
Setelah tiba di dalam kastil istana Raja Hendrik Jovanka pun menyambut kedatangan Willy.
"Selamat datang anak ku yang hebat, mari kesini nak duduk disini dekat ayah mu ini"
Raja Hendrik Jovanka tersenyum ramah kepada Willy dan Ratu Elisia, tetapi Willy hanya memandang Raja Hendrik Jovanka seolah bukan ayahnya.
Tetapi Raja yang sedang berkuasa di kerajaan Jovalavia ini, dan Willy pun membalas ucapan dari Raja Hendrik Jovanka.
"Maaf yang mulia Raja, saya tidak pantas duduk dengan anda, karena saya hanya seorang sampah yang tidak berguna"
Willy masih menyimpan dendam kepada Raja Hendrik Jovanka, karena perkataannya itu waktu dulu.
Raja Hendrik Jovanka pun menanggapinya dengan senyuman meskipun di dalam hatinya sedikit kecewa karena Willy berucap yang tidak pantas.
"Kenapa anak ku yang hebat ini berkata begitu, apa kamu sudah lupa bahwa aku ini ayah mu, ayah kandung mu, suami dari ibunda mu"
Willy pun membalas perkataan dari Raja Hendrik Jovanka.
"Ibunda ku sudah lama tidak bersuami dan ayahanda ku sudah lama Mati, ketika dia berperang melawan kerajaan Pemonst.
Dan semenjak aku tinggal di menara pengawas yang berada di dalam hutan aku sudah tidak punya ayah lagi"
Pernyataan Willy membuat kaget semua yang ada di sana termasuk Raja Alfred Eldragon dan Raja Gibran, Heri Jovanka pun menggelengkan kepala seolah tidak percaya apa yang di katakan oleh Willy.
Ya tidak dipungkiri karena rasa sakit hati yang mendalam kepada Raja Hendrik Jovanka, dia mengakui Willy sebagai anaknya setelah Willy memenangkan kompetisi sebenua bagian Utara.
Willy menyebutkan ayahnya meninggal disaat perang melawan kerajaan Pemonst, karena waktu itu memang Raja Hendrik Jovanka turun langsung ke medan Perang.
Untuk merebut kembali daerah perbatasan kekuasaan kerajaan Jovalavia yang telah di invasi oleh kerajaan Monster Pemonst.
Waktu itu Raja Hendrik Jovanka memenangkan pertempuran tetapi Raja Hendrik Jovanka mengalami luka yang cukup parah sehingga hampir merenggut nyawanya.
Beruntung ada obat dan potion yang di buat oleh Willy dan Ratu Elisia, obat tersebut adalah pengganti Ratu Elisia supaya tidak di bawa ke Medan perang untuk dijadikan Healer. Yang bertugas menjadi penyembuh prajurit yang sedang terluka.
Raja Hendrik Jovanka pun meneteskan air matanya, dia tanpa ragu berlutut di depan Willy dan meminta maaf.
"Maaf kan ayah mu ini nak, karena ke egois ku kamu menderita, karena memikirkan kewibawaan ku, kamu menjadi tersiksa dan karena mementingkan harga diri dan nama baik kamu terusir dari sini.
Untuk menebus dosa dosa ku yang telah lalu, apa pun yang kamu minta akan aku kabulkan asalkan kamu mengakui aku sebagai ayah mu.
Bahkan jika kamu ingin suatu wilayah seperti kakak mu Heri, akan aku berikan kepada mu, tolong lah maafkan aku ayah mu ini"
Willy pun berkata dengan sedikit angkuh.
"Kalau hanya sekedar pengakuan aku bisa mengakui mu sebagai ayah ku tetapi aku punya satu syarat"
Raja Hendrik Jovanka pun sedikit senang karena bisa diakui oleh Willy.
"Apa syarat nya itu nak"
Willy berkata dengan ketus
"Buatkan aku pangkalan militer, didalam hutan bekas tempat tinggal ku dulu, yang besar dan megah"
Raja Hendrik Jovanka pun bangkit kemudian dia mengangguk.
"Baiklah akan aku kabulkan permintaan mu, aku akan perintahkan tukang untuk membangun pangkalan militer tersebut"
Kemudian Willy mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Raja Hendrik Jovanka.
"Ini adalah sketsa atau Blue print pangkalan yang aku mau"
Raja Hendrik Jovanka pun melihat gambar dalam kertas yang di gambar oleh Willy. Mata Raja Hendrik Jovanka membulat dan diam seribu kata ketika melihat sketsa tersebut.
Ratu Vanessa pun menghampiri Raja Hendrik Jovanka.
"Suami ku Raja Hendrik kenapa anda diam"
Raja Hendrik Jovanka pun tersadar.
"Ti...tidak apa-apa"
Kemudian Willy bertanya
"Apa anda sanggup, kalau tidak sanggup maka jangan harap aku mau mengakui anda sebagai ayah kandung ku"
Raja Hendrik Jovanka pun mengangguk.
