
Raja Freevik Reagon mengumumkan hasil dari pertandingan terakhir tersebut.
"Pertandingan babak ke 3 dimenangkan oleh pasukan perisai naga"
Semua pasukan perisai naga bersorak kegirangan karena memenangkan pertandingan babak ke 3
Kemudian Raja Freevik Reagon mengumumkan kembali
"Karena pasukan kalian menang di setiap babak jadi hasil dari kompetisi ini kalian Draw, dan saya akan mengadakan satu kompetisi Final untuk menentukan siap pemenang dari kompetisi in.
Persiapkan fisik dan mental kalian dari sekarang karena sebentar lagi kita akan mengadakan babak tambahan, silahkan kalian istirahat terlebih dahulu sebelum babak selanjutnya di mulai dan obati teman kalian yang terluka dengan Potion penyembuh"
Raja Freevik Reagon langsung kembali ke tempat dia mendirikan tenda karena tempat prajurit berkumpul dan tenda tempat istirahat para panitia kompetisi termasuk Willy dan yang lainnya cukup jauh berada di atas bukit.
Tetapi para prajurit masih kelihatan di atas sana bahkan bila berteriak memberi komando mereka pun pasti mendengarnya karena efek gema yang terpantul sehingga suara menjadi besar dan keras.
Setelah Raja Freevik Reagon sampai ditempat istirahat tiba tiba ada suara bergemuruh, terjadi gempa didaerah sana dan pohon pohon tumbang dengan sendirinya.
Terdengar suara memekikan telinga
Goar....
Goar....
Goar....
Muncul mahluk yang sangat besar berbadan mirip dengan terenggiling dengan tempurung yang sangat keras sedang mengamuk di daerah sana.
Para prajurit latih semuanya panik bukan main melihat Monster yang sangat besar diperkirakan besarnya ada sebesar rumah mewah 2 lantai.
Meskipun monster itu bergerak dengan lambat tetapi efek kerusakan yang di timbulkan sangat besar bahkan pohon besar pun tumbang oleh gesekan dengan badan monster tersebut.
Para prajurit panik mereka berkata
"Itu adalah monster bukit Hitam, monster kelas bencana mengapa ada di daerah sini"
"Gawat kalau begitu kita bisa mati kalau begini"
Di atas bukit Raja Freevik Reagon berteriak kepada para prajurit latih
"Jangan takut kalian adalah prajurit pemberani karena ini tidak terduga jadi kompetisi terakhir kita mulai siapa pun pasukan yang bisa mengalahkan monster itu akan menjadi juaranya dan di berikan hadiah besar"
Mendengar kata hadiah besar Meraka yang tadinya takut menjadi pemberani mereka siap bertarung mempertaruhkan nyawa mereka.
Raja Freevik Reagon berteriak kembali
"Siapa yang paling banyak berkontribusi dalam menghadapi monster itu akan di berikan plakat pasukan inti kerajaan Lareagon dan di anggap pasukan inti muda, kalian bekerja sama lah dengan pasukan yang lain"
Setelah itu pasukan bersiap untuk menghadang monster bukit Hitam tersebut.
Raja Ferik Reagon memberikan komando
"Bentuk Fomasi tempur"
Pasukan Perisai Naga langsung membentuk Formasi. Kemudian Maria memberi komando juga.
"Pasukan tombak naga masuk mode tempur gabungan"
Pasukan tombak naga berlari dibelakang pasukan Perisai Naga karena Raja Ferik Reagon dan Maria pernah melakukan latihan gabungan untuk menghadapi perang melawan musuh dan kedua formasi ini adalah formasi gabungan mereka.
Sebagian prajurit yang sudah memiliki Gripon mereka menaiki Gripon mereka masing-masing dan menyerang dari udara dengan tombak dan pedang.
Pasukan Raja Naga berada di belakang pasukan lainnya kemudian mereka melihat Willy di atas bukit sedang memberikan isyarat dengan bendera yang dia bawa.
Semua Pasukan Raja Naga sudah mengerti dan para kapten mereka pun membawa anak buah mereka.
"Ayo semua menyebar ikuti masing masing kapten kalian"
Pasukan Raja Naga berhamburan meninggalkan arena pertempuran,
Prajurit yang melihat mereka menggerutu.
"Dasar penakut, kita sedang menghadapi Monster mereka malah lari terbirit-birit"
"Mereka itu bukan prajurit tetapi para pecundang yang takut mati"
"Berengsek mereka malah meninggalkan kita yang sedang bertempur melawan monster"
Di atas bukit pun sama Raja Ferik Reagon, Maria, Clarisa dan Raja Gibran menggunjing Pasukan Raja Naga.
"Sialan Lihat itu putra Eldra pasukan mu malah lari terbirit-birit"
"Hai tuan muda, apa benar selama ini kamu melatih prajurit, lihat mereka pengecut sekali"
"Dek, apa ini tidak memalukan seorang prajurit seharusnya berani mati ini malah kabur dalam pertempuran"
"Hai bocah tampan, paman sungguh kecewa melihat pasukan mu yang langsung mundur".
Gunjingan demi gunjingan di lontarkan oleh mereka dan bahkan yang paling pedas menyindir adalah jenderal besar pasukan inti kerajaan Lareagon.
Tapi Willy hanya tersenyum dan mengangguk kepala tidak menanggapi gunjingan mereka
Di sana Prajurit sedang berusaha melawan monster dari depan, samping dan belakang.
Banyak dari mereka yang terhempas oleh serangan monster itu dan banyak juga yang pingsan karena menerima serangan dari monster.
