
#82
Setelah Crude pergi Willy berkata kepada Tavin.
"Terima kasih tuan sudah menyelamatkan kami, aku memang dari kerajaan Lareagon tetapi kamu salah orang aku bukan putra mahkota kerajaan Eldragon. Terima kasih uangnya maaf kami berdua permisi dulu"
Tavin mengerti ucapan Willy dia pun berkata sambil membungkukan badannya.
"Sama sama tuan ku hati hati dijalan dan selamat bersenang-senang"
*
Willy pun pergi begitu juga Tavin dan para pengawalnya, Di jalan Elvina bertanya kepada Willy.
"Apa benar kamu itu putra mahkota kerajaan Eldragon"
Willy berjalan sambil mengelus-elus kepala Elvina.
"Hahaha...kamu percaya saja, bahkan aku tidak kenal dengan anak bangsawan yang bernama Tavin itu, dia orang baik merendahkan harga dirinya untuk menyelamatkan orang seperti kita"
"Maksudnya..."
"Iya dia berpura-pura menjadikan aku sebagai putra mahkota untuk mengelabui si Crude itu dan apa yang sekarang kita dapat dari si Crude itu berkat Tavin, kita mendapatkan sekantong uang koin emas.
Ini sangat banyak tau, dan kita bisa berbelanja macam macam sesuka hati kita ayo kita bersenang-senang kita belanja sepuasnya"
Elvina tersenyum, tetapi ada perasaan yang sudah lama hilang dan kembali lagi, yaitu waktu dulu ketika dia masih berpacaran sama Wildan di dunia asalnya.
Wildan selalu mengelus ngelus kepala Elvina dan memainkan rambut bawah Elvina yang terurai. Perasaan ini kembali setelah sekian lama.
Willy melihat wajah Elvina yang meneteskan air mata.
"Eh kenapa kamu menangis, eh maaf aku tidak sopan mengelus-elus kepala mu, ini sudah kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan maaf ya"
Elvina pun tersenyum
"Tidak apa apa kalau kamu suka kamu boleh elus kepala ku sepuas hati mu asal jangan rambutku sampai rontok nanti aku jadi botak"
Willy pun tertawa
"Hahaha.... kamu bisa aja, maaf atas perlakuan ku kepada mu"
"Tidak Apa-apa.."
Willy dan Elvina pun berbelanja baju dan barang barang lain dari uang yang didapat dari Crude setelah puas berbelanja dan jalan jalan mereka pun sepakat untuk berpisah dan ketemu lagi besok sore di gedung menara.
Mereka berdua pun pulang ketempatnya masing masing. Setelah Willy sampai ke penginapan sudah banyak orang menunggu termasuk Maria dan Tavin serta anak buahnya.
Maria melihat Willy sedang berjalan dari luar menuju ke dalam penginapan, karena mereka berkumpul di lantai atas sehingga bisa melihat orang-orang yang lalu-lalang dari bawah.
"Putra Eldra dari mana saja kamu ayo cepat naik"
Maria memanggil Willy, Willy pun bergegas naik keatas tangga, setelah sampai Tavin dan anak buahnya Berlutut.
"Selamat datang putra mahkota"
"Berdiri lah, lain kali kalau kalian bertemu dengan ku tidak perlu Berlutut cukup menghormat saja"
"Baik putra mahkota"
"Dan satu lagi jangan panggil aku putra mahkota panggil saja putra Eldra, dan Terima kasih sudah menolongku tadi dan ini sisa uang hasil rampasan dari si Crude buat kamu"
"Ti..tidak usah putra mah....eh putra Eldra, itu sudah menjadi uang mu"
"Tidak apa-apa, ambil saja itung-itung tanda terima kasih ku karena sudah menolongku"
Maria bingung menolong dan menolong kemudian Maria bertanya.
"Apa sebelumnya kalian sudah bertemu satu dengan yang lainnya"
Tavin mengangguk
"Iya kita sudah bertemu ketika putra Eldra sedang di tindas oleh si Crude anak bangsawan dari kerajaan Jovalavia"
Maria geram dan marah
"Tidak di Kerajaan Jovalavia tidak di Federasi Bebas si Crude itu masih saja menindas orang mentang mentang yang di ikuti nya adalah pangeran ke 2 dia jadi seenaknya saja menindas orang.
