Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 70. Cewek Gahar Punya Malu Juga?


Hasna dan Afnan telah berada di kamar yang lebih kecil daripada kamar Afnan di rumah utama yang lebih mirip kamar Hotel.


"Sayang .... Aku mau kamu, melihat kamar kita!" ucap Afnan seraya menurunkan Hasna di sisi tempat tidur.


"Hihi ...." Hasna senyum-senyum salah tingkah. "Emmmm .... fiktor tuuuhh!" ledek Afnan.


"Ah Byby. Nana kan malu!" ucap nya Hasna sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Haduduuh cewek gahar punya malu juga?" ledek Afnan kembali seperti sebuah pertanyaan.


"Ikiihhh Byby apa sih! koq cewek gahar?" protes Hasna.


"Uppss .... Itu Ubay loh yang menamai kamu cewek Gahar." jawab Afnan


"Iishh kak ubaaaaay!!! tunggu saja perhitungan dari Nana yaaa!" pekik Hasna menyebut nama Ubaydillah.


Di rumah utama:


Uhukk .... uhhuk .... Eeggrrhhmm .... Ya ampun hanya makan pear, sampai keselek begini? ekhemm .... ekheemm." Ubaydillah menggerutu sambil batuk-batuk.


"Assalamua'laikum!" ucap Umi Afnan yang baru saja tiba.


"Wa ... aa ... la ... uhuk ... uhukk.. Ii... huk huk kum saalaam U ... huk huk.. Mi," jawab Ubaydillah masih dalam terbatuk batuk.


"Loh Dedek kenapa?" Umi segera menghampiri Ubaydillah.


"Ini mi, keselek .... huk huk." Ubaydillah masih terbatuk sedikit.


Umi menghampiri Ubaydillah, lalu ia duduk di sofa dan mengelus punggung Ubaydillah perlahan.


"Hati-hati dong sayang ma'em nya." ucap lembut Umi.


"Iya umi sayang." Ubaydillah pun mengiyakan.


"Assalamua'laikum warahmatullah. Abi kyai baru saja masuk.


"Wa'alaikum salam " jawab Ubaydillah dan Umi bersamaan.


"Si Dedek Utun kenapa Mi? bisa bisa nya, Umi baru saja sampai rumah dia manja manjaan begitu?" tanya pak Kyai. Suara nge bass nya pak kyai terdengar baru saja masuk ruang keluarga.


"Ini ma'em pear sampai keselek segala Bi." jawab Umi ,Afnan menjelaskan, masih mengelus punggung Ubaydillah.


"Iya nih Abi. Mungkin ada yang sedang membicarakan dan menjelekan Dedek Bi," timpal Ubaydillah dari jawaban Umi.


"Ush ....suudzon hayooo." ucap pak kyai lagi


"Hehe ...." Ubaydillah mengekeh.


"Bukan orang yang membicarakan kamu Dek. Tapi Dedek sibuk tuh sama Ps nya." tunjuk pak kyai pada stick dan Ps.


"Hehe .... iya Bi. Maaf!" ucap Ubaydillah sembari rebahan di atas pangkuan Umi.


"Seharian tidak juga beranjak kamu dari sini Dek? lihat tuh sampah bekas makanan. Em .... em.. emm..." Pak kyai geleng- geleng kepala, meihat Anak paling bungsnya tidak beranjak dari pagi bermain game PlayStation atau Ps.


"Ah siapa bilang Bi! tadi Dedek sholat jum'at ke Mesjid koq! terus baru saja, sholat Ashar Bi!" tutur Ubaydillah.


"Iya .... dan sholat Ashar nya di sini berjamaah, dengan stick Ps." ucap pak kyai tersenyum.


"Hihi! Abi betul sekali." ucap Ubaydillah.


