
"Alhamdulillah! akhirnya sampai juga dengan selamat. kerasukan setan ngebut lo Na? bawa mobil kesetanan gitu, yang lo bawa itu ibu hamil dodol, bukan karung isi pupuk," cerocos Lintang yang dibawa ngebut oleh Hasna. Karena Lintang tak tega melihat wajah panik Elyavira antara ketakutan dan menahan rasa sakit.
Kini mereka sudah berada di parkiran rumah sakit. Butuh waktu 50 menit dalam mengendarai mobil dari Mesjid Alun-alun Desa di kota S itu hingga ke rumah sakit dengan kecepatan normal.
Namun tidak dengan Hasna, di dalam kendalinya Ia hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai ke rumah sakit. Maka dari itu tidak heran hingga Lintang mencak-mencak karena ia merasa kasihan terhadap Elyavira yang ketakutan.
"Hehe ma'af Lin. Kak Elya! kan biar cepat sampai." seringai Hasna.
"Sudah-sudah, Dek! Niqab kak Elya mana? ayo Dek, kak Elya sudah tidak tahan nih sakit nya," ucapannya Elyavira sembari menyandar lemah di bangku penumpang.
"Ini Kak Elya," Lintang menyodorkan Niqab Elyavira. Lalu Elyavira mengenakan nya dan Hasna turun dari bangku pengemudi membantu Elyavira keluar dari mobil.
"Hati-hati Kak!" ucap Hasna. "Baru ingat kata hati-hati lo Na? tadi kemana saja jiwa lo?" ucap Lintang Ketus. Ia masih merasa kesal terhadap Hasna karena membawa mereka dengan kecepatan tinggi.
"Yaelah Lin, sudahlah! harus gue putar balik, mengulang lagi perjalanan nya?" ucap Hasna menyenggol pelan pinggul Lintang yang juga sudah turun dari mobil, hendak membantu Elyavira turun.
"Ngacon Lo Na!" ucap Lintang dengan membalas senggolan Hasna. Kini mereka sedang memapah Elyavira menuju lobby rumah sakit.
"Awwsshh.. Astagfirullah. Dek, seperti ada yang basah mengalir, di kaki kak Elya," ucap Elyavira.
"Basah? mengalir?" tanya Hasna. "Iya Dek!" jawab Elyavira kembali.
"Na, lihat! itu seperti darah," ucap Lintang sedikit menyingkap gamis yang Elyavira kenakan. terlihat bercak darah yang merembes di celana panjang laging Elyavira sebagai dalaman gamis.
"Astagfirullah. Iya Lin, itu darah!" pekik Hasna.
"Hufff, ouhghh! Ya Allah. Sakit Dek! tolong..kak Elya, ingin Dev ada di sini," pintanya lirih Elyavira.
"Sabar ya Kak, setelah Kak Elya bertemu dokter, kami akan menghubungi Ustadz! agar membawa Dev ke sini ya," bujuk Hasna.
"Na, tolong bantu pegang kak Elya. Ini harus cepat-cepat Sampai ruangan dokter!
Gue mau meneriaki petugas rumah sakit minta kursi roda," ucap Lintang sembari melepaskan Elyavira dari papahannya.
"Jangan teriak-teriak Lin! ini rumah sakit, malu di lihat orang," ucap Hasna, namun belum pun ia kering berbicara! Lintang sudah menyeruak kedalam lobby rumah sakit.
"Suster, tolong bantu bawakan kursi roda! ada pasien hamil, sedang mengalami kontraksi," ucap Lintang secara lantang.
"Ya Allah Lin!" Hasna hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aduh! Astaghfirullahal’adzim," ringis Elyavira.
"Sabar Kak Elya! Nana telepon Ustadz sebentar ya," ucap Hasna.
"Iya Dek! heesssst," sahut Elyavira. Hasna menelepon Afnan.
Saat telepon Afnan sudah di terima, dan saling mengucap salam.
"Byby, sedang di kampus Devano sayang! ponsel Devano baik Adrian tidak dapat dihubungi, sepertinya mereka masih ada jam dan ponselnya di non aktifkan," ucap Afnan di seberang telepon sana.
