Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 59. Manuver Donut


"Bagaimana ustadz Afnan Al-jaris?" tanya Hasna dengan lantang.


"Sayaang, Sayang Please! hentikan. Aku gak mau apa itu duel-duelan." Afnan masih berusaha merayu Hasna agar menghentikan niatnya.


"Ahahahhahha. Ustaaadz.... Anda tidak beraniii? bukan kah Ustadz, suka tantangan? dasar pengecut! munafiiikkk." Pekik Hasna kemudian. Terdengar nada yang berapi-api di balik telepon.


Truth..tuut..tuutt.. Hasna memutuskan sambungan telepon nya.


"Arrrrggghhh!! Ya Allah. Aku tak ingin terlibat hal begini lagiii."


Teriak Afnan.


Afnan berdiri, ia merasa frustasi. Ia menghadap tembok lalu menempelkan kening nya pada tembok dan mengacak rambut serta memegangi kepala nya dengan kedua tangan. Ia menangis di sana. Memory kelam masa lalu nya, terbayang dengan jelas. Ia merasa berdosa.


"Ya Allah apa ini hukuman untuk ku? dari setiap dosa yang telah aku lakukan? jika betul. Maka, Aku pantas mendapat kan nya." Afnan tergugu karena tangisan.


"Lindungi istriku ya Allah, Aku sangat menyayangi nya. Tadi pagi masih baik baik saja! tapi kenapa, ada apa, ia sebegitu marah terhadap ku, apa yang salah dengan ku? Ya Allah ampuni Aku yang sudah jatuh cinta kepada bidadari labil itu."


Ucap Afnan kembali, bersuara keras dengan tidak malu lagi terhadap Ubaydillah dan juga tamu nya.


Lalu ia berbisik, masih dengan kening yang menempel pada tembok. "Nana? Ustadz sayang Nana. Please sayang, please Hentikan." Ucapan Afnan penuh harap, berfikir Hasna akan menghentikan niatnya.


Ubaydillah dan perempuan yang tadi serta ada seorang laki laki lain yang baru saja keluar dari toilet, hanya diam. Mereka ikut prihatin. Apalagi mereka adalah saksi bangkit nya seorang Afnan dari keterpurukan masa kelam yang begitu menakutkan.


NURMALA. Sahabat Afnan dari kecil. Ya perempuan itu adalah NURMALA. Siang itu ia bertamu ke rumah Afnan dengan tunangan nya, yaitu zainal. Dulu Afnan sempat menolak, Ketika Abi nya menyentil perjodohkan nya dengan Nurmala, Karena Nurmala sudah mencintai zainal.


Afnan pun hanya menganggap Nurmala sebagai Adik. Nurmala di besarkan di pesantren Karena orang tua mereka adalah salah satu Guru pembimbing di sana.


Zainal, adalah teman Afnan masa SMA.


Siang ini, mereka bertamu ke rumah kecil, Karena ingin menghantarkan undangan pernikahan mereka. Namun saat Hasna pulang ia hanya melihat Nurmala karena zainal sedang ke toilet saat itu.


Ubaydillah tahu mereka ada di rumah kecil, Karena sebelum nya mengantar Afnan pulang ke rumah. Nurmala sengaja berlama-lama di rumah kecil, karena menunggu Hasna pulang sekolah. Sebab ia ingin berkenalan secara langsung dengan Istri dari sahabat nya itu.


Nurmala serta zainal adalah orang lain, selain Ubaydillah yang tahu akan perangai Hasna dan kelakuan nya selama ini. Mereka tahu dari cerita Afnan dan Ubaydillah.


"Sob siapkan Mobil merah, Anta ikut sebagai Navigator." Tiba-tiba suara Afnan memecah keheningan.


"Tapi A'a Bro---?!" suara Ubaydillah terhenti.


"Kita ikuti permainan nya, sekali sekali dia harus tau keberanian suami nya. Ana hanya ingin sebuah kelembutan untuk nya.


Ana hanya ingin memanjakan nya, memberikan kembali kasih sayang, yang hilang dari ya." Ujar Afnan.


