
"Ada, nanti juga tiba!" jawab Afnan. "Maksud nya By?" tanya Hasna.
Continued_
"Maksud nya, iyah nanti baju ganti nya tiba di sini." Afnan memperjelas perkataan nya. "Mari makan nih... Aaaa!" saat ini mereka telah duduk di sofa dengan Afnan menyuapi Hasna.
"By? Byby juga makan dong."
"Sudah, tadi makan bareng dengan Ka Ubay." balas Afnan.
"Owh! memang ada kak Ubay?" tanya Hasna. Karena ia tidak mendengar suara Ubaydillah.
"Ada, baru saja sampai, Kak Ubay baru pulang habis ambil mobil kamu di sekolah." jawab Afnan.
"Oh begitu! lokh Nana hari ini bolos sekolah dong?" tanya Hasna Kembali.
"Enggak sayang, tadi kak Ubay sudah meminta izin. Untuk kamu tidak sekolah hari ini." Afnan menjelaskan.
"Ommm begitu! Hehe." senyum malu Hasna. "Byy..." panggil Hasna pelan dan terdengar lembut.
"eummm." jawab Afnan, hanya bergumam. "Kak Ubay itu adik nya Byby yah?" tanya Hasna.
"Ia" jawab Afnan singkat. "Tapi koq, wajah nya gak gitu mirip yah! Byby memiliki wajah tampan Asia. sedangkan kak Ubay tampan nya agak mirip bule?"
"Hmmmm! memang Adik lain bapak dan juga Ibu." Ujar Afnan.
"Maksud nya by?" Hasna tambah penasaran. Afnan malah diam dan sedikit memalingkan wajahnyanya.
"Apa yang salah? apakah Aku salah bertanya?" fikir Hasna.
"Hmmm! Ubay adalah Anak yang di temukan Abi dan keberadaan orang tuanya tidak di ketahui! lalu di .... asuh oleh Abi dan umi." Jawaban Afnan ragu-ragu.
"Ups ... Mungkin ada sesuatu, yang belum boleh Aku tahu!" fikir Hasna kembali. Lalu Hasna mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya by, Aku masih bingung deh." Ucap nya. "Bingung kenapa, sayang?" Afnan malah bertanya.
"Itu .... semalam, koq Aku bisa bebas begitu saja yah dari kantor polisi. Bebas tak bersyarat lagi." Tatapan mata Hasna meminta jawaban pada Afnan.
"Mmm .... gak usah bingung, Alhamdulillah ke beruntungan sedang berpihak kepada kita saja sayang." Afnan terlihat santai dalam menanggapi Hasna
"Lalu, pengacara Anton berbisik apa pada Byby? seperti nya, Byby terkejut sekali?" tanya nya kembali.
"Hehe. Ya, itu Karena_ Bang Anton membisikan bisa bebasin kamu malam itu juga. Aku senang sayang, bukan terkejut." jawab Afnan.
Hasna diam, ia mengingat Afnan yang jelas jelas terkejut waktu semalam itu. Lalu ia berfikir sejenak, namun tak menemukan jawaban apapun.
Afnan memang tidak mau menceritakan soal kehamilan Kristine, yang hamil di luar nikah.
Biarlah, Hasna tidak perlu tau tentang keburukan orang lain .
Afnan hanya ingin menanamkan hal hal positif di dalam ingatan Hasna.
Kalau nanti nya tau sendiri dari orang lain. Itu lain urusan, yang penting tidak dari mulut nya.
"Nih aaa lagi, suapan terakhir."
"Loh kok sudah habis saja by! Byby korup ya? Perasaan baru sebentar, tapi sudah habis."
"Ya mana ada, aku korup nasi kamu. Pasti terasa sebentar laaah. Kamu asyik ngobrol sama main ponsel," ucap Afnan
"Hihi. Ma'af...." ucap Hasna menyeringai. "Sedang chat dengan siapa? kok asyik banget?" tanya Afnan penuh selidik.
"Chatan dengan Adrian Byby sayang, sedang menanyakan pelajaran!" jawab Hasna sembari mengelus wajah Afnan. Ia tahu Afnan merasa tidak nyaman.
