Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 226. Kembali ke Indonesia


pagi harinya, Hasna baru saja mandi dan sudah melaksanakan sholat Dhuha, ia sedang merias dirinya dengan cantik, tak lupa ia kenakan kalung pemberian Afnan sebagai hadiah yang Afnan beli di Dubai.


Afnan pun yang sebelumnya melaksanakan sholat Dhuha sebelum mandi, karena malas mengganti baju Koko setelah sholat Subuh. Ia baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, hari ini ia berangkat agak siangan. Kata Afnan sih hanya akan sementara karena siang nanti ia akan menemani Hasna untuk makan siang di luar


"Masya Allah cantiknya Istri Byby. Memakai kalung pemberian Byby yang itu cantik sekali. Afnan menghampiri Hasna yang sedang mematut diri di depan cermin, ia memeluknya dari arah belakang . seraya membaca doa bercermin.


"Bismillahirohmanirohim."


اللَّهُمَّ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي وَحَرِّمْ وَجْهِي عَلَى النَّارِ


"Allohumma kamaa hassanta kholqii fahassan khuluqii wa harrim wajhii allannaari"


"Ya allah, sebagaiman Engkau telah menciptakanku dengan baik, maka baguskanlah pula akhlakku, dan haramkanlah wajahku atas neraka." (HR.Bazzar)


Do'a tersebut sepertinya terlihat pendek dan enteng, namun sebetulnya efeknya sangat amat luar biasa bagi setiap orang yang biasa melafalkan nya saat bercermin.


اَللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ


Allahumma kamaa hassanta kholqi fa hassin khuluqi


Artinya : Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku. (HR. Ahmad).


(Baca satu di antara keduanya. Atau keduanya).


"Astaghfirullah By! Nana lupa belum membaca do'a bercermin. Terima kasih ya sudah mengingatkan," ucap Hasna. "Iya sayang sama-sama," timpal Afnan. seraya menyesapi leher Hasna.


"By! Nana sudah Rindu sekali dengan Twins. Kapan kita pulang ke kota S?" tanya Hasna.


"Secepatnya sayang! Insya Allah dalam dua hari kedepan Restoran sudah dapat Byby tinggal Koq! Ada Hasnain Qadrani yang akan menjadi manager restoran itu sayang," jawab Afnan.


"Hasnain itu siapa by? Nana koq baru mendengar ya?" tanya Hasna, Nama itu terasa asing di telinganya. "Sahabat Byby sewaktu kuliah. Ia orang Pakistan dan ia akan kembali menetap di Turki ini bersama Istrinya. Siang ini ia akan tiba, kemarin Byby sudah berbicara dengan nya di telepon. Nanti kak Adreena dan Mas Nijam yang akan mengawasi.


"Oh sahabat Byby toh. Ya sudah mari berpakaian By, jangan lama lama peluk Nana tak berpakaian, itu nya Byby mulai nakal tuh di belakang Nana," ucap Hasna tersenyum.


"Mari sayang! Hehe Maaf sayang. kalau sudah nempel-nempel dengan sayang seperti ini suka bereaksi genit dia," ucap Afnan sembari tersenyum malu malu.


Hasna pun dengan telaten memakaikan pakaian pada Afnan. Sweater putih dengan lengannya Afnan tarik hingga 1/8 lengan, celana jeans panjang warna hitam, sepatu kets putih.


"Ready! ucap Hasna, saat sudah selesai memakaikan pakaian pada Afnan. "Terima kasih sayang, Byby berangkat yah," pamit Afnan, mengecup kening, hidung,kedua belah pipi dan bibir Hasna.


"Jangan terlambat ya By! ba'da dzuhur Nana tunggu!" Hasna mengingatkan kembali akan janji Afnan mengajaknya makan di luar siang ini.


"Insya Allah sayang. Semoga tidak ada halangan!" tukas Afnan. Dengan diantar oleh Hasna hingga ke depan, Afnan pun berangkat ke restoran.


---


Siang hari--


Setelah Satu jam menunggu, Afnan tak juga datang. Hasna sudah berdandan secantik mungkin, Hasna tak ingin menelpon Afnan berkali-kali. Ia lebih memilih menunggu karena biasanya jika sudah berjanji Afnan tidak akan mengingkarinya.


