
Mobil Afnan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Meninggalkan jejak menghitam pada permukaan aspal jalan, hasil dari gesekan roda mobil dan aspal, asap tebal menyelimuti mobil tersebut. Decitan perpaduan gas dan rem terdengar memekik telinga.
Hasna yang melihat mobil Afnan berputar dan bermanuver donut, mau tidak mau ia harus menginjak pedal rem, ia berusaha menguasai laju mobil nya agar tidak me ngerm mendadak. Salah langkah sedikit bisa bisa ia bertabrakan dengan mobil Afnan.
Hasna berusaha menginjak pedal rem secara perlahan ia menurunkan kecepatan laju nya, Injakan demi injakan rem ia lakukan. Setelah ia rasa laju mobil cukup perlahan, baru lah ia injak rem secara normal. Pada akhirnya mobil pun berhenti melaju.
Mobil Afnan pun sudah berhenti dengan posisi memalang di tengah jalan pertigaan. Di dalam mobil Afnan, Ubaydillah masih mengatur nafasnya.
"Dek sob, tolong bawa Mobil pulang ke rumah kecil." Pinta Afnan. "Ana langsung pulang ke rumah utama Di ponpes. Nanti Anta nyusul, bawa mobil yang biasa kita pakai. Mobil ini, tolong di sembunyikan, jangan sampai Abi dan Umi melihat." Tandas nya kembali.
"Baiklah bro. Masalah pagar bagaimana?" tanya Ubaydillah.
"Hubungi bengkel pengelasan saja, ganti pakai pagar besi atau stainless. Memakai kayu kembali, bisa-bisa hancur untuk ke dua kalinya di tabrak bidadari labil itu lagi." Jawab Afnan.
Afnan pun turun dari mobil. Lalu ia menghampiri Mobil Hasna, terlihat bagian depan mobil Hasna rusak dan tergores di beberapa bagian, termasuk lampu LED crystal di sebelah kanan pecah dan meninggalkan lubang.
"Buka!"
Pinta Afnan dengan tegas, saat telah sampai pintu mobil Hasna. Nampak bicara dengan raut wajah datar nan dingin.
Hasna mengambil nafas, ia belum pernah melihat suami nya seperti itu. "Ustadz mau apa?" ia hanya membuka jendela.
"Buka dan geser!"
Afnan bicara kembali dengan tatapan tajam dan mimik wajah yang makin dingin.
"Tidak mau!" seru Hasna.
"Cepat buka! lalu geser!" ucap Afnan kembali tetap dengan nada dingin.
Ubaydillah sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, menuju arah yang berlawanan.
Awan yang sedari tadi ikut menyaksikan perduelan sengit mereka, akhir nya mulai menurunkan hujan titik demi titik yang akhir nya lebat. Afnan mulai sedikit basah Karena ulah sang awan.
Akhir nya Hasna berpindah duduk ke sebelah bangku pengemudi. Afnan kini berada di belakang kemudi, ia melihat ke arah Hasna, menatap Hasna dengan pandangan dingin tanpa bicara, lalu ia memejamkan mata.
Hasna melirik sekilas. Afnan menarik nafas dalam dan terlihat ia menelan ludah kelu dari jakun nya yang naik turun,
Rambut Afnan sedikit basah Karena air hujan.
Tak lama, Afnan menekan tombol star dan menginjak gas, mobil Hasna pun bersuara nyaring.
Bruummmm....,
Bruuummmm....,
Lalu Afnan memasukan persneleng gigi. Hanya dengan satu tangan memegang kemudi dan hanya satu kali putaran, mobil Hasna sudah berada di posisi yang berlawanan arah.
"Ustadz, ini mau ke mana?" Hasna buka suara dengan bertanya. Sedangkan Afnan hanya diam.
"Byy .... Please, jawab!" teriak Hasna"
"Hoby baru yah suka teriak teriak gitu?" ucap pelan Afnan namun terdengar tegas.
Afnan mengemudikan mobil makin kencang. Ia memilih masuk ke jalan tol, entah mau ke mana. Hasna pun tidak tahu.
Semakin masuk ke dalam jalan tol, ia merasa semakin bebas menaikan kecepatan, terlebih hari itu jalan tol lengang, hanya ada beberapa mobil besar yang melintas di dekat nya.
Sepertinya adrenalin Afnan makin memuncak. Ia kembali menaikan kecepatan ke dua ratus tujuh puluh rpm. Naik lagi hingga tiga ratus rpm/Hp.
Dan ia memegang kemudi hanya dengan satu tangan. Afnan nampak begitu tenang.
"Byby .... jangan ngebut dong! ini berbahaya!" Teriak Hasna.
"Berteriak lah pada cermin, jangan teriak padaku! lihat pantulan wajah mu!" Ucap kata kiasan Afnan, masih dengan wajah yang datar namun tenang.
"Maaf by! Maafkan Nana. Lalu kita hendak kemana?" Hasna sedikit melemah. Ia tersindir dengan kata kiasan dari Afnan.
"Test drive lah! ini mobil keluaran terbaru, mesin nya canggih. Sayang kan kalau cuma di bawa drifting pada jalan sepi." seringai Afnan dengan santainya dan tatapan nya fokus ke arah depan.
"So...., let's enjoy with me Baby." ucap nya lagi, kali ini ia menoleh pada Hasna dengan seringai yang sulit di mengerti.
Ketika Afnan berbicara,malah nampak layak nya seorang ba**ng*n.
Hasna melirik Afnan dengan gusar. Ia menelan kasar saliva nya. Sedangkan Afnan kembali menaikan kecepatan mobil itu. Hampir tiga ratus delapan puluh rpm, hingga terdengar suara komputer peringatan ambang batas kecepatan.
Deru mesin Mobil itu meraung raung.
