Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps. 156. petualangan PU


"Dek tunggu..." Afnan masih berlari menyusul Ubaydillah, "yaah dia masih trauma lihat zenajah di instalasi pemulsaraan zenajah" ucap Afnan, dia ingat waktu Ubaydillah kecil terperangkap di ruang zenajah saat Abi dan Umi menjenguk sahabat nya yang selsai operasi dan Ubaydillah yang hyper aktif lepas dari Abi dan Umi nya , menurut Ubaydillah ia mengikuti perawat yang membawa bunga namun ia tertarik ketika ada perawat lain keluar dari instalasi zenajah, saat dia masuk ia lihat beberapa orang berbaring di tutup kain putih dan tak bergerak, dan saat Ubaydillah menyadari bahwa itu adalah almarhum dan almarhumah, maka iapun Segera berlari keluar namun pintu telah terturup dan terkunci, dan entah apa yang terjadi di dalam, maka dari itu sampai saat ini Ubaydillah fobia gelap dan ruangan tertutup, satu jam lebih Ubaydillah berada di dalam hingga Abi dan Umi menemukan nya berkat bantuan pihak rumah sakit, dari pantauan CCTV, Ubaydillah terlihat masuk ke ruangan tersebut.


"Dek, tunggu!" seru Afnan, akhir Ubaydillah pun berhenti berlari saat ia lihat keadaan sudah ramai orang, ia terduduk di bangku tunggu, mengatur nafas dan menenangkan detak jantung nya yang juga ikut berlari.


Afnan duduk di sebelah Ubaydillah, dan iapun ikut mengatur nafas, "Dek, masih trauma saja Anta dengan kamar zenajah?" tanya Afnan.


"Iya A, aduuh Ana masih ingat waktu terkunci di ruangan seperti itu ketika kecil" ucap Ubaydillah setelah bernafas lebih baik.


"Memang nya ada apa dek, orang cuma almarhum dan almarhumah yang sudah tidak bernyawa,mengapa harus takut" ucap Afnan.


"Yah A'a gak tahu sih, serem tau A ada yang berdarah darah, ada yang....... iih sudah lah, kalau di ceritakaaann, isi kamar itu bisa pindah ke alam mimpi, huuuff.. Astagfirullah, hehe sudah seperti film horor Bangsal 13 jadinya A" ucap Ubaydillah dari mulai bergidik hingga menyeringai dan tertawa.


"Heeuuhh Anta dek, masih saja mengingat film horor saat genting begini, iya Ana faham, kalau Anta sampai berjurus langkah serebu ketika di depan kamar para Almarhum dan Almarhumah itu Karena trauma masa kecil" ucap Afnan.


"Iya A, astagfirullah Ana haus nih, cari minum di mana ya?" tanya Ubaydillah.


Lalu Afnan mengedarkan pandangan ke sekeliling, biasa nya ada botol air mineral atau kran air minum khusus para pengunjung, dan di salah satu koridor, Afnan melihat air minum botol air mineral .


"Alhamdulillah, dek sebentar ya" ucap nya sembari berdiri


"Mau kemana A'a bro, jangan tinggalkan Ana" ucap Ubaydillah.


"Tuuh..." tunjuk Afnan pada botol air mineral.


"Oh alhamdulillah, ayo A" ajak Ubaydillah.


"Iya ayo dek, setelah minum kita bergegas cari mereka, jikalau jam besuk nya off, kita sudah tidak dapat mencari mereka" ucap Adrian sembari berjalan menghampiri air botol mineral yang terpasang pada dudukan nya.


Setelah di rasa cukup dan haus mereka hilang , mereka kembali berjalan ke koridor lain mencoba mencari keberadaan mereka, dan saat mereka berpapasan dengan kedua orang suster yang sedang berbincang secara tak sengaja, Afnan dan Ubaydillah menangkap dengar perbincangan mereka.


"Iya alhamdulillah ibu hamil beserta bayinya selamat ya, hanya belum sadar, salut dengan anak anak muda yang membawa nya, mereka cepat tanggap malah mereka mau menanggung biaya persalinan si bumil, padahal tidak saling mengenal dan keluarga ibu itu pun belum ada yang hadir" Perbincangan kedua suster tersebut.


"Dek,...??!!"


"A....?!!"


Ubaydillah dan Afnan saling memandang, "Ruang bersalin" ucap keduanya serempak saling menunjuk, dan meraka bergegas menuju koridor yang memang khusus pelayanan obgin dan persalinan.


Tak berapa lama mereka sampai pada koridor khusus ibu hamil dan bersalin.


"Hmmm maksud ucapan suster tadi itu, mereka bukan ya A? " tanya Ubaydillah.


"Mudah mudahan saja dek" jawab Afnan.