"Byby ke mana sih? sudah satu jam belum jug kembali, yah kering lama-lama aku di sini," ucap Hasna yang sedang duduk menghadap ke arah kolam renang. lalu ia Panggil salah satu pelayannya untuk membuatkannya Ice lemon tea.


Sembari menunggu, Hasna mencoba berbicara dengan anak-anaknya melalui sambungan video call yang dihubungkan ke ponsel Lintang.


Setelah tersambung--


"Assalamu'alaikum Lin!" /Hasna


"Wa'alaikumsalam Nana!"/Lintang.


"Apa kabar Lin?/Hasna


"Alhamdulillah baik Na! Lo dengan A Ustadz apa kabar? kapan kembali ke Indonesia?"/ Lintang.


"Alhamdulillah kabar kami baik! Secepat nya Lin. sedang mengusahakan restoran agar berjalan normal jadi ustad meninggalkannya tenang"/ Hasna.


"Oh seperti itu!"/ Lintang.


"Oh ya kabar di sana bagaimana? kabar Umi Abi, Kak Ubay, Dev dan Kak Elya. Terutama kabar Anak-anak Lin. Gue rindu banget Lin," / Hasna.


"Kabar di sini baik Alhamdulillah, O yah Anak-anak ada tuh baru selesai mandi pagi sedang main. kebetulan kami sedang di rumah kayu,"/ Lintang.


"Masya Allah TabarakAllah. Assalamua'laikum Twins! ini Mimma,"/Hasna.


Namun Twins A memalingkan wajah, seperti tak mengenal Hasna. Deg! jantung Hasna terasa ada yang menghantam.


"Twins sayang! Ini Mimma Tampan, Catik. Bicara dong sayang! please A'a Kha Dedek Sha tidak Tunggu Ini Mimma,"/ Hasna.


"Lin. itu kenapa mereka tidak mau menerima Vidio call dari gue?" /Hasna.


"Kurang tahu Na! kemarin saat lo video call mereka baik baik saja kan!" / Lintang.


"Mungkin mereka ingin bermain Lin. Ya sudah! gue tutup ya nanti Vidio call lagi," Gue harus pergi!"/ Hasna.


"Baik Na!"/ Lintang.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Hasna pun mengakhiri sambungan Video call nya. Tak terasa air matanya mengalir, Ia berfikir untuk pulang ke Indonesia saat ini juga. Hasna mencoba menghubungi Afnan. Namun tak ada respon.


"Astagfirullah! Lengkap sudah kebahagiaan ku. Saat ini aku menjadi sendiri," ucap Hasna. Tanpa pikir panjang Ia raih kunci mobil yang berada di laci meja. Tempo hari Afnan memberitahukan kalau ia menyimpan kunci mobil di laci nakas.


"Sayang, Jika kamu membutuhkan mobil, kuncinya ada laci nakas dan Byby mengizinkan mu keluar tanpa harus memberi tahukan Byby sebelum nya, namun jika dalam keadaan darurat dan mendesak. Jika keadaan baik-baik saja, sayang stay di rumah Jangan kemanapun tanpa Byby ataupun Izin Byby. Ini negara orang, menyetirpun di sebelah kiri."


Hasna mengingat perkataan Afnan tempo hari, saat setelah Hasna Menggenggam handle pintu kamar. Hasna merasa sedikit ragu untuk pergi terngiang kata-kata Afnan. "Maaf By, Ini juga mendesak keadaan hati Nana sedang darurat saat ini."


Lalu ia nampak berpikir kembali. Tak berapa lama ia bergegas ke arah lemari, mengganti pakaian dengan gamis yang lebih longgar Serta hijab dengan warna senada. Hasna berdiri lama di depan cermin, nampak keraguan di wajah nya. Namun sepertinya keraguannya ia kesampingkan dengan cepat.


BISMILLAHIROHMANIROHIM. ucap Hasna dengan penuh keyakinan. 1 helai niqob ia kenakan wajahnya menutupi bawah area mata dan ia juntaikan hingga ke dada. Lama Hasna menatap dirinya di dalam cermin. Kini penampilannya sudah jauh lebih berbeda Hasna kini meniatkan diri dengan kemantapan hati berniqob atau bercadar.


"Ya Allah Ini pilihanku! ridhoilah aku, tuntun aku untuk menjadi Istiqomah," ucap Hasna setengah berbisik. tanpa pikir lagi Hasna menuju ke garasi dan tidak memberitahukan para pekerja di rumahnya.


