
Seharian mereka berada di kereta kuda bersama rombongan perusahaan dagang Balor, dan malam hari mereka beristirahat dengan mendirikan tenda.
Situasi perjalanan sangat lancar dan aman bahkan tidak ada satu pun hewan buas atau bandit yang menghadang.
Keesokan paginya mereka pun melanjutkan perjalanan, karena perjalanan menuju ke Kota hitam 2 hari perjalanan kalau menaiki kuda dan kalau berjalan kaki bisa di tempuh dalam waktu 4 hari itu juga kalau malam tidak istirahat dan kalau malam beristirahat perjalanan bisa di tempuh dalam waktu 1 Minggu.
Kalau saja Willy dan Maria melakukannya dengan cara berlari mungkin ke kota hitam hanya bisa di tempuh dalam satu hari perjalanan, karena kecepatan lari mereka berdua melebihi kecepatan kuda bahkan 10 kali kecepatan kuda yang sedang berlari.
Mereka pun memasuki ngarai di mana jalan di apit oleh 2 bukit batu terdengar pemimpin pengawal berteriak sebelum memasuki ngarai tersebut.
"Siapkan diri kalian, ada kemungkinan perampok gunung mengincar dan menyergap kita di dalam ngarai, siapkan senjata kalian dan tetap waspada" teriak pemimpin pengawal.
Willy pun bertanya kepada Hiden Balor "Apa di sini sering terjadi perampokan"
Hiden Balor mengangguk "iya, mereka menjarah barang berharga, biasanya ada orang sebelum ngarai ini yang meminta upeti, kita sering memberikan upeti itu dan perjalanan lancar tanpa di hadang oleh perampok gunung. Tetapi dari tadi tidak ada seorang pun yang menghadang, saya takutkan mereka ingin menjarah semua barang dagangan miliki kami"
"Kalau begitu biar aku pergi ke depan untuk memastikan keselamatan para pengawal dan kusir" ucap Maria.
"Pergilah tetapi jangan gegabah, lihat situasi terlebih dahulu jangan langsung menyerang kalau memang ada perampok yang menghadang " ucap Willy.
Maria pun melesat keluar dari kereta kuda dengan menggunakan langkah angin sehingga pergerakannya secepatnya kilat
Maria sudah berdiri di atap kereta kuda dan dia berlari dan melompat dengan bertumpu kepada atap kereta kuda yang berjajar sambil berjalan.
Ada sekitar 20 kereta kuda yang membawa barang bawaan dengan di kawal 20 orang pengawal serta 2 kusir disetiap kereta kuda.
Mati berlari sampai ke depan dan dia turun di samping kusir yang kebetulan sedang duduk sendiri karena kusir pengganti sedang beristirahat.
Kusir itu pun kaget karena tiba-tiba Maria berada di sampingnya "Nona muda....?"
"Teruskan mengendarai kereta kudanya jangan memperdulikan saya" ucap Maria.
Kusir itu pun berkonsentrasi kembali dengan memegang tali kekang kuda, dan mereka pun masuk kedalam jalan yang di apit oleh 2 bukit batu.
Maria memperhatikan sekelilingnya, tidak ada yang mencurigakan bahkan tidak ada pergerakan dari perampok. Jalan ini lumayan panjang ada sekitar 1 kilometer jauhnya.
Para pengawal pun bersiaga dengan pedang sudah keluar dari sarung mereka dan siap untuk bertempur kapan pun.
Di tengah tengah terlihat tumpukan batu yang menghalangi jalan, seperti di sengaja supaya jeratan kuda tidak bisa melaluinya, dan hanya di sisakan untuk satu orang berjalan kaki.
Pemimpin pengawal segera berteriak "Berhenti ada batu menghalangi jalan...."
Kereta kuda pun berhenti 50 meter dari bongkahan batu yang menghalangi jalan tersebut, dan tiba-tiba sekumpulan orang keluar dari balik batu tersebut di perkirakan ada sekitar 60 orang.
Mereka bersenjatakan lengkap, seperti suku barbar dengan bertelanjang dada dan memakai ikat serta rompi yang terbuat dari kulit hewan.
"Bersiap Perampok gunung batu muncul lindungi semua kereta kuda " teriak pemimpin pengawal.
Dari jumlah perampok dan jumlah pengawal mereka sangat berbeda jauh dan kalah jumlah, walaupun melawan mereka tetap saja akan mengalami kekalahan.
Para kusir pun bersiap ternyata mereka bukan sekedar kusir biasa, tetapi merangkap sebagai pengawal, dengan pedang yang sudah siap di cabut dari samping tempat duduk.
Dan sekarang jumlah mereka seimbang 60 orang perampok gunung batu berhadapan dengan 60 pengawal perusahaan dagang Balor.
Salah seorang dari perampok itu maju beberapa langkah dan sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok perampok tersebut.
"Tinggalkan Barang bawaan kalian, dan pergilah dari sini, atau kalian semua akan kami habisi" ucap pemimpin perampok.
Hiden Balor yang mendengar teriakan itu bergegas keluar dari kereta kuda, dan berjalan ke depan di ikuti Willy dan Bomay.
