
"Terima kasih Ustadz, sudah percaya pada Nana," ucap Hasna masih dengan tertunduk.
"Sama-sama, Sayang!" balas Afnan dengan suara yang lembut dan tersenyum menatap wajah Hasna yang ia angkat sedikit, sehingga kini bersejajar dengan wajahnya.
Senyuman Afnan menguatkan Hasna. Rasa lelahnya sedikit sirna. Ubaydillah baru saja masuk ke dalam kantor polisi. Ia menyusul Afnan yang masuk terlebih dahulu.
"Bagaimana A'a bro?" tanya Ubaydillah.
"Sedang menunggu hasil visum dokter, yang merawat terduga korban," jawab Afnan.
"Dapat kah, selesai malam Ini?" tanya Ubaydillah kembali.
"Inshaa Allah!
Bang Anton sedang mengusahakannya." jawab Afnan kembali.
"Sayang, sudah makan?" tanya Afnan pada Hasna dengan begitu perhatian. Hasna hanya menggelengkan kepalanya.
"Loh koq, belum makan? ya sudah hendak di belikan makanan apa?" tanya Afnan kembali, ia merasa khawatir karena dari siang Hasna pasti belum makan.
"Aku tidak lapar Ustadz, Aku hanyalah Ingin pulang!" lirih dari Hasna. Membuat sebagian kecil hati Afnan terasa di iris mata pisau.
"Ia nanti pulang koq, sabar yah! namun, sekarang makan dahulu," bujuk Afnan kembali dengan nada suara yang lembut.
"Iya Ustadz! namun, seandainya malam ini, Aku masuk sel bagaimana?" tanya Hasna dengan suara lirih dan terdengar nada keputusasaan.
"Maka, akan Ustadz temani!" jawab Afnan lantang.
"Dek sob, tolong carikan makanan ya untuk Hasna!" Pinta Afnan pada Ubaydillah.
"Baik bro Ustadz! siaaap.
Dek Nana mau makan Apa?" sambung Ubaydillah bertanya pada Hasna.
"Apa saja kak Ubay, terima kasih," jawab Hasna dengan tersenyum getir.
"Ma... ammaaa... ucap Ubaydillah, membuat lucu mimik wajahnya, (saking lucunya jadi pengen jitak online๐ ). Berlalu dari hadapan Afnan dan Hasna untuk mencari makanan.
**
"Ustadz...," panggil Hasna pelan karena malu.
"Yaaa..." Afnan pun menyahut panggilan Hasna dengan nada suara lembutnya.
"Nana sayang Ustadz." bisik Hasna tiba-tiba saja dengan malu-malu dan Afnan begitu terkejut sekaligus senang mendengarnya.
"Aih gak salah pendengaran kan? rasanya senang sekali mendengar itu, kalau gak malu! pasti sudah lompat-lompat nih! Aish lebay mu Afnan." Gumam Afnan dalam hatinya
"Hehe...terima kasih! Ustadz juga Sayang Nana!" balas Afnan. Lalu ia menggenggam tangan Hasna, kali ini mereka sedang di ruang tunggu, Afnan duduk bersebelahan dengan Hasna.
Jari Afnan dan Hasna saling bertautan(Jangan tanya, rasanya tentu saja dag dig dug seer, mungkin bagi Afnan mirip ABG baru nemu pacar ๐
***
Hampir satu jam, mereka menunggu, tak lama seorang polisi melewati mereka sambil membawa berkas.
"Assalamu a'laikum ya akhi! Imron." Ucap Afnan, lalu berdiri dan melepas genggamannya dari tangan Hasna.
"Wa'alaikumussalam! Masya Allah, Ustadz Afnan?" tanya polisi yang bernama Imron. Afnan menganggukkan kepala seraya tersenyum. Lalu mereka berpelukan
"Masya Allah, lama tak jumpa, apa kabar Anta sobat?" tanya polisi Imron.
"Alhamdulillah kabar baik. Betul lama... lama sekali, semenjak Anta bertugas di Blitar dan Ana ke Turki... Masya Allah sudah Naik pangkat rupanya Anta Sob!" seru bahagia Afnan.
"Alhamdulillah .... berkat doa Anta dan sobat lainnya kan, hingga Ana sudah naik pangkat ketika bertemu kembali." polisi Imron memanjatkan rasa Syukur.
"O yah! Nana sayang, perkenalkan, ini teman lama Ustadz, teman sekolah dan teman mondok juga ketika mesantren di jombang. Namanya Imron! polisi Imron." Afnan memperkenalkan sobat lamanya pada Hasna.
"Assalamua'laikum pak Imron! saya Hasna," ucap Hasna mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Wa'alaikumussalam ya Ukhty" jawab Imron
"Masya Allah...Masya Allah. Sedang Apa Anta malam- malam di sini Ustadz?" tanya polisi Imron.
