
Tak selang berapa lama, polisi datang membawa Hasna beserta Adrian dan beberapa siswa lain sebagai saksi.
"Ayo masuk mobil Ade-ade, saya mohon kerja sama nya," ucap salah satu Polisi.
"Tapi Pak! sahabat saya ini tidak salah. Justru cewek itu yang mulai duluan pak!" bela Adrian untuk Hasna.
"Yan, sudah Ayo masuk, jangan berisik kaya b***i aja lo! justru kita ikutin nih maunya orang tua Kristine. Kalau gak salah, tenang saja! pasti kebenaran berpijak kepada kita," ucap Hasna karena ia tidak mau melihat Adrian memohon untuknya.
Hasna betul-betul tenang, ia cuek dengan keadaan sekitar yang memperhatikannya. kalau anak lain seusianya mungkin saja sudah menangis, berontak dan berteriak minta di lepaskan.
Hasna sudah terbiasa menghadapi masalah sendiri, jadi ia sudah kebal, walaupun dalam sisi lain jiwanya, menjerit, meronta, berteriak dan takut, yaitu dalam hati kecilnya.
"Sudah, ayo masuk nanti jelaskan di kantor saja."
sambung polisi yang tadi.
Tiga puluh menit, Hasna dan Adrian beserta teman temannya sampai di kantor polisi.
Hasna terlihat tenang, mengikuti apa yang di perintahkan Pak polisi saat ini ia sedang ada di ruang pemeriksaan.
"Kamu... coba beritahu
alamat dan nomor telepon orang tua mu!" pinta Pak polisi.
"Maaf pak! saya tinggal dengan paman saya, dan saat ini paman saya sedang keluar kota, mungkin pulangnya malam," ujar Hasna.
"Ya sudah nomor teleponnya saja, nanti kami hubungi, semoga malam ini paman kamu bisa hadir. Karena kalau tidak,
terpaksa kamu saya tahan dalam sel, menunggu proses berikutnya."
"Loh Pak! tidak bisa begitu dong! nahan orang tanpa bukti yang jelas!"
"Buktinya, teman kamu jatuh dan pingsan! menurut para saksi, kejadiannya saat sedang bertengkar dengan kamu, serta kamu sempat mencengkram tangannya." Polisi tersebut menyudutkan Hasna.
"Ya memang, kalau itu benar! tetapi kan tidak ada bukti fisik, saya berbuat kekerasan terhadapnya. Maaf Pak! Bapak tidak dapat menahan orang sembarangan hanya berdasarkan pengakuan verbal dari saksi, tapi bapak harus punya bukti visum juga, baru bisa menahan saya," ujar Hasna dengan lantang dan tidak gentar sedikitpun.
"Saat ini saya juga butuh pendampingan, setidaknya pengacara" cerocos Hasna
dia boleh diam, dia bisa terlihat tenang, namun ia juga berhak membela diri jika adanya ke tidak adilan.
Polisi pun geleng geleng kepala, kok bisa Anak seusia Hasna begitu tegas dan lugas dalam berbicara dan itu memang benar adanya.
"Ya baiklah, saya persilahkan kamu hubungi pengacara," ucap polisi
"Baik, terimakasih Pak! tolong hubungi saja paman saya dulu, di nomor ini,"
Hasna pun menuliskan nomor telepon Afnan pada secarik kertas.
"Baik, saya akan menghubungi paman kamu Dek, Kamu boleh menunggu di bangku sebelah sana." pinta polisi kembali.
Sedangkan Adrian dan saksi lainnya sudah pulang terlebih dahulu dan mereka di jemput orang tua masing-masing.
Ba'da maghrib Afnan baru saja masuk mobil setelah sebelumnya melaksanakan sholat maghrib dan istirahat sejenak, sekedar minum kopi di warung dekat mesjid tempat ia shalat sebelumnya.
"A'a bro langsung pulang saja?" tanya Ubaydillah di sela-sela aktifitasnya mengemudi.
"Iya lah Dek sob, Ana sudah rindu sekali dengan Istri Ana. Hehe..." jawab Afnan sambil tersenyum membayangkan segala tingkah kelucuan Hasna yang membuatnya gemas.
"Evet efendim" (siap pak bos/ b. turki). Sana eşine eşlik ettim"(saya antar Anda pada istri Anda)," ucap Ubaydillah, dengan tersenyum.
"Teşekkürler kardeşim,"
(terimakasih sob) balas Afnan.
"Rica ederim," (sama sama) ucap Ubaydillah kembali.
Saat mereka sedang bercakap tiba-tiba saja ponsel Afnan berdering.
"Halo, Assalamu'alaikum!" Sapa Afnan pada si penelpon.
"Wa'alaikumsalam, betul saya berbicara dengan Bapak Afnan?" tanya suara asing di seberang telepon.
"Iya betul, saya sendiri!" jawab Afnan.
''Apa Bapak mengenal seorang Hasna Aulia Zahrani?" tanya suara tersebut.
"Iya, saya mengenalnya, ada apa yah?"/ Afnan
"Maaf Pak! kami dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa keponakan Anda, Hasna Aulia Zahrani, saat ini berada di kantor kami sedang dalam pemeriksaan Karena kasus pertengkaran di sekolah." / Polisi.
"Astagfirullah.... sepertinya tidak mungkin pak!"/ Afnan.
"Untuk lebih jelas nya, silahkan Bapak datang ke kantor di Polsek xxxxxx," / Polisi.
"Baik! namun, saya dalam perjalanan pulang dari luar kota , apakah dapat di dampingi oleh pengacara Pak? karena saya akan terlambat sampai sana," /Afnan.
"Oh silahkan pak, silahkan hubungi pengacara Anda." / Polisi.
"Baik, terimakasih. Tolong perlakukan keponakan saya dengan baik Pak! sebersalah apapun dia,"/ Afnan.
"Baik pak, Assalamu'alaikum!" /Polisi.
Afnan memutuskan sambungan telepon nya.
Lalu menelpon pengacaranya, agar melakukan pendampingan terhadap Hasna di kantor polisi.
"Problem lagi A'a bro?" tanya Ubaydillah.
"Iya, Hasna berurusan dengan polisi lagi." Heee Afnan tersenyum hambar
"Waaah, Ana salut sama Hasna, Istri Anta keren A'a bro! dapat membuat jantung Anta berdebar tanpa harus berlari, Hehe." Ubaydillah mengekeh.
"Haduh, ya ya ya." Afnan mengangguk anggukan kepalanya.
"Jam berapa kita sampai sana kira-kira?" tanya Afnan kemudian.
"Mungkin jam sepuluh atau sebelas malam A'a bro!" jawab polos nan jujur Ubaydillah.
"Terlalu lama Dek sob, bisa kita usahakan sampai pukul sembilan malam?" tanya Afnan kembali.
"Bisa! Kalau Anta yang drive." jawab Ubaydillah.
"ups keceplosan, haduh runyam deh nih urusan!"
batin Ubaydillah.
"Aish, ok Ana yang bawa. minggir di depan!" mantap Afnan.
"Yaa ALLAH Lindungi kami,"
teriak Ubaydillah sambil turun dari mobil untuk tukar posisi , dia tau bagaiman Afnan bawa kendaraan dalam kecepatan tinggi. Ada rasa was-was, namun ia tidak dapat menolak, apalagi ini menyangkut Hasna, kesayangan si A'a bos.
"Mari Berdoa bersama sob. Sebelum jalan," pinta Afnan.
"Iya. BISMILLAH...," ucap mereka secara bersamaan.
Afnan mulai melajukan Mobil nya perlahan, kecepatan sedang, dan melihat jalan lengang ia tancap gas secepat kilat, terkadang jig jag mendahului mobil lainnya, di Jalan berkelok terdengar denyitan antara kopling, gas, dan sentuhan rem.
Ubaydillah pasrah sambil komat kamit. Ia lupa tadi keceplosan untuk Afnan yang bawa Mobil. Padahal Pak Kyai sudah mewanti- wanti agar Afnan tidak di biarkan membawa Mobil sendiri.
Ubaydillah mengingat kejadian kelam beberapa tahun silam yang hampir saja merenggut nyawa Afnan (nanti ya ada season kita bongkar kehidupan kelam Afnan sebelum menjadi Ustadz).
Dua jam kemudian,
"Alhamdulillah hirrobal alamiin..." ucap Ubaydillah penuh kemenangan dan ketenangan, namun ia merasa limbung.
"ya Allah Ana koq di samain dengan buntelan karung sih Ustadz? gak mikir di sebelahnya itu manusia yah, masih perjaka lagi," Ubaydillah bicara sendiri
Karena yang di ajak bicaranya sudah melesat masuk ke dalam kantor polisi
"Assalamualaikum bang Anton, ucap Afnan"pada pengacaranya.
"Waalaikum salam ustadz...," jawab Anton.
"Bagaimana, Bang?" tanya Afnan dengan penasaran.
"Sedang menunggu hasil visum," jawab Pengacara Anton lagi.
"Hasna, mana?" tanya Afnan kembali. Ia tidak melihat Hasna dari sejak masuk.
"Ada, masih dalam ruang pemeriksaan." jawab Anton.
"Mari kita masuk!" ajak pengacara itu. Afnan mengangguk.
Afnan melihat Hasna tengah bersandar lelah dan memejamkan mata di bangku plastik, ia masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Sayang!" bisik Afnan, ia takut polisi-polisi itu mendengar, karena tahunya kan Hasna itu, keponakannya.
Hasna membuka matanya perlahan. "Ustadz." ucap Hasna lirih
"Iya sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Afnan. sembari berjongkok di hadapan Hasna yang tengah terduduk.
"Aku baik saja kok, hanya lelah hampir satu hari di tanya-tanya dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang."
"Hehm... Nananya aku tuh kuat! sabar ya sayang, kita lagi proses tunggu hasil visum," ucap Afnan lembut sembari mengelus bahu Hasna.
"Ustadz percaya, Nana tidak bersalah!" Lalu Afnan berdiri sembari membuka jasnya dan memakaikan pada Hasna. Lambat laun Afnan mulai mengenal sifat dan karakter Hasna.
"Terima kasih Ustadz, sudah percaya pada Nana," ucapnya.
******
Vote
Like
Komen
Para Readers gemez kesayangan🙏😇