
"Astagfirullah. Apa mau di lihat pak Afnan. Mungkin saja itu Bu Hasna!" ucap ketua rombongan.
"Boleh Pak Haji. Dapatkah menemani saya?" tanya Afnan.
"Tentu saja Pak Afnan, Mari. Untuk jamaah yang lain tolong kembali ke kamar ya! Mohon do'a nya agar ibu Hasna segera di ketemukan," ucap ketua rombongan.
"Baiklah Pak haji."
"InshaAllah."
"Aamiin."
jawaban para jama'ah lainnya.
Afnan dan ketua rombongan pun bergegas kembali ke Masjidil Haram "Assalamu'alaikum," ucap Afnan pada tenaga medis. Dan itu tenaga medis relawan dari Indonesia yang masih berada di Masjidil Haram.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka yang berjumlah 4 orang.
"Maaf pak. menurut kabar baru-baru ini, ada seorang perempuan jama'ah dari Indonesia yang pingsan Pak?" tanya Afnan.
"Oh iya pak, Apa Bapak keluarganya?" saya salah satu tenaga medis relawan itu.
"Maaf, Apa bisa Bapak sebutkan ciri-cirinya?Saya sedang kehilangan istri saya. Saat baru selesai tawaf wada," ucap Afnan.
"Ciri-cirinya, Dari tanda pengenal nya Usia sekitar 30 tahun, tinggi 155 cm! dan bla..bla..bla.." ucap Relawan tersebut.
"Terimakasih pak! Sepertinya bukan Istri saya, kalau dari ciri-cirinya seperti itu," ucap Afnan.
Tinggalkan saja nomor telepon Pak! nanti saya hubungi. Kami akan bantu mencari dan kalau bisa foto Istri Bapak juga, agar kami mudah mencarinya," ucap salah satu tenaga medis.
"Baiklah Pak!" Afnan dan ketua rombongan memberikan nomor telepon mereka. Tak lupa foto Hasna yang sedang berdua Afnan.
"Insya Allah istri Bapak belum jauh! kalau pun saat ini terpisah dari rombongan," ucap relawan lain nya.
"Terima kasih Pak! kami pamit Assalamualaikum," ucap Afnan.
"Sama-sama Pak. Wa'alaikum salam," ucap serempak relawan tersebut.
Afnan dan ketua rombongan pun kembali ke hotel. karena Hasna belum ketemu maka ketua rombongan memutuskan untuk kembali ke Jeddah itu sore hari. dengan kegundahan, Afnan membereskan pakaian mereka di kamarnya.
Setelah semuanya rapih Afnan kembali menemui ketua rombongan. "Pak Haji silahkan kalau Pak Haji hendak berangkat menuju Jeddah. Nanti saya hubungin KBRI untuk menunda kepulangan serta meminta perpanjangan hari untuk mencari istri saya," ucap Afnan.
Tidak apa-apa Pak Afnan. Rangkaian Umroh telah selesai dan sebetulnya masih ada satu hari, untuk kita menunda kepulangan dari Mekah menuju Jeddah. Saya akan tetap menemani Pak Afnan hingga nanti Bu Hasna di ketemukan. Semoga saja malam ini Bu Hasna sudah dapat di ketemukan," ucap ketua rombongan.
"Terima kasih banyak Pak Haji. Semoga jamaah yang lain dapat bersabar!" tukas Afnan.
"Insya Allah Pak. Jama'ah akan tetap bersabar! berangkat bersama, maka pulang pun harus sama-sama Pak!" ketua rombongan sangat mengerti dengan kegundahan Afnan saat ini.
Di tempat lain,
Hasna sedang mencari rombongan jama'ah yang membawa bendera Indonesia, ia hendak minta tolong. Hasna tidak mengerti kenapa dirinya sampai di pinggir jalan ini, entah apa yang membawa nya.