Hasna membuka garasinya. Terlihatlah sebuah mobil berwarna merah berlogo Vdan W, dengan tutup mobil Convertible yang ia dapat buka kapan saja.


"Masya Allah Byby sempat-sempatnya terpikir menyediakan ku sebuah mobil. dan mobil semewah ini?" gumam Hasna. Matanya terbelalak ketika ia buka ternyata mobil dengan seri keluaran terbaru yang harganya kurang lebih 700 jutaan.


بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ


“Bismillahi, tawakkaltu ’alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah”


Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”


Dengan perlahan namun pasti Hasna keluarkan mobil tersebut menuju sebuah tempat. Awalnya sedikit kesulitan menyertai nya karena harus menyetir di sebelah kiri, setelah berkali kali agak nyelonong ke tengah dan berkali kali dapat Clarkson dadakan dari pengendara lain, akhirnya Hasna dapat me nyetabailkan laju mobilnya.


****


Satu jam berlalu sejak Hasna meninggalkan rumah itu, Afnan pun tiba. Setelah merapikan mobilnya di halaman rumah, Afnan bergegas masuk.


"Assalamu'alaikum," ucap Afnan, seraya masuk ke dalam rumah dan membaca doa! doa untuk masuk ke dalam rumah:


Bismillahirohmanirohim:


بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ


"Bismillahi walajnaa wa bismillahi kharajnaa wa 'ala rabbina tawak-kalnaa."


Artinya: "Dengan nama Allah, kami masuk (ke rumah), dengan nama Allah, kami keluar (darinya) dan kepada Tuhan kami, kami bertawakkal."


"Sayang! Byby pulang ayo bersiap siap, katanya hendak makan di luar."


Suara Afnan menggema di ruang keluarga. Namun tak ada sahutan! hingga seorang pekerja Afnan menghampiri.


"Maaf pak! Ibu tidak di rumah, Ia pergi dari satu jam yang lalu!" ucap pekerja tersebut.


"Pergi? pergi kemana?" tanya Afnan terkejut.


Pekerja itu menggelengkan pelan kepalanya "Kami pun tidak tahu jika ia pergi pak! kami baru tahu setelah memeriksa kamarnya dan Ibu tidak ada di kamarnya Pak, setelah kami lakukan pengecekan CCTV ternyata ibu pergi dengan mobilnya dan itu sekitar 1 jam yang lalu."


"Heemmm, Astagfirullah! ya sudah tidak mengapa, terima kasih! Kamu boleh kembali ke tempat mu!" pinta Afnan. pekerja itu pun berpamitan pada afnan Kembali ke tempat.


Afnan mencari ponsel nya untuk menghubungi Hasna "Astagfirullah! ternyata ponselku dari tadi ku tinggalkan di dalam mobil," gumam Afnan. Ia baru mengingatnya jika ponselnya berada di dalam mobil sedari tadi pagi.


Afnan sudah berada di dalam mobilnya, segera ia raih ponsel nya dan ia lihat 13 kali panggilan dari Hasna. Spam pesan dari Hasna hanya kata 'Assalamua'laikum By!' selanjutnya By? By? By? Mungkin hingga puluhan pesan. Dan di akhiri photo Screenshot Hasna yang sedang Video call dengan Twins, namun terlihat Twins A jauh dari layar ponsel.


"Maafkan Byby sayang, lagi-lagi Byby mengabaikan mu dengan kesibukan ini." Afnan bercengkrama dengan manager baru restoran tersebut yang baru saja tiba hingga waktu Dzuhur datang, baru mereka menghentikan perbincangan mereka, di tutup dengan sholat berjamaah bersama karyawan restoran tersebut dan setelah Dzuhur ternyata reservasi restoran Sangatlah meningkat hingga Afnan harus turun tangan membantu mereka.


Sebetulnya Afnan mengingat akan janjinya pada Hasna. Maka dari itu ia bergegas pulang hanya dalam waktu 20menit setelah restoran dapat ia tinggal, Biasanya butuh 30 menit untuk sampai rumahnya dengan kecepatan sedang.


"Sayang! kamu ke mana?" gumam Afnan. Lalu ia nyalakan GPS mobil nya memantau GPS yang sudah ia tanam di mobil Hasna, karena prediksi kejadian seperti ini sudah ia pikirkan dari jauh jauh hari.