"Kak! apa Kaka yakin, akan meladeni kemauan istri Kak Afnan?" tanya Zainal yang sudah faham permasalahan nya.


"Ya Zain! sudah terlanjur. Ini murni kesalahan Ana. Yang memulai nya Ana dan Ana juga yang harus bertanggung jawab untuk mengakhirinya. Ini yang di sebut, senjata makan tuan," ucap Afnan.


"Maksud nya, A'a Bro?" tanya Ubaydillah.


"Ana sudah gegabah. Ana di butakan oleh kasih sayang, sehingga tidak sadar, saat ia meminta mahar mobil sport itu, Ana tidak berfikir jauh Karena Ana sayang terhadap nya. Ana hanya berbifikir tentang kebahagiaan nya. Ana lupa akan akibat nya." Tutur Afnan.


"Ya sudah, tolong siapkan mobil. Hubungkan sambungan GPS mobil Hasna ke mobil itu. Pastikan torsi dalam keadaan stabil." Pinta Afnan.


"Baiklah!" balas Ubaydillah.


"Ana siap siap dulu." ucap Afnan pada Ubaydillah.


"Kalau begitu, kami pamit Ustadz." ucap Nurmala dan zainal.


"Maaf Atas kejadian yang kurang nyaman ini." Ucap Afnan.


"Tidak mengapa Kak!" jawab zainal. "Kami mengerti koq Ustadz" sambung Nurmala


"Semoga semua baik baik saja Ustadz." ucap kedua nya di akhir.


"Terima kasih." ucap Afnan


"Sama-sama Ustadz! kami pamit." Zainal dan Nirmala pun berpamitan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum Salam."


Lalu mereka meninggal kan rumah Afnan.


Sepuluh menit kemudian, Afnan sudah berada di balik kemudi. Ia sudah siap menjajal tantangan istrinya untuk berduel.


"Di mana dia sekarang sob?" tanya Afnan.


"Ada di jalan xxx." Jawab Ubaydillah


"Oke! kita lewat jalan pintas saja. Bisa-bisa nya dia tau jalan itu. Jalan kosong yang biasa di buat track track an." Ucap Afnan.


"Ingat Bro! si gemez nackal itu, cepat ber adaptasi." ucap Ubaydillah.


"Oh iya juga." Afnan mengakui nya.


Tiga puluh menit kemudian, Afnan sudah sampai di jalan xxx yang Hasna tunjuk. Ia melihat mobil Hasna sudah lebih dulu sampai.


Kini mereka sudah pada posisi yang percis sejajar. Afnan membuka kaca mobil, ia berusaha membujuk Hasna agar mengurungkan niat nya.


Lalu Afnan menelpon Hasna. Masih dengan telepon mobil.


"Sudah siap Ustadz, Afnan Al-jaris," jawab Hasna ketika ia membuka jalur telepon nya.


"Sayang, please hentikan! kita bicara baik-baik, apa yang sebetulnya kamu inginkan?" tanya Afnan.


Kala itu, waktu menunjukan pukul Empat tiga puluh sore dan keadaan sudah mulai gelap karena akan turun hujan, petir sesekali terdengar menggelegar, seakan ikut mengomandoi kekonyolan Hasna.


Namun tidak ada jawaban dari Hasna, ia hanya membuka kaca mobil nya dan mengacungkan jari tengah ke arah Afnan.


"F**k!" gerakan bibir Hasna, sembari tersenyum sinis dari ujung bibir nya.


Afnan yang melihat itu Hanya mampu menarik nafas dan ber Istighfar. Ubaydillah bergidik ngeri.


Tak lama, Hasna menutup kembali kaca Mobil nya dan ia membunyikan mobil nya dengan suara menderu deru.


Bruummmmm .... bruuumm mmm... bruuummmmm...


Begitupun dengan Afnan, ia melakukan hal yang sama. Adrenaline nya terpacu, ia merasa dejavu belasan tahun yang lalu kini menyelimuti dirinya.


Setelah suara deru mesin panjang, Hasna pun menginjak pedal gas nya dan melesat cepat.


Bruuummmmm.....nggeeennggg!


begitu Hasna melesat, Afnan merasa di ajak start. Tanpa fikir panjang, Afnan pun menginjak pedal gas mendalam hingga menghasilkan kecepatan tinggi.