Saat di Masjidil Haram dan melihat Afnan, serta rombongan telah lenyap begitu saja! maka dengan tanpa ia sadari Ia terus tergeser dan tergeser oleh orang lain, dari berbagai negara. Dan dari negara apa saja Hasna pun tak tahu. Ada yang wangi Ada yang bau Ada yang tinggi ada yang besar ada yang hitam kulitnya, yang putih yang bercadar ada yang bicara di depan Hasna dengan berisik dan Hasna tidak mengerti, entah itu bahasa apa.
"Astagfirullah ini kenapa, bisa sampai sini ya?" Gumam Hasna. Tidak sedikitpun rasa takut di dalam dirinya, saat ini hanyalah waspada dari pandangan orang-orang di sekeliling nya.
Hasna bergidik oleh pandangan seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, yang duduk di seberang jalan.
"Ya Allah lindungilah Hamba!" ucap Hasna.
Lalu ia susuri jalan raya itu, lama kelamaan jalan raya itu ramai dan sesak orang. Berbagai macam orang dari berbagai bangsa ia banyak jumpai. Dan ia lihat berderet stand oleh-oleh di bahu jalan.
Tower air Zam-zam, Itu yang membuat Hasna tersenyum lebar. "Alhamdulillah itu tower air Zam-zam. Berarti tempat ini tidak jauh dari hotel dan Masjidil Haram, saat ini hanya tinggal cari Taxi yang harus ku lakukan," gumam Hasna.
Hasna tak dapat menelpon siapapun, karena hanya tanda pengenal dan paspor serta beberapa lembar uang Ryal yang ia bawa di dalam tas kecil nya. sedangkan Ia tidak membawa ponsel ketika tawaf.
Hasna ingat perkataan Afnan ketika masih di rumah kayu. "By! apakah kedekatan Umat muslim dengan Allah itu, ketika kita berada di Masjidil Haram dan di depan Ka'bah?" tanya Hasna.
"Sayang! memang, sebagian orang menganggap nya begitu. Namun menurut Byby, walau pun memang betul. Namun masih kurang tepat sayang!" ucap Afnan.
"Loh koq, bisa begitu By?" tanya Hasna kembali.
"Hemmm..Iya kalau tiap orang mampu pergi ber Haji dan Umroh. Lalu jika yang tidak mampu bagaimana? nah maka mereka tidak merasakan kedekatan dengan Allah kan jadinya?"
"Iya juga ya By!" ucap Hasna.
"Nah menurut Byby dan menurut para Ustadz serta Ulama besar lainnya. Kedekatan Umat Muslim dengan Allah itu, ketika kita Khusyu bersujud. Maka dari itu kedekatan kita dengan Allah serta Rosul nya itu, ketika kita bersujud," tutur Afnan.
"Masya Allah," ucap Hasna.
Hasna pun berurai air mata. Bukan karena takut, namun ia ingat akan dosa- dosa nya. Hasna duduk sejenak untuk meluruskan kaki nya yang terasa pegal setelah hampir dua jam berjalan dan hanya berputar di area yang sama. Jalan bagai tertutup dan sepi.
Setelah Hasna tak hentinya ber Istighfar. Jalan yang awalnya sepi, tiba-tiba saja nampak Jalanan yang begitu ramai, para jama'ah dan pedagang serta toko-toko souvenir seakan nampak begitu saja.
"Masya Allah," ucap Hasna. Lalu melafalkan doa yang selalu Afnan baca setiap hari nya. Hingga Hasna pun menghafal nya.
Do'a memohon ampunan yang biasa di baca
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى
Latin: “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii”
Artinya: Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang ku perbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari dan Muslim).
Sesaat setelah selesai membaca doa tersebut. seseorang menyodorkan sebotol air zam-zam kepadanya. "Drink!" ucap seorang wanita bercadar. ko
"Thank you. I have..." ucap Hasna terhenti sembari melihat air zam-zam yang ia kalung kan di botol kecil ternyata sudah habis.
Dengan sedikit ragu, Hasna meraih botol pemberian dari wanita tersebut. sepertinya wanita itu tersenyum. "Alhamdulillah, thank you," ucap Hasna.
Perempuan itu menganggukan kepala. "You from Indonesian?" tanya nya.
"Yes. Me from Indonesia and where are you from?" tanya Hasna.
