Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 170. Duplikat dari kak Ubaydillah


"Maaf Pih, maksud Papi apa?" tanya Ubaydillah sekali lagi dengan nada lirih, Karena Fendri diam dan ia menghampiri Fendri lalu duduk di sebelahnya.


"Piiihh?" suara Lintang bergetar, matanya sudah Mulai berkaca kaca.


"Saya tidak setuju!" ucap Daddy.


Pak kyai yang memang berjiwa legowo dan tidak memiliki sifat egois, ia hanya diam menyimak dan saatnya nanti ada Hak-nya untuk bicara, maka ia akan berbicara seperlunya.


Afnan yang merasa ini bukan kapasitas serta Hak-nya yang boleh ia dengar, Karena ia hanya sebagai kakak di sini, Mak ia dan Hasna sudah bukan bagian yang pantas ikut campur , Karena sudah menyangkut privasi keluarga Inti Ubaydillah, maka ia dengan lembut meraih tangan Hasna, mengajaknya keluar kamar.


"Sayang mari," ajak Afnan, menggenggam tangan Hasna dengan lembut.


"Neng, maaf A'a dan Nana keluar dulu ya, untuk sementara Neng di dampingi Umi," pamit Afnan pada Lintang.


"Tapi Na ...." ucap Lintang berhenti begitu saja, ia hanya mampu menatap Hasna.


"Lin ...." Hasna balas menatap sahabatnya itu, sendu dan Lintang mengerti.


"Maaf, saya keluar sebentar," pamit Afnan kembali pada semua dan merangkul pundak Hasna membawanya keluar. "Assalamua'laikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.


Umi yang mengerti maksud Afnan, maka ia segera menghampiri Lintang. Duduk di bangku yang menghadap Lintang dan menggenggam tangan Lintang penuh kasih sayang.


***


Di luar.


"By, koq kita keluar?" tanya Hasna pada Afnan.


"Adab sayang, kita memang keluarga mereka. Namun, tidak baik saat ini kita ikut campur konflik antara Ubay dan om Fendri," jawab Afnan.


Di dalam kamar Lintang, sepertinya suasana semakin menegang. "Pih, Lintang tidak mau pulang jika tidak dengan kak Davi," teriak Lintang histeris hingga sayup sayup masih terdengar keluar ruangan, walaupun tidak jelas namun Hasna masih dapat mendengar saat ia berdiri di dinding dekat pintu.


"By ... kasihan Lintang, By." Hasna mulai menangis dan Afnan Segera menenangkan Hasna.


"Sssttt ... sudah Sayang, sabar dan tenang ya. Kita tunggu saja hasil akhirnya. Toh hak dan tanggung jawab Neng Lilin saat ini ada pada Ubay Selaku suami, Om Fendri tidak dapat begitu saja membawa Lilin, pasti nanti Abi akan meluruskan," ucap Afnan, seraya menutup kedua belah telinga Hasna dengan kedua telapak tangannya dan membimbingnya berjalan agak menjauh dari pintu kamar perawatan Lintang.


Tak berapa lama Devano tiba seorang diri. Ia berjalan sedikit tergesa. Namun, melihat Afnan dan Hasna berada diluar ruangan, ia menghentikan langkahnya, menyapa Afnan dan Hasna. "Assalamu'alaikum, Bang Ustaz, Nana!" sapanya.


"Wa'alaikumsalam ... Dev." Balas keduanya.


"Loh koq, Bang Ustaz di luar, lalu itu Nana kenapa menangis?" tanya Devano penuh kebingungan.


"Tidak ada apa-apa Dev, maaf Abang belum bisa bercerita, yang pasti Devano jangan masuk dulu ya, sedang ada obrolan serius di dalam," ucap Afnan.


Walaupun semakin bingung. Devano hanya mengangguk, menuruti permintaan Afnan. Kini menyusul kedatangan Adrian, Angela dan Elyavira.


"Assalamu'alaikum," ucap ketiganya berbarengan


"Wa'alaikumsalam," jawab Afnan, Hasna dan Devano.


"Koq pada di luar?" tanya Adrian.


"Iya, didalam sedang ada obrolan serius," jawab Hasna


"Oh ya Dev, seperti nya lo belum kenal dengan kak Elyavira. Perkenalkan nih kak Elya, ini Devano. Adik dari Ustaz Ubay," Hasna memperkenalkan Devano dan Elyavira.


"Mm ... Iya Dik Nana" Elyavira tertegun menatap Devano, betul yang Lintang katakan ia adalah duplikat dari Ubaydillah.



"Assalamu'alaikum Akhy Dev, saya Elyavira." Elyavira memperkenalkan diri dengan mengatupkan kedua belah telapak tangannya.