"Cek ke stabilan torsi, naikan PH Setelah dua ratus meter pertama." Pinta Afnan pada Ubaydillah. "Pantau berapa rpm kecepatan Hasna."


"Asiap Boss."


Afnan masih mengejar Hasna.


Deru mesin mobil saling bersahutan saat sudah saling mendekat. Sesekali terdengar dengungan kuat mesin, saat pergatian perseneleng dan di susul decitan memekikan telinga, suara perpaduan antara gas, rem, serta kopling.


Ketika berada di belokan tajam, mobil Hasna yang keluaran baru tak perlu bermanuver reverse entry. Ia bisa belok dengan hanya menarik stir. Namun lain dengan Afnan, ia harus berusaha sedikit lebih keras memegang kendali.


Afnan harus bermain dengan rem tangan nya. Hand bracking, agar roda belakang stabil. Ia harus beraksi sedikit backwant entry saat roda belakang stuck dalam beberapa detik. Mobil bermanuver seperti tergelincir baru Afnan bisa masuk ke jalur berbelok.


"Berapa kecepatan Hasna Sob?"


"Gak lebih dari dua ratus tujuh puluh rpm, stabil Bro!" ucap kencang Ubaydillah.


"Heh! ku fikir, kau mahir Nona. Lihat, bahkan kau tak menemukan Boosted pada Mobil mu." cibir Afnan.


"Ok! cari selah. Kita bisa menyusul nya dalam sepuluh menit, naikan boosted ke tiga ratus HP. Biar Ana bisa menyalip nya,lihat dua ratus meter ke depan, apa ada jalan bercabang?" tanya Afnan pada Ubaydillah.


Ubaydillah fokus pada laptop nya melihat apa yang Afnan petakan.


"Tiga meter pertama, ada jalan bercabang tiga A'a Bro." Ubaydillah memberitahukan temuan nya.


"Ok! mulai dari dua ratus meter pertama. Bantu Naikan HP di jarak seratus meter akhir. Biar pas kita salip Hasna, Ana dapat drifting 360, buat manuver Donut dan Hasna punya waktu untuk melambat di lima puluh meter awal." Ujar Afnan.


"Baik! Side bracking sepuluh meter pertama. Pertahankan speedometer, agar tidak menyentuh garis merah."


panduan Ubaydillah


Akhir nya, dalam lima menit, Afnan sudah berada di ujung belakang mobil Hasna. Ia sedang mencari celah, agar ia bisa masuk untuk mendahului nya.


"Heh! mencoba menyalip." nada merendahkan dari Hasna di balik kemudi nya.


Afnan mencoba menyetabilkan roda depan dan belakang. Ia bermain dengan rem tangan, hingga terkadang roda belakang mobil Afnan sedikit terangkat dan itu menimbulkan decitan serta dengungan mesin.


"Celah Bro?" Pekik Ubaydillah.


"Three ..... two ..... one .... go...,


back manuver! boosted! lalu....


drift oversteer." Arahan Ubaydillah.


"Bisa drifting 360 gak? jangan posisi nanggung tapi." tanya Afnan.


"Bisa Bro! Manuver Donut." ucap Ubaydillah.


Begitu ada kesempatan. Afnan melesat mendahului Hasna. Hasil nya, ia hanya ingin Hasna berhenti setelah seratus meter jarak Hasna tertinggal, maka Afnan bermanuver Donut. Mobil Afnan terlihat perputar di tengah jalan.


"Astaghfirullah!"


Hasna terkejut dan ketika melihat mobil Afnan sedang bermanuver jauh di hadapan nya. Maka ia berusaha menginjak pedal Rem dari lima puluh meter pertama. Akhir nya mobil Hasna berhenti.


Jadi, pertandingan di awali DNF (did not start) dan di akhir tanpa finish Hanya drifting 360 derajat dan manuver Donut oleh Afnan.


********


Author puyunghay (pusing) ah habis ikut nge drive sama Afnan...Hihi... Maaf kalau typo. Jangan Bully author yaaa.😁🙏 .. Vote like komen. 👌💐