Semua menyerang dengan gagah berani dan tanpa perhitungan, menebas apa yang mereka bisa tebas dan menusuk semua area yang bisa mereka tusuk.
Tetapi monster itu tidak tergores sedikitpun karena tempurung dan kulit yang keras tidak bisa di lukai hanya dengan sebetan pedang dan tusukan tombak.
Di berbagai posisi Pasukan Raja Naga sudah bersiap, mereka sambil bersembunyi mengeluarkan senjata andalan mereka yaitu senjata api, biar lebih keren kita sebut dengan Shoot Gunt.
"Seberapa tebal tempurung, seberapa kuat sisik dan kulit monster tetapi memiliki titik kelemahan yaitu ada bagian dari mereka yang lunak.
Bahkan bisa berdarah hanya dengan menggunakan tusuk gigi, jadi kalau kalian nanti menghadapi mahluk seperti itu maka kalian harus mengetahui titik lemah mereka.
Titik lemah yang biasa tidak dilindungi sisik atau tempur adalan bagian kelopak mata abis dan bagian ketiak itu biasanya menjadi titik lemah monster"
Dengan mengingat ajaran dari Willy semua pasukan Raja Naga membidik bagian vital monster tersebut dengan menggunakan peluru tahan yang di aliri oleh energi sihir supaya bisa menembus kulit dan tempurung yang keras.
Setiap kapten dari ke 10 sub pasukan Willy telah memberikan tanda yaitu mereka mengibarkan bendera yang bertanda mereka siap untuk menembak.
Mereka menunggu perintah dari Willy untuk memberikan komando menembak.
Willy melihat para kapten sudah memberikan tanda dengan bendera mereka masing-masing, kemudian Willy berbicara kepada Raja Ferik Reagon dan Maria.
Kak Ferik dan Maria berikan perintah kepada Pasukan kalian untuk mundur pasukan ku sudah siap untuk penyerangan dadakan.
Mereka terkejut dengan perkataan Willy yang selama ini menganggap mereka melarikan diri.
Tetapi jenderal pasukan inti tidak percaya.
"Mana buktinya kalau pasukan putra Eldra akan menyerang mereka tidak kelihatan dan malah bersembunyi"
"Lihat lah di sekeliling kita itu adalah bendera para kapten yang siap untuk menyerang"
Raja Gibran heran dan berkata kepada Willy.
"Menyerang dalam jarak sejauh itu, apa kami tidak sedang bermimpi bahkan bila kalian menggunakan anak panah juga tidak akan menembus tempurung monster yang keras itu, bahkan para prajurit bertombak dan menggunakan pedang tidak dapat menggores kulit monster itu"
Willy tersenyum
"Percayalah ini satu satunya cara yang bisa saya coba untuk membuktikan pasukan yang saya latih tidak pengecut seperti yang kalian katakan"
Kemudian Raja Freevik Reagon memerintahkan kepada Ferik Reagon dan Maria.
"Kakek percaya kepadamu putra Eldra, kamu selalu membuatku terkejut dengan pola pikir yang diluar nalar dunia ini, maka untuk kalian Ferik dan Maria lakukan perintah dari Putra Eldra"
Ferik Reagon dan Maria pun memerintahkan semua Prajuritnya.
"Semua prajurit Mundur"
"Pasukan Perisai Naga semua mundur"
Semua prajurit telah menerima perintah untuk mundur maka mereka pun dengan tergesa-gesa mundur.
Setelah prajurit itu sedikit jauh dari monster tersebut Willy memberikan isyarat untuk menembak dengan mengibarkan bendera.
Di tiap tempat tersembunyi terdengar suara ledakan.
Door ....Door....Door....
Crack.... Crack.... Duwar....
Satu kali tembakan di tiap-tiap orang melesat dan meluncur kearah Monster tersebut. 1.000 peluru meluncur dan mendarat di tubuh monster tersebut.
Monster itupun tidak bisa bergerak karena titik titik vital dari monster itu sudah tertembak sengingga monster tersebut menjadi lumpuh.
Willy memberikan perintah kembali.
"Pasukan Bidik"
Di setiap sudut Hutan pasukan Raja Naga berteriak.
"Siap Target terbidik"
Willy memerintahkan mereka untuk menembak.
"Tembak..."
Para kapten mengikuti kata kata Willy
"Pasukan Tembak..."
Door.... Door...Door....
Door....Door...Door....
1.000 peluru ke 2 meluncur dari berbagai arah.
Crack....Duwar
Crack.... Duwar
Monster itupun menghembuskan nafas terakhirnya, dan monster itu pun mati, Willy pun memberi perintah dengan benderanya supaya semua pasukan berkumpul ditempat semula.
Para prajurit bersorak gembira karena monster yang mereka lawan sudah mati oleh serangan pasukan Raja Naga.
Semua orang yang berada di atas bukit seperti Raja Gibran, Jendaral pasukan inti, Clarisa, Maria dan Ferik Reagon melotot dan bengong dengan mulut mengaga, mereka tidak percaya pasukan yang di pimpin Willy bisa mengalahkan monster dengan mudah.
Bahkan senjata yang mereka gunakan bukanlah panah tetapi senjata lain yang belum pernah dilihat oleh mereka bahkan peluru yang terlontar sangat kecil sebesar biji kelereng.
Tetapi daya hancurnya begitu menakutkan bahkan tempurung monster yang sangat keras yang tidak bisa di gores pedang dan tombak bisa berlubang dengan peluru tersebut.
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.