Hai putra Eldra kenapa kamu tidak melawannya kamu kan sudah bertambah kuat bahkan lebih kuat dari orang orang yang berada di sini"
Willy tersenyum
"Kita kan sedang menyamar kalau aku melawannya dia pasti tau siapa aku yang sebenarnya, untung ada Tavin yang lewat dan menyelamatkan ku, jadinya dia yang ditindas oleh kita dan memelak uangnya"
"Huh dasar...."
Tavin dan anak buahnya di utus menemui Willy karena dia adalah orang suruhan dari Raja Gibran dan Tavin itu yang nantinya akan menjadi bawahan langsung dari Willy sebagai komandan pasukan Latih yang diminta oleh Willy kepada Raja Gibran.
Mereka pun mengobrol sampai larut malam dan mereka pun kembali ke tempat nya masing-masing karena besok harinya kompetisi pembukaan ke 2 akan di laksanakan.
Besok adalah perlombaan yang akan diselenggarakan adalah melemparkan senjata ke target dan memanah, karena Tavin adalah peserta juga maka dia pun bersamaan ikut daftar ulang dengan Willy dan Maria.
Dia antara mereka terdapat 1 orang penyihir yang di didik langsung oleh ibunya Willy penyihir itu bernama Siren, dan ke 2 orang lainya adalah seorang Magic Sword yang bernama Nolan dan Patrick.
Mereka adalah anak-anak jenius yang masih muda berumur antara 9 sampai 11 tahun dan Tavin sendiri adalah ahli dalam pertemuan angkasa dia pembidik yang unggul tidak ada target yang lolos dari incarannya.
Selain itu dia juga seorang jenius ahli strategi di umur saya yang sama dengan Willy yaitu 10 tahun dia sudah banyak mendapatkan perestasi dan penghargaan dari kerajaan Eldragon.
*
Ke esokan harinya Willy dan Maria berangkat menuju tempat kompetisi mereka bertemu denga Tavin dan ke 3 peserta lain dari kerajaan Eldragon.
Siren bertanya kepada Tavin.
"Siapa orang yang bersama mu ini, kelihatannya dia dari kerajaan Lareagon, apa boleh bangsa Dwarf ikut serta dalam acara kompetisi ini"
Siren sedikit angkuh tetapi Willy dan Maria tidak memperdulikannya.
Nolan pun menyapa Willy dan Maria
"Hai aku Nolan, ini Patrick dan si cerewet ini namanya Siren salam kenal dari kami"
Maria pun menjawab perkenalan dari Nolan karena bersikap ramah.
"Nama saya Maria pengawal pribadinya putra Eldra dan mungkin suatu hari nanti saya akan menjadi pasangannya juga"
Mendengar kata putra Eldra ke 3 orang itu langsung berlutut.
Brak....
"Maaf atas ketidak sopanan kami kepada Putra Mahkota"
Willy memerintahkan kepada mereka
"Berdirilah lah, jangan panggil aku putra mahkota panggil saja putra Eldra"
Mereka pun berdiri
"Baik putra Eldra...."
Kemudian Siren memukul bahu Tavin
Buk....
"Kenapa diam saja dari tadi, beri tahu kalau dia ini putra mahkota kita"
Tavin cengengesan
"Hehehe ...maaf aku kira kalian sudah tahu"
"Huh...."
Siren yang tadinya sombong dan angkuh menjadi baik kepada Willy.
"Maaf karena saya sudah berlaku sombong kepada anda nama saya Siren saya adalah murid langsung dari yang mulia Ratu Elisia saya prajurit Latih divisi Magic"
Willy pun mengangguk
"Baiklah sekarang kita semua sudah saling mengenal tetapi di saat pertandingan kita adalah saingan maka berjuanglah dengan sungguh sungguh"
Maria pun berbicara dengan semangat
"Di pertandingan kali ini aku yang akan menjadi juaranya kalian jangan harap bisa bersaing denganku hahaha...."
Siren pun tidak mau kalah
"Aku adalah seorang penyihir pelepasan aku juga akan berusaha dengan baik"
Patrick adalah seorang pendiam dia tidak banyak bicara tetapi Nolan orangnya ceria dan Ramah.
"Aku tidak mungkin bersaing dengan Tavin dia adalah jagonya di bidang ini"
Tavin pun merendahkan
"Ach dasar Nolan bisa aja kamu juga hebat jangan melebih lebihkan kemampuan orang lain"
Willy disana menengahi.
"Sudah sudah, kita lakukan yang terbaik saja menang maupun kalah kita tetap semangat karena ini bukan akhir dari dunia ini"
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.