"Adrian itu yang mana?" Afnan kembali bertanya, agar tahu siapa itu sosok Adrian.
"Itu lokh, yang kemarin dulu dugem sama Aku. Ah di jelasin juga Byby gak akan tau. Kan Byby belum pernah bertemu dengan nya." jawab Hasna.
"Tapi boleh dong, nanti di kenalkan," pinta Afnan. "Tentu dong! tapi Byby, jangan ngaku suami Nana ya, please!" ucap Hasna dengan wajah memohon
"Loh kenapa? lalu apa dong?" tanya Afnan. "Maaf By, Nana belum siap, kalau mereka tahu Nana sudah bersuami. Bilang saja Om nya gitu Hihi! Maaf ya By." Hasna menatap wajah Afnan dengan penyesalan.
"Oke tidak apa-apa. Byby faham koq! baiklah. Om! Hmmm .... Om Om yah, hehe." Afnan merasa lucu dengan ide panggilan Om itu. "Tapi ingat! jangan nakal kamu ya, sama dia! nanti Om sentil hidung nya." Ancaman lucu Afnan.
"Ya tidak dong Om! hihi. Lagi pula, nakal kenapa? jelas-jelas ada Om tampan berlabel halal. Orang yang sudah mengikat Nana dengan pernikahan. Jangan ragukan Nana akan bermain dengan laki-laki lain." Pinta Hasna tanpa keraguan.
"Byby tidak meragukan mu akan hal itu. Byby yakin, kamu tidak akan melakukan hal bodoh macam itu. Namun bisa saja kamu nakal dengan pergi ke clubbing lagi misal nya."
"Mmmmm.. Ide bagus! sesekali boleh la yah By." Ucap Hasna dengan menyeringai lucu. Ia hanya bermaksud menggoda Afnan.
"Aish salah bicara! gak boleh!" pekik Afnan.
"Uuumm Byby." Hasna memajukan Bibir nya dan me masang wajah memelas.
"Pokok nya, gak boleh masuk tempat gituan lagi. Faham?" tanya Afnan. Ia faham betul akan wajah melas nya Hasna.
"Hmmm. Boleh! nanti Byby daftarkan kamu di club balapan resmi." Ucap Afnan tanpa kompromi.
"Gak mau!" ucap cepat Hasna. "Kenapa?" tanya Afnan.
"Gak seru. Aku mau nya tetap balapan liar." rajuk Hasna.
"Astagfirullah sayang. Itu melanggar hukum. Aku kasih kamu kebebasan dalam memilih apa yang kamu sukai, Aku akan mendukung apa yang kamu ingikan, biarpun itu tidak masuk akal sekalipun. Menikah dengan ku, bukan berarti mengekang kebebasan yang kamu miliki. Namun selama itu tidak melanggar hukum dan norma Agama. Lagian koq perempuan suka nya track track kan, track liar lagi." Tutur Afnan.
"Biar saja! memang nya hanya laki-laki yang bisa, cewek Juga bisa lah By." jawab cuek Hasna.
"Tapi itu berbahaya sayang! Aku takut...." Jawaban Afnan menggantung.
Terbersit kelam nya masa lalu yang pernah ia lewati, masa- masa belia dirinya. Ketika ia anggap itu masa jahiliah nya. Wajah Afnan seketika memias. Tatapan matanya menerawang jauh.
"By .... Byby! ada apa? Byby kenapa? Byby sakit?" pertanyaan bertubi Hasna, yang menyadari kehangatan Afnan mendingin.
Hasna pun tidak mengerti kenapa ucapan Afnan tadi menggantung. Kini wajah Afnan malah seketika pucat.
"Ah tidak." jawab Afnan singkat.
"By ....?" tanya Hasna, sepertinya ia penasaran dan ingin mengorek penjelasan lebih dalam.
Namun tiba tiba ....
Tok .... tok .... tok suara pintu kamar ada yang mengetuk,
"A'a Bro! ini pakaian untuk Nana," suara Ubaydillah dari luar pintu.