"Laut Marmara!"


Senyuman Afnan pun mengembang. Ternyata kamu tidak ingkar janji sayang! sesuai Izin mu tempo hari, kamu akan minggat ke laut marmara! terima kasih sayang kamu memang betul-betul istri yang baik!" Afnan pun bergegas menuju laut Marmara setelah sebelumnya berganti pakaian.


**


Di laut Marmara. Tepatnya di pesisir laut Marmara, Afnan baru saja tiba. Ia berkeliling mencari keberadaan Hasna. Namun setelah Waktunya Ashar pun tiba Hasna tidak ia ketemukan. Padahal tanpa sepengetahuan nya, Hasna telah ia lewati berkali-kali. Namun karena saat ini Hasna memakai cadar, maka ia tidak mengenalinya.


Hasna pun tersenyum penuh kemenangan kali ini ia ingin mengerjai Afnan, biarkan Afnan sendiri mencarinya, terkadang seru bermain-main dengan Afnan dia terlihat lucu dengan tingkahnya.


karena sudah masuk waktu Ashar maka ia memutuskan untuk pergi ke masjid dan sholat terlebih dahulu di Mesjid sekitaran tempat itu.


Setelah selesai Sholat, Afnan kembali ke pesisir laut. Afnan memutuskan untuk duduk sejenak di bangku kayu yang berada di tempat itu. Tiba-tiba seorang wanita duduk di sebelahnya agak berjauhan. Afnan merasa risih namun untuk dia bangkit pun merasa tidak sopan karena terlalu terburu-buru bangkit.


Akhirnya Afnan, menunggu sebentar. Setelah ia rasa cukup, Afnan pun berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Ketika ia berdiri wanita itu mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum ya Akhy, apakah Anda berasal dari Indonesia?" tanya nya.


"Wa'alaikum salam, betul saya berasal dari Indonesia," jawab Afnan tanpa menoleh kearah Wanita itu. Ia terlihat kaku berdiri di tempatnya semula. Batin Afnan berkata tidak asing dengan suara perempuan tersebut ,namun ia tidak tahu siapa perempuan tersebut.


"Saya pun dari Indonesia, saya sedang menunggu kekasih saya di tempat ini. Ia pangeran hati saya! wajahnya mirip sekali dengan Anda!" ucapkan perempuan itu.


Afnan tambah tidak nyaman dibuatnya, walaupun suara perempuan di balik Niqob itu merasa tak asing lagi baginya, namun ia tidak betul betul tidak tahu ia siapa.


Perempuan itu mendekat. Mensejajarkan dirinya berdiri di samping Afnan. "Maaf bisakah Anda memberikan jarak, agar kita tidak saling mendekat," ucap Afnan tegas


"Hanya sebentar Tuan. Saya hanya ingin melihat wajahmu, Anda betul-betul pangeran hatiku atau bukan! wajah Tuan mirip sekali dengan nya," celoteh perempuan itu tanpa merasa risih.


Perempuan ber Niqob itu bergerak dengan tenang hingga berhadapan dengan Afnan. Dengan perasaan yang mulai ketar ketir Afnan berusaha memalingkan wajah nya, ia tak mau melihat wajah perempuan itu.



Namun di luar dugaan nya. Perempuan itu dengan Berani meraih pipi Afnan dan mengelus nya lembut. Afnan begitu terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Dengan cepat ia tepis tangan perempuan itu lalu mundur dan menatap geram wajah perempuan itu.


"Maaf Nona, kelakuan Anda sungguh di luar batas, Anda tidak pantas melakukan hal itu! Anda bukan mahram saya. Astagfirullah Ampuni Hamba ya Rabb!" ucap Afnan.


"Lihatlah Tuan! apa betul Anda tidak mengenali saya? atau Anda pura pura tidak mengenal saya? Anda tidak lupa kan pernah menikahi perempuan nakal beriman Satu setengah tahun yang lalu?" tanya nya, lalu ia angkat tangan nya dan memamerkan Cincin pada jari manisnya.


"Masya Allah. Sayang!"



Pekik Afnan, setelah ia lihat cincin perkawinan yang melingkar di jari manis Hasna. yaitu cincin perkawinan darinya.


"Hemm, Yakin?"


