
Setelah monster hutan dan monster kera kabur meninggalkan tempat itu, Maria pun mencibir "Sekarang apa lagi yang akan kamu kendalikan, makhluk yang kamu kendalikan hanya keroco saja, meskipun banyak. keroco tetap saja keroco"
Tuan enam belas menjadi marah dia pun mengumpat Maria "Memangnya hanya itu saja yang aku bisa, aku juga seorang penyihir yang akan segera menghabisi nyawa mu, mati lah...."
Tuan enam belas mengeluarkan tongkat sihir dan kemudian menyerang Maria dengan menggunakan sihir elemen api "Fire..... boll...."
Wuss.....
Maria dan Willy langsung melompat menghindari, karena bola api yang di keluarkan lumayan besar dan daya ledaknya kuat.
Duwar....
Seketika arena itu menjadi berlubang dengan diameter 10 meter dengan dalam 2 meter dan bekas ledakan itu masih berkobar api berwarna merah.
Maria yang melompat kemudian mendarat di atas pohon dan kemudian dia menghentakkan kakinya untuk kembali menyerang tuan enam belas.
Maria menghunuskan tombak petir ke arah tuan enam belas tanpa menggunakan sihir elemen petir yang dia miliki.
Wuss.....
Maria hampir sampai dan akan menusuk tuan enam belas dengan mudah, tetapi tiba-tiba tombak petir Maria di tahan oleh pedagang yang di Pengang seorang kesatria.
Trang....
Maria pun terpental karena tubrukan senjata dirinya dengan kesatria itu.
Kesatria yang menyelamatkan tuan enam belas memakai full armor berwarna putih dengan tutup kepala sehingga tidak ada celah untuk senjata mengenai tempat Vital kesatria itu.
Kemudian tuan enam belas pun bertanya "kemana saja kamu tuan tujuan belas, dari tadi aku menunggu mu di Hutan ini"
Kesatria itu di panggil tuan tujuh belas, dan tuan tujuh belas pun menjawab "Maafkan aku, tadi aku sakit perut yang tidak tertahankan, sehingga aku nyari tempat untuk buang air besar"
"Ah dasar kamu ini, mau membunuh orang malah sakit perut" ucap tuan enam belas.
"Iya maaf mungkin aku nerfes" jawab tuan tujuh belas.
Setelah itu mereka saling bertatapan dan mereka saling mengangguk, setelah itu mereka melarikan diri dengan cara berpencar.
Willy dan Maria tahu bahwa mereka ingin bertarung secara terpisah, karena di pertarungan sebelumnya Willy dan Maria pun melakukan hal demikian.
Sehingga sekarang giliran Willy dan Maria yang mengejar mereka, Willy mengejar kesatria itu, sedangkan Maria mengejar Beast tamer.
Sudah cukup jauh tuan enam belas pun berhenti berlari dan berbalik ke arah Maria.
"Di sinilah tempat bertarung kita dan tempat di mana kamu akan di makamkan, aku akan membalaskan dendamnya murid ku yang kamu bunuh di kota murbei" ucap tuan enam belas.
Maria berpikir sejenak, mengingat ingat kejadian di kota murbei di mana dirinya dan Willy di turunkan peringkat petualang menjadi pemula.
Dan penyerangan monster kera terjadi di kota itu, bukan hanya itu Maria dan Willy harus satu party dengan Rooney dan Sovia serta pergi ke hutan untuk menjalankan quest.
Di sana lah Maria baru ingat, murid dari tuan enam belas yang sesama beast tamer "oh jadi kamu akan membalaskan dendam murid mu yang lemah itu, aku kira si denim dan temannya sangat kuat karena level petualang mereka ada di tingkat gold, tetapi perkiraan ku salah, hanya dengan sekali serang, dia mati. Padahal aku hanya menggunakan 25 persen saja dari kekuatan ku"
Tuan enam belas marah dan berteriak kepada Maria "lemah kata mu, dia satu satunya murid ku yang paling berbakat tahu, hanya saja dia sedang sial karena harus menerima serangan dadakan dari mu"
Maria memprovokasi sambil menggoyangkan tangannya "lemah ya lemah saja, apa pun itu alasannya, dan mungkin kamu juga sebagai gurunya juga sama lemahnya seperti si denim itu"
"Lancang kamu gadis kecil sialan, aku akan membunuh mu sekarang juga" tuan enam belas sangat marah dan langsung menggunakan sihir elemen api.
"Multi fire boll...."
Wuss....
Wuss....
Banyak bola api keluar dari tongkat sihir tuan enam belas, Maria tahu serangan itu sangat berbahaya, biar pun bola api yang di keluarkan itu kecil sebesar bola tenis, tetapi memiliki daya ledak yang tinggi.
Maria pun mengeluarkan tombak angin untuk menghalau puluhan bola api yang di keluarkan oleh tuan enam belas.
"Tombak angin penghancur...."
Wuss....
Angin kencang keluar dari ayunan tombak itu.
Duwar....
Duwar....
Semua bola api langsung meledak di udara, percikanya berhamburan kemana mana yang membuat hutan terbakar.
Tuan enam belas pun membelalakan matanya "Apa itu tombak angin yang di gunakan oleh tuan sembilan belas, apa kamu sudah membunuhnya ?"
Maria pun menjawab sambil memprovokasi "Dia hanya penghianat dari kerajaan Jovalavia, dia pantas mati begitu juga diri mu"
"Bocah kurang ajar, kamu tidak akan sanggup untuk membunuh ku, rasakan lah serangan terkuat ku ini" tuan enam belas membacakan mantra.
Tongkat sihir milik tuan enam belas pun mengeluarkan cahaya merah setelah dia membacakan mantra.
Tuan enam belas pun berteriak "Meteor api....."
Muncul 10 lingkaran sihir sihir di atas langit kemudian lingkaran sihir itu mengeluarkan ribuan bola api yang jatuh kearah Maria.
Maria segera menghempaskan tombak angin untuk menghalau bola api tersebut, tetapi karena bola api yang keluar sangat banyak, tombak angin hanya mampu meledakan sebagian besar dari bola api tersebut.
Sedangkan beberapa bola api lainnya bisa lolos dan jatuh keatas tanah dan menimbulkan ledakan yang sangat besar.
Maria melompat dan menghindari segala ledakan tersebut, melihat Maria kewalahan tuan enam belas pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha....rasakan lah itu dasar bocah sombong, aku di kenal juga dengan si penyihir api ledakan, rasakan lah jurus andalan ku"
Maria tahu semakin rendah nomor dari si pembunuh bayaran itu maka kekuatannya akan semakin hebat, Maria pun berpikir bagai mana dengan pembunuh si nomor satu, apakah dia ada di tingkatan pahlawan seperti Willy atau di tingkatan dewa seperti putri Afsha Al Fatih dan pangeran hayitam Al Fatih.
Sambil menghindari semua bola api, Maria pun melihat status level yang dimiliki oleh tuan enam belas menganggukan mata emas.
Benar saja, dari penglihatan Maria, tuan enam belas ada di level A awal yang berarti orang ini ada di tingkatan pahlawan, dengan kekuatan tempur yang lumayan besar.
Maria pun sama dia ada di level pahlawan tetapi kekuatannya tempur yang dia miliki lebih besar, bukan hanya itu skill yang di miliki oleh Maria juga banyak.
Tetapi memang sangat merepotkan kalau melawan orang yang selevel dengan dirinya, tetapi bukan berarti Maria bisa di kalahkan dengan mudah, begitu pula musuhnya.
Meskipun kekuatan tempur di bawah Maria, tetap saja daya serangnya begitu hebat. Kalau Maria sampai lengah sedikit saja mungkin Maria akan kalah dan terluka sangat parah.
Kekuatan sihir yang dia miliki memang besar, tetapi Maria yakin bahwa skill pertarungan jarak dekat dia tidak bisa karena dia pastinya hanya mengandalkan sihirnya saja.
Itu terbukti dengan Maria yang tadi akan menghunuskan tombaknya dia memiliki respon yang lambat untuk menghindar, kalau saja tidak ada kesatria itu mungkin dari tadi tuan enam belas akan mati di tusuk tombak petir Maria.
Maria menghindar sambil memperpendek jarak di antara mereka, dan setelah jarak dekat Maria pun menggunakan pisau terbang untuk menyerang tuan enam belas.
Pisau terbang yang berbentuk kunai itu hasil rampasan dari assassin yang mati di desa sebelumnya dan sekarang dia gunakan untuk menyerang tuan enam belas.
Wuss....
Wuss....
Beberapa pisau Maria lemparkan yang dia ambil dari sihir dimensi item Book.