"Iya sob sebentar." Jawab Afnan. "Hmmmm ...." Tarik nafas panjang Afnan. Ia merasa lega, karena tidak harus menjawab pertanyaan Hasna. Lalu ia berjalan meninggalkan Hasna yang masih menunggu jawaban. Afnan membuka pintu dan mengambil beberapa paper bag dari Ubaydillah.
"Terima kasih sob." ucap nya. Lalu ia masuk kembali dan memberikan paper bag itu pada Hasna.
"Nih Sayang! lihat dulu isinya, cocok atau tidak dengan seleramu," Ucap nya.
"Apa ini by?" Hasna malah bertanya. "Buka saja." Jawab Afnan.
"Pakaian, by?" tanya Hasna setelah melongok ke dalam paper bag dan melihat apa itu isinya.
"Iya. Pakaian untuk mu sayang,
tadi Kak Ubay, suruh orang toko mengantar." Jawab Afnan.
"Toko? apalagi ini? tadi resto. Ooh maksudnya mungkin Byby beli online," gumam benak Hasna
Hasna sungguh belum tau siapa suami nya itu. Lalu Hasna membuka satu persatu paper bag tersebut.
"Woaaaaa!!! By... bajunya bagus- bagus. Terima kasih Byby sayang. Ini cocok sekali By."
Lalu Hasna berdiri dan mengecup pipi Afnan. Afnan hanya tersenyum, tak me nyangka istri labil nya itu sudah mulai berani melakukan hal itu.
"Iya sama sama sayang.Mandi sana, bau badan mu bisa buat ku pingsan nih lama lama ... Hehe."
"Iiikkkhhh enak saja! Aku gak bau." pekik Hasna. "Ya sudah, Nana mandi dulu ya By."
"Oke. Mandi yang bersih dan buat badan mu tambah wangi. Aku ke depan dulu." ucap Afnan.
"Iya byby sayang." Hasna pun ke kamar mandi untuk mandi, sedangkan Afnan ke depan, ia lihat Ubaydillah sedang asyik dengan laptop nya.
"Sedang apa Anta sob?" tanya Afnan. "Ini A'a Bro, sedang baca email, laporan pekerjaan dari turki. Mereka minta meeting vidio conference nanti jam dua siang." Jawab Ubaydillah.
"Ada masalah serius memang nya?" tanya Afnan. "Belum terkonfirmasi. Hasil nya nanti paling pas meeting." jawab Ubaydillah.
"Baiklah. Ya sudah." Ucap Afnan.
"Ana balik ke resto dulu ya Bro, nanti ke sini lagi," pamit Ubaydillah. "Oh ya, nih laporan keseluruhan aspek yang harus di pelajari." Ucap Ubaydillah seraya menyodorkan laptop nya pada Afnan.
Setelah nya Ubaydillah pun bergegas untuk pergi ke resto. "Ana pergi Ustadz Assalamu'alaikum."
"Ya .... Waalaikumussalam."
Setelah Ubaydillah pergi Afnan pun masuk ke ruang kerja nya yang berada di ujung lorong melewati dua kamar depan.
yang memang tidak langsung terlihat ada ruangan lain jika dari ruang tamu atau ruang santai. Ia memilih ruangan paling ujung yang menghadap ke arah kolam renang Karena itu tempat paling nyaman untuk ia bekerja saat di rumah.
Sesampai nya di sana , lalu ia mempelajari segala laporan pekerjaan dari berbagai aspek yang ia jalan kan dengan serius.
Di kamar ....
Hasna baru saja selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian. Namun ia tidak menemukan satupun alat make-up, ya setidak nya bedak dan lipgloss. Walaupun sebetul nya wajah Hasna tidak perlu polesan lagi. Tetep saja ia perempuan, yang akan merasa tidak nyaman bila tidak bersolek.
Lalu Hasna beranjak keluar kamar, bermaksud menanyakan nya kepada Afnan. "Byy .... Byy .... Byby .... Byy kamu di mana?" Panggil Hasna. Namun tidak ada yang menyahut! rumah itu nampak hening.
Bersambung ....