
Kini Afnan sudah mengantri di tukang sate sapi pinggir jalan.
“Pak, sate sapi nya 100 tusuk, di buat 10 tusuk masing masing bungkusnya ya, bungkus nya harus pakai daun pisang, bumbunya harus yang kecap dan kacang ya pak, kalo ada pakai saos dan mayonnaise juga bumbu nya ya.....”
“Heeuuh... ini teh serius atau bercanda kang?”
Tanya kang sate .
“Saya serius pak, ini untuk istri saya yang sedang hamil” ucap Afnan dengan wajah memelas.
“Astagfirullah, permintaan orang hamil ternyata kang, pantas aneh, hihi” ucap kang sate.
Beberapa Ibu ibu yang kebetulan mengantri saling berbisik dan menyeringai menoleh pada Afnan, dan beberapa anak muda perempuan banyak yang melirik serta berkali kali curi pandang pada Afnan yang kini duduk tenang setia menuggu sate sedang di atas bara dan di kipasi.
jangan tanya wangi stelan jas dan rambut nya, wangi asap bercampur arang dan bakaran sate, pomade di rambut nya yang tertata rapi terasa lengket campur wangi asap, parfum jutaan yang biasanya wangi maskulin kini bercampur wangi asap, dan sudah menimbulkan bau aneh bercampur dengan wangi bakaran sate.
Dan kini Ia duduk memperhatikan Istri labil nya yang sedang bersantai di sebrang jalan di dalam Mobil, sesekali asap menutupi pandangan nya dan tanpa sadar ia senyum senyum sendiri.
Namun pandangan nya kini terhalang seseorang yang muncul dari balik asap bakaran sate.
“MasyaAllah Ustadz Afnan” pekik seseorang tersebut. Dan spontan hampir semua yang berada di kedai sate itu melirik ke arah Afnan.
-----
Celoteh Para pembeli lain saat mendengar kata Ustadz.
“Hah Ustadz?”
“Hihi iya itu kata nya ustadz.”
“MasyaAllah ustadz nya ganteng pisan..!”
“Hooh muda, tapi koq ustadz pakai jas dan dasi ya kayak artis korea”.
“Ustadz gaul hihi”
------
“MasyaAllah Akhy Imron” ucap Afnan. lalu mereka berpelukan.
كَيْفَ حَالُك أستاذ
“Kaifa Haluk, ustadz?”
(bagaimana kabar nya, Ustadz ?)
اَنَا بِخَيْرٍ, اَلْحَمْدُلِلّهِ“
“Ana Bikhoirin, Alhamdulilah”
(saya baik-baik saja, Alhamdulillah)
“Sedang apa di sini Ustadz?” tanya polisi imron.
“Membeli sate untuk istri Akhy” jawab Afnan.
“MasyaAllah, Ana dengar dari istri Ana,Ustadz akan menjadi Abi?”
“Na'am.. InshaAllah” ucap Afnan.
“Alhamdulillah hi robbal a'lamin”
Mereka pun terlibat obrolan ringan, hingga hampir satu jam, 100 tusuk sate sudah selsai di kemas lengkap memakai daun pisang sesuai permintaan Hasna.
“Sudah selesai kang Ustadz” ucap penjual Sate, ia memanggil Afnan dengan sebutan Ustadz Karena ia mendengar jelas polisi imron yang mengenakan seragam polisi itu, memanggil Afnan dengan sapaan Ustadz.
“Berapa pak semuanya?”
“Satu tusuk nya 7000 Ustadz” jawab penjual Sate.
“Oh iya pak”, Afnan mengeluarkan uang 1juta rupiah, “sekalian dengan Pak polisi ini ya pak”
Karena polisi imron hanya memesan 20 tusuk sate.
“Terimakasih Ustadz, ini kembalianya dan ini Uang nya lebih ustadz ”
“Oh pegang saja pak, maaf sudah merepotkan, terimakasih banyak pak” ucap Afnan.
“Hatur nuhun Ustadz” ucap penjual sate dan hanya di sambut anggukan serta senyuman dari Afnan.
Lalu Ia pamit pada polisi Imron.
“Terimakasih Ustadz, sampai ketemu lain waktu” ucap polisi Imron.
“Sama sama, tentu.. InshaAllah” ucap Afnan, setelah berangkulan kini Afnan kembali ke dalam Mobil dan Hasna sudah tertidur di dalam Mobil, dengan sampah camilan yang berserakan di dalam Mobil, laptop nya sudah ia buat sebagai tatakan minuman, gelas juice dan ice tea , mungkin Hasna memesan makanan dan minuman di toko yang dekat mobil.