"Insya Allah Yakin. Loh Koq..? (Afnan terdiam, memandangi Hasna dari atas hingga bawah). Masya Allah, betul ini sayang memakai Niqob?" tanya Afnan sumringah, namun hampir tak percaya.


"Ya iyalah By, Alhamdulillah Niqob! Lalu apa? jaring laba laba? hehe," pertanyaan konyol dari Hasna, sembari mengekeh.


"Hehe, ya Niqob Sayang!" ucap Afnan sembari tersenyum. "Maaf sayang, Byby hafal suaramu. Namun Byby takut salah, Byby juga tahu itu matamu namun karena kamu mengenakan Niqob, Maka Byby tak mau langsung menebak itu kamu.Takut salah juga."


"Kamu nih, suka sekali membuat Byby berdebar tanpa berlari.Duduk sini Sayang!" Hasna menuruti Afnan untuk duduk di bangku yang tadi mereka tinggalkan


"Baiklah, Byby sayang!"


"Pertama, Byby mau minta maaf padamu karena Byby lalai tak menjawab panggilan darimu! ponsel Byby tertinggal di mobil dan Byby sibuk dengan para pelanggan serta bercengkrama dengan manajer baru itu yang baru saja tiba," ucap Afnan.


"Sudahlah By! tidak mengapa, Maafkan Nana juga sudah keluar tanpa pamit," ucap Hasna.


"Sayang sudah pamit koq tempo hari, dan kedua Terimakasih! Sayang telah mampu menutupi aurat mu secara baik!" Afnan menatap Hasna dengan lembut.


"Terimakasih By. Iya Alhamdulillah! sering menyendiri di rumah ketika Byby berangkat ke restoran. Membuat Nana banyak berpikir. Merenungi tentang segala hal yang terjadi dalam hidup Nana. Akhirnya Nana tergerak untuk menggunakan Niqob. Doakan Nana istiqomah By," Tutur Hasna.


"Aamiin, Insya Allah sayang! niat baik harus disegerakan," ucap Afnan. "Terima kasih juga karena Byby tidak marah, Nana sudah menggunakan Niqob tanpa bicara dulu pada Byby," ucap Hasna.


Sayang, Masya Allah. Byby begitu bangga padamu. Hal ini malah yang Byby harapkan dari pakaianmu ketika pergi keluar rumah, pakaian sayang yang model nya seperti dulu Byby tetap suka, namun saat hanyalah kita berdua sayang!" ucap Afnan


"Iih.. mode mesum nya mulai normal deh!" seru Hasan.


"Harus selalu Normal sayang, agar cepat On hehe, karena setelah halal Byby senang sayang berpakaian kurang bahan saat kita berdua. Namun Byby tidak rela tubuhmu dilihat laki-laki lain jika berpakaian kurang bahan di luaran."


"Walaupun Nana urakan, tapi pakaian Nana tidak kurang bahan By. Hanya waktu bertemu Byby saja Nana menggunakan pakaian minim bahan itu, awalnya berharap agar Abi dan Umi membatalkan niat menikahkan kita. Kalau ingat masa itu, Nana malu By! bahkan untuk Saat ini, jika kita tidak menikah Mungkin Nana akan menyesal karena telah menyia nyiakan suami dan keluarga sebaik Byby serta Abi dan Umi," ucap Hasna.


"Dasar Cewek gahar beriman! sudahlah, toh semua nya sudah berlalu. Sekarang sayang sudah betul betul Hijrah Masya Allah! Byby sangat bersyukur memiliki istri HASNA AULIA ZAHRANI."


Syukron Byby. NANA...UHIBBUKA FILLAH."


Afwan sayang. BYBY...UHIBBUKI FILLAH."


"Tapi ingat ya By! Nana masih cewek Gahar beriman loh!" ucap Hasna. "Ha haha. Jadi Byby masih akan di buat berdebar tanpa berlari oleh si cewek gahar beriman ini dong?"


"Pasti dong! walaupun Nana sudah mengenakan Niqob. Tapi kan jiwa balapan dan jiwa muda Nana masih semangat empat Lima. Siap siap lah Byby, Nana buat Byby berlonjak di tempat tiap hari," bisik Hasna.


"Baiklah. Itu yang Byby harapkan, karena tanpa cewek gahar dan si gemez nakal beriman ini, maka hidup Byby akan terasa flat," ucap Afnan tersenyum dengan menarik ujung bibir nya.


