
"Itu, ada yang berdarah! eh," ucap Afnan gugup sembari mengusap usap tengkuk nya
"kenapa jadi begini, hihi," batin Afnan.
"Waaahhh Bro Ustadz, halal sih! halal! tapi masih siang kalee, tuh anak perawan orang di apain sampai berdarah..hihikkkk?" ledek Ubaydillah dengan mengekeh.
"Eithhh..pikiran Anta tuh terlalu jauh! Ana mau minta tolong membelikan pembalut untuk datang bulan," suara Afnan agak di kecilkan ketika di akhir kalimat.
"Hooo..haaaaa...datang bulan?!" Ubaydillah terkejut, entah itu terkejut betulan atau hanya meledek Afnan, yang pasti mimiknya sangat lucu sekali.
"Sssssttt," pinta Afnan.
"Yaaahh nunda dong ngadonin calon keponakan," tukas Ubaydillah dengan nada penyesalan.
'Hadeeuhh, di pikir bolu pakai di adonin segala! ya sudah, tolong cepat belikan! minta tolong dengan santri putri atau para Ambu (art di rumah itu)," pinta Afnan.
"Assssiiaappp A'a Booss, Ana meluncur," ucap Ubaydillah.
"OK...syukron! syukron laak ya 'Akhi," tukas Afnan.
"Afwan Bro, Ustadz," balas Ubaydillah.
"Assalamu'alaikum," ucap Ubaydillah sebelum meninggalkan kamar Afnan.
"Wa'alaikum Salam," jawab Afnan. Lalu ia berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Wahai istriku.. masih kah kau baik-baik saja di dalam?" tanya Afnan mengeraskan suara nya dari balik pintu.
Tok... tok... rok.. "Istriku! wahai Istriku, kamu mendengar, Aku kan?" tanya Afnan kembali. "*Hm*m..kok gak ada jawaban?!" gumam di dalam hatinya.
Karena tak ada jawaban, Afnan memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Ia buka pintu itu pelan, sebelum masuk ia mengintai terlebih dahulu, mengedarkan matanya ke sekeliling, ketika sepasang mata nya menuju pada bathtub pengintaian matanya terhenti, di sana terlihat untaian rambut, lalu ia menghampiri bathtub itu.
"Masya Allah. Bisa gitu, dia bobo cantik di sini! Hess," gumam Afnan.
Rambut Hasna saat ini terurai, Karena gelungnya sudah ia lepas. Wajah nya pun sudah tanpa riasan, ia sudah membershikan nya. terpancar persona alami di mata Afnan ketika memandang Wajah Hasna yang putih mulus merona, Rasanya ingin memasuki Hasna ke bagian paling dalam. Hasrat kelelakian nya melonjak-lonjak. Namun ia berusaha menekan semua itu.
Tak tega melihat istrinya tertidur di bathtub, Afnan berfikir mengangkat nya ke tempat tidur.
"Jangan Ustadz!" suara berat Hasna, setengah berbisik, masih dalam kantuk. Saat Afnan mengangkat nya.
"Tidak apa-apa! Ayo ke tempat tidur, di sana akan lebih nyaman," ucap Afnan.
"Uuughh," Hasna bergumam dan menggeliat saat sudah berada pada gendongan Afnan dengan mata yang masih terpejam sambil manggut, manggut.
Dengan reflek dan naluriahnya, Hasna melingkar kan tangan ke leher Afnan dan memyandarkan kepalanya di dada atas Afnan.
"Tapi Ustadz... Aku belum memakai pembalut." Hasna bergumam masih dalam kantuk. Seperti setengah sadar.
"Tidak apa-apa, Ubaydillah sedang membeli, Kamu tidur saja, ya sayang," ujar Afnan.
"Emm... terimaksih Ustadz," ucap Hasna pelan.
"Sama-sama, sayang." lagi-lagi Afnan mengucapkan kata sayang. sepertinya ia bukanlah tipe suami yang jaim walaupun menikah tanpa pacaran dan kata cinta, justru Afnan ini sepertinya lebih siap untuk mengambil hati istri kecilnya.
Sesampainya di tempat tidur, Afnan membaringkan Hasna, lalu ia duduk di samping nya, menelusuri pandang pada wajah cantik Hasna.
Ia tak percaya, Hasna mampu berpakain yang baik untuk menutup aurat nya. Demi kehormatan dirinya, dan kini perempuan nyeleneh ini ada di dekat nya. Afnan tersenyum mengingat Kejadian 3 hari lalu :
*Flash back ke 3 hari sebelum pernikahan*
Afnan sedang menelpon Hasna siang itu.
"Assalamu'alaikum, calon istri,"/ Afnan
"Wa'alaikum Salam, calon suami yang memaksa, ada sesuatu hal Ustadz?"/ Hasna.
"Hanya masalah fitting gaun! kata Ubaydillah, kamu menolak untuk menerima gaun dari desainer bawaan saya?"/ Afnan.
"Iya Ustadz! Aku sudah punya rancangan sendiri, dengan desainer langganan dari Jakarta. Tinggal mencocokan warna nya saja dengan stelan Ustadz." /Hasna
"Oh! ya sudah, " / Afnan.
"Ustadz! bisa kita bertemu? ada hal yang ingin aku bicarakan sebelum kita betul-betul menikah," / Hasna.
"Sekarang Ustadz! untuk tempat, Ustadz
saja yang menentukan," / Hasna.
"Hmm...kamu datang saja ke LADHIDH rest & FOOD restaurant di jalan xxxxxx," / Afnan.
"Baiklah Ustadz! tolong share lokasinya," /Hasna.
"Baik!"
"Terimakasih Ustadz..On my way to there." (dalam perjalanan ke sana) / Hasna.
"OK... I am waiting you," / Afnan
***
30 menit kemudian Hasna sudah tiba, mengenakan celana jeans biru tua. Boddy fit, sepatu sport gambar buaya warna putih, Kaus putih yang juga ketat, sukses menonjolkan apel kembar nya yang menantang di balik bra pink, terlihat sekilas berbayang di balik kaus nya yang di padukan jacket pink ala barbie tak berkancing, tak tertinggal kacamata Hitam bertengger di atas hidung nya. Hingga membuat adrenalin Afanan dan Ubaydillah naik turun, serta tak lepas ber_ Ishtigfar.
"Assalamu'alaikum, calon istri, silahakan duduk," sapa Afnan ramah.
"Wa'alaikum Salam. Terimaksih Ustadz," ucap Hasna. Ubaydillah juga ada di meja itu, (biasa jadi nyamuk 😆).
"Assalamu'alaikum kak Ubay," sapa Hasna pada Ubaydillah.
"Wa'alaikum salam, Dek Hasna." ucap Ubaydillah.
"Ustadz... Apakah Ustadz yakin, ingin melanjutkan pernikahan ini?" tanya Hasna pada Afnan.
"Insya Allah, yakin," jawab Afnan mantap.
"Masih ada waktu, untuk Ustadz mundur!" ucap Hasna.
"Tidak! saya tidak akan mundur." tukas Afnan.
"Baik kalau begitu! apa Ustadz sanggup memenuhi bentuk seserahan yang akan saya ajukan?" tanya Hasna. (walau masih belia, Hasna faham akan hal hal begitu).
"Silahkan kamu ajukan, bila saya sanggup maka akan saya penuhi," Jawab Afnan.
"Barang-barang yang saya kenakan harus barang branded Ustadz," ujar Hasna.
"Maaf Ustadz, bukan nya saya menyepelekan atau menghina kemampuan Ustadz," ucap Hasna kembali.
Namun, Hasna melihat wajah Afnan seperti nya tidak terpengaruh sama sekali oleh jebakan konyol nya. Ia malah terlihat santai.
Begitupun dengan Ubaydillah, wajahnya nya biasa saja dalam mendengarkan keinginan Hasna, ia tidak terkejut sama sekali , makin tertantang Hasna untuk menguji Afnan.
"Lalu?" tanya Afnan santai
"Ustadz! saya tidak ingin menyulitkan Ustadz, maka dari itu, jika Ustadz masih mau mundur, belum terlambat," ucap Hasna.
"Saya tidak akan mundur! sebutkan saja, apa yang kamu minta, biar di catat oleh Ubaydillah," tukas Afnan santai sambil memainkan ponsel nya.
"Baik, ini daftar barang yang saya biasa pakai."
Hasna menyerahkan daftar barang, dari mulai : tas, sandal, sepatu, makeup,minyak wangi, perawatan mandi, pakain lengkap, perhiasan, jepit rambut, sampai ke bra dan CD. Semua merk branded dengan Harga fantastis, mungkin kalau dompet nya tipis bisa semaput dan milih tunggang langgang, detik itu juga.
Namun tidak dengan Afnan, sebagai pengusaha muda sukses. Jalan usaha nya di berbagai negara dan daerah di Indonesia , yang menghasilkan keuntungan puluhan hingga Ratusan juta tiap harinya.
"O ya...dan beberapa harus beli di luar Negeri.Apa mungkin pas hari H, barang itu akan sampai?" tanya Hasna.
"Serahkan semua nya padaku! untuk kamu, cukup persiapkan dirimu untuk aku nikahi , insya Allah masalah seserahan semua beres," ucap Afnan begitu yakin.
Hasna malah terkejut, tak ada kompromi atau protes apalagi penolakan apapun lagi dari mulut Afnan. Kini ia malah merasa tidak enak hati karena terkesan materialistis.
"Busyed dia beneran tuh nyanggupin semuanya? Padahal gue hanya mau ngerjain dia saja, agar dia mundur dari pernikahan ini, Ustadz waras apa enggak sih?!"
********
Next....Ya....
Vote like komen 🙏👍💪😇*