
"What?"
"Laki-laki?" tanya Afnan.
"Iya. Memangnya kenapa Ustaz, kalau dia laki-laki?" tanya Hasna. Mereka berdua kini sama-sama bersandar di body mobil dengan berjarak. Sedangkan Ubaydillah sudah masuk kedalam mobil dan duduk di ruang kemudi.
"Sudah hampir pagi. Masuklah, kita pulang!" ucap Afnan dengan wajah datar, namun suaranya masih terdengar menyejukkan di telinga Hasna.
"Baik Ustaz!" Hasna masuk ke dalam mobil di bangku belakang dan duduk di bagian tengah. Sedangkan Afnan duduk di sebelah Ubaydillah yang memegang kemudi.
"Jalan Dek Sob!" pinta Afnan dan Ubaydillah pun mengangguk sembari menghidupkan mesin mobil dan kini mereka sudah keluar meninggalkan pelataran parkir Kelab malam.
Untuk beberapa saat keadaan hening. Hasna nampak duduk bersandar dengan santainya dengan memainkan ponsel miliknya. Sedangkan Afnan duduk gelisah dengan helaan napas dan kerap kali ber-istighfar, kala penglihatannya yang melanggar aturan, kini melirik Hasna dari rear-vision mirror.
Afnan segera menguasai diri. Dengan membuat lehernya kaku menghadap lurus ke arah depan, agar tidak berusaha melirik Hasna terus. "Laki laki itu berbahaya, apalagi jika hanya berdua saja," ucap Afnan datar tanpa menoleh, memecah keheningan di antara mereka.
"Berbahaya apanya Ustaz? dia baik kok, dia sahabat aku satu satunya di sini," ucap Hasna cuek, tanpa melihat ke sumber suara berasal.
"Kalau dia memang sahabat yang baik , dia tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Terlebih kamu itu perempuan dan sedang dalam masalah," ucap Afnan masih tetap menatap ke depan.
"Awalnya dia mau menunggu kok Ustaz. Tapi, aku menyuruh dia untuk pulang saja," jawab Hasna lagi, matanya masih fokus ke layar ponsel. Ternyata Hasna sedang mengerjakan tugas online sebagai pekerjaan rumah dari Guru kelasnya yang belum ia kerjakan.
"Mengapa kamu malah menyuruh dia pulang?" tanya Afnan kembali, sembari mengerutkan keningnya, Merasa penasaran.
"Karena aku sudah bilang sama dia, untuk tidak khawatir. Bahwa 'Om' aku akan datang untuk menjemput," jawab Hasna cuek dan santai, sedikit melirik ke arah Afnan.
"Hest ... apa aku setua itu bagimu?" tanya Afnan dengan mendesis pelan.
"Tidak juga. Sebetul nya Ustaz terlihat lebih muda dari usia saat ini. Em ... Ustaz, tahu atau tidak?" tanya balik Hasna.
"Mana aku tahu. 'Kan kamu belum mengatakannya," ucap Afnan sedikit sensi, "ya sudah, apa itu?" tanya Afnan kemudian dengan nada suara tetap datar.
Ubaydillah yang mendengar mereka berdua berdebat pun tidak bersuara. Dia hanya sedang mesem-mesem menahan tawa.
"Saat Ninen bilang Anda itu seorang Ustaz, aku tidak percaya loh," jawab Hasna
"Kenapa?" tanya Afnan semakin penasaran.
"Karena ... tampilan Ustaz lebih mirip rocker ketimbang Ustaz," jawab Hasna polos dengan berterus terang dan tertawa kecil. Namun, terdengar renyah.
"Uhm ... uhm ... hahahhaha," Ubaydillah tak kuasa menahan tawa. Akhirnya tawanya meledak seketika.
"Diaaam!" hardik keduanya.
"Oopps ... wkkkk.." Ubaydillah lalu diam, namun masih tetap menahan tawa.
"Waduh kompak, lagian Ini anak cantik-cantik, polos apa dong-dong sih? terus terang banget, kikikikkik." Batin Ubaydillah, masih tertawa pelan.
"Lalu ... mengapa kamu tidak mengakui aku sebagai calon suami kamu kepada polisi dan sahabat kamu?" tanya Afnan kembali tanpa menoleh ataupun melirik.
"Takutnya Ustaz malu, karena punya calon istri yang nongkrongnya di Kelab malam," jawab Hasna dan kini nampak tertunduk malu.
Hasna tahu diri akan status calon suaminya yang merupakan salah satu Putra Kyai kondang dan terpandang di kotanya dan juga Ustaz gaul yang terkenal.
"Em, baiklah. Tolong dengarkan ya! Kalau masih bisa hindari, usahakan jangan keluar berdua dengan pria yang bukan mahram kamu. Asal kamu tahu, laki-laki itu berbahaya!"
"Berbahaya seperti apa Ustaz? bukankah laki-laki itu bisa diandalkan, untuk melindungi aku sebagai perempuan?" tanya Hasna terdengar lugu.
"Jika itu orang terdekat kamu, seperti ayah, kakek, paman atau kakak laki-laki kamu, mungkin benar. Terlebih seorang suami. Akan tetapi, Selain itu kamu jangan terlalu percaya pada laki-laki. Karena laki-laki itu bisa berubah buas. Lebih buas dari pada singa, dia bisa menerkam kamu kapan saja. Makanya kamu harus hati-hati!" seru Afnan seperti sedang menakuti Hasna. Namun, nada suaranya tetap datar.
"Termasuk Ustaz dong?" tanya spontan Hasna terdengar polos, namun menggelitik telinga yang mendengarnya, "lalu, kalau laki-laki itu buas, Ustaz sendiri se-buas apa?" tanya Hasna kembali.
"Mppff," suara pelan Ubaydillah Ketika mendengar pertanyaan Hasna yang polos namun terdengar konyol. Akan tetapi ia menahan tawanya, daripada di semprot lagi, seperti tadi. Ubaydillah memilih cari aman.
"Skak match Ustaz! coba jawab," ucap Ubaydillah kemudian didalam hatinya.
Namun, Afnan memilih tak menjawab pertanyaan Hasna. Ia hanya diam karena takut pertanyaan Hasna melebar ke mana-mana dan ia takut terpancing dengan jawaban yang akan ia jawab.
Setelah diam beberapa detik. Afnan terkesiap, ia berusaha menekan perasaannya, jantungnya kini berdebar. Betapa tidak, kini ia dapat melihat kecantikan Hasna sesekali dengan jelas dari rear-vision mirror atau kaca bagian dalam yang menghadap ke arah Hasna.
Karena Hasna tidak lagi fokus ke layar ponselnya. Kini ia menatap ke arah depan. Hasna sedang menunggu jawaban dari Afnan.
Tubuh Afnan terasa bergetar ada gelenyar hawa sedikit panas. Hasrat kelelakiannya bergema, tak dapat di pungkiri, Afnan adalah laki-laki dewasa normal.
"Astagfirullah ... Astagfirullah ..."
Berkali kali-kali Afnan mengucap Istighfar dalam hatinya. Terlebih Hasna yang memanyunkan Bibirnya, Karena tak ada jawaban dari Afnan. Itu amat menggemaskan dan ingin rasanya Afnan mengigit bibir pink itu.
Setelah beberapa menit menunggu jawaban. Karena jengkel, Hasna kembali menghidupkan ponselnya, lalu ia menghubungi Afnan melalui pesan WhatsApp.
Triing ...
Terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Afnan. "Calon Istri" tulisan yang Afnan baca si pengirim pesan.
"Ustaz, kenapa diam saja?" tanya Hasna didalam pesan masuk itu.
"Tidak apa!" balas Afnan singkat.
"Apakah Ustaz marah padaku?" tanya Hasna lagi didalam chat-nya.
"Tidak juga. Untuk apa marah?" tanya Afnan sebagai balasan.
"Tapi kok diam saja? cara bicara Ustaz juga begitu datar tak sehangat sebelumnya, apalagi itu kalau bukan marah?" lagi, Hasna bertanya.
"Percayalah, aku tidak marah padamu. Aku hanya takut." Balas Afnan.
"Takut? apakah takut padaku, Ustaz? memangnya aku hantu yang menyeramkan? hingga Ustaz takut padaku?" cecar Hasna lagi di dalam sambungan chat-nya.
"Kalau untuk hantu, aku tidak takut, se-menyeramkan apapun itu. Namun, aku takut akan wajah cantik mu." jujur Afnan dalam balasan Chat-nya.
"Ahahaha, Ustaz ini aneh. Masa takut dengan wajahku, seharusnya Ustaz senang dong! tahu kalau calon istrinya cantik, atau Ustaz itu seorang pengecut?" tanya Hasna lagi.
"Astagfirullah ... ia aku pengecut! aku takut tak bisa menahan hawa nafsuku. Mungkin aku lebih senang lagi melihat wajahmu nanti saat kita sudah halal, tidak untuk saat ini." Balas Afnan.
"Kalau Ustaz melihat wajahku nanti setelah halal. Akan tetapi wajahku ternyata buruk rupa, apa Ustaz masih mau menerima?" kini pertanyaan Hasna semakin serius.
"Aku harus terima apa yang menjadi ketetapan Allah dan yang sudah menjadi takdirku. Jodoh, maut, rezeki adalah takdir Allah untuk Hambanya. Maka apa yang telah di takdirkan Allah, harus di terima dengan lapang dada." Balas Afnan.
"Walaupun dengan terpaksa?" Hasna semakin penasaran dengan jawaban Afnan.
"Terkadang, Allah harus memaksa Hambanya untuk mereka beriman kepada-Nya. Namun, manusia suka berburuk sangka terhadap Allah, bahwa Allah tidak adil. Nah, inilah titik keimanan kita di uji, padahal buruk untuk manusia belum tentu buruk untuk Allah, malah mungkin itu yang terbaik untuk manusia."
"Ustaz, kita 'kan nanti menikah dan Ustaz tahu kelakuan aku, apa Ustaz akan mampu bersabar dalam menghadapi aku?" tanya Hasna, "lalu, apakah Ustaz akan memaksaku untuk berubah?" tanyanya lagi. Masih didalam berbalas pesan.
"Aku tak mau menjanjikan apapun. Jika kamu mau, ayo kita menikah besok, kalau perlu malam ini. Agar kamu mengenalku dan saran aku, tetaplah menjadi dirimu sendiri, selama kamu nyaman." Balas Afnan dan Hasna mengakhiri berbalas pesan dengan Afnan di aplikasi chatting itu.
"Mengapa aku merasa terharu ya. Membaca balasan pesan dari Ustaz," batin Hasna.
Hasna merasa dilema, ia mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya. Akan tetapi ia merasa aneh, ia tidak mengerti. Ada getaran tak biasa di dalam hatinya.
"Bro, kita kemana ini?" tiba-tiba suara Ubaydillah memecah keheningan.
"Antar dia pulang! ini sudah hampir Subuh. Bisa-bisa orang rumahnya geger, saat menyadari dia tidak ada di kamarnya," Jawab Afnan dingin. Hasna pun mendengarnya dan ia memilih diam, asik dengan pemikirannya sendiri.
Tak berapa lama mereka telah sampai di kediaman Hasna dan Hasna meminta turun di depan gerbang saja. "Terima kasih banyak Ustaz Kak Ubaydillah, atas pertolongannya," ucap Hasna Ketika hendak turun dari mobil.
"Tidak perlu sungkan," jawab Afnan dan Ubaydillah hanya mengangguk takzim. Hasna pun turun dari mobil dan masuk kedalam gerbang. Barulah setelah Hasna di perkirakan sudah masuk kedalam rumah, Afnan dan Ubaydillah-pun segera pulang.
Bersambung ....