"Me, from Turkey," ucap wanita itu. Selain air, wanita itu memberikan syal yang menyuruh Hasna agar menutupi wajahnya mengguna kain syal tersebut. "
Setelah mereka berkenalan, Hasna pun menceritakan jika ia terpisah dari rombongan Umroh nya ketika tawaf Wada. Lalu wanita itu mengajak Hasna naik Taxi dengan sebelum nya membeli beberapa souvenir.
Wanita itu bernama Rhaseda, itu yang ia tunjukkan dari tanda pengenal nya. Wanita itu mengantarkan Hasna ke hotel tempat ia menginap. Di dalam Taxi Hasna pun berbicara jika setelah selesai Umroh ia akan ke turki.
Rhaseda pun mengundang untuk Hasna berkunjung ke rumah nya. ia memberikan sebuah alamat. Hasna akan menunjukkan nya pada Afnan, Mungkin ia tahu tempat tinggal Rhaseda.
Thank you," ucap Hasna. Setelah mereka sampai di depan hotel.
"you'll welcome." ucap Rhaseda
Hasna berpisah dengan Rhaseda ketika Hasna sudah turun dari taxi. Rhaseda kembali ke dalam taxi. Lalu Hasna hendak masuk ke lobi Hotel.
Ia mengejar Hasna lalu memanggil nya.
"Hasna Aulia Zahrani," ucap nya. Dan sontak membuat Hasna menoleh.
"Byby! Alhamdulillah," pekik Hasna. Lalu berlari menghampiri Afnan.
"Alhamdulillah, Syukurlah sayang itu betul-betul kamu. Byby baru saja pulang sehabis mencari mu! kamu dari mana sayang? Sudah membuat Jantung Byby Marathon di tempat," ucap Afnan.
"Alhamdulillah By! Nana dapat berjumpa Byby kembali, entahlah By. Nana tergeser begitu saja saat tawaf. Nana seakan terbawa arus manusia. Tiba-tiba sudah berada di pinggir jalan. yang dekat terminal bus yang banyak toko souvenir," ucap Hasna.
"Astagfirullah. Itu lumayan jauh sayang! sekitar dua kilo dari Masjidil Haram. Huufff..Alhamdulillah Hirobbal A'laamiin, ke ajaiban jika dalam hitungan jam sayang dapat kembali," ucap Afnan berbarengan dengan ketua rombongan Umroh.
"Alhamdulillah Ibu Hasna telah kembali," ucap ke tua rombongan.
"Alhamdulillah Pak Haji, ada orang baik yang menolong dan mengantarkan saya! hingga sampai hotel. Padahal saya sudah tesesat jauh," ucap Hasna.
"SubhanAllah," ucap ketua rombongan.
"Sayang tidak apa-apa dan tidak terluka kan?" tanya Afnan khawatir.
"Tidak By. Alhamdulillah, Nana baik-baik saja koq," ucap Hasna.
"Syukur Alhamdulillah. Ya sudah ayo sayang kita ke kamar agar sayang dapat ber istirahat lalu Kita harus bersiap-siap untuk berangkat ke Jeddah," ajak Afnan.
"Mari By." setelah mereka pamit, pada ketua rombongan. Afnan dan Hasna pun bergegas ke kamar hotel.
"Istirahat lah sayang. Kaki nya pasti lelah ya! mari Byby pijit," tawar Afnan. Ia membuat Hasna se rileks mungkin.
"Terimakasih By!" Hasna tersenyum. "By, setelah terbawa pusaran manusia itu. Nana tidak begitu dapat menguasai diri Nana sendiri. Nana masih merasa berputar di Masjidil Haram awalnya. Lama kelamaan keadaan seperti gelap tidak tahu dan tiba-tiba Nana sudah berhenti di pinggir jalan raya dan awalnya masih terasa sepi. Hanya ada beberapa orang yang menatap Nana secara aneh," tutur Hasna.
"Astagfirullah. Maafkan Byby sayang!" ucap Afnan. Ia pun merasa terkejut.
"Sudah lah By! ini musibah karen ke teledoran Nana sendiri," ucap Hasna. Sembari memijit kaki Hasna, Afnan pun mendengarkan cerita Hasna yang awal nya sedih lalu begitu antusias saat setelah membaca doa, pandangan nya yang awal nya gelap lalu kembali. Hingga bertemu Rhaseda.
**
Beberapa saat kemudian, mereka telah cek out hotel. kini mereka menuju Jeddah, dan karena masih ada waktu maka dari itu mereka melakukan City Tour Kota Mekkah dan Jeddah. Mampir di beberapa tempat.
Mereka mampir di Museum Haramain atau dikenal Museum Ka'bah, yaitu museum yang menyimpan barang-barang kuno yang punya nilai sejarah tinggi seiring perkembangan dua Masjid Suci, yakni Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah. Museum Haramain terletak di tengah perbukitan Ummul Joud, Mekkah.
Di Jeddah, mereka mampir dulu ke pusat perbelanjaan di Al-Balad.
Setelah itu singgah ke laut Merah dan Masjid Terapung (Masjid Ar-Rahmah).
"Para Jama'ah sekalian Laut merah ini adalah, laut tempat di tenggelamkan nya Fir'aun. Saat Nabi Musa As membelah lautan itu dengan tongkat nya ketika menyelamatkan kaum nya yaitu Bani Israel." penjelasan pembimbing.
"Nah ini adalah yang di namakan Masjid terapung."
Masjid terapung bagian dalam.
اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Allahummaf tahlii abwaaba rohmatik
Artinya: "Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu"
Afnan dan rombongan melafalkan Do'a ketika masuk Masjid.
"MasyaAllah cantik sekali By," ucap Hasna kagum.
"Iya sayang cantik dan Indah," timpal Afnan.
Setelah City tour selesai. Mereka berangkat ke Bandara king Abdul Aziz.
"Alhamdulillah Para Jama'ah kini kita sudah berada di bandara King Abdul Aziz menuju kembali ke Indonesia. Semoga kita semua dapat kembali ke tanah Suci. Aamiin ya robbal A'lmiin," ucap pembimbing.
"Alhamdulillah. Maaf saya dan Istri harus berpisah di sini. Karena kami akan menuju tempat lain. Yaitu Dubai, Oman dan Turki," ucap Afnan.
"Iya Pak Afnan. Kita saling mendoakan saja nantinya," ucap jama'ah lain. Lalu mereka saling berpamitan. Rombongan Umroh kembali ke Indonesia dan Afnan serta Hasna menuju Dubai.
**
Keesokan harinya, Afnan dan Hasan betul-betul kelelahan, mereka hanya ber aktivitas di dalam kamar hotel hanya makan, Sholat dan tidur.
"Bangun sayang! sudah siang," bisik Afnan di telinga Hasna. Hasna hanya menggeliat.
"Masih ngantuk By. Ya Allah tubuh Nana rasanya sakit semua."
"Apa sayang tidak mau. Ehhem!" ucap Afnan dan ber dehem..
"Iiikk Byby. Ehhem nya tunda ya sayang," timpal Hana.
"Boleh saja, tapi lihat tuh Indah nya Burj Khalifa." ucap Afnan.
"Masya Allah. Iya By," mata Hasna terbelalak. kamar yang ia tempati langsung menyuguhkan pemandangan ke arah gedung Burj Khalifa.
"Byby rindu sayang!" bisik Afnan, sembari memeluk Hasna.
Hasna mengerti ucapan Afnan dengan kata-kata rindu. "Nana juga rindu By! tapi rindu nya di cicil ya By, jangan di tumpahkan sekaligus! kan untuk nanti di Oman, di Turki serta tentunya untuk di Indonesia."
"Ahahah Si sayang. Rindu di cicil! ada-ada saja , Ya sudah deh Byby nyicil. Tapi nyicil nya tiap hari ya," ucap Afnan menggoda Hasna dengan ke mesuman seperti biasa pada Istrinya.
"Tidak! Baru carge Iman loh By. kurangi mode Mesum nya!"
"Astagfirullah." ucap Afnan, dengan tetap berbuat lebih pada Hasna.
Next 👉