
Keesokan harinya,
"Sayang, berangkat ke rumah Papa pukul berapa?" tanya Afnan pada Hasna dari arah balkon. Ia sedang menikmati sarapan pagi, teh manis madu dan sandwich isi kornet.
"Nanti By sehabis sholat Dhuha," jawab Hasna. ia menghampiri Afnan ke arah balkon.
"Lalu koper-koper kita sudah di rapih kan kembali?" tanya Afnan kembali, seraya menarik Hasna duduk di samping nya.
"Sudah Byby Sayang, Pak supir katanya akan langsung kembali ke ponpes setelah antar kita ke rumah Papa," ucap Hasna.
"Oh begitu kah? Lalu jika butuh mobil bagaimana sayang?"
"Ada motor Nana dan mobil Papa sayang, O ya malam ini kita jalan sebentar ya By!"
"Jalan ke mana? nanti sayang kelelahan" tukas Afnan.
"Sebentar saja By, ke Masjid koq. Dulu Nana sempat aktif dalam ikatan remaja Masjid ini, ya walaupun hanya dua minggu hingga satu bulan sekali. Nana rindu bertemu dengan teman-teman remaja Masjid itu by, seperti nya malam ini mereka mengadakan pengajian bulanan," tutur Hasna.
"Baiklah, hanya sebentar ya sayang. Kita harus cukup istirahat agar stamina kita terjaga. Untuk ibadah di tanah suci nanti, dan apalagi menjalankan bulan madu yang sesungguhnya. Sayang harus sudah siapkan stamina tingkat tinggi," ucap Afnan. Seperti biasa ia ingin menggoda istri labil nya.
"Iiikkhh Byby, jangan menakuti Nana!" pekik Hasna.
"Tidak menakuti sayang, hanya memberitahukan," ucap Afnan.
"Hiii, Nana malu Byyy!" pekik Hasna kembali, seraya memeluk Afnan dan menyusupkan wajah nya pada lekukan tangan Afnan.
"Uuumm malu-malu sayang lucu kalau sedang malu. Tidak apa-apa sayang! rasa malu itu cabang dari iman atau sebagian dari iman koq," ucap Afnan.
"Maksudnya By?" tanya Hasna.
"Hemmm, Dari Abu Hurairah RA. Rossululloh bersabda: "Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Dan lباب الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ “Malu adalah Sebagian dari Iman." (HR Imam Bukhari). Maksudnya adalah: karena sifat malu itu, menurut Ibnu Qutaibah, “Dapat menghalangi seseorang untuk melakukan kemaksiatan sebagaimana iman.”
Malu didefinisikan sebagai sikap menahan diri dari perbuatan buruk atau hina. Sifat malu ini merupakan gabungan dari sifat takut dan iffah (menjaga kesucian diri).
Pendapat lain mengatakan bahwa malu adalah takut akan dosa karena melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Ada juga yang berpendapat bahwa malu berarti menahan diri karena takut melakukan sesuatu yang dibenci oleh syariat, akal, maupun adat kebiasaan.
"Oohh seperti itu By!" ucap Hasna.
"Iya sayang, masih banyak lagi Hadits dan penjelasan lainnya mengenai malu sebagian dari iman, akan tetapi terlalu panjang jika di jelaskan. Lain waktu saja ya," tutur Afnan.
"Janji ya By jelaskan kembali, boleh juga By untuk materi nanti saat Trio hijrah naik mimbar," ucap Hasna.
"Insya Allah sayang, nanti setelah ada waktu senggang Byby jelaskan kembali, memang sayang serius dengan trio hijrah itu? ingin mendalami ilmu agama dan siap untuk menerima tawaran tausiyah-tausiyah berikutnya?" tanya Afnan.
"Insya Allah kita sudah siap! maka dari itu kami sudah mulai mendalami pelajaran tentang agama, terutama pelafalan Al-quran serta arti , ilmu hadits dan tafsir. Tolong bimbing kami ya By," Ucap Hasna mantap.
"Masya Allah, Alhamdulillah! istri labilnya Byby betul- betul berhijrah, Luar biasa Mumtaaz (keren) sayang. Insya Allah Nanti Byby akan bimbing sayang," ucap Afnan. rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Ia tidak pernah memaksakan apapun terhadap istrinya. namun ia seperti itu atas kemauannya. Dan kini Afnan sudah siap membimbingnya.
"Syukron katsiran By."
"Afwan Sayang, Ana Uhibbuki."
"Ana Uhibbuka By."
Setelah rampung sholat Dhuha, Afnan dan Hasna ber pamitan pada Mbak Nurin dan seisi rumah singgah. Mereka berdua akan pergi ke rumah Papa Hasna sekaligus menginap di sana.
Mbak, kami pergi ke rumah Papa ya dan Terimakasih atas semuanya," ucap Hasna
"Sama-sama Non, hati-hati,"
"Insya Allah Mbak," jawab Afnan.
setelah 30 menit perjalanan, Hasna dan Afnan sampai di kediaman Papa nya.
"Assalamu'alaikum! Pah, Mah, Mira kami sudah tiba nih," ucap Hasna dan di sambut gembira oleh Papa serta Vinny. sedangkan Almira sedang sekolah Bimba belum pulang.
"Wa'alaikum salam, eh sayang! masuk yuk," ajak Vinny yang menyambut mereka lalu mengajak nya masuk dan setelah di dalam mereka di sambut hangat Papa Hasna.
"Loh koq Papa tidak pergi ke kantor?" tanya Hasna.
"Sengaja sayang Papa menuggu kalian."
"Wah! kalau begitu, kami merepotkan dong," ucap Afnan.
"Tidak sama sekali Nak, moment ini selalu Papa tunggu, hanya sayang cucu-cucu papa tidak dapat ikut," jawab Afdal.
"Terimakasih Pah, Insya Allah nanti setelah kami selesai berbulan madu, kami akan kembali berkunjung membawa serta Twins A," tukas Afnan
"Iya Pah, Insya Allah kami akan kembali kemari bersama Twins," sambung Hasna.
"Alhamdulillah, Papa tunggu!"
Mereka pun akhirnya berbincang dari hal serius mengenai aset yang Hasna miliki. Hingga pembicaraan ringan lainnya, sampai masuknya waktu dzuhur pun tiba. bahkan Almira sudah pulang dari sekolah. maka pembicaraan mereka pun mereka tunda, lalu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah dengan Afnan sebagai imam.
Ba'da Dzuhur dan setelah makan Siang.
"By, Ke kamar yuk. Nana mengantuk," ajak Hasna. setelah mereka bersantai sejenak di halaman belakang.
"Ayo sayang, Byby pun mengantuk," balas Afnan. lalu mereka pun masuk ke dalam kamar yang memang di persiapkan oleh Afdal untuk Hasna.
Setelah meninabobokan Hasna, maka Afnan pun ikut tertidur. Namun selang setengah jam kemudian Afnan terbangun. Dan tidak dapat tidur kembali, maka ia putuskan untuk mengunjungi restorannya yang berada tidak begitu jauh dari tempat itu.
"Maaf Pah, boleh saya meminjam mobil nya? karena pak supir sudah pulang, jadi saya tidak ada kendaraan," Izin Afnan pada Afdal yang ketika itu sedang duduk bersantai di ruang televisi.
"Tentu saja boleh Nak, memangnya mau kemana? dan Nana nya mana koq tidak ikut?" tanya Afdal.
"Hendak mengunjungi restoran saya Pah sebentar. Sudah lama sekali tidak dikunjungi, dan Nana nya sedang tidur. Tolong sampaikan saat ia bangun nanti ya Pah!"
"Restoran?"
"Iya Pah, Restoran yang di jalan xxx kawasan xxx," ucap Afnan.
"Mmm, Restoran yang ada Nasi kebuli nya itu bukan?" tanya Afdal.
"Betul Pah," jawab Afnan.
"Masya Allah, ternyata itu Restoran milik Nak Ustadz toh! wah Nasi kebuli nya itu lezat sekali. wah wah wah, tidak menyangka ternyata Restoran langganan Papa itu milik Nak Ustadz. Silahkan Nak jika hendak pergi pakai saja mobil nya tak perlu sungkan atau hendak Papa temani? tanya Afdal.
"Terimakasih Pah, Papa Istirahat saja," ucap Afnan. Setelah di iyakan oleh Afdal, Ia pun pergi untuk menyambangi Restoran nya.
25 menit kemudian Afnan sudah sampai di restorannya, ia disambut baik oleh para pegawainya yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Masya Allah pak Afnan, mengapa tidak mengabari jika hendak berkunjung. Kami tidak melakukan persiapan apapun Pak," ucap manager restoran tersebut.
"Tidak perlu sambutan apapun Pak! Awal nya saya tidak ingin berkunjung, namun kebetulan saya sedang berada di rumah orang tua istri saya, yang tidak jauh dari sini. Jadi sekalian saja Pak saya mamapir Sebentar. Esok hari tidak akan dapat mampir, karena Insya Allah kami akan berangkat ke tanah suci untuk umroh," jawab Afnan.
"Masya Allah. Pak Afnan sudah menikah? dan ya Allah ke tanah suci. Alhamdulillah Pak saya ikut bahagia," ucap manager Restoran tersebut.
"Sudah Pak. sudah lebih dari 1 tahun yang lalu. ada Kendala Pak selama saya tidak berkunjung?" tanya Afnan.
"Mari Pak," Afnan pun di jamu minuman. setelah itu ia memeriksa segalanya tentang restoran tersebut.
**
Di rumah Afdal.
Hasna baru saja terbangun. Dan ia tidak mendapati Afnan di sisinya. "Loh Byby kemana ya? bukannya tadi tidur denganku."
"Mah, pah. Lihat Ustadz tidak?" tanya Hasna, saat ia sudah sampai di lantai bawah untuk mencari Afnan.
"Oh, pergi mengunjungi restorannya sayang," jawab Vinny.
"Iya, tadi ia berangkat menggunakan mobil Papa sayang," sambung Afdal.
"Ya sudah Pah, motor Nana masih dapat dipakai kan? boleh Nana pakai sebentar Pah?" tanya Hasna kembali.
Motormu ada sayang! akan tetapi tidak papa simpan di rumah ini. Papa titipkan di garasi Om kamu, sesekali Diaz(adik sepupu Hasna) yang pakai. tapi ada kok motor Mama, akan tetapi motor matic bukan moge. jikalau hendak kamu pakai silakan. Asal hati-hati jangan ngebut," ucap Afdal.
"Boleh deh Pah. Nana hendak menyusul Ustadz dan sekaligus bertemu teman lama Nana, bengkel nya di depan restoran Ustadz,". ucap Hasna.
"Baiklah, hati-hati sayang!" pesan Vinny.
"Insya Allah Mah."
"Telepon dahulu suamimu. Agar dia tahu, kamu keluar untuk menyusul nya," pinta Afdal
"Iya Pah." Hasna pun pergi menyusul Afnan setelah sebelumnya menelepon Afnan. sekaligus hendak menemui Aji, pelatih motornya dahulu.
Setelah berjalan selama 20 menit, Hasna pun sampai di restoran Afnan. Dan Setelah memarkirkan motor yang ia kendarai, lalu ia bergegas masuk dan mencari suami nya.
"Assalamu'alaikum By," sapa Hasna, setelah berada dekat Afnan yang sedang memeriksa area santap.
"Wa'alaikumsalam, eh Sayang? pasti sudah rindu dengan Byby nih. Tenang saja Biby tidak minggat koq," goda Afnan tersenyum.
"Byby ada saja deh. rindu sedikit, Nana ingin meminta Izin, menemui teman lama Nana. Tuh yang bengkelnya di depan restoran." timpal Hasna tersenyum.
"Bengkel itu ya sayang? silakan sayang, tapi jangan lama ya! dan ini perkenalkan manajer restoran ini namanya pak Arwin.
"Saya Hasna pak, Istrinya Pak Afnan."
"Saya Arwin Bu."
Setelah mengecup tangan kanan Afnan. Hasna pun meninggalkan Afnan dan Pak Arwin, ia bergegas menuju bengkel Aji.
"Assalamu'alaikum Aji," sapa Hasna.
"Wa'alaikum salam! Loh Nana ya?" tanya Aji sedikit terkejut.
"Iya Ji, Ini gue Nana!" jawab Hasna.
"Ya ampun, hampir gak kenal gue. Duduk Na! Lo kemana saja selama ini? gue selalu memikirkan kabar lo, sejak malam itu. Tiba- tiba lo muncul dan sudah memakai hijab, keren Na," puji Aji.
"Terimakasih Ji. Sorry ya Ji, waktu malam itu gua tertangkap dan masuk kantor polisi. lalu bokap gue mem bebas kan gue dan setelah itu gue di ekspor ke planet antah berantah tempat tinggal Nenek gue, yang justru gue mendapatkan suami seorang Ustadz. Putra dari seorang Kyai pemilik pesantren yang cukup terkenal di sana Ji. Alhamdulillah gue sudah dapat merubah sedikit cara berpakaian gue walaupun belum sempurna," tutur Hasna.
"Oh malam itu lo masuk kantor polis! Hemmm Alhamdulillah Na kalau lo baik-baik saja. keren asli, keren banget lo Na. jadi lo Istrinya Ustadz?" tanya Aji masih tidak percaya.
"Ya Alhamdulillah begitu lah Ji. awalnya kita dijodohkan, tapi seiring waktu gue mulai jatuh cinta sih sama doi. Dan sekarang gue sudah memiliki Anak kembar, baru sekitar 8 bulan," ucap Hasna.
"wuiihh asli keren. Pasti lo, dipaksa pakai kerudung ya sama suami dan mertua lo?" tanya Aji penuh selidik.
"Ahahah, gak lah Ji, gak ada pemaksaan apapun. mereka tuh baik banget tahu Ji. awalnya gue masuk area pesantren seperti biasa, memakai pakaian kebesaran gue. lo tahu sendiri kan? justru karena kesabaran suami dan mertua gue! maka dari itu gue memutuskan untuk berhijrah Ji, mudah- mudahan lebih baik dari ini Aamin," ucap Hasna.
"Aamiin Na. Lalu suami dan Anak-anak lo di mana? koq lo sendiri," tanya Aji kembali penuh selidik.
"Ini gue sedang menghampiri suami gue yang mengunjungi restoran depan itu Ji. Gue sudah sering nongkrong di sini, bahkan gue juga sering makan di restoran itu. Ternyata restoran itu milik suami gue Ji, Masya Allah," ucap Hasna.
"Ya Allah serius Na? bukan kah restoran itu milik Pak Arwin ya?" tanya Aji kembali.
"Pak Arwin, ternyata manager restoran itu Ji. Dan pemilik aslinya suami gue serta Adiknya," jawab Hasna.
"Oh ya, lalu Anak-anak lo?"
"Mereka tidak ikut serta Ji, sebetulnya gue dan suami, hendak berangkat umroh besok. Akan tetapi gue mampir dahulu di rumah Papa. dan anak gue bersama Kakek,Neneknya di Ponpes. Kasihan Ji, kalau diajak mereka masih terlalu kecil," ucap Hasna
"Iya juga sih. Alhamdulillah deh kalau lo akan berangkat Umroh. Terimakasih lo sempet nya mampir di sini. Terjawab sudah teka-teki tentang elo yang hilang begitu saja," ujar Aji.
"Hehe iya Ji,"
"Gue sempat berbincang dengan Lintang satu tahunan yang lalu. Lintang pun tidak tahu lo di mana! dan setelah itu pun Lintang tidak pernah terlihat lagi," ucap Aji.
"Ya karena Lintang pun saat ini ada di Ponpes Ji. Rahasia Allah, ternyata Lintang bertemu dengan Adik nya suami gue! dan tidak lama mereka menikah, sekarang mereka juga sudah mempunyai bayi. awalnya gue juga terkejut Ji, Adik nya suami gue kenal dengan Lintang di Jalan berawal dari insiden mobil," tutur Hasna.
"Astagfirullah ini Mimpi atau nyata Sih Na?" Aji tidak percaya, ini kabar mengejutkan untuknya.
"Ini nyata Ji, eh tuh suami gue sedang berjalan ke arah sini deh Ji. Nanti gue perkenalkan ya!" ucap Hasna.
Memang Afnan sedang berjalan menghampiri Hasna. "Assalamu'alaikum," ucap Afnan ketika sudah sampai di dekat Hasna dan Aji.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aji dan Hasna. Aji menatap lekat Afnan, ia sedang mengamati di mana letak Ustadz nya. yang ada dalam fikiran Aji, Ustadz itu memakai baju koko, kopiah. Atau Jubah terusan, sorban. tapi nyatanya berbeda dengan Afnan. pantas saja Hasna sampai jatuh cinta. penampilannya tidak kalah dengan anak gaul Jakarta.
"Sudah selesai sayang? kalau sudah mari pulang! sudah masuk waktu Ashar. kan sayang harus siap-siap ke Masjid untuk menemui rekan-rekan remaja masjid," ucap Afnan.
"Sudah By, mari pulang! O ya perkenalkan dahulu nih Aji. pelatih motornya Nana dulu." ucap Hasna.
"Afnan," memperkenalkan diri.
"Aji." aji masih saja terkesima tidak percaya.
"Mas Aji, terima kasih ya! Mas Aji sudah ikut menjaga Hasna saat Hasna ikut balapan liar,"
"I..i..iya sama-sama," ucap Aji gugup. Ia terkejut karena Afnan tahu perihal balapan liar.
Hasna yang melihat keterkejutan Aji ia malah tertawa. "Oke sampai jumpa lain waktu ya. Gue balik dan sudah lah jangan terkejut begitu, nanti gue jelaskan semuanya, kenapa suami gue sampai tahu tentang balapan liar juga," tukas Hasna.
"Baiklah Na gue tunggu!"
"Mas Aji, kami pamit ya! terima kasih Assalamu'alaikum," ucap Afnan. Afnan dan Hasna pun pergi meninggalkan Aji, dengan Hasna menaiki motor. Sedangkan Afnan kembali ke dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan restoran.
"Dejavu si cewek gahar," ucap Afnan. Saat ia mengamati Hasna yang akan menuju jalan raya dan dirinya siap mengiringi dari arah belakang. Posisi Hasna di tempat yang sama saat dahulu Afnan melihatnya, namun bedanya tidak memakai motor besar. Dan saat ini Hasna sudah ber hijab. Posisi Afnan pun sama seperti dahulu hanya Ubaydillah yang tidak ada samping nya saat ini. "Hufff, Astagfirullah
Next 👉