"Menemani Istri, sedang masa pemeriksaan dan menjadi tertuduh penganiayaan." jawab Afnan.
"Masya Allah! Ini... Istrinya Ustadz?" tanyanya sembari menelan ludah dalam, seakan tidak percaya, sahabatnya ber Istrikan Anak sekolah. Itu terlihat dari seragam yang Hasna kenakan.
"Ya Akhi, baru menikah kemarin." Afnan nyengir kuda, ia paham ketika melihat mimik wajah sahabatnya.
"Ya Allah, pengantin baru, rupanya! menikah koq tidak kirim undangan. Masih sekolah Ustadz?" tanya polisi Imron karena melihat Hasna masih mengenakan seragam sekolah.
"Ia Akhy! sebentar lagi lulus koq! Kami di jodohkan. Maaf Ana tidak tahu, jika Anta sudah berada di kota ini. Sayang sekali kita bertemu dalam keadaan seperti ini." jawab Afnan.
"Ya ya ya. tidak masalah Ustadz, lain kali kita bisa mengobrol banyak!" ucap polisi Imron.
"Main-main lah ke ponpes, seperti dulu!" pinta Afnan.
"Insya Allah Ustadz!" sambung imron
"O yah, Ustadz mari ke ruangan saya, kita mengobrol di sana," ajak imron
"Terima kasih! mungkin lain kali, Ana sedang menunggu Hasil visum. Pengacara Ana sedang mengurusnya, di rumah sakit," ujar Afnan.
Ubaydillah baru saja masuk dari arah luar kantor polisi, ia membawa tentengan makanan.
"Dek sob, lihat siapa ini!" ucap Afnan.
Ubaydillah pun mengamati Imron, ia sedang mengingat wajah polisi itu. "Masya Allah Kak Imron! waaahh gagah nya pakai seragam." pekik Ubaydillah dengan kagum.
"Ubay... ck ck ck... Anta juga sudah besar nih!" ucap Imron. Dan mereka berpelukan.
Tak berapa lama pengacara Afnan yaitu Anton muncul membawa map berisi berkas di tangannya.
"Perkenalkan, ini bang Anton! pengacara keluarga Ana," ucap Afnan pada Imron. Mereka berjabat tangan.
"Baiklah, lain kali kita bertemu kembali Ustadz! slakan di lanjut, semoga hasil akhirnya memuaskan." ucap polisi Imron.
"Terima kasih ya Akhy! O yah mampir saja ke Ladhidh rest & food resto Akhy, dari senin hingga kamis Ana berada di sana." pinta Afnan
"Wa'alaikum Salam."
"Ustadz, Ana hanya dapat ini saja." Ubaydillah menyerahkan bungkusan makanan berisi kebab dan beberapa buah roti bungkusan, serta air Mineral.
"Sayang minum dulu yah!" pinta Afnan, sambil membuka tutup air mineral dan menyodorkanya kepada Hasna.
"Terima kasih, Ustadz." Hasna meraih botol minuman itu, lalu meminumnya.
"Ustadz!" panggil pengacara Anton, agar Afnan mendekat kepadanya. Afnan pun menghampirinya. Lalu terlihat pengacara Anton berbicara pada Afnan dengan berbisik.
"SubhanAllah, Astagfirullah!"
Tiba tiba saja Afnan bersuara seperti terkejut.
"Ya sudah, mari kita ke ruang pemeriksaan dan selesaikan malam ini juga!" ajak Afnan pada Anton sang pengacara.
"Dek sob! tolong temani Nana, kami masuk ke dalam dahulu," ucap Afnan pada Ubaydillah.
"Baik A'a Bro," jawab Ubaydillah.
Afnan melihat Hasna sedang mengunyah kebab nya.
"Sayang... Aku ke dalam dulu!" pamit Afnan. Hasna menganggukkan kepalanya dan sebelum pergi Afnan membelai kepala Hasna.
**
Lima belas menit kemudian, Afnan dan pengacara Anton terlihat keluar dari kantor pemeriksaan dan bersalaman dengan tiga orang polisi. Lalu menghampiri Hasna.
Saat ini jam menunjukkan hampir pukul dua belas malam.
"Mari pulang sayang," ajak Afnan tiba-tiba saja.
"Ustadz, betulan ini kita pulang?" tanya Hasna tidak percaya.
"Ia sayang, kita pulang! Alhamdulillah, kasus kamu sudah selsai." jawab Afnan dengan tersenyum penuh kelegaan.
"Alhamdulillah hirobbal'alamiin." Ucap Hasna. Ia pun tersenyum dengan kelegaan.
***
Di parkiran.
"Terima kasih, bang Anton." Ucap Afnan, lalu berjabat tangan.
"Sama-sama Ustadz! o yah, sepertinya kita pernah bertemu ya Dek Hasna! ketika Anda masih SMP. Anda yang tidak sengaja menabrak Mobil Ustadz. Dan itu saya yang mengurusnya! saya ingat betul, Nama Ayah Anda, Nama Anda dan wajah Anda! walaupun samar namun pasti! apakah Anda ingat? lihat wajah saya baik-baik!" ujar pengacara Anton dengan tidak ada keraguan.
Hasna diam, lalu ia menjawab pertanyaan pengacara Anton.
"I-iya, saya ingat! betul saya mengingatnya tadi, saat melihat Anda baru tiba. Saya memang Hasna yang dulu pernah menabrak mobil secara tidak sengaja! namun saya tidak tahu! kalau mobil yang saya tabrak itu adalah mobil miliknya Ustdaz!" jawab Hasna membenarkan.
Ubaydillah dan Afnan saling memandang. Mereka sedang mengingat kejadian beberapa tahun silam! mereka pun seakan tidak percaya dan terkejut mendengarkan kenyataan itu. Terlebih lagi Afnan, ia betul-betul merasa terkejut, berarti tanpa sepengetahuannya dan tanpa sengaja, ia pernah beberapa kali bertemu dengan Hasna.
"Masya Allah, ternyata kita pernah hampir bertemu sebelumnya." ucap Afnan dengan nada yang sulit di jabarkan.
Hasna hanya diam tertunduk. Ubaydillah masih menggeleng- gelengkan kepalanya tidak percaya. Afnan hanya tersenyum simpul sembari menatap Hasna.
"Baiklah Ustadz! saya permisi," pamit pangacara Anton.
"Silakan Bang Anton, terima kasih sekali lagi." ucap Afnan.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Akhirnya mereka berpisah, pengacara Anton mengendarai mobilnya sendiri. Afnan, Hasna dan Ubaydillah berada di mobil yang sama.
Di dalam Mobil,
"Dek! maaf Ana temani Nana di belakang," ucap Afnan.
"Tidak masalah A!" balas Ubaydillah.
Afnan duduk di sebelah Hasna. Ia melihat Hasna sedang meremas jas Afnan yang ia kenakan sambil merunduk.
"Mau menangis? menangis lah sayang! Jangan pura-pura tegar dan kuat! saat ini... kamu memiliki Aku, sebagai pelindung mu!"
"Menangis-lah sayang, tidak perlu di tahan! Ku pinjamkan tubuhku! bagian mana yang Kau sukai untuk menumpahkan air matamu, silakan!" Afnan menatap lembut Hasna, dengan sedikit rasa iba.
"Iya ustadz! terima kasih, Nana pinjam bahu ustad bagian belakang." Afnan memajukan duduknya.
Tidak lama Hasna membenamkan wajahnya pada bahu bagian belakang Afnan.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Afnan meraih bahu Ubaydillah, pertanda menahan untuk tidak melaju dahulu! membiarkan Hasna agar menangis hingga selesai. Ubaydillah pun mengerti. Ia menyandar lesu pada sandaran bangku kemudi.
Afnan memejamkan matanya, ia sedang ikut merasakan betapa hancur perasaan Istrinya. Hasna selalu pura-pura pura kuat, tegar, terkesan biasa saja terhadap persoalan apapun yang menimpanya.
Afnan tahu Hasna pantang menitikan air mata di depan orang lain. Namun kali Ini ia suaminya, ia ingin Hasna berbagi kesedihan, kepiluan bersamanya.
Tangis Hasna akhirnya mereda, namun masih terdengar isaknya sesekali. Lalu Afnan meraih Hasna ke dalam pelukannya. Ia memeluknya erat, penuh kasih sayang dan kehangatan, mengelus lembut kepala Hasna dan membiarkan Hasna menangis di dadanya, kemeja bagian belakang Afnan, sudah basah dengan air mata Hasna.
Ubaydillah pun ikut merasa terharu dengan kejadian itu.
"Dek sob, jalan! kita ke rumah kecil saja. Kalau ke ponpes, pasti Abi dan Umi bertanya- tanya, biar nanti Ana telepon meminta izin menginap di rumah kecil." pinta Afnan.
"Baiklah A'a Bro!" balas Ubaydillah. Lalu ia pun melajukan mobil nya.
Bersambung...
*******
Hai Hai Readers Gemez kesayangan! yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih atas dukungannya. Terima kasih atas vote, like and komentar, serta Krisannya๐ Author tidak dapat membalas apapun, selain doa terbaik untuk setiap Readers Gemez Kesayangan. Semoga Allah membalas kebaikan Kalian. Terima kasih ๐๐๐๐๐๐
.