
“Asalamua'laikum sayang,bubur pesanan nya sudah siap tuh di meja makan” panggil Afnan pada Hasna yang masih Di kamar dan ia melongokan kepala tanpa masuk.
“Iya by, tapi Nana maem nya nanti di rumah Ninen, sekarang byby saja yang maem ya, sini Nana suapi” ucap Hasna yang baru saja keluar dari kamar menghampiri Afnan lalu merangkul lengan Afnan dan berjalan beri ringan menuju meja makan.
“Loh mengapa tidak sekalian tadi sambil lewat sayang, di fikir sayang akan ikut ke Restaurant dan Hotel maka nya beli bubur itu utuk sarapan di rumah, sampai ke kacang dan taburan bawang gorengpun harus dihitung!” ucap Afnan bernada penyesalan.
“Nana ingin ke rumah Ninen saja By, ya sudah sebelum ganti baju byby duduk di sini” ajak Hasna, menuntun Afnan utuk duduk di kursi makan, lalu ia naik dan duduk di pangkuan nya,seblum menyuapi Afnan Hasna mengecup kening Afnan, dan kedua belah pipi Afnan, dan ia mulai menyuapi Afnan.
“Sayang, ayolah Maem juga, byby sampai malu tuh beli bubur yang sayang inginkan, sampai tukang Bubur nya protes pada byby” protes Afnan.
“Hooooo Astagfirullah, Nana terkejut byyy heee, dan byby tahu?”
“Tahu apa sayang?”
“Itu adalah salah satu dari hukuman yang telah Nana janjikan di rumah sakit kemarin, byby ingat dooong?"
“Astagfirullah Al adziimm, jadi sayang sedang menghukum byby” ucap Afnan.
“Hu'uh maafkan Nana ya Byy, dan selamat menikmati hukuman nya, hukuman berikut menyusul ya Byy, uuunncch tak tega deh bayangin Ustadz tampan berbaris berbaur dengan bu ibu pesan Bubur yang tak lazim hihi ”
Afnan hanya tersenyum dan menatap Hasna sembari mengeleng2kan kepala, ia tak menyangka femikiran istri labil nya itu.
“Sudah selsai maem nya, ayo byby ke kamar duluan Nana cuci piring dulu dan baru bantu byby berpakain oke.. byby honey cute” celoteh Hasna yang justru membuat Afnan tambah gemas dan membuat ia betah memeluk tubuh nya yang sedang mencuci piring itu dari belakang, seraya mengecupi leher Hasna bagain samping dan sesekali menggitnya kecil rahang Hasna.
“Tidak mau, ke kamar nya nanti sama sama sayang” bisik nya, entah mempunyai sihir apa anak kecil yang sekarang sudah mau memiliki anak itu, tubuh Hasna sudah seperti drugs baginya, membuat ia kecanduan setiap harinya dan betah berlama lama menempel pada tubuh istrinya itu,ia sempat berfikir ini keanehan dan ke tidak laziman, namun ia kembali berfikir ulang masih batas wajar dan ini justru ketenangan baginya, dalam ibadah pun ia menjadi lebih khusyu saat ia sudah mendapat pelukan hangat dari Hasna dan Ia tidak ingin istrinya dewasa dulu, ia takut Hasna akan berubah menjadi serius, tidak manja lagi, tidak hangat lagi, aaah jalani saja, ia yakin walaupun Hasna beranjak dewasa namun sifat manja pada dirinya akan selalu ada.
“Sudah siap, Biyya” saat Ini Afnan baru saja di pakai kan pakaian kerja nya oleh Hasna, stelan jas lengkap Karena pagi Ini Afnan akan mengadakan meeting dengan pihak management Hotel.
“Byy seperti nya harus beli gunting baru deh” ucap Hasna sembari berganti pakain di hadapan Afnan, dan Afnan di persilahkan melihat tapi tidak diperbolehkan memegang, namun justru malah ada yang menegang di bagian tubuh Afnan, dan kali ini ia harus ekstra menahan.
“Gunting baru untuk apa sayang?”
“Untuk menggunting ketampanan byby yang bertambah setiap Harinya” celoteh
“Ya ampun sayang ada ada saja hehe” lalu Afnan menghampiri Hasna dan memeluk nya.
“Bybyyy, boleh di lihat dan tak boleh di pegang!!!!”
______________
Di ponpes....
Adrian, Devano, Angela dan Elyavira baru saja sampai ponpes.
“Dev, gue langsung ambil wudhu ya” pamit Adrian saat sudah sampai parkiran.