"Iya By, Nana tunggu dengan segera! Kak Elya, ingin ditemani Devano, sedangkan Lintang bergaduh di sini," ujar Hasna pada Afnan.
"Astagfirullah, koq bisa sayang?" tanya Afnan.
"Ya, bisalah By! apa sih yang nggak bisa, buat Lintang. Dia tuh teriak-teriak begitu hanya karena kursi roda By." tutur Hasna.
"Hehe..Hadeeuuh Neng Lilin! ya sudah, tolong sayang, jaga Neng Elya dulu, Byby segera menelepon Dokter Anne, agar membawakan Asistennya menemui kalian," ucap Afnan.
"Baik By, terimakasih banyak. Tolong cepat By! Sudah banyak darah yang keluar dari Kak Elya," ucap Hasna. Dan mereka pun segera mengakhiri telepon masing-masing.
Setelah tak berapa lama dua orang perawat menghampiri mereka dengan Brankar Dorong. "Ibu Elyavira?" tanya perawat tersebut dengan sopan.
"Betul Sus, tolong cepat! ini sudah banyak mengeluarkan darah," ucap Hasna. Lalu membantu Elyavira naik dan merebahkan tubuhnya di atas Brankar dorong.
"Suster, Asisten nya dokter Anne kan?" tanya Hasna.
"Iya Bu! saya di tugaskan dokter Anne, menjemput pasiennya." ucap kedua pesawat tersebut.
"Ya Allah. Alhamdulillah," ucap Elyavira. Dek Nana, tolong beritahu Dek Lilin, sudah dong itu berdebat nya!" Pinta Elyavira lembut.
"Biar saja kak, Lintang tidak akan berhenti, sebelum lawannya meminta maaf. Biar menjadi urusan nya! kak Elya, tak usah berfikir yang berat berat ya," pinta Hasna.
"Ya Sudah kalau begitu," jawab Elyavira.
"Lin, kami duluan ya, tolong urus berkas berkasnya, minta kamar VVIP. Ustaz dan Kak Ubay masih di kampus Devano, sedang menjemput Devano," pamit Hasna.
"Oke Na!"
Hasna dan Elyavira berlalu dari lobby menuju ruangan dokter Anne.
"Kamar VVIP terbaik dan tersteril nih tanda pengenal dan alat pembayaran nya," ucap Lintang mengeluarkan tanda pengenal dan kartu ATM gold milik nya Devano.
Devano memang sudah berjaga-jaga memberikan Elyavira ATM untuk biaya persalinan, berbeda dari ATM untuk kebutuhan sehari-hari.
***
Di kampus Devano. "A'a bro, tadi menyebut nyebut Nama Lilin, di telepon?" tanya Ubaydillah.
"Iya tuh Dek sob! kata Nana, Istri Anta sedang berseriosa di lobby rumah sakit! hehe," jawab Afnan mengekeh.
Saat ini Ubaydillah dan Afnan sedang berada di parkiran kampus menuggu Devano. "Ahahah Hadeeuuh punya Istri barbar sholehah asik juga ya A'a bro, seru jadi ada hiburan tersendiri," ucap Ubaydillah enteng sekali pemikiran nya.
"Ya begitulah. Kan dulu hanya Ana yang ingin mempunyai istri penuh tantangan! mengapa saat ini Anta ikut-ikutan juga Dek," ledek Afnan.
"Ya Namanya juga jodoh A'a bro! lagi pula Kita sehati dari kecil, jadi kan sama-sama.
Berumah tangga pun harus dengan yang mirip mirip, agar adil," ucap Ubaydillah menyeringai.
"Ahaha Anta dek! aneh aneh saja. Eh itu Dev dan Adrian. Cepat Dek kabari tentang Neng Elya," pinta Afnan saat ia melihat Devano baru saja tiba di parkiran kampus hendak menaiki mobilnya.
"Asiiip A'a bro, Ana temui Dev dulu ya!" ucap Ubaydillah.
"Baiklah Dek!"
Ubaydillah pun turun dari mobil menghampiri Devano dan Adrian. "Dev!" Panggil Ubaydillah, Devano menoleh kearah suara.
"Bang Dav, koq ada di kampus Dev? sedang ada pekerjaan di sini?" tanya Devano. "Bang Dav, sengaja menunggumu Dev," Jawab Ubaydillah.
"Ada apa Abang, mencari Dev? atau ada hal penting Bang?" tanya Devano penuh selidik.
"Neng Elya, Dev!" ucap Ubaydillah. Devano merasa terkejut ada apa dengan Istrinya, karena Abangnya sampai menunggunya di parkiran. Ia tidak berfikir tentang kehamilan Elyavira yang memang usia kandungan nya baru tujuh bulan.
"Neng Elya, perutnya sakit Dev! Bang Dav juga tidak tahu penyebab nya. Tadi Nana menelpon mu berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Nana sudah membawanya ke rumah sakit," ucap Ubaydillah
"Sakit perut? ponsel Dev memang di non aktifkan Bang! ya sudah, tolong antar Dev ke rumah sakit Bang. Yan, nih mobil lo bawa saja," ucap Devano pada Adrian karena setelah ini mereka ada bimbingan belajar tambahan materi ujian di luar kampus.
"Dev! atau gue, ikut saja ke rumah sakit ya,"ujar Adrian. "Tidak perlu Yan! lo ikut saja bimbingan belajar, besok gua lihat materi apa yang disampaikan! oke gua ke rumah sakit dengan Bang Dav," ucap Devano.
"Oke, kalau begitu, kabarin gue nanti perkembangan Istri lo," ucap Adrian. "Siip Yan! gua pergi ya, Assalamu'alaikum," pamit Devano
"Wa'alaikumsalam." jawab Adrian. begitupun Ubaydillah mengucap salam berpamitan pada Adrian. Devano dan Ubaydillah kembali ke mobil Afnan dan Adrian membawa mobil Devano pergi dari parkiran untuk bimbingan belajar.
"Assalamu'alaikum Bang Ustadz! terima kasih ya sudah menunggu Dev," ucap Devano setelah sampai di dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam Dev! sama-sama, tidak mengapa. Habisnya dihubungi dari tadi, ponsel mu tidak aktif! Abang takut kamu pergi ke tempat lain lagi, setelah pulang ngampus, makanya Abang jemput saja," ucap Afnan.
"Hampir pergi memang Bang! Bimbingan belajar untuk materi ujian, sudah janjian dengan Dosen pembimbing di Universitas Siliwangi," ucap Devano.
"Ya sudah! mari kita ke rumah sakit sekarang, Pinta Ubaydillah. Mereka pun meluncur ke rumah sakit.
**
Di rumah sakit...
Elyavira sudah di ruangan bersalin dan sudah berganti pakaian memakai pakaian khusus Pasien bersalin.
"Dok Maaf, saya ingin menunggu suami saya. Saya ingin didampingi oleh suami saya," pinta Elyavira.
"Sabar ya, rileks saja dulu! Insya Allah suami mu sedang menuju kemari," ucap Dokter Anne.
----
Setelah sampai rumah sakit Devano langsung menemui dokter Anne karena tadi dokter Anne berpesan pada Afnan, agar Devano menemuni nya.
"Jadi Istri saya akan melahirkan di usia kandungan yang baru tujuh bulan dok?" tanya Devano kali ini ia di dampingi Granny. Devano menelpon Granny saat keluar dari parkiran kampus dan mereka sampai di rumah sakit dengan waktu yang hampir bersamaan lebih dulu Devano 10 menit.
"Betul, Dek Elya akan segera melahirkan dan karena usia kandungan nya baru saja 33 Minggu, kemungkinan besar bayi yang di lahirkan adalah bayi Prematur. Namun Adek tak perlu khawatir, saya pastikan organ tubuh si bayi cukup baik. Hanya mungkin tetap butuh perawatan di dalam inkubator untuk beberapa hari. Maaf Dek ini di luar prediksi saya sebagai Dokter," tutur Dokter Anne.
"Terimakasih Dok, sudah mau membantu kami. Tolong lakukan yang terbaik untuk Cucu mantu saya Dok," pinta Granny.
"Insya Allah Bu! saya akan melakukan dengan semampu saya." jawab Dokter Anne.
"Dok, boleh saya ikut menemani istri saya di dalam?" tanya Devano penuh harap.
Dokter Anne berpikir sejenak. "Baiklah, tapi tolong sebisa mungkin Anda tenang ya Dek," pinta Dokter Anne
"Insya Allah Dok!" ucap Devano.
**
Empat jam kemudian...
Terdengar suara tangisan bayi namun agak lemah tak selincah biasanya.
"Alhamdulillah, Selamat ya Dek Elya dan Dev, Seorang Putri dan Anda berdua sudah menjadi orang tua," ucap Dokter Anne
"Alhamdulillah sayang, Bayi kita telah lahir," ucap Devano pada Elyavira, seraya mengecupi kening Elyavira.
Setelah Devano mengumandangkan Adzan di telinga kanan dan I'qomah di telinga kiri bayinya. Suster membawa bayinya untuk melakukan pengecekan dan perawatan lanjutan kondisi bayi di karenakan lahir prematur.
"Alhamdulillah Pih! lalu mereka akan membawa nya kemana Pih? Elya Ingin menyusui nya," ucap Elyavira yang melihat bayinya di bawah suster menuju ruang perawatan intensive.
"Amih sayang! kata dokter, Anak kita lahir prematur dan mereka akan membawa nya ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit).
"Astagfirullah, lalu siapa yang akan menemani nya Pih?" tanya Elyavira. "Para perawat Mih yang akan menemani Putri kita," jawab Devano.
***
Beberapa jam kemudian...
Elyavira sudah berada di kamar perawatan di temani Hasna dan Lintang. Elyavira teihat murung karena memikirkan Anaknya yang kini sudah di dalam inkubator.
"Selamat Kak Elya," ucap Hasna. "Terimakasih Dek Nana," jawab Elyavira.
"Iya kak Waah, katanya perempuan yah kak?" kata Lintang. "Kata dokter sih iya. Tadi kan Kak Elya tidak sempat memeluk nya. Kak Elya hanya melihat nya sekilas," jawab Elyavira.
Tak lama Devano beserta Afnan dan Ubaydillah masuk ke dalam kamar perawatan.
As'salamualaikum," ucap mereka bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka juga secara bersamaan.
"Selamat ya Neng Elya." ucap Afnan lalu berucap doa untuk Elyavira. "Bismillahirohmanirohim.
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ
"Barakallah fii al mauhubi laka, wa syakarta al-wahiba, wa balagha asyuddahu, wa ruziqta birrahu."
Yang artinya: "semoga Allah memberkahi Anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak,"
"Syukron Bang Ustadz," ucap Elyavira lalu membalas nya.
فَيَقُوْلُ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ
“Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu.” (Shahih Al-Adzkar lin Nawawi.)
"Afwan Neng!" ucap Afnan pada Elyavira.
"Sayang, nampaknya di sini sudah terkendali dengan baik, jadi kita harus segera pulang! sudah dari pagi, kita berdua meninggalkan Twins," ajak Afnan.
"Astaghfirullah, Iya By mari pulang! kasihan Twins pasti sudah menanti kepulangan Biyya dan Mimmanya," ujar Hasna.
"Kami juga pulang dulu ya," sambung Lintang. "Iya, nanti malam atau besok kami kembali," timpal Ubaydillah.
"Baiklah Bang!" jawab Devano. Hasna, Afnan, Ubaydillah dan Lintang pun berpamitan pada Devano, Elyavira serta Granny.
Setelah mereka pulang, Devano membuka Niqab Elyavira dan Elyavira tak menolak toh di dalam kamar itu hanya tinggal Devano dan Granny. setelah Niqabnya di buka maka wajah cantik Elyavira teihat jelas dan nampak nya Elyavira murung.
"Sayang! semangat dong, Doakan saja putri kita agar keadaan nya segera stabil," bujuk Devano sembari duduk di sisi Elyavira yang kini bersandar pada kepala dipan rumah sakit.
"Lalu Putri kita nanti minum Asi-nya bagaimana Pih? kasihan Alnaira Pih!" ucap lirih Elyavira saat Devano sudah berada di sebelahnya. "Alnaira? apakah itu Nama anak kita Mih?" tanya Devano.
"Iya Pih! Apih boleh tak setuju," ucap Elyavira merundukan kepalanya. Granny yang sedari tadi duduk dan hanya diam karena prihatin melihat kegelisahan Cucu mantunya ia menghampiri Elyavira.
"Sayang, nanti mereka akan memberikan ASI melalui selang makan yang dipasang melalui hidung bayi. Jadi Elya masih dapat memberikan Asi,hanya tidak secara langsung. Tabahkan hatimu ya! kata dokter Anne walaupun lahirnya prematur, Putri kalian sudah kuat koq! hanya butuh di inkubator untuk beberapa hari saja. Untuk menyetabilkan keadaan nya lebih menguatkannya detak jantungnya, paru paru serta organ dalam lainnya," tutur Granny.
"Iya sayang, Kita harus tetap semangat! Bayi prematur itu bisa dibentuk menjadi orang yang excellent koq nantinya, tak ada pembeda antara bayi prematur dengan bayi yang dilahirkan saat usia cukup bulan sayang! Mari kita rawat Putri kita sama-sama dengan penuh cinta dan Kasih Sayang," ucap lirih Devano seraya mengecupi tangan Elyavira lembut.
"Maafkan Elya Pih! Granny, karena Elya tidak melahirkan Anak Laki-laki," ucap Elyavira sedih.
"Hay, sayang bicara apa sih kamu! Anak Perempuan ataupun laki-laki bagi Apih sama saja, terimakasih sudah mengandung dan melahirkan Anak Apih," ujar Devano lalu mengecup kening Elyavira dengan lembut.
"Iya Sayang! Anak laki-laki ataupun perempuan tidak masalah. Siapa Namanya?" tanya Granny.
*ALNAIRA NAJLA RYKER*
"Itu namanya Granny. Tapi Granny maupun Dev boleh tak menyetujui nya," ucap Elyavira tersenyum.
"Nama yang Indah sayang!" ucap Granny ia menggenggam tangan Elyavira.
-------
Tiga pekan kemudian...
Kini Devano dan Elyavira sedang merasakan kebahagiaan dan rasa bersyukur yang tak henti-hentinya. Mereka sudah berada di Villa Granny, setelah dua hari yang lalu pihak rumah sakit mengizinkan mereka membawa Putrinya pulang, karena sudah sehat sesuai kriteria Dokter.
"Naira..hay, Naira..Permata nya Apih dan Amih. Akhirnya kita pulang ke rumah ya sayang," celoteh Devano. Ia tak hentinya menggoda dan mengecupi putri nya pagi itu, Naira bagai mainan baru untuk Devano dalam dua hari ini.
Dengan gemas nya, Devano akan menggangu Naira sekalipun sedang tidur. Saat ini ALNAIRA sudah pulih dan sehat, berat badannya pun sudah bertambah.
ALNAIRA yang tampak menggemaskan, ia sedikit membuka matanya sembari tersenyum lalu tertidur kembali.
"Apih jangan di godain terus dong! kasihan kan Nai nya sedang Bobo," protes lembut Elyavira sambil bergelayut manja di pundak Devano.
"Sebentar sayang. Unch menggemaskan sekali sih nih, sudah mirip Amih nya yang juga menggemaskan." Devano menarik Elyavira kedalam pangkuan nya.
Saat ini pakaian Elyavira sangatlah Sexy mengingat kini mereka sedang berada di kamar dan itu sah saja demi membuat Devano senang dengan gaun tidurnya yang masih menempel, baju tali spaghetti berdada rendah dan panjangnya satu jengkal di atas lutut. Rambut yang di gulung asal, menambah kecantikan alami dan Ke seksian Elyavira di mata Devano.
"Apih jangan macam- macam! Amih masih dalam masa nifas," pekik Elyavira ketika Bibir Devano langsung mendarat di leher nya yang terbuka dan mulai menyalurkan gelitikan halus dalam tubuhnya.
"Iya tahu Mih! Apih akan tahan untuk tidak berbuat lebih jauh terhadap Amih koq," gumam Devano. "Tapi Amih harus membuat Apih merasa dalam surga dunia pagi ini dengan cara lain," ucap Devano menyeringai aneh.
"Tidak ikh, Apih apa sih," pekik Elyavira berusaha kabur dari pelukan Devano. Namun Devano menahan nya malah mulai menepikan bibirnya di tepian bibir Elyavira agar saling bertaut.
"Ayolah Mih. Masih banyak jalan menuju Roma ya kan?" bisik Devano setelah melepaskan diri dari membuai Elyavira. Setelah berbisik, kini ia tatap wajah malu malu Elyavira dengan senyuman nakal, serta tambah menggoda Elyavira dengan menaik turunkan alisnya.
***
Beberapa hari kemudian...
Hari itu adalah diadakan nya acara Tasyakuran kelahiran ALNAIRA NAJLA RYKER. Atau acara Aqiqahnya.
Rosululloh SAW bersabda:
"Setiap bayi tergadai dengan ‘aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” (HR Abu Dawud )
Rasulullah SAW juga memerintahkan mereka agar beraqiqah, dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. (HR Abu Daud).
Siang hari, Villa Granny sudah di penuhi para tamu undangan, sanak family dan para sahabat dari Devano dan Elyavira.
"Wah gak nyangka Dev! kita pikir, kamu masih lajang, gak tahunya sudah memiliki Istri dan Anak. Pantas saja kamu tidak pernah menggubris cewek cewek yang ngedeketin kamu," ucap salah satu teman satu kampus Devano.
"Yah, baru tahu kalian ya bro?" celetuk Adrian yang sedari tadi diam saja karena sibuk chat dengan Angela.
"Baru tahu, bro," jawab teman Devano yang lainnya.
"Alhamdulillah, ya begitulah! Hanya Istrinya aku lah yang menarik di mataku bro, hehe," ujar Devano. Akhirnya mereka pun mengobrol tentang hal lainnya.
Hingga Hasna, Afnan, Ubaydillah dan Lintang tiba dengan bersamaan. Kebetulan Abi dan Umi tidak dapat hadir karena sedang di luar kota.
"Assalamualaikum Dev!" sapa Afnan.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Devano, Adrian dan yang lainnya.
Devano memperkenalkan teman-temannya pada Hasna,Afnan, Ubaydillah dan Lintang. Ubaydillah yang tak nyaman Lintang di tatap oleh teman-temannya Devano, setelah berkenalan ia segera mengajak Lintang masuk menemui Granny.
Afnan dan Hasna pun pamit ke dalam villa di sana sudah ada orang tuanya Elyavira dan juga keluarga jauh dari Granny.
Acara Tasyakuran pun sudah berjalan, dari mulai pembacaan surah Al'quran yaitu Surah -Al-Israa, ayat 23-24-25 dst
- Thoha, ayat 99 s/d 104
-Surah Al-Muminun, ayat 115s/d 118
– Dsb.
Di lanjutkan dengan Pemberian Nama, Sebagaimana Sabda Rosululloh SAW
: أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم).
"Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang saleh” (HR. Muslim).
Setelah sambutan- sambutan dari pihak keluarga rab dan sedikit tausiyah dari Ubaydillah. Maka acara di lanjutkan yaitu mencukur rambut, sebagaimana Hadits di bawah ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau berkata,
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻘَﺰَﻉِ
"Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang dari 'Qaza'. Ditanyakan kepada Nâfi’ yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, “Apa Qaza’ itu?” Nafi’ menjawab, "Sebagian kepala anak kecil digundul, dan sebagian yang lainnya ditinggalkan.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Qaza’ adalah tindakan mencukur rambut anak kecil pada beberapa titik (secara acak) setelah kelahiran dan membiarkannya di beberapa titik lainnya sehingga tidak beraturan seperti gumpalan awan.
Rangkaian acara Tasyakuran Aqiqahan ALNAIRA pun selesai. Para tamu undangan pun sudah membubarkan diri. Kini Hanyalah tinggallah keluarga inti termasuk Hasna dan Afnan.
Hasna dan Lintang sedang Asyik menggoda ALNAIRA dengan AFSHA dalam pangkuan nya. Sedangkan AFKHA bersama Afnan yang sedang bercengkrama dengan para laki-laki.
Villa Granny di liputi rasa suka cita, setelah sebelumnya dihiasi murung Karena ALNAIRA masih dalam perawatan Dokter.
Next 👉