
Keesokan harinya Willy, Maria dan Shandya di jemput oleh prajurit bangsa Elf, dia adalah orang yang akan memandu mereka bertiga masuk ke dalam Dungeon keabadian.
Hanya orang yang memiliki token khusus lah yang bisa masuk kedalam Dungeon tersebut, dimana hanya 3 pemenang kompetisi lah yang di berikan token khusus tersebut.
Mereka pun tiba di depan pintu masuk Dungeon keabadian disana prajurit itu menyuruh mereka untuk menggunakan token khusus untuk masuk.
Sebenarnya pintu masuk kedalam Dungeon itu tidak melalui pintu bisa, disana seperti pintu gerbang teleportasi karena pintu itu seperti portal yang bercahaya biru kekuningan.
Prajurit itu mengeluarkan token kemudian tangannya di arahkan ke gerbang dan gerbang itu seperti air sehingga prajurit itu bisa masuk kedalam.
Kalau tanpa token, orang yang hendak masuk ke dalam Dungeon mungkin akan langsung hancur terkena sengatan dari portal tersebut, tetapi kalau membaw token maka dengan mudah mereka masuk.
Willy, Maria dan Shandya pun mengeluarkan token mereka, kemudian mereka melangkah menuju gerbang portal tersebut.
Setelah mereka masuk, mereka pun menatap takjub pemandangan yang ada di dalam, di sini seperti kita memasuki dunia lain.
Kita seperti berada di atas langit dengan awan memenuhi sekitar area, dan benar saja ini seperti gerbang teleportasi.
Prajurit itu tersenyum kemudian berbicara "Selamat datang di Dungeon keabadian, di sini di sebut juga surga keabadian langit, dimana tempat yang kita pijak adalah pulau langit"
Kemudian Maria mengacungkan tangan untuk bertanya "Maaf tuan apakah kita tadi benar benar di teleportasi, ke tempat yang lain atau memang ini dunia kecil yang diciptakan dari sihir psikis untuk membuat halusinasi"
Shandya menatap ke arah Maria, dia tidak tahu kalau ada sihir yang seperti Maria katakan.
Prajurit itu pun tersenyum "Ternyata kamu gadis pintar, kita memang berada di dalam Dungeon, dan tempat ini di buat oleh dewa, seseorang yang memiliki tingkatan dewa mereka bisa menciptakan dunianya sendiri yang disebut dengan sihir dimensi"
Kemudian Willy sekarang yang mengangkat tangannya bertanya "Tuan yang aku tahu sihir dimensi menjadi beberapa tingkat, yaitu sihir dimensi item Box, item Book, item Room dan dimensi item kubah, kalau sihir dimensi ini apa namanya?"
"Ternyata kamu juga tahu banyak soal sihir dimensi, sepertinya kamu belajar dengan baik" puji prajurit itu
Kemudian prajurit itu pun menjelaskan "Sihir dimensi tertinggi adalah sihir dimensi item labirin, seorang dewa bisa menciptakan ruangan sempit menjadi dunianya sendiri, dia bisa menciptakan gunung, pohon dan aliran sungai tetapi mereka tidak bisa menciptakan makhluk hidup di dalam dunianya sendiri, hanya benda mati saja yang bisa mereka ciptakan di dunianya sendiri sesuai keinginan si pencipta itu sendiri"
"Oh jadi seorang dewa yang menciptakan Dungeon ini, dia memiliki konsep kerajaan langit atau pulau langit ya tuan?" Tanya Willy.
Prajurit itu pun mengangguk "ya benar, dan Dungeon ini sudah ada semenjak ribuan tahun yang lalu, dan tujuan dewa membuat labirin ini adalah untuk melindungi pohon dewa yang tumbuh hanya satu satunya di dunia ini, pohon dewa disebut sebagai pohon legenda, banyak orang menyebut hanya sebuah mitos, karena mereka belum pernah melihat pohon dewa lagi, mereka hanya tahu nama dan bentuk dari buku cerita yang mereka baca"
Prajurit itu pun menjelaskan tentang keadaan di dalam Dungeon, bagai mana pohon dewa tumbuh dan berbuah.
Yang mereka sesalkan adalah mereka tidak tahu cara memperbanyak pohon dewa ini dan hanya berbuah 4 sampai 5 tahun sekali, padahal di tempat ini sudah di katakan sangat subur.
Sambil menjelaskan mereka pun sambil berjalan menuju ke pulau langit lain dengan menggunakan jembatan yang sangat panjang bahkan melewati rantai besi yang sangat besar untuk mencapai tujuan.
Di sekeliling pulau langit itu terdapat hutan yang lebat, hutan itu juga sengaja di lepaskan monster beast yang kuat dan berbahaya.