“Dev, I'am change my clothes” (Dev, saya ganti baju dulu) pamit Angela.
“Ok Ange” balas Devano.
“Terimakasih Akhy Dev” ucap Elyavira dan setelah Elyavira keluar maka Devano pun dengan tergesa menyusul nya, ia dari kemarin sedang mencari waktu untuk memperingatkan Elyavira agar tidak menjadi duri dalam daging, dan Ia fikir ini waktu yang tepat.
“Astagfirullah.. Hiks.. hikss..” Sekilas Tredengar isakan dari Elyavira sebelum ia beranjak dari dekapan Devano, seperti nya Elyavira menangis.
“Maaf” hanya kata itu yang meluncur dari mulut Devano dan menatap Elyavira yang berlari menuju building tempat ia tinggal.
Kini Elyavira merasa hina dan berdosa, ia sudah berpeluk pelukan di depan umum bersama seorang yang bukan maharam nya, ini bagai tekanan batin tersendiri bagi Elyavira,tidak ada tempat untuk ia mengadu
Ia bertelungkup di atas kasur dan ia menangis "Ampuni Hamba ya Rabb, mungkin ini adalah azab yang Kau turunkan untuk Hamba Karena hamba sudah lancang menyukai pria ber istri, ucap nya lirih, dan ia menangis kembali, Elyavira betul betul menyesali Perbuatan hina nya yang sempat berfikir Afnan akan melirik dan tertarik pada nya hingga ia rela menjadi yang kedua, namun malah sebaliknya Afnan begitu tak teralihkan dari Hasna.
___________
Di sebuah jalan ..
Afnan dan Hasna sudah berada di perjalanan menuju rumah Ninen nya, “sayang, ya ampun ini byby harus bolak balik antara rumah Ninen dan Hotel, byby sudah kesiangan dan para staf Hotel sudah menunggu di ruang meeting” ucap Afnan, ia berharap Hasna luluh dan mau ikut Ke Hotel agar ia tak bolak balik yang akan memakan waktu Karena rumah Ninen dan Hotel berbeda arah dan butuh waktu 70 menit untuk Afnan kembali ke hotel dari rumah Ninen, sedangkan pak Iwan sang sekretaris dan pak Wirnatta selalu manager Sudah berkali kali kali menelpon nya.
“Aaah.. byby bawel nih!” cup Hasna nekad mengecup Bibir Afnan dari Samping, “Byby kan boss nya, tidak mengapa dong pegawai nya menunggu!” ucap nya lagi.
“Ya tidak begitu juga dong sayang, byby harus profesional dan mencontohakan yang baik pada para pekerja” tutur Afnan lembut, lalu ia menelpon Ubaydillah.
“Assalamu'alaikum A” saat Ubaydillah sudah menerima telephone.
“Wa'alaikumsalam, Dek maaf bisa tolong MCE(meeting conference electronic ) , Handle sebentar para staf Hotel, A'a masih di perjalanan sedang di kerjai si gemez nakal”
“Bisa A, tapi sebagai Pembuka ya, Lilin juga sedang manja parah nih A, Ana di pelukin terus dan makan juga harus Di suapi, minum di ambilin, pipis di temenin” ucap Ubaydillah.
“Hehe.. para ustadz Sibuk di kerjai kekasih nya!” lirik Afnan pada Hasna.
“Marah, gak terima?” cubit kecil Hasna di pinggang Afnan, ia tahu sedang jadi bahan gosipan Adik, kakak itu.
“Awwshh.. Hihi” Afnan meringis
“Ya dek tidak mengapa, 5 menit Ana masuk ya, menepikan Mobil dulu” pinta Afnan pada Ubaydillah, masih dalam sambungan telepon.
“Siap A, Ana langsung Mce ya”
“Ya Dek, Terimakasih Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikumsalam” sambungan tlp dan Ubaydillah pun terputus.
Dan Afnan pun menepikan Mobil nya, pagi ini meeting nya terpaksa ia lakukan melalui sambungan laptop
“Yuk sayang.. mau mengerjai byby apalagi, biar sekalian, tapi tunggu setelah byby melakukan MCE ya” pinta Afnan.
“Biyya, tunggu jangan buka laptop dulu... Itu ada tukang sate sapi,Nana ingin sekarang byyy!” pekik Hasna kegirangan sembari tepuk tangan kecil seraya tersenyum dan terpancar kilauan bahagia di matanya, ketika ia melihat ke arah sebrang jalan.
“Astagfirullah, salah menepikan mobil!”
*****************
Terimakasih sudah membaca 🙏 😍 💐