Ket: (Walaupun Ubaydillah sudah ber usia 27 tahun, namun untuk panggilan Dedek masih melekat pada Ubaydillah dari pak kyai. Dan Ubaydillah sendiri, mereka memperlakuan Ubaydillah tak ada batasan seperti hal nya perlakuan Pada Anak angkat/adopsi , pak kyai betul betul menyayangi Ubaydillah tulus dan menganggap nya Anak paling bungsu yang masih umur belasan saat di rumah. Ketika Ubaydillah di rumah, dia tidak seperti dirinya saat menjadi asisten Afnan, dia akan sangat manja pada pak Kyai dan Umi Nyai).


"Oooh yah! A'a mu, jadi bawa Nana pindah ke rumah Kayu Dek?" tanya pak kyai


"Jadi Bi, Bro Ustadz sudah terlebih dahulu dan Nana baru saja pergi di jemput neng Nur."


"Bro .... bro .... bro .... A'a Afnan Dedek." ucap pak kyai lagi dengan suara bass lembutnya.


"Yaaahhh Abi! itu sama saja.... A'a bro Ustadz panggil dedek juga Dek Sob.." ucap Ubaydillah.


"Heemm! memang samaan nya kalian. Baiklah, sebentar lagi masuk waktu maghrib, lepaskan Umi nya tuh, kasihan masih capek Dek! terus rapikan mainan- mainan kamu tuh, lalu mandi. Setelah itu ke Mesjid untuk berjamaah dan ingat! jangan lagi menjahili santri putri." pinta pak kyai.


Ubaydillah memang terkadang Jahil terhadap santri putri. Sandal para santri wati yang Diikat lalu Di tarik ke Atas pohon, lampu masjid yang berkedip kedip, apalah itu hingga dia pakai mukena dan berjalan loncat-loncat mirip pocong.


"Yaah Bi. Pinjem Umi nya sebentar lagi deh! Dedek Rindu Bi." rengek Ubaydillah.


"Ya Bi, biarkan saja sebentar lagi. kasihan satu minggu jarang bertemu." ucap Umi.


"Ya sudah kalau begitu, Abi ke kamar dulu." Pamit Pak Kyai.


'Iya Abi. Dedek sayang Abi!" ujar Ubaydillah. "Abi juga." balas pak kyai.


"Sudah Sana, rapihkan itu mainan mainan kamu Dek! lalu mandi, nanti Abi lihat belum rapi, kena hukuman, baru tahu kamu Dek!"


"Siap Mi."


Tutur Umi.


"Ah mereka pada pulang Mi. Si bule Singapore juga Ikut ikutan mudik lagi. A'a Afnan sibuk sama Nana." jawab Ubaydillah kurang semangat.


"Duuhh Syian Putra nya Umi. Makanya nikah Dek! tuh seperti A'a mu." sambung Umi.


"Yaaah Umi, nikah terus ngomong nya. Dedek belum siap Mi." ucap Ubaydillah. "Ah, kamu tuh selalu begitu." jawab umi Nyai.


"Ya sudah, Umi ke kamar dulu, nanti Abi butuh Umi." Pamit Umi.


"Iya Umi! terima kasih Dedek sayang umi." ucap Ubaydillah.


"Umi juga!" sembari tersenyum Umi lalu beranjak ke kamar nya.


Ket: (Ubaydillah bersyukur di ketemukan oleh Pak kyai yang tulus menyayangi nya. Kala itu Usia nya belum genap 5 tahun, dan ia di ketemukan seorang diri di jalanan, hampir saja tertabrak oleh mobil pak Kyai yang baru saja pulang menghadiri undangan tausiyah malam hari itu. Ubaydillah hanya menangis dan berbicara 'jangan tinggalkan Dedek, Dedek ikut pulang, Dedek tidak mau bobo d jalan.Perkiraan pak kyai ia di tinggal kan oleh seseorang di jalanan dengan sengaja. Pak kyai sempat melaporkan hal itu ke kantor polisi, namun sampai Ubaydillah berusia 7 tahun, tidak ada satupun yang datang mencari. Maka dari itu pak kyai melegalkan Hak asuh Atas Ubaydillah).


***


Kembali kerumah kayu ....


"By!" Panggil Hasna.Kini mereka sedang di ruang santai sembari menonton televisi.


"Ya sayang!" ucap Afnan kala itu ia rebahan di pangkuan Hasna.


"Tadi, waktu Nana sedang berjalan ke rumah ini. Itu di bagain selatan sepertinya ada kuda by?" tanya Hasna.


"Oohh.. Iya sayang, itu tempat untuk para santri Putra dan Putri latihan berkuda, memang nya kenapa?" tanya Afnan.


"Byy .... Kesana yuk, Nana kepingin Naik kuda," rengek Hasna. "Memangnya kamu bisa naik kuda?" tanya Afnan.


"Bisa dong! dulu waktu masih SMP hampir tiap weekend kita ke puncak bareng mama, papa, nah di dekat villa itu ada pacuan kuda milik nya teman papa, dan aku di perbolehkan untuk belajar ber kuda. Awal nya kuda poni kecil, namun aku pernah di tantang sama Anak pemilik pacuan itu untuk menaiki kuda besar. Ya aku nekad naik, awal nya sulit namun setelah belajar berkali kali akhir nya aku bisa. " tutur Hasna men ceritakan pengalaman nya Berkuda.


"Masya Allah! sayang, apa yang kamu tidak bisa siihh? Kedengaran nya selalu bisa apapun itu." ucap kagum Afnan.


"Ya kebetulan saja By! hidup Nana tuh di pertemuan nya dengan hal-hal yang menantang dan Nana selalu Ingin mencoba."


Jawab Hasna.


"Oh iya sih, bagus lah jadi banyak pengalaman walaupun umur kamu masih muda," ucap Afnan.


"Ya makanya ayok By, kita berkuda! Nana sudah lama tidak berkuda." rengek Hasna lagi.


"Boleh, tetapi tidak sekarang dong sayang! sebentar lagi waktu maghrib tiba," bujuk Afnan.


"Sekarang by! ayok sebentar saja." permohonan Hasna.


"Baru saja seorang bidadari dewasa yang mengobrol, tiba-tiba labil nya kumat. Ya ampun Nana ... Nana!" batin afnan.


"Yakin sekarang?" tanya Afnan.


"Hu..uh." anggukan manja Hasna.


"Memang sudah tidak sakit? berjalan saja masih terlihat susah, malah mau naik kuda." ucap Afnan lagi.


"Hehe iya siih. Heessttt."


Hasna meringis memikirkan jika ia naik kuda dan terguncang larinya kuda, mungkin akan menimbukan rasa sakit yang baru.


"Mmm .... kalau begitu, kita naik kuda simulasi saja dulu sayang." Ucap Afnan tersenyum nakal sembari bangun dari pangkuan Hasna dan duduk di samping Hasna "Aku rela deh jadi kuda nya." Lanjut nya lagi.


Hasna yang mengerti maksud dari ucpan afnan sontak berteriak dan bergegas bangun dari duduk nya lalu menuju kamar.


"Engggggaaaaaakkk?" Iihhh Byby mesum!." pekik Hasna.


"Hehe .... sayang yakin tidak mau? muba'dzir nih, kalau tidak di terima tawaran nya. Hehe"


goda Afnan dari balik pintu.


"Ikiiihhh Byby genit!" suara Hasna dari dalam kamar.


"Sayang.... buka dong pintu nya, mari kuda-kudaan, katanya mau naik kuda," Afnan mengekeh di luar pintu kamar, ia masih saja menggoda Hasna dari balik pintu. Hingga Hasna yang berada di dalam kamar merasakan dagdigdug tak keruan.


Bersambung ....


***********


Haaahhh! my Readers gemez kesayangan. Author minta maaf yang sebesar besar nya. tiga hari kemarin banyak yang menunggu kelanjutan cerita ini. Maaf kemarin ada kesalahan TEKNIS jadi lambat Up.


Terimakasih Atas perhatian nya yadengan komen 2 yang sudah masuk. 🙏🙏😇 Tetap la yaaa...


Like vote komen. Hatur nuhun, 🤗