
"By .... By .... Byby .... kamu di mana?"
"Ustaaddzz!
"Kak Ubay! Kak ubaayy."
"Ustaaasdz!"
"Yu huuu ..... Hubbyyyy!"
"Di mana kalian?"
Hasna memanggil Afnan Dan Ubaydillah. Namun hasil nya nihil, tidak ada jawaban dari keduanya.
"Huffs! pada kemana sih? Koq tiba tiba lenyap?!" gerutu Hasna.
"Jangan bilang, saat ini, Aku di buang dan di asingkan di rumah ini? lalu nanti nya di jual ke agen perdagangan manusia? Shiii horor juga yah!"
Hasna bergumam sendiri, lalu ia bergidik ngeri membayangkan kata perdagangan manusia.
"Ikhh Nana! Please ....masa su'udzon sama suami sendiri siih. Hihi..." Hasna masih saja bergumam sendiri, lalu ia keluar lewat pintu yang terhubung ke ruang Televisi.
"Oh, ternyata ini Garasi." fikir nya, dan ia kembali menemukan pintu ke arah belakang rumah itu.
Ia susuri terus gang kecil di antara pagar tembok dan tembok bangunan rumah, yang lebih mirip jalan setapak berumput. Terdapat batu alam sebagai pijakan yang di susun untuk langkah perlangkah. Tak berapa lama, ia keluar dari samping rumah.
"Waaaaooooww amazing." Pekik Hasna. Ia merasa kagum dengan apa yang ia lihat. Kebun bunga yang sangat cantik di samping belakang rumah itu. Berbagai macam bunga ada di sana! warna warni bunga begitu indah terlihat.
"Wuuaaah! cantik! Kata Byby rumah kecil, iya sih rumah nya kecil, tapi halamannya luas." Gumam Hasna.
Terdapat beberapa pohon cangkokan juga di sana. Walaupun pohon nya kecil, namun berbuah lebat. Pohon itu berbaris rapih di pinggir Kebun tersebut yang tertanam di dalam drum-drum ukuran besar.
Lalu Hasna berlari menghampiri taman bunga itu. Saat telah sampai sana, matanya terpana pada sudut kanan, yaitu kolam renang minimalis dan terdapat dua kursi pantai di sisi kolam.
Di sebelah kanan nya lagi ada lapangan kecil juga, namun serba guna seperti nya, karena nampak terdapat ring basket, net badminton dan meja tenis yang terlipat rapi. lengkap dengan beberapa bet tergantung di sana, lapangan itu terhubung pada sebuah ruangan kaca namun ruangan itu terbagi dua, satunya sebuah ruang memanjang sebagai Garasi cukup untuk dua buah Mobil.
Hasna juga melihat mobil nya yang kemarin di sekolah, kini sudah berada di sana. Ruangan satu nya lagi tempat gym mini. Karena terdapat alat alat nge gym seperti treadmill , static bicycle dan barbell. Ruangan menghadap ke arah lapangan dan kolam renang
"Nah ada bola basket nih, kebetulan sudah lama gak pernah main basket lagi."
Hasna mengambil bola basket tersebut dari rak nya. Lalu ia mulai mendribble berkali kali dan ia melakukan long shoot three point. Tembakan nya pun membuahkan hasil. Hasna merasa ketagihan. Ia berlari men dribble sembari memutari setengah lapangan.
Hasna tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan nya. Hasna mulai shooting kembali. kali ini medium shoot.
Prok .... Prok ... prok .... tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan dari arah ruang gym.
Hasna menoleh , Afnan tengah bersandar di dinding kaca tersebut dengan cool nya.
"Byyyyy..." Hasna melambaikan tangan pada Afnan. Lalu Afnan berjalan menghampiri Hasna.
"Passing!" ucap nya. Hasna pun melempar bola tersebut ke arah Afnan. Dengan sigap, Afnan menangkap bola dan mengempit nya di lengan.
"Man to man defense??" ( satu lawan satu) yang kalah dapat hukuman!" ucap Afnan. Hasna mengangkat jempol tanda setuju.
"Siapa takuutt!" teriak nya, lalu jempol nya ia putar terbalik.
"Awas yaah! ngeledek aku nih?!"
Afnan mulai men dribble bola, Hasna berusaha mem blocking!namun usaha nya gagal. Afnan keburu melakukan lemparan short shoot. Tebakan nya pun masuk. Hasna berlari berusaha merebut bola kembali.
"Ayo sayang, block aku. Ayo kamu bisa!" Ucap Afnan sembari double dribbling.
"Tunggu ya Byy. Jangan merasa di atas angin deh!"
Hasna berlari membuat kecohan, hingga ia mampu merebut bola dari Afnan dan ia menjulurkan lidah nya pada Afnan sebagai tanda ledekan Karena mampu merebut bola dari Afnan.
Afnan tertawa kecil menyaksikan kelakuan nyeleneh dan lucu Hasna.
Lalu Hasna pun melakukan Long shoot dan bola masuk ke dalam ring. Afnan merebut kembali bola. Hingga seterus nya, permainan keduanya berjalan seru.
Terakhir Afnan melakukan slam dunk dan bola kembali masuk.
skor akhir 23 : 30 tentu saja Afnan yang menang.
"Awww kaki Nana By!"
"Eh kenapa?" Afnan berlari menghampiri Hasna.
"Ini kaki Nana kram By!" pekik Hasna.
"Duuhh. Tuh kan, gak pakai pemanasan dulu sih tadi." ungkap cemas Afnan
"Hehe iya By!"
"Coba luruskan kaki nya," pinta Afnan. Hasna pun menurut.
Afnan menekan telapak kaki Hasna ke arah dalam dan agak menarik betis Hasna agar sedikit merenggang. Terasa ada sesuatu yang tertarik nyeri mulai dari pangkal paha menarik ke arah betis
"Awww! uuhhgghh." Hasna meringis. "Bagaimana sayang?" tanya Afnan.
"Lumayan lah By, agak kenduran."
Jawab Hasna.
"Baiklah, sudah! ayo masuk. Di sini panas." Ajak Afnan.
"Lagian kalau mau main basket ganti baju dulu, masa main basket pakai dress gini." Ucap Afnan sembari menggendong Hasna, membawa nya masuk.
"Yey mana aku tahu ada ring basket di sana, aku lagi cari Byby! gak sengaja masuk sana, ya sudah aku main saja." Bela Hasna.
"By.. Ini ruangan tersebut apa?" tanya Hasna karena ia pun baru masuk ke ruang tersebut.
"Ruang kerjaku." Jawab Afnan singkat.
"By! Maaf ... Byby kan hanya seorang guru ngaji. Tapi kenapa harus punya ruang kerja yang mewah seperti itu?" tanya Hasna.
"Loh memang gak boleh ya?" tanya balik Afnan.
"Ya boleh sih! tapi Aneh saja," jawab Hasna dengan polos nya.
"Memang pekerjaan Byby itu yang sebenar nya apa sih by?" Hasna merasa penasaran.
"Ya .... seperti yang kamu bilang! pengganda uang." intonasi ucapan Afnan agak di tekan
"Haaaahh serius By? Astaghfirullah! berarti Byby membiayai pernikahan kita, kasih mahar nya aku itu, pakai uang haram dong?" pekik Hasna.
"Sembarangan!" seru Afnan.
"Lalu..." Hasna berusaha memperjelas.
"Lalu .... Kita sudah sampai ruang Televisi dan kamu diam di sini jangan banyak bicara! atau ku cuun sampai jontor tuh Bibir." Ancam lembut Afnan. Kemudian Afnan meletakan Hasna pada sofa panjang di ruangan itu.
"Sebentar yah! aku ambil semprotan pereda nyeri."
"Iya By!"
Sebelum pergi, afnan menyeka peluh yang bercucuran pada wajah Hasna dengan tisu. Lalu ia menghidupkan Ac. Tidak lama ia kembali dengan membawa botol spray kecil.
"Coba mana yang kram nya?" tanya Afnan.
"Ini By di betis sebelah kanan." Hasna menunjuk pada kaki nya.
Lalu Afnan menspray bagian kaki Hasna yang sakit.
"By! tadi, aku cariin koq enggak ada? Byby sengaja ya meninggalkan aku?" tanya Hasna sembari menekuk wajahnya.
"Enggak sayang! Aku ada kerjaan tadi. Tuh di ruang kerja yang kita lewati." Tutur Afnan sembari menunjuk pada ruangan kerja nya.
"Iya, tapi mengerjakan apa By?" Hasna di buat penasaran.
"Sudahlah! nanti juga kamu tahu, kerjaan aku tuh apa." Jawab Afnan.
Tak lama terdengar suara deru mobil di dalam garasi. Pertanda ada mobil masuk. Tidak berapa lama Ubaydillah pun muncul dari balik pintu garasi.
"Assalamu'alaikum!" sapa Ubaydillah.
"Wa'alaikum Salam." Jawab Afnan Dmdan Hasna bersamaan.
"Bro! meeting teleconference minta di majukan habis dzuhur."
Afnan mengangguk dan menaruh jari telunjuk pada bibir nya. Sebagai isyarat agar Ubaydillah diam, lalu mata Afnan berkerling ke arah Hasna yang tengah meregangkan kakinya di atas sofa.
Ubaydillah mengerti bahwa ia tidak boleh mengatakan itu di depan Hasna.
Hasna yang mendengar ucapan Ubaydillah terhenti, menanti kan kelanjutan nya, namun Ubaydillah tak melanjutkan.
"Iiiikkhhhh ada apa siihh? Kok tiba tiba diam?" batin Hasna.
Afnan sengaja tidak mau membongkar apa pekerjaan nya pada Hasna. Ia lebih suka Hasna menganggap nya, sebagai Ustadz yang hanya seorang guru ngaji, bukan sebagai pebisnis dan pengusaha. Biarlah suatu hari nanti juga dia akan tahu dengan sendirinya.
"Loh itu kenapa?" tanya Ubaydillah, karena melihat Hasna meringis memegangi kaki nya.
"Biasa, Britney griner KW main basket gak pakai pemanasan dulu, kram deh!" jawab Afnan.
"Ukkhmmfff! Ubaydillah menahan tawa "Main basket ala baru Dek?" tanya nya lagi pada Hasna.
.
"Maksud nya?" Tanya Hasna tidak mengerti.
"Lah iya itu, main basket nya pakai dress!"
"Hehe kan unik Kak Ubay! belum ada kan pemain basket pakai dress. Hihi..." jawab Hasna.
"Tapi lumayan jago permainan kamu sayang." Ucap Afnan. "Kapan kamu terakhir main basket selain hari ini?" tanya Afnan.
"Mmm .... mungkin ketika kelas satu SMA. Hehe." jawab Hasna menyeringai.
"Sudah lama juga. Tapi masih OK sih permainan nya." Ucap kagum Afnan.
"Ya sudah Ana mandi dulu sob." Pamit Afnan pada Ubaydillah.
"Ok!" balas Ubaydillah
Hasna merasa risih hanya berdua dengan Ubaydillah di ruang Televisi.
"By .... gendoong. Aku ikut ke kamar." Pinta Hasna dengan Gaya manja nya.
"Baik! Mari!" Afnan pun menggendong Hasna masuk ke kamar.
Ubaydillah duduk di sofa. Ia mengingat panggilan Hasna pada Afnan baru saja.
"By? Bye bye? Aby? Uby? atau Baby? yaa? Hihi. Ada ada saja panggilan orang baru nikah!"
***********
Terimakasih untuk Readers gemez ku atas vote, like, komen, dan masukan nya. Semoga selalu semangat menanti si Thor ini updet ya 🙏🙏😊😊