"Astagfirullah Al adzim, duplikat Ustaz Ubaydillah, jaga mata El, jaga hati" gumam Elyavira didalam hatinya.



Devano memandang Elyavira penuh selidik, lalu ia menjawab Salam dari Elyavira. "Wa'alaikumsalam Warahmatullah. Og rupanya Anda yang bernama Elyavira? penyebab jatuhnya Lintang dari kuda, hebat Anda ya dapat membuat orang koma dalam sekejap," tanpa di duga Devano meluapkan amarahnya kepada Elyavira, dengan kata kata yang menusuk telinga dan hati.


"Maaf!" Elyavira terkejut dan kini dirinya merasa terintimidasi. Lalu ia mundur merapatkan tubuh di balik bahu Angela, ia takut akan amarah Devano.


Elyavira wanita yang terlihat garang saat berkutat dengan pekerjaannya, namun kenyataannya ia adalah wanita yang lembut dan pendiam.


"Astagfirullah Dev, tolong tenang! tidak ada yang patut di salahkan dalam insiden ini, semua terjadi murni karena musibah," ucap Afnan lirih, mendekati Devano dan menenangkannya.


"Tapi setahu Dev, awalnya orang ini yang memulai," Devano tetap pada pendapat dan pendiriannya.


"Tidak Dev. Menurut para pekerja, mereka hanya latihan biasa dan tidak ada pertengkaran apapun koq, pada awalannya juga," ucap Afnan.


"Hei Dev, penyebab Lintang jatuh dari kuda itu ada kaitannya dengan lo, bukan karena kak Elya," ucap Hasna tiba-tiba dengan tatapan tegas tak teralih.


"Lah koq jadi gue Na?" tanya Devano dengan mengurutkan keningnya.


"Sini lo ikut sebentar." ajak Hasna, "By tolong temani Nana bicara dengan Dev," pinta Hasna kemudian, pada Afnan. Afnan mengangguk dan mengiayakan.


Akhirnya suasana semakin memanas di luar dan di dalam ruangan. Adrian hanya tersenyum ke arah Angela. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi, begitupun sebaliknya, Angela hanya membalas senyuman Adrian. Ia pun sama tidak mengertinya.




Di dalam kamar perawatan Lintang.


Setelah beberapa perdebatan antara Papi Lintang, Ubaydillah, Lintang dan Daddy. Abi Kyai berusaha menenangkan.


"Maaf pak Fendri, Dedem dan pak Dedrick. Jika begini terus, maka tidak akan ada penyelsaian, kasihan Neng Lintang baru saja siuman beberapa jam dan saat ini harus kembali mengalami tekanan," tutur Abi kyai.


"Papi tolong jangan pisahkan Lintang dengan kak Dav, papi. Kemana papi Lintang yang bersahabat dan baik?" tanya Lintang lirih.


"Pak Fendri ... maaf saya mengupas sedikit. Di riwayatkan dari Anas bin Malik RA ketika seorang sahabat Nabi pergi berperang dan ia berpesan kepada sang Istri untuk tidak bepergian sebelum ia kembali. Kemudian suatu hari seorang utusan dari orang tua si wanita memberi tahu bahwa Ayahnya sedang sakit keras. Namun, istri sahabat ini menolak menemui Karena ingat Perkataan suaminya dan hingga si utusan datang kembali, kemudian si istri mengutus orang untuk menanyakan kepada Rosulullah SAW, dan jawaban Rosulullah SAW adalah 'Taatilah suami mu'. Hingga dua kali bertanya dan tetap dengan jawaban yang sama, sampai pada Ayah si istri sahabat itu betul betul meninggal. Dan Rosulullah SAW mengutus sahabat lainnya untuk memberitahukan kepada si Istri sahabatnya untuk tidak khawatir dan risau. Karena keta'atannya ia pada Suami, maka Allah telah mengampuni Dosa perdosa sang Ayah." Tandas Abi Kyai.


"Maaf Bapak, ini berarti bukti, bahwa kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya, termasuk memberikan perintah apa pun padanya."