“Hmm...”
“Pesta rupanya kalian(Hasna dan twins utun) ini ya, heehm” gumam Afnan, mesem seraya berdecak dan menggeleng geleng kan kepala.
“Hufff, Astagfirullah..”
Afnan berpindah ke bangku belakang dan menyalakan laptop nya, ia mulai meeting MCE
dengan para staf nya.
Setengah jam, meeting pun berakhir dan Afnan kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah Ninen, beruntung saat meeting Hasna tertidur pulas jadi tidak ada yang mengganggu nya.
“Ya Allah ini pakaian sudah bau tak beraturan begini, rambut mirip sapu ijuk hehe” gumam nya sembari tertawa kecil.
Saat di tengah perjalanan Hasna terbangun dan ada saja yang Ia Inginkan dan minta.
Sate yang tadi ia inginkan hanya ia makan satu tusuk, dan Afnan lah sebagai media kejahilan nya, ia harus menghabiskan 19 tusuk sate.
“Haaaa... Alhamdulillah, ucap Afnan lega, kini akhir nya sampai juga di rumah Ninen”
Hasna sudah tertidur kembali, “Sayang bangun dong, sudah di rumah Ninen”
“Aaahh malas Byy” gumam Hasna.
“Byby pergi saja mana tangan nya sini Nana sun, Nana ingin bobo di mobil Ini, byby jangan ganggu” gumam Hasna sembari mengecupi punggung tangan Afnan dalam kantuk.
“Loh , kalau sayang bobo di mobil, lalu byby ke kantor naik apa dong?”
“Te...lllp..pon soo.. Ppp.. Iiirr byy”
“Astagfirullah, ya Allah ampuni Hamba!” gumam frustasi Afnan lalu ia turun, menemui Ninen nya dan setelah berucap Salam Ninen dan Kiki terlihat keluar bersamaan.
“Eh Nak Ustadz, mari masuk Nak” ajak Ninen.
“Iya Nin, Terimakasih” lalu Afnan pun masuk dan duduk menjelaskan apa yang ia alami dari shubuh tadi, prihal di kerjai si gemezzz nakal nya, antara keinginan Twins utun atau keinginan dirinya Afnan tak dapat mem bedakan, yang pasti sepagi ini saja ia sudah menghabiskan 4,7 juta Rupiah, mengikuti kemauan nya, dari mulai beli Bubur, sate, bakso, gorengan, dll, Sampai ke lotekan gado gado ia beli dengan cara aneh, setiap kedai sepi pembeli dan para pemulung serta anak anak ngamen yang Hasna jumpai maka ia beli dan beri uang.
“Oohh SubhanAllah, maafkan Nana Nak Ustadz” ucap Niken dan kiki.
“Tidak Nin,Ki, saya senang melakukan nya, Hasna terbilang jarang meminta apapun, namun saya harus ke kantor, tapi dia tidak mau turun dari mobil Nin, malah memilih tidur di mobil” tukas Afnan.
“Hehe, ya sudah biar Nana kami yang jaga, Nak Ustadz pakai saja Mobil Hasna, masih terawat dengan baik walaupun semenjak Hasna menikah dengan Nak Usradz jarang di gunakan.” ucap kiki.
“Baiklah, maaf Nin, Ki, merepotkan, kalau begitu terimakasih”
“Bicara apa Nak Ustadz ini, masih saja canggung dengan kami, ya sudah pergilah ke kantor Nak, ini kunci Mobil nya” sambung Ninen menyerahkan kunci Mobil.
“Terimakasih Nin, saya pamit”
“Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikumsalam” Ninen dan kiki serempak.
Afnan pun bergegas keluar tak lupa menghampiri Hasna sebentar, ia kecup kening dan perut Hasna, terlihat tumpukan hasil dari petualangan nya dari pagi, entah siapa yang akan memakan nya, Karena Hasna sendiri hanya makan satu tusuk sate, dan malah ia yang di cekoki sate serta makanan lain nya oleh Hasna, lalu Afnan tersenyum simpul dan geleng geleng kepala, rasa hangat menyeruak di dalam hatinya, makin sayang saja dirinya pada Hasna, di kerjai habis habisan pagi ini tidak membuat ia kesal atau marah, ini justru hal lucu dan menghibur.
“Mimma sayang, Twins utun.. byby berangkat cari nafkah dulu ya, kan harus ngumpulin Uang lagi, Mimma ngidam nya ekstreme membuat jebol mata”
“Ah, koq men jebol mata Biyya?” Hasna sampai bergumam mendengar kata kata nyeleneh dari bibir Afnan..
“Hehe, iya mata.. Mata pencaharian sayang”
“Ah, Biyya.. Heeee” gumam Hasna mengekeh kecil.
Setelah puas berpamitan pada Istri nya, Afnan Segera menuju kantor dengan menggunakan Mobil Hasna, ia sedang senyam senyum sendiri, ingat saat Hasna menabrak Mobil nya menggunakan Mobil yang kini ia bawa,
“Hehe Ya Allah, sebetul nya lewat mobil ini pertama kalinya Engkau menunjukan jodoh hamba, walaupun belum pasti namun sudah kau atur skenario nya, hihi kira kira jika waktu itu Nana turun kita akan berduel sengit tidak ya, Hehe Nana, memang ajaib nya kamu sayang”Afnan bergumam sendiri.
Lalu ia menyadarkan dirinya agar tak terlena oleh Dunia :
Ia bergumam dalam doa yang ia baca ber ulang, lafalan DOA dan Amalan sekaligus bermunajat kepada Allah, sebagai dzikir pagi nya,dari penyempurna segala ibadah nya.
ياالله بها ياالله بها ، ياالله بحسن الخاتمة
Ya Allah biha ya Allah biha, Ya Allah bihusnil khotimah
Arti: Wahai Allah, dengan mereka (Ahlul Bait), wahai Allah dengan mereka, wahai Allah , berilah akhir yang baik (Husnul Khothimah)
يارب ياعالم الحال، إليك وجهت الأمال
Ya robbi ya‘alimal hall ilaika wajjahtul amal
Arti:Wahai Tuhan yang Maha Mengetahui keadaan, pada Mu kusampaikan harapan
فامنن علينا بالإقبال ، وکن لنا واصلح البال
Famnun ‘alaina bil iqbal, wakun lana washluhil bal
Arti: Maka, anugerahilah kami dengan penerimaan, jadilah (pelindung) bagi kami, dan perbaikilah hati kami.
[Dan seterusnya....]
----------
Di rumah Ninen, setelah Afnan pergi Hasna pun masuk ke dalam, ternyata ia tidak benar benar tidur.
“Asalamua'laikum Ninen, Kiki, Nana Rindu kalian” pekik Hasna lalu mengecupi pipi dan memeluk mereka.
“Loh rupanya sudah bangun, ayo makan dulu, Nak Ustadz khawatir tuh, apapun kamu beli namun kamu sendiri belum makan” ucap Ninen.
“Hihi Ia Nin, ayo maem Nin, Ki, Nana lapar sekali nih” ajak Hasna, dan ia lebih memilih makanan di rumah Ninen dan makanan yang ia telah beli, ia meminta tolong untuk bik Rumi bagaikan ke tetangga sekitaran rumah saja.
Afnan kini sudah di meja kerja nya, terlihat lebih segar ia sudah mandi dan berganti pakaian serta sholat Dhuha di kamar hotel milik nya.
Kriing.. Kriiingg... Suara telepon Afnan,dan itu dari Ubaydillah.
“Asalamua'laikum Dek” _Afnan
“Wa'alaikumsalam A, A'a di mana?”_Ubaydillah
“Di kantor Dek, ada apa?” _Afnan
“Ada hal penting A menyangkut Devano”_Ubaydillah.
“Maksud nya Dek?” tanya Afnan.
Pokok nya ada kejadian Devano berpeluk pelukan di halaman parkir ponpes dengan perempuan dan perkirakan perempuan itu adalah Nona El, vidio dan foto sudah tersebar,bahkan Abi sudah tahu.
“Astagfirullah Al adziim” ucap Afnan.
“Nanti sore A'a bisa ke rumah sakit?, kita mengobrol di rumah sakit biar jelas!”
“Bisa dek, Ana selsaikan dulu pekerjaan di kantor ya” ucap Afnan.
“Iya A, Dedek tunggu, Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam!”
*************
Terimakasih sudah membaca, Terimakasih yang sudah like, komen, rate, vote bagi yang belum boleh dong ikut like, rate, vote, komen🙏👌😊😍