"Memang nya aku sedang melawak? pakai harus lucu! lalu, siapa yang bilang ini pasar sayang?!" senyuman sinis Afnan tergambar dari sudut bibir nya.
Setelah peringatan dari komputer yang pertama mengenai ambang batas kecepatan. Kali ini Afnan mulai kembali menaikan kecepatannya. Hampir empat ratus rpm dan tidak lupa ia mengoperasikan boosted pada mobil itu agar larinya makin nurbo.
"Yuuuuu huuuuu!!! bagaimana sayang? Kamu suka, kan?"
teriak Afnan dengan seringai mengejek.
"Gak! Aku gak suka! By please ..... slowly!" pinta Hasna dengan wajah memelas. "Byby tolong, turunkan kecepatan nya. Aku masih pingin hidup, kita baru juga nikah kan By? Byby juga belum sempat buka segel nya aku."
Racau Hasna. Jantung nya kian berdebar. Hasna bericara sudah tidak jelas. Afnan tertawa dalam hati mendengar kata SEGEL.
Segaharnya Hasna. Kalau untuk kecepatan saat ini, Hasna belumlah berani. Terlalu beresiko jika salah sedikit saja.
Lalu Afnan mengarahkan mobil nya ke jalur sebelah kiri agak melambat, karena saat itu ia sudah mulai menurunkan kecepatan nya. Hasna merasa sedikit lega.
Namun dahinya berkerut tak faham dengan kelakuan Afnan. Suaminya mendekatkan ujung kanan depan mobil nya ke arah mobil besar lebih tepat nya truck tronton.
Afnan mensejajarkan Mobil nya dengan roda mobil besar tersebut. Dari senyuman nya yang penuh intrik, seperti nya ia memiliki sesuatu rencana.
Benar saja! dalam hitungan detik, dengan sengaja namun penuh perhitungan secara cepat namun pasti. Ia bawa masuk mobil itu ke dalam kolong mobil besar itu, dan keluar kembali dengan cepat ke arah jalur kanan.
Hasna teriak sembari menangis dan menutupi wajah nya dengan kedua belah telapak tangan nya.
"Astaghfirullah'aladzim Byby! Jangan gila kamu Byyyyy. Aaaaaakkkhhh! AllahuAkbar! hiikkss ... hiikkss... huaaaa...huaaaa.... hiiikkss hiiikkkss!!
Hasna berteriak dan menangis. Ia meluapkan segala ke khawatiran nya dengan teriakan dan tangisan yang tanpa di rencanakan.
Afnan tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana sayang? memuaskan bukan?"
Tanya Afnan kepada Hasna yang masih menangis.
"Ini yang namanya tekhnik drifting sayang! dan manuver yang tadi masuk kolong truk itu nama nya seluncur apolo. Sangat amat menyenangkan bukan, hah bagaimana sayang ku?" tanya Afnan kembali dengan tak hentinya senyum mengejek tergambar dari lengkungan bibirnya.
Afnan sengaja melakukan hal itu. Agar Hasna tidak kembali membahayakan dirinya. Setelah nya, lalu Afnan terdiam.
Raut wajah serius termangu menghadap ke arah depan jalan tanpa menghiraukan Hasna yang masih sesenggukan. Setelah berjalan agak lama dan hening, Afnan membawa mobil itu berbelok ke sebuah rest area. Afnan ingat, ia belum melaksanakan Sholat maghrib.
"Turun!" ucap Afnan dengan cuek ketika mobil sudah berhenti, seraya melepaskan safety belt nya.
Hasna pun turun dengan mata sembab dan dalam keadaan jantung nya masih tidak beraturan, wajah nya pucat.
"Aku Sholat dulu, tunggu Di situ. Jagan berulah, apalagi mencoba kabur!" ucap Afnan dengan dingin. Tanpa menoleh kepada Hasna. Lalu ia bergegas ke Musholla yang terdapat pada rest area tersebut.
Hasna duduk di kap Mobil nya bagian depan, banyak laki laki maupun perempuan yang melewati nya tak henti memandang dirinya. Perempuan cantik tanpa polesan makeup, dengan rambut tergerai indah, kaus putih yang cukup ketat dan menampakkan body yang terbilang seksi, celana jeans yang super pendek, sehingga mempertontonkan paha mulus nan putih bersih. Hasna nampak cuek dan tidak terpengaruh dengan tatapan takjub mereka.
Tidak berapa lama, Afnan kembali dengan sebuah paper bag kecil di tangan nya.
"Nih." Ucap nya singkat, dengan menyodorkan paper bag tersebut.
"Apa ini, By?" tanya Hasna dengan menatap wajah tampan suami nya. Dengan rambut masih agak basah dari sisa air Wudhu. Afnan terlihat luar biasa mempesona di mata Hasna. Hatinya bergetar dan gelitikan aneh menguasai tubuh nya.
"Makanan." Jawab Afnan, masih dengan bicara singkat.
Hasna membuka paper bag kecil tersebut. Isinya adalah dua buah burger, serta soft drink kaleng.
Lalu Afnan kembali masuk kedalam mobil dan menghidupkan kembali mesin mobil. Hasna masih ragu ketika ia hendak masuk ke dalam mobil.
"Tunggu apa lagi? masuk!" Pinta Afnan dengan tegas.
Lalu Hasna pun masuk ke dalam mobil dengan merunduk.
"Byy... jangan ngebut lagi yah, Nana ta-takuut." Pinta Hasna dengan malu-malu.
"Ahahahha.... tidak menyangka! singa betina, sekarang jadi penakut. Okke!! kita lihat saja nanti!!!"
Bersambung ....
********
Readers gemez kesayangan. Garing gak seeehhh?
🙏🙏😊😊 Like komen vote love.. Thank you!