wanita itu.
Orang yang di panggil boy pun mengangguk "siap mbak, aku kan cari tahu"
Dia pun pergi dari gang belakang penginapan tersebut untuk mencari informasi kelompok Abang yang membegal Willy dan Maria.
Hidangan untuk Willy dan Maria pun sudah siap wanita itu mengajak pelayan lain untuk membawa makanan dan minuman ke kamar yang di tempati oleh Willy dan Maria.
Mereka pun meletakan semua hidangan di atas meja yang ada di dalam kamar tersebut dan kemudian keluar.
Tetapi Willy mencegah wanita resepsionis itu untuk pergi "Tunggu mbak, jangan dulu pergi"
Wanita itu dengan hati berdebar berhenti melangkahkan kakinya dan kemudian membungkukkan badannya "Ada yang masih bisa aku bantu tuan muda"
"Apa ini di taburi racun" tanya Willy.
Wanita itu pun tersentak kaget "Ten...tentu tidak tuan muda, kami tidak akan berani menaruh racun di makanan pelanggan kami"
"Ya bagus lah, tetapi kamu terlalu bodoh, kalau kamu menaruh racun atau obat tidur, kamu bisa lebih mudah menggeradah dan mengambil barang kami, dari pada harus membegal kami, oh iya, 10 orang yang membegal kami berdua terpaksa membunuhnya jadi jangan tunggu mereka kembali" ucap Willy.
Wanita itu pun gemetar mendengarkan perkataan Willy dia pun berniat untuk pamit pergi dan memastikan bahwa mereka benar benar sudah mati di bunuh oleh Willy dan Maria.
"Aku permisi tuan muda" pamit wanita itu.
"Eh tunggu satu lagi, aku akan membasmi tentara bayaran armor Putih, tolong informasikan kepada pemimpinnya supaya mereka bersiap untuk mati" ancam Willy.
Wanita itu pun bergegas pergi tanpa berkata apapun. Willy pun melanjutkan makan hidangan yang ada di atas meja dengan lahap kemudian setelah mereka makan, mereka pun istirahat.
Malam harinya ketika Willy dan Maria sedang berdiskusi mengenai perjalanan menuju federasi bebas dan rencana selanjutnya,
Kamar mereka sudah banyak di kepung oleh para prajurit dari tentara bayaran armor Putih yang hendak menangkap mereka, karena mereka telah berani menyinggung tentara bayaran armor Putih.
Willy dan Maria pun sudah mengetahui karena mereka merasakan aura pembunuhan yang dipancarkan oleh para prajurit tersebut.
Ada sekitar 20 orang yang mengepung kamar Willy, belum lagi yang menunggu di lantai bawah dan luar penginapan.
Totalnya ada sekitar 50 orang prajurit yang bersiaga, karena waktu siang hari 10 orang dari mereka sudah mati terbunuh di gang atau jalan sepi.
Maria sudah bersiap dengan tombak petir yang sudah dia keluarkan, dan Willy pun sudah siap dengan pedang hadiah dari pertandingan dulu.
Karena kalau Willy memakai pedang dewa naga agung maka daya hancurnya akan semakin dasyat yang mungkin akan menghancurkan penginapan ini.
Brak....brak....brak....
Pintu langsung di dobrak oleh pasukan armor putih dan setelah pintu terbuka mereka pun masuk.
Sehingga 20 orang yang menyerbu masuk dengan sekejap mata mereka mati bersimbah darah.
Willy dan Maria pun keluar melalui balkon kamar, tetapi para prajurit yang dibawa sudah siap dengan anak panah dengan menghujani Willy dan Maria dengan anak panah tersebut.
Willy dan Maria pun bergegas masuk kembali dan memilih turun melalui tangga.
Sisa Prajurit yang ada di bawah pun naik dan menyerbu masuk, pertarungan di lorong penginapan pun terjadi.
Pedang yang di gunakan Willy memang terbuat dari bahan bijih Adamantium yang mengandung Sihir, tetapi pedang itu tidak bisa melepaskan Sihir yang di alirkan energi oleh Willy.
Hanya saja pedang itu memiliki keistimewaan yaitu bisa memotong benda apapun yang paling keras sekali pun.
Sehingga dengan menggunakan pedang itu Willy dengan mudah menebas musuh musuhnya satu persatu.
Willy hanya sekali ini menggunakan pedang yang dia miliki ini, kalau bertarung satu lawan satu, pedang ini sangat berguna.
Tetapi untuk melawan musuh yang banyak pedagang ini tidak berguna yang hanya akan menghabiskan stamina saja
Sehingga Willy mencari senjata yang bisa di gunakan untuk pelepasan sihir dengan bahan yang sama.
Willy dan Maria turun dari tangga karena Prajurit yang tadi naik sudah habis, tinggal 20 Prajurit lagi yang ada di luar penginapan.
"Ini sangat menjengkelkan, pedang ini meskipun sangat tajam tetapi tidak aku suka, sekarang giliran mu menghabisi Prajurit yang ada di luar " ucap Willy.
"Baiklah aku akan selesaikan dengan cepat " ucap Maria.
Dia pun menyalurkan energi sihir elemen petir ke tombak yang dia pegang dan setelah sampai pintu keluar Maria mengayunkan tombaknya.
"Kilat penghakiman...." Energi sihir elemen petir keluar dari ujung tombak merambat melalui udara menyambar semua orang yang menghadang Willy dan Maria.
Krekak....duwar.....duwar....
Semua prajurit terkena serangan Petir Maria yang membuat mereka mati tersetrum dan tubuh mereka menjadi hitam.
Efek sihir elemen petir yang di keluarkan oleh Maria menimbulkan ledakan yang begitu besar dan terdengar sampai seluruh kota.
Wanita resepsionis yang melihat kebrutalan Willy dan Maria menggigil ketakutan sambil bersembunyi di bawah meja counter resepsionis.
Semua prajurit dari tentara bayaran armor Putih yang berjumlah 50 orang pun sudah binasa.
Sekarang Willy menjadi bingung karena kalau masih tinggal di penginapan ini maka tentara bayaran armor Putih yang lain akan mengirimkan Prajurit lebih banyak lagi.
Di sana Willy memiliki rencana, dan Maria pun bertanya "Kemana sekarang, tempat ini sudah tidak aman lagi"
Willy tersenyum "Ayo kita pergi ke toko bahan obat herbal, kita akan menginap di sana malam ini"
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna