
Tidak lama kemudian Willy dan Maria sampai di pulau yang mereka tuju tanpa berusaha payah.
Sedangkan di tempat yang lain, Shandya berlari dengan cepat sehingga pas sampai ujung pulau dia hendak melompat dan mencapai akar dari pulau langit berikutnya.
Tetapi ketika dia sudah sampai di ujung pulau dan hendak melompat, dia terkejut karena ada jembatan es, sehingga dia pun tidak jadi untuk melompat.
Shandya bergumam "Sialan aku di bodoh kedua orang itu, awas saja kalau ketemu akan aku balas"
Shandya memiliki melanjutkan berlari melalui jembatan es tersebut, tetapi ketika dia baru beberapa meter berlari melewati jembatan es, terdengar suara krekak....
Dia pun memperlambat larinya dan menoleh ke arah belakang, tetapi tiba tiba, jembatan es itu berlahan runtuh.
Shandya pun mengumpat "Sialan....aku harus cepat berlari, kalau tidak aku bisa terjatuh ke bawah "
Tanpa pikir panjang lagi Shandya berlari tergesa-gesa dengan sangat cepat, dia tidak memikirkan apa pun lagi, yang pasti dia harus sampai ke pulau langit yang berikutnya dengan cepat.
Setelah hampir sampai tujuan, jembatan itu pun pecah.
Brak....
Shandya pun berinisiatif untuk melompat dengan memakai kekuatan penuhnya.
"Hep Hiah....." Teriak Shandya yang melompat.
Lompatan Shandya tidak sepenuhnya sampai di ujung pulau, dia hampir saja tidak sampai di ujung.
Beruntung tangannya lebih dulu leraih ujung pulau langit yang terbuat dari batu, sehingga dia pun menggantung di sana.
Kaki yang sudah lemas karena berlari jauh, dan badan yang sudah tidak lagi fit, serta tangan yang tidak bertenaga, berlahan pegangan tangan Shandya terlepas dari dinding batu yang dia pegang.
Ketika semua jari tangannya sudah tidak kuat lagi dan dia akan terjadi, ada tangan yang memegang pergelangan Shandya. Kemudian tangan itu mengangkat dirinya keatas.
"Ah.... beruntung aku menarik mu tepat waktu" ucap Willy yang menarik tangan Shandya.
Maria mencibir "Kamu terlalu bodoh, melakukan perkataan orang yang belum tentu berhasil di lakukan tanpa pikir panjang"
Shandya tadinya hendak marah karena sudah di bodohi, tetapi karena Willy telah menolong dirinya dan perkataan Maria itu benar, dia pun mengurungkan niatnya untuk marah
Dia pun mengakui bahwa dirinya bodoh "Ya memang otak ku kosong, aku tidak memiliki ide dan bertindak ceroboh, sehingga apa yang kamu katakan menjadi solusi untuk ku supaya cepat sampai di tempat ini"
"Iya kalau begitu kamu akan mati konyol, kalau ada di pertempuran sebenarnya, karena otak mu kosong, tidak dapat berpikir secara jernih" sindir Maria.
"Terima kasih sudah menolong ku, aku sekarang sangat lemas, kalian pergi saja terlebih dahulu" ucap Shandya.
Willy mengeluarkan stamina potion dan menyerahkannya kepada Shandya "Ini potion yang bisa mengembalikan stamina dan vitalitas tubuh mu, minumlah, setelah itu kita berangkat bersama"
Shandya pun mengambil stamina potion dari Willy dan tanpa ragu dia langsung meminumnya dengan satu kali tegukan.
"Ah .... terima kasih, sekarang badan ku sudah merasa ringan" ucap Shandya sambil menggoyangkan pinggulnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, disana Shandya pun banyak bertanya "Apa tadi jembatan es itu kamu yang buat ?"
Willy pun mengangguk "iya memangnya kenapa"
"Tidak apa-apa, jembatan itu sangat membantu" ucap Shandya.
"Hay tadinya aku mau mengajak mu melalui jembatan es yang Willy buat, tetapi setelah mendengar ucapan ku tentang lari dan melompat, kamu sudah pergi terlebih dahulu, mau aku panggil tetapi kamu sudah menghilang" ucap Maria.