"Haduh si Byby, menantang Nana ya?" tanya Hasna. "Kan dari awal sudah Byby katakan. Suka yang penuh tantangan, termasuk istri," ucap Afnan kembali, membuat Hasna tersenyum salah tingkah.


"Sayang, lusa kita berangkat ke Australia menuju rumah Mamah. Setelah itu kita pulang ke Indonesia ke kota S dan Insya Allah bertemu Twins," ucap Afnan.


"Alhamdulillah Wasyukurillah! terimakasih By, Nana sudah tak tahan ingin bertemu, memeluk Twins dan memberikan Asi pada mereka."


"Alhamdulillah, akhirnya Byby akan bebas dari menjadi pengganti Twins, yang harus meminum nutrisi Twins setiap hari." ucap Afnan.


"Huusstt! Byby jangan buka rahasia, itu ada Readers sedang ngintip. Nana kan malu!"


"Biarlah, Readers juga sudah paham dari sejak di Oman, tiap hari Byby menjadi korban mu!"


"Sudah ih malu By! bagaimana kalau jalan jalan di sekitaran sini, membeli makanan di stand bahu jalan, itu di depan Mesjid Aya Sofya Nana lihat ada kedai makanan. Seru By ma'em nya di bangku taman," ucap Hasna begitu antusias.


"Baiklah, mari..Byby akan menemani mu hingga kamu jenuh. Oh ya, hebat juga kamu ya sayang. Dapat langsung berkendara di daerah sini tanpa harus test drive terlebih dahulu atau pendamping," ucap Afnan.


"Nana gitu loh! walaupun pada awalnya sulit dan beberapa kali Nana mendapatkan klakson kencang daripada pengemudi lain karena terlalu ke tengah, Alhamdulillah sampai juga di sini dan saat ini sudah mahir dong Ketika nanti minggat lebih jauh dari tempat ini!" seru Hasna.


"Uuum sudah punya rencana minggat lagi? nih Byby klitiki hingga pipis di tempat!"


"Tidak ampun, ampun By! jangan di sini."


***


Dua hari kemudian mereka sudah sampai di Australia, setelah mereka berpamitan pada keluarga Adreena dan para karyawan restoran termasuk Rhaseda, Afnan dan Hasna pun berangkat ke Australia. Kini mereka baru saja sampai di bandara Kingsford Smith, Sidney Airport.




"Mama, Daddy Rick. Terimakasih sudah menjemput kami," ucap Hasna ketika sudah berada di dalam mobil hendak ke rumah Mama nya. Hasna duduk di belakang berpeluk manja pada tubuh sang Mama. sedangkan Afnan duduk di sebelah Ricky yang sedang mengemudi.


"Sama sama sayang! Daddy Rick dan Mama begitu bahagia sayang. Sudah lama sekali kami menantikan kamu dan Nak Ustadz berkunjung," jawab Mama Hasna.


"Masya Allah TabarakAllah, Maafkan kami Mah, Daddy Rick! baru dapat berkunjung," ucap Afnan.


"It's Okay . I'm Glad you both can visit my home," ucap Ricky.


"Sayang, sudah lama mengenakan cadar?" tanya Mama Hasna. "Baru mah, dua hari yang lalu," Jawab Hasna. "Ya Allah Anak Mama yang nakal dan manja ternyata sudah betul betul berhijrah. Nak Ustadz Terimakasih, atas bimbingan Nak Ustadz Nana mau berubah lebih baik," ucap Mama Hasna.


"Hehe, Itu karena niat Nana nya sendiri Mah. Alhamdulillah di beri Hikmah baik oleh Allah dari hasil perjalanan kami hampir dua bulan ini," ucap Afnan.


"Alhamdulillah, Mama bangga padamu sayang!" Mama Hasna. "Terimakasih Mah."


***


Lima hari Hasna dan Afnan tinggal di rumah Mama nya. Ricky begitu baik dan perhatian, Ia sangat senang karena Afnan dapat menjadi teman untuk nya. Ricky hingga cuti bekerja demi menemani mereka makan di luar dan jalan jalan di kota Sidney.


Di antaranya, mengunjungi Gedung Opera Sydney (Sydney Opera House) di Sydney, bangunan dari abad ke-20 yang terletak di Bennelong Point dekat Sydney Harbour Bridge yaitu dua bangunan yang menjadi ikon tersendiri di Australia.