Setibanya di ujung paling depan Hiden Balor pun menjawab "Tuan, setiap kali kami lewat kami selalu membayar pajak jalan untuk melewati jalur ini, tetapi kenapa tiba-tiba anda meminta kami menyerahkan semua barang bawaan kami"
"Oh ternyata Tuan muda Balor yang langsung memimpin rombongan kereta kuda ini, baiklah aku akan berbaik hati, berikan aku 10 ribu koin emas maka kalian bisa melewati ngarai ini dengan selamat" pinta pemimpin perampok.
Hiden Balor pun membelalakkan matanya karena uang senilai 10 ribu koin emas itu bukan nominasi sedikit, satu keluarga biasa saja yang memiliki 1 istri dan 2 orang anak dapat menghabiskan 3 koin emas dalam satu bulan. Dan perampok ini meminta 10 ribu koin emas.
"Hahaha....kamu memang pintar, kami ini memang perampok, kalau tidak bisa membayar kami dengan uang segitu maka pergilah tinggalkan barang kalian, dari pada kalian melawan dan mari di ngarai ini" anjam pemimpin perampok.
Kemudian Willy maju kedepan dan berbicara "Bagai mana kalau aku yang meminta uang kepada mu, untuk barter karena aku mengampuni nyawa kalian"
Ucapan yang di lontarkan oleh Willy terdengar arogan yang membuat Hiden Balor merasa ketakutan, karena Willy memprovokasi para Perampok tersebut.
"Pangeran ke 3, mereka berbahaya jangan mencari masalah dengan mereka" cegah Hiden Balor.
"Tenang saja, kita semua akan selamat dan tidak akan terluka sedikit pun" ucap Willy percaya diri.
"Hahaha....dasar bocah bau kencur, masih kecil sudah berani mengancam kami, apa kalian mau mati di makan oleh elang botak" ancam pemimpin perampok.
Willy tersenyum "Hai paman kumis tebal, aku masih berbaik hati, kalau ingin selamat maka menyingkirlah, kalau tidak aku tidak akan menjamin hidup mu sampai hari esok"
"Bocah bau, aku akan memberi kesempatan kamu hidup, biarpun kamu sudah memprovokasi ku, tetapi dengan syarat, pindahkan batu ini sendirian selama 1 jam kalau tidak kami tidak akan membuat mu menatap matahari lagi" ancam pemimpin perampok.
"Baiklah, tetapi kalau aku bisa menyelesaikan kurang dari 1 jam apakah paman kumis tebal akan menyerahkan nyawanya kepada ku" timpal Willy.
"Hahaha.... Dasar bocah berani kamu bertaruh dengan ku, ternyata kamu memiliki keberanian juga" ucap pemimpin perampok.
Dia pun melirik ke arah teman temannya "bagai nama anak anak, bocah ini berani bertaruh dengan kita, apakah kita akan meladeninya"
Semua peramok itu bersorak "Terima saja pemimpin....dia hanya bocah ingusan"
"Hahaha....karena semua anak buah ku setuju maka aku terima tantangan mu, aku akan membiarkan semua hidup dan tidak akan mengambil barang kalian asal bocah ini bisa memindahkan batu yang menghalangi jalan selama satu jam. Kalau dia tidak mampu maka nyawa dia dan barang kalian aku ambil" ucap pemimpin peramok.
"Tetapi jika aku bisa melakukannya kurang dari 1 jam, maka kalian harus bersedia menjadi budak ku, dan nyawa kalian menjadi milik ku, apakah paman kumis tebal sepakat" ucap Willy.
Pemimpin peramok itu melirik ke arah anak buahnya dan semua anak buahnya mengangguk tanda mereka setuju.
"Baiklah aku setuju" ucap pemimpin peramok.
Willy pun menoleh ke arah Maria yang sedang duduk di kursi samping kusir "Maria boleh aku pinjam senjata milik mu"
Maria pun turun dari kursi kereta kuda dan berjalan menghampiri Willy "Bagai mana kalau aku yang melakukannya sendiri" teriak Maria ke pada kawanan peramok itu.
Semua peramok itu tertawa melihat Maria yang datang menawarkan diri untuk menyingkirkan semua batu yang menghalangi jalan.
"Hahaha....hai bocah manis, apakah kamu ingin membantu pacar mu, si bocah bau itu, baiklah kalian berdua bisa melakukannya bersama sama" ucap pemimpin peramok.
Mereka merendah Maria karena dia nampak seperti gadis manis yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun, mereka tidak tahu kekuatan mengerikan milik Maria, sehingga mereka berani merendahkannya.
Willy pun menengok kebelakang "Tuan muda Balor mundur lah kebelakang sedikit agak jauh"
Mendengarkan ucapan Willy Hiden Balor pun berteriak kepada seluruh pengawal "semuanya mundur jauhi arena ini"
Mereka pun mundur yang tersisa Willy dan Maria yang berada di tengah tengah antara perampok dan kereta kuda.
"Maria ayo kita mulai" ucap Willy.
Maria pun mengeluarkan tombak angin dari sihir dimensi item Book dan bersiap untuk meratakan bebatuan yang menghalangi jalan.
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna