Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 223. Istanbul



Di kamar Hotel bintang 5, lantai enam dan tepat nya di kamar mandi berukuran besar itu, kini Afnan menemeni Istrinya memompa Asi. Ia ikut duduk di sofa panjang tanpa sandaran, di sebelah Hasna.


Walaupun itu ruangan kamar mandi, namun steril, terlihat bersih dan nyaman. sofa yang di duduki Hasna, menghadap ke arah jendela yang langsung menampakkan pemandangan laut!



"Jadi tiap pagi dan sore, kamu memompa Asi, Sayang? mengapa, harus sembunyi dari Byby?" tanya Afnan.


"Hehe, tidak apa-apa by! Nana hanya malu." seringai malu dari Hasna, ia menundukkan kepalanya.


"Mengapa harus malu! Byby kan suami mu. Ayah dari twins! jika Byby tahu, kan bisa tolong sayang untuk memompa nya, atau bahkan menghi*ap nya," nada serius Afnan dengan wajah iba pada Hasna.


"Hiiii.. Byby Vulgar ah!" ucap Hasna, merasa risih dengan kata-kata terakhir Afnan.


"Hehe.. koq vulgar! Hemm..yang pernah Byby baca dalam buku dan Byby dengar dari para ulama. Walau pun hingga Kini para ulama di kalangan madzhab Hanafi berselisih pendapat dan masih dalam perdebatan, dan hukum nya makruh maka seorang suami yang menghi*ap Asi istri nya itu di perbolehkan, jika dengan alasan darurat, sebuah kebutuhan demi kesehatan sayang!" tutur Afnan.


"Ini bukan modusnya Byby ke Nana kan?" ucap Hasna, menatap tajam wajah Afnan.


"Ya ampun, tidak sayang. Byby akan lakukan demi rasa sayang dan cinta pada mu, Byby akan rela untuk melakukan nya. Selama menurut Agama dan Para ulama memperbolehkan hal tersebut."


"Bila dibutuhkan semacam untuk mengobati dalam keadaan darurat Misalnya, itu di perbolehkan. Seperti hal nya bila sang istri mengalami mastitis( saat payudara mengalami bengkak karena Asi tidak keluar dengan tuntas) kalau keadaan nya seperti itu kata nya sih dapat menyebabkan demam sayang. Nah maka dari itu Byby tidak ingin hal itu terjadi padamu Sayang! dan bila di niatkan karena Allah maka Insha Allah, akan mendapatkan pahala," ucap Afnan Kembali.


"Iya By. Itu yang Mama Vinny dan dokter Anne katakan. Dokter Anne pun menyarankan agar Byby yang menghi*sap nya, selama kita berpergian. Katanya hisa*pan Byby akan lebih kuat daripada alat pemompa." wajah Hasna merona merah karena malu seterus terang itu pada suaminya.


"Sudah tahu seperti itu, mengapa tidak mengatakan dan memintanya pada Byby?"


"Iiiiihhh, tapi Nana malu pas mau memintanya pada Byby, walaupun Nana tahu Byby tidak akan pernah menolak nya." pekik Hasna.


"Waktu sampai dari kota S itu by, ketika di rumah singgah memang rasanya sudah mulai membengkak dan tubuh Nana sudah merasa tak nyaman! tapi sedikit membaik setelah Byby melakukan '......' iiihh Nana malu, sudah ah!" ucap Hasna menutupi wajahnya dengan telapak tangan Afnan yang ia raih secara refleks.


"Hehe, Karena waktu itu Byby tahu keadaan sayang yang sudah mulai merasakan tidak nyaman dengan menahan sakit selama lima jam perjalanan tanpa memimikan nya pada Twins. Tanpa sepengetahuan mu, Byby melakukan '......' walaupun setelah nya, maaf Byby harus uwheek." jujur Afnan, ia pun merasa malu pada Hasna atas kelakuan nya tempo hari di Jakarta.


"Hoooo Astagfirullah, ternyata Byby sudah tahu ya! dan sampai melakukan hal itu diam-diam, pantas saja ketika masih letih pun Byby merayu Nana untuk melakukan '......'


(Sebagai kode, telunjuk Hasna saling bertaut).


"Ya begitulah Sayang," jawab Afnan dengan seringai nya dan wajahnya berubah memerah karena malu.


"Ya ampun By, terima kasih ya! Nana betul-betul tidak tahu. Mengapa Byby tidak berterus terang saja?" tanya Hasna.


"Hihi, Byby pun malu sayang! maka dari itu melakukan nya dengan diam-diam," Afnan tersenyum salah tingkah dan malu. "Namun setelah itu sepertinya sayang tak mengalami hal yang sama. Byby pikir, mungkin sayang meminum obat untuk menghentikan aliran Asi nya, tapi mengapa sayang tidak mengatakan nya pada Byby?"


"Nah itu By, ketika Nana sampai Jakarta, Nana terasa sudah mengalami pembengkakan seperti itu, ya sudah Nana cerita ke Mama Vinny ketika makan malam, serta konsultasi ke dokter Anne juga lewat pesan. Jujur Nana hendak mengatakan nya pada Byby, tapi Nana malu. Sungguh By Nana malu!" ucap Hasna menunduk kan wajah nya kembali.


"Sayang! Maafkan Byby ya! Byby tidak peka terhadap hal sepenting ini. Byby juga tidak faham masalah beginian! ya tahu nya dengan cara di '.....' tapi sepertinya tak ada masalah lagi, ya sudah Byby lupa! ternyata kamu melakukan hal ini setiap hari."


"Lalu dari kapan sayang Mulai memompa nya?" tanya Afnan serius. Kini ia duduk menghadap langsung pada Hasna, yang sedang duduk di sofa bersama nya , membelai lembut pipi Hasna dan menatap nya penuh kasih sayang.


Hasna masih memegangi alat pemompa Asi elektrik nya. "Dari sejak di Jakarta, tanah suci dan ya, hingga di sini," ucap Hasna pelan.


"Lalu dari mana alat itu sayang dapatkan?" Afnan yang biasanya tidak Banyak cakap dan tanya, ia begitu sangat penasaran.


"Dari Mama Vinny. sebelum berangkat ke Masjid untuk bertemu teman pengajian Nana itu kami mengobrol kembali. Nana bercerita kalau payudara Nana membengkak! dan Mama Vinny memberikan solusi agar Nana memompa Asi, agar nanti nya Nana tidak sakit saat bepergian dan Mama Vinny yang membelikan alat ini, Sampai di belikan tiga buah By," ucap Hasna.


"Ya ampun," ucap Afnan.


"Sebelumnya Nana juga konsultasi dengan dokter Anne. agar Nana dapat menyalurkan Asi Nana selama bepergian. karena Nana tidak ingin Asi Nana kering dan setelah pulang dari berbulan madu kita, tidak dapat menyusui Twins kembali." ucap Hasna kembali.


"Ya ampun sayang, jadi hampir satu bulan kamu tersiksa seperti ini? mengapa tidak kamu katakan pada Byby," Afnan betul-betul merasa bersalah karena tidak peka pada Hasna.


Afnan pun memeluk Hasna, terasa getaran dari tubuh Afnan yang sedikit terisak. Afnan menyesali keadaan Hasna yang harus kesulitan tiap hari memompa Asi nya dan ia tidak dapat merasakan kesulitan sang Istri. Mendapatkan pelukan mendadak, Hasna terpaksa menghentikan sementara kegiatan memompa Asinya.


"Sudahlah By, Nana baik-baik saja koq," ucap Hasna seraya membelai punggung Afnan dengan lembut.


"Maafkan Byby sayang!"


"Iya Byby sayang. Nana sudah memaafkan! lagipula tidak ada yang salah dalam hal ini kan." jawaban Hasna begitu bijak.


kini Afnan sudah sedikit lega, lalau ia tarik tubuhnya dari memeluk Hasna. Afnan menatap Hasna dengan kesenduan.


"Lalu air Asi ini, sayang buang atau bagaimana?" tiba-tiba Afnan penasaran, apa yang Hasna lakukan terhadap air Asi nya.


"Ya sebagian Nana buang, sebagian Nana serahkan ke pihak hotel untuk di donorkan," jawab Hasna santai.


"Maksudnya?" Afnan belum juga mengerti.


"Maaf By, pegangi sebentar alat nya! Nana pegal," pinta Hasna sebelum menjawab pertanyaan Afnan. Afnan pun mulai memegangi alat pompa tersebut dengan sukarela, itu terlihat dari senyumannya yang memancarkan keikhlasan.


"Ya itu By, air yang agak bening-bening itu, yang awal-awal nya karena itu kan yang basi nya, Menurut Mama Vinny sih begitu. Lalu yang bagus ini tuh yang sudah putih-putih seperti air susu biasa. ya Nana minta tolong kepada pihak hotel untuk mendonorkan nya.


"Alhamdulillah setiap hotel ternyata bisa. Mereka mau mendonorkan nya dan memang menurut mereka, ada tersedia tempat untuk mendonorkan nya di satukan dengan Asi dari busui yang lain nya, dengan catatan si busui tidak mengidap penyakit apapun yang berbahaya atau menular." tutur Hasna begitu lugas.


"Oh seperti itu, lalu mereka tahu sayang sehat tidak nya dari mana? dan Itu yang terbuang Sayang sekali," ucap Afnan.


"Ya kan Nana sudah di bekali surat sehat dari dokter Anne. Hanya scan tanda pengenal Nana, dan Byby, surat sehat, sudah deh! dengan diam diam Nana akan menyerahkan hasil pompaan ini,"


"Masya Allah cerdas nya Istri Byby!" cup Afnan mengecup hidung Hasna.


"By.."


"Ya"


"Kalau begitu, ini kan masih belum sepenuhnya terpompa, Nana juga lelah memompa. Nah...(Hasna menatap tajam Afnan sambil menyeringai dan Afnan mengerti apa maksudnya.)


"O..oo..No! Sayang. Terimakasih!"


Afnan beranjak keluar dari kamar mandi setengah berlari. Hasna mengejar nya dari belakang. "Ayolah By, kata nya lezat! ini bagus buat pertumbuhan By." Hasna sedang menggoda suami nya.


Lima menit kemudian..


"Tidak..tidak sayang! jangan, please! Byby bantu pegangi alat pompa nya saja," teriak Afnan. Ketika tubuh Hasna sudah berada di atas tubuh nya dan menindih nya di kasur.


"Come on my big Baby! male lion. please open your mouth, this is delicious," Hasna sedang mengerjai Afnan. ia rapatkan hidung Afnan dengan jari telunjuk dan ibu jari nya, tujuan nya agar mulut Afnan terbuka.


"Please sayang. Tidak harus begini juga! Masih ada alat pompa."


***


Beberapa hari berikutnya di Villa Granny..


Sudah 1 pekan, Ubaydillah serta Lintang, Devano dan Elyavira dan anak-anak. Mereka tinggal di villa untuk mengunjungi Granny sekaligus berganti suasana selagi Abi dan Umi sedang di luar kota.


Tiap hari Ubaydillah pulang pergi dari villa untuk bekerja di kantor nya. siang ini Ubaydillah putuskan libur dari pekerjaan nya! ia sedang menimang Afkha dengan melantunkan ayat suci Al-quran. Aska Begitu tenang di pangkuan Ubaydillah, yang sudah seperti Ayah nya.


Afsha sedang digendong oleh Granny, sedangkan Lintang sedang menyusui Baby-G. Devano sedang berduaan terlihat mengobrol mesra di taman bersama Elyavira.


"Lilin sayang! ini di Dedek Sha, tidak mau bobo. Mungkin haus," Granny menghampiri Lintang.


"Oh ya granny! Dedek Sha mari mimi dulu dengan Mimom Lilin." ajak Lintang pada Afsha.


"Sini Granny gendong Baby-G nya!" tawar Granny, sembari meletakan Afsha sementara di sofa.


"Terimakasih Granny sayang!" ucap Lintang dengan tersenyum, Setelah Baby-G berada di dalam gendongan Granny.


Lalau Lintang mengangkat Afsha, meletakkan di pangkuan nya dan dia mulai menyusui Afsha. Tak berapa lama Afsha pun tertidur, begitu pun Baby-G dan Afkha mereka pun sudah pulas dan masing-masing sudah di ambil para Baby sister nya untuk menidurkan nya di kamar khusus anak.


"Granny, maaf titip anak-anak. Davian keluar sebentar ya! ajak Lilin pacaran," bisik Ubaydillah memeluk manja sang Nenek dari arah belakang.


"Iya sayang, tenang saja! untuk masalah anak-anak tidak perlu dipikirkan. ada Granny dan ada para pengasuh. Grandad juga sebentar lagi tiba dari Jakarta, baru saja telepon."


"Pergilah Nak! nikamati waktu kalian, buat Lilin nyaman dan bahagia," ucap Granny Ketika sudah berbalik dan menatap wajah Ubaydillah serta mengusap lembut wajah Ubaydillah.


Ubaydillah tersenyum bahagia dan menatap wajah Nenek nya yang sudah lebih dari setengah abad, namun masih terlihat cantik.


"Thank you Granny."


"You're Welcome Baby."


"kami pergi Granny Assalamu'alaikum," pamit Ubaydillah dengan melingkarkan lengannya di bahu Lintang.


"Pergi dulu ya Granny," ucap Lintang sembari cium pipi kiri dan kanan, lalu punggung tangan Granny.


"Pergilah sayang. Nikamati waktu kencan mu," ucap Granny. "Wa'alaikum salam sayang," sambung Granny.


Devano dan Elyavira baru saja masuk dari arah taman, dengan tangan keduanya saling bertautan.


"Mau ke mana Bang?" tanya Devano


"Pacaran dong," jawab Ubaydillah sumringah.


"Ouh oke deh, selamat berpacaran ya!" seru Devano.


"Kak Elya Lilin pergi dulu ya," pamit Lintang pada Elyavira.


"Iya dek Lilin, selamat berduaan ya," sambut Elyavira.


"Bang! pakai saja mobil Dev, Kalau hanya berdua. Dev rasa mobil Bang Dav terlalu besar," tawar Devano.


"Oh iya juga ya Dev! boleh deh," tukas Ubaydillah.


"Nih kuncinya Bang dan mobil nya masih di garasi," ucap Devano.


"Wa'alaikum salam," jawab Devano dan Elyavira.


Ubaydillah dan Lintang pun keluar dari rumah menuju garasi untuk mengeluarkan mobil sport milik Devano yang akan mereka gunakan.


"Sayang, mau pacaran juga seperti bang Dav dan Lintang?" tanya Devano pada Elyavira.


"Mau pih! tapi pacaran nya di kamar saja,yuk!" ucap Elyavira, ia berlalu masuk ke dalam kamar dengan sebuah kedipan menggoda pada Devano.


"Oke Mooi, kita pacaran," ucap Devano dan ia lihat Granny keluar dari arah dapur. Granny, Dev ke kamar ya!" pamit Devano.


"Silahkan sayang!" ucap Granny dengan senang hati.


Devano pun sudah melesat ke kamar mereka. Ia lihat Elyavira tidak ada di kamar, lalu ia beranjak ke kamar mandi. "Wow Sexy Mooi."


Di dalam mobil Devano. Ubaydillah dan Lintang sedang menikmati momen kencan mereka. "Kita akan kemana Yang?" tanya Lintang dengan tangan nya tak henti membelai wajah, dan dagu Ubaydillah yang di tumbuhi jenggot atas keinginan nya.



Kira_kira seperti ini tampilan Ubaydillah saat ini.🤭


"Napak tilas!" seru Ubaydillah dengan senyuman penuh misteri.


"Napak tilas apa sih Yang?" Lintang tidak mengerti.


"Sudah! nanti akan tahu koq," ucap lembut Ubaydillah sembari membelokan kendaraan nya menuju sebuah pantai. Lalu ia genggam tangan Lintang dengan sebelah tangan nya.


"Ya sudah deh Yang!" ucap Lintang pelan dengan senyuman tetap menghias wajah cantik nya.


---


Di kamar Devano, tak henti nya Devano mengelus lembut perut bulat nya Elyavira yang berisi calon anak mereka. Posisi Elyavira sedang polos di balik selimut. Tadi Devano dengan tak sabaran menerjang Elyavira dalam keadaan hanya mengenakan handuk saat di kamar mandi.


"Pih, aku mengantuk!" ucap Elyavira.


"Ya sudah bobo saja, Apih temani. Maaf Mooi aku sedang menikmati pergerakan anak kita, tuh lihat dia bergerak mengikuti pergerakan tangan Apih. Masya Allah ciptaan Allah begitu luar biasanya, tak terjangkau nalar. Hehe.. Sehat dan lahir selamat ya sayang! Apih dan Amih menanti mu dan jangan menyusahkan Amih ya sayang," celoteh Devano.


"Astagfirullah, Aaggh! Linu Pih. Pergerakan nya kencang sekali!" pekik Elyavira.


"Hehe itu tandanya merespon baik atas ucapan ku, baru saja Mih," ucap Devano penuh kemenangan.


"Iya pih, senang sekali rupanya di ajak bicara oleh Apih nya," balas Elyavira.


"Mih!"


"Ya!"


"Apa Setelah Baby kita lahir, Amih akan melupakan Apih?" tanya Devano tiba-tiba, matanya agak berkaca-kaca.


"Loh Pih! koq bicara nya seperti itu? Insya Allah tidak sayang! Apih akan tetap menjadi prioritas koq," ucap lembut Elyavira.


"Terimakasih Mih. Aku hanya takut! saat nanti anak kita lahir, aku terlupakan. Seperti yang Amih katakan tempo hari, yaitu akan pulang ke rumah orang tua Amih ketika melahirkan nanti." Devano memeluk Elyavirsa dan sedikit terisak akibat rasa ketakutan nya.


"Hemm, Ya Allah Pih! maafkan Elya Pih. Ternyata kata-kata Elya tempo hari mengganggu pikiran Apih.Lagi pula Amih pulang ke rumah orang tua Elya hanya beberapa hari saja pih! hingga Elya pulih pasca melahirkan. Setelah itu Elya akan kembali ke building atau villa ini dan tidak akan ada yang di lupakan koq. Elya akan mengajak serta Apih ke rumah orang tua Elya Pih," ucap Lirih Elyavira Seraya membelai lembut wajah Devano untuk meyakinkan ketidak benaran dari ucapan Devano.


"Sungguh Mih?" tanya Devano. Kini terlihat binar kelegaan dari mata dan wajah nya.


"Insya Allah Pih!" seru Elyavira menegaskan lalu ia kecup secara mendalam kening Devano.


"Bagaimana kalau Orang tua Elya ajak di Villa saja ya Mooi? atau aku belikan rumah baru ya yang dekat ke ponpes," ucap Devano Kembali.


"Bagaimana baiknya menurut Apih saja deh! Apih kan Kepala keluarga nya, Elya ikut saja. ya sudahlah Pih! Nanti kita bicarakan lagi ya sayang. Sekarang Elya mengantuk," ucap Elyavira. membelai lembut wajah Devano dengan senyuman manis menghiasi wajah cantik nya.


"Baiklah Mooi. Ayo bobo dulu! untuk masalah ini, nanti Apih bicara kembali pada Granny bagaimana baiknya," ucap Devano seraya menina bobokan Elyavira.


--


Di sebuah pantai, tepat nya bibir pantai tempat Ubaydillah dan Lintang awal bertemu.


"Yang! Masya Allah, jadi Ayang membawa aku kembali ke sini. Ke tempat awal kita bertemu." pekik Lintang Senang.


"Iya sayang, tempat pertama kali kita bertemu dan tempat di mana iman ku berguguran karena di peluk seorang gadis imut bawel, yang mengaku sebagai Istri. Alhamdulillah ketika dengan tanpa sengaja aku mengaminkan di dalam hati, ucapan mu di catat oleh malaikat dan di sampaikan kepada Allah, agar kita di jadikan suami istri betulan," ucap Ubaydillah tersenyum ke arah Lintang.


"Hehe, karena tidak adanya tanda pengenal, Lilin nekad mengakui Ayang sebagai suami Lilin!" ucap Lintang tersipu malu, mengingat kejadian itu.


"Ya sudah jalan-jalan sebentar di sini yuk!" setelah ini kita ke Resort.


"Baiklah Yang, angin nya sejuk!" Kini Ubaydillah dan Lintang berjalan berdampingan dengan kedua tangan mereka saling bertautan.


****


Setelah lebih dari sepekan di Oman, Kini Hasna dan Afnan sudah dalam pesawat menuju ke Turki.


"Bobo saja sayang! katanya kepala nya pusing, sini di bahu Byby ," ucap Afnan.


"Baiklah By! terimakasih sayang," ucap Hasna lalu merebahkan kepalanya di lekukan bahu Afnan, dengan sebelah lengan Afnan memeluk dan mengelus lembut kepala Hasna di balik hijab yang ia kenakan.


--


Setelah kurang lebih lima jam mengudara, Alhamdulillah akhirnya mereka sampai di Bandara Istanbul, Turki



Keluarga Adreena sudah menanti di bandara tersebut menyambut kedatangan Afnan dan Hasna.


"Alhamdulillah sayang, akhir nya kita mendarat di sini!" ucap Afnan.


"Iya By. Alhamdulillah! By kak Adreena tuh," ucap Hasna, menunjuk ke arah Adreena berdiri.


"Ternyata mereka sudah berada di sini. Di pikir akan menunggu lama. Ya sudah, sayang hampiri mereka terlebih dahulu, Byby bawa koper nya," pinta Afnan.


"Siap Bos Byby," ucap Hasna tersenyum, lalu ia menghampiri Adreena bersama suaminya serta Twins Qeenan dan Queena.


"Assalamu'alaikum Kak Adree," sapa Hasna.


"Wa'alaikum salam, Masya Allah Nana!" pekik Adreena. lalu ia peluk Hasna. "Apa kabar, adik nya Kaka?" tanya Adreena.


"Alhamdulillah kabar baik kak! kakak sendiri apa kabar?" tanya balik Hasna


"Alhamdulillah baik sayang! A'a mana?" Adreena menanyakan Afnan.


"Sedang mengambil koper kak! sebentar lagi sampai sini. Mas Izam, Twins apa kabar?" sapa Hasna.


"Ouh iya tuh A'a sedang berjalan mengarah ke mari," ucap Adreena yang melihat Afnan sedang berjalan ke arah mereka.


"Alhamdulillah Kabar baik dek!" jawaban Nizam.


"Kami Baik Teyze," ucap serempak Twins Qeenan dan Queena.


"Assalamu'alaikum Kak!" Afnan pun menyapa Kakak nya Setelah sampai di hadapan nya.


"Wa'alaikum salam, apa kabar A?" tanya Adreena lalu mereka berpelukan.


"Baik Kak Alhamdulillah," lalu Afnan beralih pada suami Adreena. "Mas Izam apa kabar?" Afnan pun berpelukan bersama Nizam.


"Alhamdulillah baik-baik A! ya sudah mari kita pulang, banyak sekali hal yang harus mas laporkan pada mu," ucap Nizam.


"Santai saja lah mas, A'a masih lama koq di sini," tukas Afnan, membuat Nizam tertawa. Lalu Afnan menyapa kedua keponakannya.


"Assalamu'alaikum Twins. Nasılsınız beyler?"(apa kabar kalian) tanya Afnan, sembari memeluk kedua keponakannya.


"Biz iyiyiz, Amca!" (kami baik-baik, Paman!) jawaban Twins.


Akhirnya mereka pulang ke rumah Nizam dan Adreena. Dengan Twins tak lepas dari tangan Afnan.


Next 👉


Bagi Readers yang minat gabung di group WA, silahkan hubungi 081262475737 Terimakasih.


Dan mungkin minat baca karya saya yang lain nya, silahkan di klik profil saya. Ada judul baru loh Sorry, I Love you.



Mohon dukungan juga untuk karya sesama Sahabat penulis yaitu:



Takdir Cinta sang Hafizah







Terimakasih atas perhatiannya nya. Asalamua'laikum Warahmatullahi wabarakatuh 🙏🤗😍