Gedung Opera



Sydney Harbour Bridge




****


Alhamdulillah Hasna dan Afnan akhir nya sampai kembali ke Indonesia. Mereka baru saja landing di bandara Internasional soekarno-hatta.( Tangerang-Banten)



"Alhamdulillah Hirobbal A'lamiin. Sampai bandara Soekarno-Hatta sayang," ucap.Afnan.


"Alhamdulillah By."


"Bismillahirohmanirohim."


اَلْحَمْدُللهِ الَّذِيْ سَلَّمَنِيْ وَالَّذِيْ آوَانِيْ جَمَعَ الشَّمْلَ بِيْ


"Alhamdu lillaahil-ladzii sallamanii wal-ladzii aawaanii wal-ladzii jama’asy-syamla bii"


Artinya:


"Segala puji milik Alloh yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkan aku dengan keluargaku."


Ucap syukur Afnan melafalkan doa setelah sampai dari bepergian, sembari menuntun Hasna agar membaca serta setelah mereka sampai di bandara,



"Alhamdulillah, A'a Bro, Akhir nya sampai kembali ke Indonesia dengan selamat!" Ubaydillah memeluk erat Afnan, Akhirnya mereka bertemu kembali. Ubaydillah


bersikeras menjemput Afnan dan Hasna. Mereka tiba di Jakarta kemarin dan menginap di rumah orang tua Lintang.


"Alhamdulillah Dek, sob! kita dapat berkumpul kembali," ucap Afnan.


sedangkan Lintang masih berdiri. Ia menatap Hasna dari atas hingga ke bawah,ia masih bingung siapakah perempuan itu?


"Lin. Tidak mau peluk gue juga? lo sudah lupakan gue ya?" ucap Hasna. "Nana? itu lo Na? serius Nana kan?" tanya Lintang.


"Ya iyalah! ini geu Hasna seriusan. Lo pikir Ustadz gandeng Siapa? Ganti Istri tiba-tiba?"


kelakar Hasna.


"Nana! Bukan begitu. Masya Allah. Gue bingung saja habis pakai cadar gini," jawab Lintang, lalau ia menghampiri Hsna dan memeluknya.


"Alhamdulillah Lin. Gue dapat Ilham." ucap Hasna sembari ia pun memeluk Lintang erat.


Sedangkan Ubaydillah tidak nampak terkejut karena sebelumnya Afgan sudah memberitahukan Ubaydillah dan mengirimkan foto Hasna sesudah memakai cadar. Jadi ia sudah tahu sebelumnya, namun ia tidak memberitahukan kepada Lintang karena ingin membuat kejutan.


"Assalamualaikum, Dek Nana! apa kabar?" sapa Ubaydillah. "Waalaikumsalam Kak, Alhamdulillah kabar Nana baik," jawab Hasna.


**


Mereka meninggalkan bandara menuju ke rumah Papa Hasna. Hasna memberikan oleh-oleh untuk Papnya, Vinny serta Almira. Tidak lupa ia berkunjung ke rumah sehingga memberikan oleh-oleh untuk Mbak Nurin dan yang lainnya, serta ke rumah orang tua Lintang yaitu melakukan hal yang sama, memberikan oleh-oleh untuk orang tua Lintang. Setelah sebelumnya Hasna memberikan membagikan oleh-oleh pada Mamanya dan Ricky di Australia


"kembali ke Ponpes hari ini juga ya Dek! Nana sudah tidak tahan ingin bertemu dengan Twins," ucap Afnan.


"Insya Allah A, kita berangkat ba'da Ashar," jawab Ubaydillah.


---


Setelah berpamitan kepada Papa Hasna dan keluarganya, penghuni rumah singgah serta orang tua Lintang. Hasna memilih kembali ke kota S di hari yang sama tepat nya sore hari Ba'da Ashar. Ia tak peduli jam berapa pun akan sampai. Bahkan ia rela untuk menggantikan Ubaydillah mengemudi jika itu perlu. Rasa rindunya pada Twins A sudah tidak tertahankan lagi.


--


Alhamdulillah..Malam hari mereka sampai di Ponpes. "Assalamualaikum Umi!" Ucap Hasna yang baru saja masuk. "Waalaikumsalam salam! sayang, Nana Masya Allah. Umi rindu!"