"Iya aku bodoh karena memikirkan diri ku sendiri" jawab Shandya.
Kemudian Willy pun bertanya "Ngomong ngomong elemen sihir yang kamu miliki apa ?"
Shandya menggelengkan kepalanya "Aku seorang Magic sword man, sehingga aku tidak bisa menggunakan sihir pelepasan"
Shandya pun tertawa sambil menggaruk kepalanya "Hahaha....aku tidak kepikiran kesana, jadi aku hanya melakukan saran mu saja berlari dan melompat"
Maria pun bergumam sambil memicingkan matanya "Oh iya ya, dia kan bodoh".
Beberapa jam berjalan menyusuri jalan, mereka pun sampai di sebuah gubuk, dimana prajurit yang memandu tadi sedang beristirahat.
Mendengar suara langkah kaki prajurit itu pun bangun "Aku tidak menyangka, kalian akan cepat sampai di pulau ini"
Ketiga orang itu tersenyum "hehehe....iya tuan"
Kemudian prajurit itu pun mengajak mereka untuk melihat pohon dewa, disana juga ada pemukiman, banyak bangsa Elf yang mendiami pulau langit ini
Mereka semua penjaga dan sekaligus yang merawat pohon dewa dan memanen buah dewa yang sangat berharga.
Sesampainya di sana prajurit itu pun memberitahukan bahwa pohon besar yang ada di depannya adalah pohon dewa.
Sontak Willy tercengang, kemudian dia tertawa terbahak-bahak "Hahaha.... Benar kah ini pohon dewa, apa tidak salah"
Semua orang menatap Willy dengan tatapan yang sinis, apalagi mereka adalah bangsa Elf yang tidak suka terhadap manusia.
Salah seorang dari bangsa Elf pun berteriak sambil menunjuk ke arah Willy "Hai bocah, bicara apa kamu, ini memang pohon dewa, penghinaan terhadap pohon dewa bisa di jatuhi hukuman mati tahu"
Maria pun menggoncang tubuh Willy supaya berhenti tertawa "Aduh pangeran bodoh, jangan berbicara omong kosong kamu di sini, nanti menjadi masalah"
Willy pun berhenti tertawa tetapi mulutnya masih menyeringai, sepertinya dia menahan tawa.
Willy pun membungkukkan badannya "Maaf, aku minta maaf"
Bangsa Elf itu mengibaskan tangannya "Sudahlah, kalau bukan kamu tamu spesial, sudah dari tadi aku jadikan pupuk organik untuk pohon dewa"
Maria pun berbisik "Hai kenapa kamu tiba-tiba tertawa setelah melihat pohon dewa"
Willy pun berbisik juga di telinga Maria "Di dunia ku, pohon ini disebut dengan pohon pepaya, pohon yang sangat banyak, bahkan buahnya sangat murah, bahkan aku bisa mendapatkan buah itu gratis dengan mengambil di pinggir jalan pasar Caringin di tempat ku"
Mendengar itu sontak Maria kaget "Apa, apa yang kamu katakan itu benar"
Willy mengangguk "iya betul, apa aku pernah berbohong kepada mu"
Maria menggelengkan kepalanya "ya memang kamu tidak pernah berbohong kepada ku, tetapi apakah kamu tahu dunia mu dan dunia saat ini berada, kamu harus menyesuaikan diri dengan dunia mu yang sekarang, meskipun kamu dari lahir sudah di dunia ini, tetapi ingatan masa lalu mu masih ada"
Maria sedikit memperingatkan Willy, sudah tidak sembarang berkata lagi, karena Maria takut bahwa identitas Willy selaku rengkarnasi dari dunia lain terungkap.
"Baiklah aku akan bersikap seperti biasa saja dan mengikuti alurnya saja" ucap Willy.
Kemudian Shandya menegur "Hai kalian berdua apa yang sedang kalian diskusikan"
"Willy langsung terperangah dan melambaikan kedua tangannya "Tidak.... tidak ada apa apa"
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna