PAHLAWAN TERPILIH

PAHLAWAN TERPILIH
Maria Berlutut


Willy masuk lebih jauh lagi kedalam lorong dan disana banyak terdapat koloni dari monster tikus bermata satu bahkan pemimpin Alfa yang ukurannya dua kali lipat dari monster tikus biasa


Willy dengan mudah membantai monster tersebut dan mengambil semua inti monster mereka. Dengan menggunakan pedang dewa naga agung Willy tidak membutuhkan banyak tenaga karena sekali tebas monster tersebut terpotong menjadi dua bagian.


*


Di depan pintu masuk lorong panitia, petualang dan Heri Jovanka sudah tiba, pintu masuk tersebut di tutupi batu dan tanah oleh assassin yang memburu Willy.


Untung di antara mereka ada pengguna sihir elemen tanah sehingga dengan mudah menyingkirkan penghalang yang menutupi pintu masuk lorong.


Mereka pun masuk sekitar ada 20 orang termasuk Heri Jovanka masuk kedalam lorong mereka menggunakan sihir elemen api dan sihir cahaya untuk menerangi jalan mereka.


Betapa kagetnya mereka ketika melihat para assassin yang tadi bertarung dengan Willy.


8 orang assassin terbelah menjadi 2 bagian dan 2 orang assassin mati utuh serta ada bekas Tebasan di dinding tembok Lorong.


Semua orang tidak percaya ini berbuat dari Willy karena mereka yakin Willy tidak akan sanggup melakukan ini semua.


Heri Jovanka pun berteriak.


"Willy dimana kamu, ini kakak mu Heri Jovanka, di mana kamu adik ku"


Panitia dan orang dari guild petualang langsung membawa mayat mayat assassin yang semuanya sudah mati tersebut.


Panitia memasukan mayat tersebut kedalam kantong plastik hitam, bukan hanya itu saja bangkai dari monster tikus bermata satu pun tidak luput mereka bawa.


Tidak lama kemudian Willy keluar dari kegelapan dengan baju yang sobek dan berlumuran darah.


"Kak Heri kamu kesini juga"


Heri langsung berlari dan memeluk Willy.


"Syukurlah adiku selamat"


Willy pun dibawa keluar dari lorong tersebut sebelum keluar Willy berkata kepada panitia.


"Aku tidak didiskualifikasi kan lihat gelang ku masih utuh dan masih aku pakai, dan di ujung lorong sana banyak bangkai Monster tikus bermata satu yang sudah aku bantai termasuk pemimpinnya"


Panitia itu pun kaget kemudian menyuruh yang lain untuk masuk lebih dalam lagi ke lorong tersebut.


Willy dan Heri Jovanka pun keluar dari lorong tersebut.


"Apa kamu tidak apa-apa dek"


Willy tersenyum


"Tidak kak hanya luka sayat di punggung dan luka memar di sekujur tubuh"


Heri Jovanka pun menghela napas


"Syukurlah kalau begitu, di luar ada tim medis kamu akan segera di obati"


Willy pun mengangguk.


Ketika Willy habis membantai semua Monster tikus bermata satu dengan menggunakan senjata pedang dewa naga agung setelah semua monster itu mati.


Willy pun memasukkan kembali pedang dewa naga agung kedalam dimensi item Book milinya supaya tidak ada orang yang tahu bahwa dia menggunakan pedang tersebut.


Karena kalau banyak orang yang tahu dia menggunakan pedang tersebut benua akan terguncang dan bahannya banyak dari mereka yang ingin merebut pedang tersebut dari tangan Willy.


Setelah Willy keluar dari lorong tim medis pun langsung menyambut Willy dan Heri Jovanka,


Willy pun ditangani oleh tim medis bajunya di ganti kemudian luka Willy di sembuhkan dengan menggunakan sihir Penyembuh oleh para Healer.


Dan mereka pun kembali ke stadion sedangkan para petualang dan panitia lain mengidentifikasi para assassin yang menyerang Willy.


**


Di tempat yang lain


Maria pun sama di hadang oleh 10 orang assassin, tetapi itu tidak masalah karena Maria memengang senjata berupa tombak pemberian dari tetua Wan.


Maria yang sedang bertarung dengan 10 assassin itu ingin mengeluarkan jurus sihirnya.


"Jurus naga pet...."


Maria yang akan menyebut petir terhenti karena sihir yang akan dia keluarkan tidak muncul. Para assassin itu pun tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha....."


"Gadis Bodoh....kenapa hah....apa kamu tidak bisa mengeluarkan sihir"


Salah seorang dari mereka berbicara lantang dan teman yang lainnya pun berbicara.


"Ya...iya.. kamu tidak akan bisa mengeluarkan sihir, lihat di tangan mu gelang itu kami pasangi batu hitam laut dalam.


Batu itu bisa meredam kekuatan sihir, karena batu itu adalah batu khusus anti Magic siapapun orang yang memakai batu tersebut tidak akan bisa mengeluarkan sihir mereka"


Maria pun menanggapi assassin itu


"Kurang ajar dasar kalian manusia manusia licik kalau kalian kesatria kalian tidak akan berlaku licik seperti ini"


Mereka pun tertawa lagi


"Hahaha.....apa kamu bilang kami kesatria. Dasar Bocah Bodoh kami ini adalah para assassin yang bertugas untuk mencabut nyawa mu.


Maka bersiaplah untuk mati hari ini juga, kami bisa lakukan apapun agar misi kami tercapai termasuk bermain licik"


Maria tersenyum menunjukkan kepercayaan diri dia.


"Aku tidak akan mati begitu saja, mungkin kalian lah yang akan mati, andai kalian tahu aku juga adalah seorang assassin.


Meskipun tidak bisa menggunakan sihir tetapi banyak cara untuk mengalahkan kalian para cecunguk busuk"


Para assassin itu pun menjadi marah karena disebut cecunguk busuk.


"Kurang ajar jangan banyak tingkah mati saja kamu...."


Assassin itu memerintahkan temannya untuk menyerang.


"Hep...hiat..."


"Hep...hiat..."


Semua assassin itu bergerang melompat dan menerjang Maria.


Wuss....


Mereka mengayunkan pedangnya dari atas kebawah, Maria memutarkan tombaknya kemudian dipengang dengan dua tangannya dan mengarahkan ke atas kepala.


Wuk....


Hiuk....


Trang....


Maria menahan serangan pedang dengan tombak yang dia pegang.


Brak...


Maria merlutut karena menahan tekanan dari para assassin yang begitu kuat. Kemudian Maria mengumpulkan tenaga gan menghempaskan mereka hingga pedang bereka tidak lagi menempel di tombak milik Maria.


"Hep ..hiah..."


Dengan cepat Maria memegang ujung tombak kemudian dia hempaskan kembali kepada para assassin tersebut.


Hiuk....


Hiuk....


Alhasil para assassin itu menjauhi Maria, dan Maria pun bisa sedikit bernapas.


Di dalam lorong yang gelap dan tanpa penerangan Maria dan assassin itu sudah terbiasa karena Maria pun adalah seorang assassin.


Meskipun dulu waktu dia masih kecil di ajarkan menjadi seorang pembunuh oleh suku dan ayah Maria tetapi semenjak di tangkap dan di jual sebagai budak dan lalu di beli oleh Heri Jovanka.


Maria sudah tidak membunuh lagi, tetapi keterampilannya sebagai seorang assassin karena dia adalah dari suku yang terkenal sebagai suku assassin terhebat, keterampilan dia masih menempel bahkan setelah berguru kepada penyihir agung Volyaw Fahetar.


Kemampuan dia semakin meningkat bahkan, bukan hanya dari segi sihir tetapi beladiri pedang beladiri tombak dan beladiri tangan kosong Maria kuasai.


Maria tidak khawatir dengan sihirnya yang di kekang batu hitam laut dalam karena dasar beladiri tanpa sihir sudah memadai bahkan lebih lincah dari assassin yang akan membunuhnya.


"Hep...hiat..."


Trang....


Trong....


Trang....


Bruk....


"Ugh...."


"Agh...."


Satu persatu assassin itu terkena serangan Maria tetapi Maria pun juga banyak terkena serangan dari para assassin tersebut.


Baju dan celana Maria terkena sabetan pedang hingga sobek, perut dan punggung terkena tendangan assassin. Tetapi itu adalah resiko dari pertarungan antara hidup dan mati.


"Aku tidak boleh kalah, aku harus menang, akan aku bunuh assassin terlemah lebih dahulu baru aku menyerang yang lebih kuat"


Maria pun mengamati assassin yang gerakannya paling lambat, dalam pertarungan itu maria melihat ada sekitar 6 orang yang gerakannya lambat tidak secepat 4 orang lainnya.


"Oh itu mereka, biar aku hadapi mereka terlebih dahulu"


Maria yang sedang diserang langsung mundur beberapa langkah kemudian Maria balik menyerang orang yang di anggap dia paling lemah


Wuss....


Maria menyerang orang yang paling lemah dengan mengayunkan tombaknya.


Trak....


Assassin yang paling lemah itupun menahan serangan tombak Maria.


Brak....


Kemudian Maria menendang assassin itu ketika menahan tombaknya tersebut.


Celeb....


Setelah Maria menendang dan assassin itu tersungkur, dengan cepat Maria menusuk perut assassin itu dengan ujung tombaknya yang runcing.


"Agh....


Assassin itu pun mengerang kesakitan dan langsung nyawanya melayang.


"Uh...berhasil membunuh satu tinggal 9 orang lagi"


Setelah salah satu dari assassin itu mati, assassin yang lain pun sedikit terkena mental, tetapi salah satu dari mereka berteriak.


"Jangan takut kita harus bersatu jangan sampai terpencar, gadis kecil itu mencari celah supaya kita berpencar, ayo rapatkan formasi"


Kesembilan assassin itu tidak berpencar lagi mereka membentuk kelompok satu grup terdiri dari 3 orang untuk mengepung Maria.


***


*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.


Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini


👇


http://saweria.co/DaniSutisna


*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.