"Sa... sanggup sanggup...ayah mu ini akan membuat pangkalan militer tersebut setelah pernikahan kakak mu Clarisa"
Kemudian mereka pun duduk dan Willy dengan terpaksa duduk di samping Raja Hendrik Jovanka.
Di dalam hati Raja Hendrik Jovanka perkataan.
"Apa benar ini buatan tangan putra ku Willy, bangunan dan gaya arsitektur ini belum pernah aku lihat, bahkan aku membayangkan ketika sudah jadi maka akan menjadi pangkalan militer termegah.
Bahkan ini tidak seperti pangkalan militer atau benteng pertahanan, terus buat apa anak ku membuat pangkalan militer tersebut bahkan di kerajaan Jovalavia ini padahal dia masih anak-anak"
Kemudian Raja Alferd memecahkan suasana dengan berkata kepada Raja Hendrik Jovanka.
"Hai Hendrik, kenapa kamu bengong dan sesekali melihat kertas yang di berikan cucu ku, sini coba aku lihat"
Raja Alfred Eldragon sambil menengadahkan tangannya ke arah Raja Hendrik Jovanka yang kebetulan duduk saling berhadapan.
Tanpa ragu Raja Hendrik Jovanka pun memberikan kertas sketsa tersebut kepada Raja Alfred Eldragon.
"Oh ini ayah mertua..."
Kemudian Raja Alfred Eldragon pun melihat gambar sketsa tersebut.
"Hahaha..... Dasar Cucu ku ini, padahal Si tua Freevik sudah memberikan mu Gudang yang luas untuk dijadikan markas Prajurit.
Bahkan kata paman mu Gibran, kamu sedang membuat senjata hebat bersama pasukan mu dan sekarang masih dirahasiakan bahkan Si tua Freevik dan Ferik tidak boleh masuk ke markas mu"
Willy seolah anak kecil di hadapan mereka tetapi ketika dia berada di markas mereka dia seperti seorang ilmuwan yang menciptakan segala peralatan tempur.
Dan di dukung oleh ke 1000 anak buahnya yang di percayakan Raja Ferik untuk Willy pimpin. Dan ke 1000 anak buahnya itupun telah bersumpah setia kepada Willy. Sehingga mereka orang orang yang dapat di percaya.
Mata Raja Hendrik Jovanka pun membulat menyimak perkataan dari Raja Alfred Eldragon.
"Ayah mertua, apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan Lareagon dan apa yang sedang Anaku ini perbuat"
Dengan bangga Raja Alfred Eldragon menceritakan tentang Willy.
"Cucu ku ini adalah salah satu komandan Elite Pasukan Lareagon, bahkan Prajurit Latih yang dia pimpin keahliannya sudah melebihi prajurit senior di kerajaan Lareagon.
Bukan hanya itu saja pasukannya berhasil menaklukkan Bandit serigala terbang dan apakah kamu lihat sendiri waktu di federasi bebas.
Prajurit yang memperagakan keahlian di arena itu adalah prajurit yang dipimpin oleh Willy dan orang yang mengawal rombongan dari Lareagon.
Bahkan yang terjadi terakhir ini tadi sebelum Gibran dan Clarisa ke kerajaan ini, kerajaan Lareagon diserang musuh, dan dengan cepat pasukan yang di pimpin cucu ku ini dapat menaklukanya.
Kalau tidak percaya tanyakan kepada Clarisa dan Gibran, dia yang melihat dengan mata dan kepalanya sendiri"
Raja Hendrik Jovanka pun mulut nya menjadi mengaga mendengar cerita dari Raja Alfred Eldragon.
"Sehebat itu kah anak ku ini..."
Willy pun garuk-garuk kepala
"Ah... kakek melebihi lebihkan cerita, Willy tidak sehebat itu, Willy hanya membantu kerajaan Lareagon untuk mempersiapkan diri untuk berperang melawan kerajaan Inggarsia saja"
Ratu Vanessa kemudian meraih tangan Raja Hendrik Jovanka kemudian berkata.
"Apa perang antara Kerajaan Lareagon dan kerajaan Inggarsia tidak dapat di hentikan dan apa kita bisa membantu dengan mengirimkan prajurit untuk berperang membela kerajaan Lareagon"
Raja Hendrik Jovanka pun menggelengkan kepalanya
"Maaf, kerajaan Jovalavia tidak dapat membantu kerajaan Lareagon meskipun itu adalah mertua ku sendiri dan ayah mu sendiri.
Kerajaan lain tidak bisa membantu dengan cara bersekutu, itu harus diselesaikan dengan cara mereka sendiri"
Kemudian dengan nada khawatir Ratu Elisia pun bertanya kepada Willy.
"Nak, apakah kamu juga akan ikut berperang, kalau bisa kamu tidak ikut karena aku khawatir dengan peperangan ini"
Willy pun tersenyum
"Aku akan ikut berperang ibunda, karena aku bagian dari kerajaan Lareagon"
***
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.