Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 62. Cukup Siapkan Stamina


Masih dengan posisi tubuh Hasna bertelungkup di atas tubuh Afnan.


"By...."


"Uumm."


"Sampai kapan, Nana harus berada di atas tubuh Byby, seperti ini?" tanya Hasna pelan.


"Sampai pagi!" jawab tegas Afnan.


"What? Byby ... ya ampun, masa Nana harus bobo dalam posisi begini, sampai pagi?" pekik Hasan.


"Nikmati saja! ini hukuman untuk mu," ujar santai Afnan.


"Loh, kan tadi sudah By?"


"Yang mana?" tanya Afnan mengembalikan pertanyaan Hasna.


"Yang tadi pijat pijat Byby," ucap manja Hasna.


"Oh, itu sih bukan hukuman," jawab Afnan masih dengan nada santai.


"Lalu, apa?" tanya Hasna kembali, karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Afnan.


"Itu, hanyalah sebagai bakti istri terhadap suami." Jawab Afnan, "nah, hukuman yang sesungguhnya, ini dia baru di mulai." Ujar Afnan.


"Baiklah! toh hanya untuk satu malam ini saja." ucap cuek Hasna, menenggelamkan wajahnya di antara bahu dan leher Afnan.


"Siapa yang mengatakan itu, Sayang?" tanya Afnan penuh dengan penekanan.


"Maksud Byby?" Hasna menjengit terkejut.


"Eum ... skor kamu, main basket berapa?" tanya Afnan.


"Dua puluh tiga, By." Jawab Hasna.


"Ya sudah, dua puluh tiga malam juga, kamu akan tidur dalam posisi seperti ini," balas Afnan.


"Ya ampun By! bisa di ganti tidak, hukumannya?" tanya Hasna dengan penuh harap.


"Mmm ... bisa! Yang pasti hukumannya, lebih menantang dan mengasyikkan dari ini."


"Apa itu By?"


"Dua puluh tiga kali, buka segel dalam satu malam. Mau?" bisik Afnan.


"Tidaak! Byby mesum ikh," pekik Hasna.


"Ssst! koq teriak teriak, nanti menganggu tetangga." Bisik Afnan dengan tersenyum.


"Ikh Byby mesum, piktoooor."


Hasna lalu memukuli dada Afnan. Namun, Afnan mengunci kedua tangan Hasna dengan hanya satu tangan saja, dan salah satu tangannya masih melingkar pada pinggang Hasna.


"Hust! di bilang jangan teriak teriak." Bisik Afnan kembali.


"Biarin saja," ucap Hasna


"Sudah, ayok tidur." Ajak Afnan


"Tidak mau! ini tidak nyaman."


"Tidak ada, satu hukuman pun yang nyaman, Sayang!"


"Lagi juga, Byby kan sedang bersikap dingin padaku! mengapa harus hukuman seperti ini? mana aku belum mandi."


"Karena ... aku tahu, sejak kita menikah. Kebiasaan kamu tuh tidur di pelukan ku! biar saja, aku ketagihan bau badan mu, yang belum mandi itu!"


"Lagi pula jika aku diami Kamu saat tidur, maka aku khawatir, kamu akan mencari pelukan yang menganggur. Bisa saja kamu tidur berjalan ke kamar Ubaydillah, Hehe."


"Ya enggak lah By. Mana mungkin!" ucap Hasna malu malu. "By!" panggil Hasna kembali.


"Ummm."


"Mengapa marah, sayang?" tanya Afnan lembut.


"Ya, Karena ... Nana sudah marah sama Byby dan mengajak Byby balapan."


"Bukan type ku, membalas kemarahan orang lain, apalagi terhadap kemarahan Istri ku sendiri." Ujar Afnan.


"Terima kasih By."


"Untuk apa?" tanya Afnan.


"Untuk, tidak Marah pada Nana." Balas Hasna.


"Jangan senang dulu," ucap Afnan.


"Lokh, kenapa?"


"Karen, Aku belum sepenuhnya memaafkan mu. Kamu, tetap akan mendapatkan hukuman."


"Hukuman lagi?" tanya Hasna dengan terkejut.


"Yupss!"


"Hukuman apa itu By?"


"Belum Aku tentukan." Jawab Afnan.


"By .... tolong hukumannya jangan yang berat-berat yah!" Pinta Hasna.


"Baik! kalau kamu minta hukuman yang ringan, maka kamu dapat menyeselsaikannya hanya dalam satu malam saja." Balas Afnan.


"Apa itu By?"


"Berapa rpm kecepatan mobil mu?" tanya Afnan kembali.


"Sekitar dua ratus tujuh puluh rpm."


"Ok! cukup siapkan Stamina saja." Tandas Afnan.


"Hanya stamina By?" tanya Hasna meyakinkan.


"Iya! karena ... Aku, akan membuka segel mu, sebanyak dua ratus tujuh puluh kali dalam satu malam, Sayang! maka hukuman mu akan selsai dan aku akan memaafkan mu secara penuh." Bisik Afnan di telinga Hasna, dengan senyuman yang menggoda.


"Bybyyy ... ikh betul deh mesumnya ga ketulungan! tidak ... tidak ... tidaakk."


Hasna bergerak gerak di atas tubuh Afnan, sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa takut akan kata dua ratus tujuh puluh kali buka segel dalam satu malam. Satu kali pun ia belum pernah merasakannya.


"Astaghfirullah ... ini telinga manusia Sayang, bukan kuping panci!" seru Afnan.


Hasna memanyunkan bibirnya.


Afnan hanya tertawa di dalam hatinya. "Ahahah bidadari labil. Kena kau, aku kerjai! biasanya aku yang, Kau kerjai. Lagi pula mana sanggup, aku buka segelan mu sebanyak dua ratus tujuh puluh kali dalam satu malam ..." Afnan mengikik geli di dalam hatinya.


"Sudah tidur! agar kamu memiliki stamina ekstra untuk menghadapi hukuman mu."


Lalu Afnan pura pura tertidur agar Hasna tidak mengajak nya bicara lagi.


"Byby jahat!" ucap Hasna, ia pasrah ikut memejamkan mata, ia tidak bisa bergerak dari atas tubuh Afnan, Karena tubuh Hasna di kunci oleh pelukan tangannya, dan kaki Hasna yang sudah lurus sejajar dengan kaki Afnan itu pun, di kunci oleh kaki Afnan yang ia lingkarkan pada kedua kaki Hasna. Akhirnya mereka pun terlelap.


***


Pukul satu tiga puluh dinihari, Afnan terbangun. Ia memang rutin setiap malam sudah terbiasa bangun, untuk sholat tahajud.


Afnan membuka mata. Tubuhnya terasa ada yang menindih. Ia berpikir ulang akan kejadian semalam. Afnan ingat akan hukuman untuk Hasna. Maka ia tersenyum, Istrinya menurut saja! padahal bisa saja turun dari tubuhnya.


Lalu ia menggeser tubuhnya bergerak miring , sedikit demi sedikit, agar Hasna bisa ia turun kan dari tubuh nya tanpa membuat Hasna terbangun.


Setelah Hasna tidur pada posisi yang benar. Afnan mengecup kening, kedua kelopak mata, hidung dan kecupan kilas pada Bibir Hasna.


Tidak lupa ia mengelus kepala Hasna, setelah menyelimuti tubuh Hasna, ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Malam ini selain tahajud ia juga belum melaksanakan Salat Isya dan Witir.


Bersambung ...