Umi dan Hasna pun berangkulan, melepas Rindu. "Umi A'a, rindu Umi," Begitupun dengan Afnan ia merangkul Umi dan menitikan air mata kebahagiaan karena dapat berkumpul kembali.


Ritual Afnan setelah dari tanah suci yaitu membasuh kedua kaki Umi. Dan itupun Afnan lakukan malam itu juga. Bukan maksud menyekutukan Allah karena mengagungkan manusia walaupun itu seorang Ibu. Namun bagi Afnan sekedar menunjukkan rasa hormat dan sayang Afnan pada Umi, karena ia dapat kembali ke tanah suci dan pulang dengan selamat, selain dari keridhoan Allah juga karena keridhoan Umi yang selalu menyebut nya dalam setiap doa Umi. Setelah selesai lalu Afnan dan Hasna menemui Abi yang berada di kamarnya, sedang menemani Twins dan Baby-G.


"Assalamualaikum Abi," sapa Hasna dan Afnan. "Waalaikumsalam! A'a, Nana, Alhamdulillah kalian sudah kembali dengan selamat.


"Alhamdulillah Bi"


Namun Twins A serta Baby-G sudah tertidur pulas. Hasna tidak tega untuk membangunkan mereka. Ia hanya melihat Twins dengan genangan air mata. Hasna ingin sekali mendekap mereka.


Malam itu akhirnya Hasna putuskan tidur di kamar Afnan. Hasna begitu gelisah, ia sudah berada dekat dengan Twins A, namun tak dapat memeluk mereka.


"Sayang, sudah bobo! besok baru bertemu Twins ya!" Afnan pun mengerti kegelisahan Hasna. "Nana hanya takut Twins tidak mengenali Nana By."


"Insya Allah sayang, mereka akan mengenalimu. kita lihat saja besok! sekarang sayang Bobo ya," bujuk Afnan seraya memeluk nya penuh cinta dan kehangatan. Akhirnya Hasna mampu Afnan bujuk untuk tidur, Tak lama mereka pun terlelap.


---


Keesokan harinya setelah sholat Dhuha. Hasna sudah rapi menggunakan hijab serta cadar nya dan dengan di temani Afnan ia pun turun ke lantai bawah untuk menemui Twins A dan Twins A pun sudah rapi Karena sudah dimandikan oleh Umi dan Abi. Mereka bekerja sama untuk mengurus Twins A dan Baby-G.


"Sayang, Twins sudah rapi. Tapi masih di kamar," ucap Umi. "Mereka sedang bermain, silakan jika ingin bertemu."


"Terima kasih Umi. Dengan masih ditemani Afnan mereka bergegas ke kamar Umi, setelah sebelumnya Hasna menarik nafas agar lega karena saat ini ia di penuhi keraguan, hati nya bergetar seakan-akan ia akan bertemu dengan seseorang yang tak mengenal nya.


"Assalamualaikum Twins Sayang, Ini Biyya Nak," ucap Afnan. Twins A yang sudah mulai berdiri terjatuh karena usianya sekarang sudah mencapai hampir 11 bulan maka mereka pun begitu antusias dan sumringah menghampiri Afnan. Ada kelegaan di mata Hasna, berarti Twins tidak melupakan orang tuanya


Namun saat Hasna ingin meraih dan menggendong nya, Twins A malah menangis ketakutan. "Ini Mimma sayang! tidak perlu takut. Mimma kan sudah sering video call bersama kalian," bujuk Hasna.


Namun kedua nya malah memeluk erat Afnan. Sudah berbagai macam cara agar Twins A mau di gendong oleh Hasna. hingga membuka cadarnya di hadapan mereka, namun itu masih belum berhasil.


Air mata Hasna sudah mulai berjatuhan tak terbendung lagi, Ia pun berlari menuju kamarnya. "Permisi," ucap Hasna pada Ubaydillah, Umi dan Lintang yang ia lewati.


"Loh kenapa?" tanya Umi pada Afnan. Iya A, ada apa dengan dek Nana?" tanya Ubaydillah.


Afnan berniat menyusul Hasna, dengan Twins A berada di dalam gendongan nya.


"Twins menolak Nana, seperti tak mengenal


nya," jawab Afnan.


"Astaghfirullah" ucapan secara bersamaan.


Next 👉