Cleb....
Crack....
Satu pisau terbang itu menancap di dada sebelah atas kanan tuan enam belas dan pisau lainnya menggores tangan dan kakinya.
Agh ....
Tuan enam belas meringis "Kurang ajar, dasar wanita licik, kamu menggunakan senjata rahasia kepada ku, dasar kurang ajar"
Karena tuan enam belas terluka lingkaran sihir yang mengeluarkan bola api di langit tiba-tiba menghilang.
Di sana Maria mencibir "Di pertarungan hidup dan mati tidak ada yang namanya curang, apa pun bisa di lakukan dan di gunakan"
Karena serangan bola api sudah berhenti, Maria pun mendekati tuan enam belas.
Dia pun menyadari bahwa Maria mendekat dan akan menyerangnya secara langsung, tuan enam belas pun melompat sambil memegangi dadanya yang terluka setelah mengeluarkan pisau yang tertancap tersebut.
Tuan enam belas melompat bermaksud untuk menjaga jarak supaya dia bisa mengeluarkan sihir serangan kepada Maria.
Setelah sedikit menjauh, tuan enam belas membacakan mantra dan mengeluarkan bola api kembali.
"Fire boll...."
Wuss....
Maria menghindar dan bola api itu menghantam pohon kemudian meledak
Duwar....
Batang pohon yang sudah meledak membuat pohon itu tumbang dan terbakar.
Maria hanya menengok kedepan sebentar dan kembali fokus ke pada tuan enam belas.
Maria pun berkata "Hanya itu yang kamu bisa, bacaan mantra mu sangat lambat sehingga aku mudah menghindari serangan mu, memangnya hanya kamu saja yang memiliki sihir serangan seperti itu"
Maria memasukan tombak angin dan mengeluarkan tombak petir. "Rasakan lah serangan ku ini, serangan ini juga yang telah membunuh murid mu denim"
Maria pun memutarkan tombaknya kemudian menghempaskannya "Jurus naga petir penghakiman......"
Energi sihir elemen petir keluar dari ujung tombak petir dan membentuk sosok ular naga, kemudian ular naga itu terbang kearah tuan enam belas.
Wuss....
Krekak....
Tuan enam belas tidak akan bisa menghindar, karena naga petir akan terus terbang mengikuti musuh Maria yang ada di depannya sampai musuhnya itu terkena.
Tuan enam belas pun menghalau serangan Maria dengan bola api.
"Multi fire boll....."
Wuss....
Duwar....
Duwar....
Bola api menembaki naga petir, tetapi bola api itu tidak cukup untuk menghentikan naga petir tersebut, meskipun terjadi ledakan, malah naga petir itu semakin membesar karena menyerap ledakan dan api yang di keluarkan oleh tuan enam belas.
Energi petir perpaduan dari energi sihir elemen api dan sihir elemen angin, sehingga sihir elemen api biasa tidak akan dapat menghentikan pergerakan naga Petir.
Serangan sihir tuan enam belas semakin melemah karena dia sedang terluka, jalan terakhir dia menggunakan kekuatan sihir yang dia miliki untuk membentuk barier Pelindung.
Tuan enam belas pun berteriak "tameng pelindung...."
Energi barier pelindung milik tuan enam belas membentuk Tameng dan menghalangi naga petir untuk mengenai dirinya.
Krekak....
Duwar....
Naga petir menubruk perisai pelindung dan membuat tameng energi itu retak dan membuat ledakan yang sangat besar.
Tuan enam belas pun terkena dampak dari ledakan itu, tubuhnya tidak bisa di gerakkan karena terkena kejutan listrik yang membuat tubuhnya mati rasa.
Setelah ledakan itu berakhir dan asap yang mengepul kembali turun, Maria pun mendekati tuan enam belas "Ajal mu sudah tiba, sekarang kamu harus bertemu murid mu denim di alam baka"
Maria mengambil tongkat sihir yang tergeletak di dekat tuan enam belas setelah itu Maria menendang keras tuan enam belas sampai memuncratkan darah dari mulutnya.
Tuan enam belas pun terbang sampai menubruk beberapa pohon yang menjadi tumbang dan kemudian tuan enam belas pun mati.
Maria mendapatkan tongkat sihir sebagai harta rampasan, dia pun memasukan semua senjatanya kedalam sihir dimensi item Book dan berniat kembali ke tempat semula.
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna