
Dalam perjalanan pulang, terdengar Afnan menghempaskan napas kelegaan. Ia seperti baru saja keluar dari rasa takut yang berlebihan.
"Hem." Gumam Afnan.
Afnan bersandar pada kursinya, ia memejamkan mata, pikirannya hanya di penuhi Hasna.
"Hasna, andai kau tahu. Betapa sulitnya menekan gejolak pada tubuhku, saat dekat denganmu. Terlebih melihat cantiknya wajahmu. Si mata yang biasanya mampu ku ajak kerjasama, kali ini menentangku. Kamu memiliki daya tarik yang luar biasa, dari cara bicara mu, perangaimu yang cuek, kamu yang terdengar polos dan apa adanya, namun keanggunan masih kurasakan dari setiap tutur kata yang keluar dari mulutmu, suaramu yang lembut, tutur kata yang santun, membuat Aku merasa di alam mimpi, tak percaya kalau Aku baru mengeluarkan kamu ari sebuah kelab." Celoteh batin Afnan.
"Sepertinya betul apa yang Nenek kamu katakan, bahwa kamu, sebetulnya Anak yang baik dan berjiwa besar. Namun, kamu lari dari kenyataan, karena kamu masih sangat belia dan labil ketika harus menerima hal menyakitkan serta kamu memaksakan diri menahan beban seorang diri." Batin Afnan lagi.
"Tidak sampai dua jam aku bersamamu, namun kau mampu membuat keraguanku hilang, aku akan mantap melangkah untuk mempersunting kamu, semoga tidak sia-sia ketika aku pernah memohon kepada Abi untuk dapat menikahi kamu. Hasna Aulia Zahrani," bisik Afnan dengan merdunya di ujung Kalimat.
Ubaydillah dapat mendengar samar bahwa Afnan menyebut nama Hasna secara lengkap. Ubaydillah hanya sedikit menoleh ke arah Afnan dengan tersenyum samar.
***
-Flashback dari satu bulan yang lalu-
"Silakan masuk Arlan, Jenny," sambut Pak Kyai ramah, yang di tujukan kepada Kakek dan Neneknya Hasna atau kedua sahabatnya siang itu, setelah selsai pengajian bulanan.
Afnan pun ada di sana waktu itu, namun setelah bersalaman ia pamit untuk makan siang. Afnan tidak bermaksud menguping, namun dari ruang makan terdengar jelas perbincangan mereka, karena mereka mengobrol di ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang makan.
Setelah berbincang berbagai macam hal, tiba tiba ...
"Ana khawatir pada Afnan, dia tak juga mau menikah di usia yang ana pikir sudah cukup. Bahkan saat ana sarankan untuk Ta'aruf, dia menolak. Alasannya belum siap," tutur Abi Kyai atau ayahnya Afnan.
"Wah, kenapa bisa sama ya. Ana juga sedang khawatir terhadap cucu perempuan ana. Tiga bulan ini dia tinggal bersama kami, namun akhir-akhir ini kami baru tahu dari pekerja kami, bahwa dia sering diam-diam keluar malam dan pulang pagi, makanya kami sewa orang untuk mengintainya dan benar saja ... dia pergi ke kelab, serta balapan liar," ujar Kakek Hasna dengan menghela napas dalam.
"AstagfirullahalAdzim," ucap mereka serempak.
"Maaf, mengapa tidak kita nikahkan saja mereka ya kyai? maksud ana, Nak Afnan dan Hasna, cucuku," usul kakeknya Hasna. Memang terdengar berkelakar dari nada bicaranya karena di selingi tawa kecil. Namun, ada makna yang dalam dari pendengaran Afnan.
"Hem ... mungkin ide bagus juga, coba nanti kami bicarakan dengan Afnan," jawab Kyai dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sebetulnya, Hasna adalah anak yang baik. Dia cantik, anak yang tak tamak harta juga dan perangainya cuek, saat ini rumahnya yang di Jakarta ia buat sebagai rumah singgah. Sebetulnya cucuku berhati mulya dan berjiwa besar." Neneknya Hasna mulai menceritakan perangai cucunya tanpa di lebih-lebihkan.
"Namun, kelakuannya mulai berubah dan sedikit nyeleneh sejak saat ayah dan ibunya berpisah yaitu anakku dan mantuku. Ia menjadi tak terkendali, dia berubah seperti bukan dirinya, menurut dokter ia terkena syndrome semacam rasa kecewa yang mendalam, tidak menjadikannya depresi saja sudah untung." Lanjut Nenek Hasna.
"Hasna memilih tak mengikuti salah satu dari orang tuanya, malah memilih hidup sendiri dari sejak kelas tiga SMP sampai kelas tiga SMA awal, dia hanyalah di dampingi Art saja, kenapa saat ini dia tinggal bersama kami? karena kasus terakhir terazia polisi akibat balapan liar. Papanya khawatir dengan pergaulan di Jakarta, karena Hasna tetap menolak tinggal dengan salah satu orang tuanya. Maka dari itu, dia di titipkan kepada kami."
Afnan yang mendengar cerita dari Neneknya Hasna, ia menajamkan telinganya, hingga tak ada satu katapun terlewatkan. Hatinya merasa terenyuh, ikut sakit mendengar kenyataan itu. Maka timbullah rasa penasaran ingin mengenal Hasna lebih jauh, ia seperti tertantang untuk memilikinya. Sepertinya gadis macam ini yang memenuhi kriteria untuk menjadi calon Istrinya.
---
Saat Kakek dan Neneknya Hasna sudah pulang, tiba-tiba saja Afnan menghampiri kedua orang tuanya. Dia Hendak membahas tentang Hasna.
"Abi, Umi. Boleh kah Aa bicara?" tanya Afnan.
"Oh tentu Nak, silakan!" jawab Umi dengan lembut seraya tersenyum.
"Silakan, hendak bicara apa?" timpal Pak Kyai.
"Abi, tolong Nikahan Aa dengan cucunya Paman Arlan." Pinta Afnan. Abi dan Umi Afnan tersentak, tak percaya apa yang baru saja mereka dengar.
Pak Kyai memang menyebut akan membicarakan usul kakeknya Hasna untuk menikahkan Afnan dan Hasna kepada Afnan. Namun, nanti malam setelah ada waktu luang, ternyata belum pun Pak Kyai berbicara, kini Afnan sudah memintanya terlebih dahulu.
"Sayang, apakah kamu yakin?" tanya Umi
"Afnan Yakin Umi, Abi. Maaf, bukannya Aa lancang. Tadi Aa tak sengaja mendengar perbincangan kalian dan Aa merasa tertarik dan tertantang dengan sosok gadis ini saat mendengar cerita dari Bibi Jenny. Walaupun Afnan belum pernah bertemu dan melihatnya," ujar Afnan. Ia berbicara begitu lugas, tegas dengan kemantapan.
"Baiklah, apa yang bisa Abi tolong untuk kamu?" tanya Abi dengan segala kesiapan.
"Khitbah dirinya untuk Afnan, Abi! beri saja alasan perjodohan, Afnan mohon Abi, Umi," ucap Afnan begitu memohon dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Abi dan Uminya merasa terenyuh, baru kali ini Putranya memohon dan itu untuk seorang gadis, yang bahkan ia sendiri belum mengenalnya.
"Baiklah, Abi akan meng-khitbahnya untuk kamu. Akan tetapi, apakah kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya nanti?" tanya Abi penuh selidik.
"Insya Allah, Afnan Siap!" jawaban Afnan mantap.
***
'Episode berikut, episode pernikahan Afnan dan Hasna yaaa ... harus di buat Megah atau sederhana ya?' Terima kasih sudah membaca.
Bersambung ...