"Bila hal itu terjadi, merupakan kesalahan besar. Pasca menikah maka saat itu juga sang putri telah memasuki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melainkan sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami." Lanjut Abi Kyai.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


اَلرِّجَا لُ قَوَّا مُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَا لِهِمْ ۗ فَا لصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ وَا لّٰتِيْ تَخَا فُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَا جِعِ وَا ضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِ نْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيًّا كَبِيْرًا


ar-rijaalu qowwaamuuna 'alan-nisaaa`i bimaa fadhdholallohu ba'dhohum 'alaa ba'dhiw wa bimaaa angfaquu min amwaalihim, fash-shoolihaatu qoonitaatun haafizhootul lil-ghoibi bimaa hafizhollaah, wallaatii takhoofuuna nusyuuzahunna fa'izhuuhunna wahjuruuhunna fil-madhooji'i wadhribuuhunn, fa in atho'nakum fa laa tabghuu 'alaihinna sabiilaa, innalloha kaana 'aliyyang kabiiroo


"Laki-laki atau suami itu pelindung bagi perempuan atau istri, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang salihah, adalah mereka yang Ta'at (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar. Sumber Qs. An-Nisa 4: Ayat 34."


"Sudah jelas Pak, bahwa wanita yang sudah menikah adalah tanggungan seorang suami, bukan lagi oleh seorang Ayah," ujar Pak Kyai kembali.


"Bila di ambil inti dari ayat tersebut maka, 'kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). Dari Qs- An-Nisaa’ ayat 34." Tutur Abi Kyai lagi.


Umi, Mami Lintang dan Mommy sedang berusaha menenangkan Lintang.


"Dav, maafkan papi jika terkesan egois, padahal papi tidak melihat cacat dari dirimu dari segi apapun kamu adalah laki-laki sempurna untuk seorang menantu," ucap Fendri seraya mengelus bahu Ubaydillah dan merangkulnya, setelah ia mendengarkan perkataan Abi kyai dan meresapinya.


"Papi tahu ini salah! namun jika Dav menginizinkan papi membawa Lintang, itu tidak bertujuan untuk merampas Lintang dari mu sebagai suami, namun ini hanya penyesalan dari papi Dav. Lima belas tahun papi dan Mami meninggalkan Lintang bersama para Art dan hanya bertemu sesaat. Papi sudah tidak adil terhadap Lintang, hanya Karena Lintang anak perempuan, sedangkan Papi mengharapkan anak laki laki," ucap Fendri penuh penyesalan.


"Saat Ini mungkin waktu yang tepat untuk menebus kesalahan papi, Dav!" ucap Fendri kembali dengan bersedih.


"Pih, maaf saat ini Lintang sudah menjadi hak dan tanggung jawabnya Dav, apapun yang terjadi, tidak adil rasa nya jika Dav hanya memilki Lintang saat sehat dan senang dan ketika Lintang sakit serta berduka lalu dengan seenaknya Dav melempar tanggung jawab pada papi selaku orang tuanya! tidak Pih tidak akan Dav lakukan." ujar Ubaydillah lirih.


"Maafkan Dav juga pih, papi dan mamih boleh tinggal bersama kami pih, hingga Dik Lintang sehat betul atau sampai kapanpun Papi dah Mami inginkan dan jika Papi keberatan tinggal di ponpes nanti Dav akan membawa pulang Dik Lintang ke rumah yang lain," ucap Ubaydillah kembali.


"Astagfirullah Al Adzim ampuni Hamba ya Rabb, hampir saja hamba mendzolimi anak dan menantu yang hamba sayangi," ucap Fendri, kini ia luluh mendengar penjelasan Abi Kyai dan Ubaydillah.


"Baiklah Dav, Papi akan mengikuti keputusan mu, dan Papi tidak keberatan tinggal di pesantren, 'kan Papi pernah sampaikan pada Dav, bahwa Papi ingin mendalami ilmu agama di pesantren dan mungkin ini adalah hikmah dari kejadian ini, agar papi lebih dekat dengan Allah," ucap papi Lintang.


"Alhamdulillah Hirobbala'lamiiin" ucap mereka serempak dan akhirnya suasana kembali menghangat.


"Terimakasih pih," ucap Lintang yang kini sudah dapat duduk.


"Sama-sama Sayang," lalu papi menghampiri Lintang dan memeluknya.


Di luar kamar Lintang, Hasna baru saja selesai menjelaskan apa yang terjadi pada Devano dan Afnan.


"Astagfirullah, Sayang. Jadi ini yang sebenarnya terjadi? lalu kalian berniat menjodohkan Nona El dan Devano?" tanya Afnan


"Iya By. Maaf berarti kesalahan bukan pada kak El dan Devano. Akan tetapi pada kita," Hasna menunduk, ia tak berani melihat pada Afnan.


"Tapi ... mengapa harus gue sih Na?" tanya Devano.


"Karena lo Duplikat dari kak Ubaydillah dan Karena kalian mirip maka kami memperkirakan kak El akan bersedia menikah dengan lo Dev!" jawab Hasna.


Bersambung


***


Terimakasih banyak sudah membaca 🙏😍😇💐💐