Itu bertujuan untuk melindungi pohon dewa yang ada di dalam Dungeon ini, mereka pun sudah berjalan dan melewati 4 pulau langit dan yang terakhir ada di depan mereka pulau langit ke 5.
Di sana tidak ada jembatan maupun rantai besi, Shandya pun berpikir "bagai mana bisa kita mencapai pulau langit yang kelima kalau tidak ada jembatan ataupun rantai besi yang menghubungkan pulau ini ke pulau berikutnya"
Sebelum mengemukakan pendapatnya prajurit itu pun berbicara "untuk mencapai pulau langit kelima, pikirkan lah caranya sendiri, kalau kalian tidak bisa mencapai pulau itu, maka kalian tidak akan mendapatkan buah dewa"
Kemudian prajurit itu mengeluarkan sayap dari punggungnya, prajurit itu seperti malaikat perang dengan sayap putih dan armor.
Prajurit itu pun mengepakkan sayapnya dan berlahan terbang ke atas "Aku Tunggu kalian di sana, kalau dalam satu hari kalian tidak mencapai pulau itu, maka monster beast akan datang dan menyerang kalian, sampai jumpa di sana"
Prajurit itu pun terbang meninggalkan mereka bertiga, Shandya pun menendang kerikil dengan kesal "Sialan, aku pikir akan mudah mendapatkan buah dewa, ternyata harus ada ujian seperti ini"
Willy malah mengeluarkan beberapa potong ayam besar sedangkan Maria membuat api dengan sihir yang dia miliki.
Mereka pun malah asik membakar ayam tersebut, terlihat mereka hanya seperti liburan di tempat seperti ini.
"Hai kenapa kalian berdua malah asik bakar ayam, kita harus bergegas menuju pulau berikutnya" ucap Shandya.
"Sudahlah duduk sini, dan bakar ayam bagian mu, kita masih memiliki banyak waktu, setidaknya kita bersantai sejenak" ucap Willy.
Dia baik hati menyiapkan satu potong ayam untuk Shandya, dengan terpaksa Shandya pun duduk dan membakar ayam yang sudah di siapkan Willy.
"Lebih baik kita makan biar energi kita fit, bukanya kita belum sarapan dari tadi pagi, karena setelah bangun tidur kita langsung di jemput tanpa sempat untuk sarapan pagi terlebih dahulu " ucap Maria.
Mereka pun makan ayam yang telah mereka bakar, mereka makan dengan lahap dan setelah itu Shandya berpikir kembali bagi mana cara menuju ke tempat selanjutnya.
Willy pun menunjuk kearah pulau langit yang ada di depannya "lihat lah, ada banyak akar yang keluar dari pulau itu, akar yang kuat dan besar, kita bisa mencapai pulau langit itu dengan cara melompat dari sini"
Shandya pun membantah "Gila bagai mana bisa kita melompat dari tempat ini, akan itu sangat jauh tau"
"Dasar bodoh, kenapa tidak kamu berlari saja dari ujung pulau itu dan ketika sudah sampai ke sini kamu melompat, maka lompatan yang kamu buat akan sangat jauh dan mencapai akar dari pulau yang ada di sana, setelah kamu mencapai akar kamu bisa merangkak naik sampai ke atas pulau" ucap Maria.
"Kenapa aku tidak berpikir kesana ya, kalau begitu aku harus bergegas, aku pergi dulu ya untuk kembali dan berlari kemudian melompat" Shandya pun pergi meninggalkan Willy dan Maria
Willy pun menggelengkan kepalanya "Dasar bego"
Maria ingin tertawa tetapi di tahan karena masih ada Shandya di dekat mereka. Setelah dia jauh barulah Willy dan Maria tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu Willy pun bangkit dan kemudian mengeluarkan pedang taring salju dari dalam sihir dimensi.
Sambil menyeringai Willy pun berteriak "Tebasan es.... terbentuk lah jembatan es...."
Wuss....
Krekak....
Udara dingin menyelimuti dan udara dingin itu memadatkan buih buih air di sekitarnya sehingga menjadi es yang padat dan membentuk jembatan panjang sampai ke pulau langit yang hendak di tuju.
Willy pun memasukan kembali pedang tersebut dan kemudian mengajak Maria "Ayo kita lanjutkan perjalanan kita"
Willy menjulurkan tangannya dan disambut tangan Maria, sehingga Maria pun bangkit karena di tarik oleh Willy.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan melalui jembatan es yang di buat oleh Willy.
***
*Biar Author lebih semangat untuk terus Update.
*Jangan Lupa Kaka pembaca untuk Like, Komen, Vote dan berikan Hadiahnya.
Untuk yang ikhlas memberikan sawerannya bisa langsung ke link di bawah ini
👇
http://saweria.co/DaniSutisna