Dari kejauhan masih di koridor yang sama, samar samar siluet tubuh Devano sedang bersandar pada dinding salah satu ruangan kamar rumah sakit.


"A Devano bukan itu" tunjuk Ubaydillah pada siluet tubuh laki laki tinggi dan tampan.


"Mmm.. Iya dek, itu seperti nya Devano, Alhamdulillah jika itu Devano, maka petualangan PU ber akhir sudah"


ucap Afnan.


"Petualangan PU?" tanya Ubaydillah


"Iya, petualangan para Ustadz Hehe" seringai Afnan.


"Aduuhh A'a bro titisan srimulat juga ahhehe" Ubaydillah ikut menyeringai.


"Mari A" timpal Ubaydillah.


Lalu mereka menghampiri laki laki yang mereka perkirakan Devano. Dan betul memang itu Devano, "Assalamu dik" salam Ubaydillah, Devano pun menoleh pada sumber suara " Waalaikum Salam, Bang Dav.. aaaaaahhh hikz hikzz akhir nya gue ditemukan, Alhamdulillah gue selamat bang, gue teraniaya bang sama cewek cewek" ucap Devano sembari memeluk Ubaydillah dan menangis.


"Cup cup cup" bujuk Afnan mengelus bahu Devano yang sedang memeluk Ubaydillah, walaupun mereka belum mengerti apa yang terjadi dan mereka pun merasa cemas namun menenangkan Devano adalah kunci dari jawaban yang sedang mereka cari.


"Sudah Dev, apa yang terjadi sampai kamu menangis seperti itu , dan di mana para Istri kita? " tanya Afnan.


"Iya bang, hadeeuuh aku di aniaya oleh mereka bang, lihat tuh tanganku penuh cakaran rambut ku habis di unyel unyel" ucap Devano sembari menperlihatkan luka cakar, di lengan dan pelipis.


"Astagfirullaaah.." Ucap Afnan dan Ubaydillah bersamaan, " siapa dan mengapa kamu di aniaya mereka dik , dan lalu mereka di mana? Tanya Ubaydillah.


" Lintang, Angela dan Nana yang menganiaya, itu melahirkan di ruang bersalin" ucap Devano.


Deg, jantung Afnan berdebar, "Sayang, tidak mungkin kamu yang melahirkan, usia kandungan mu belum pun genap empat bulan, atau..... Astagfirullah Al adzim " ucap nya, dan Afnan berlari menuju ruang bersalin, Afnan terlihat panik dan begitu saja ia membuka pintu ruang berasalin, braakk..pintu terbuka, "Astagfirullah" ucap dokter dan tiga orang perawat.


"Maaf pak, Anda di larang masuk" usir seorang suster.


"Tapi saya suami nya sus" Afnan berbicara agak keras karena panik.


"Oh syukurlah, jadi Bapak suami nya ibu ini?" tunjuk suster pada seorang wanita yang sedang berbaring di tempat tidur pasien.


"Kebetulan pak bayi ini harus segera di adzankan" ucap suster.


"Tapi sus saya bu.." ucapan Afnan terpotong saat suster itu sudah menempel kan bayi baru lahir itu kedalam lengan nya, dan Afnan terpaksa menggendong nya dengan canggung, Karena ia belum pernah menggendong bayi baru lahir itu, lalu Afnan membawa nya menghadap kiblat dan mengadzani di telinga kanan, lalu iqomah di telinga kiri, dan membaca surah al-Ikhlas sebanyak tiga kali sesudah nya, Afnan menyerah kan kembali bayi tersebut pada suster, dan saat ia menoleh tatapan matanya langsung tertuju pada Hasna yang sedang duduk di bangku agak ke pojok dinding, Angela dan Lintang berdiri di sisi kanan dan kiri Hasna sedang merangkul pundak Hasna.


"Sayang" ucap Afnan.


"Byyy" ucap Hasna, lalu menghambur ke dalam pelukan Afnan, " byby Nana takut by" ucap Hasna dan terisak.


Dokter dan suster yang melihat itu saling menatap, "Loh pak, bukankah Istrinya nya yang ini?" tanya suster pada Afnan.


"Bukan sus, Istri saya yang ini" ucap Afnan


"Istri nakal yang membuat suaminya kehilangan arah" bisik Afnan. Masih dengan Hasna di pelukannya.


"Ooh terimakasih pak, Istri Anda beserta kawan kawan nya penyelamat ibu ini, jika saja terlambat memabawa ibu ini, maka mungkin saja salah satu nya tidak tertolong atau lebih buruk mungkin akan kehilangan keduanya, dan saat ini kami sedang menunggu ibu ini siuman pak, agar kami dapat menanyakan keluarga nya" tutur dokter


"Iya dok, Terimakasih.. maaf saya akan menunggu di luar saja , kira kira berapa lama lagi Ibu ini sadar dok? " tanya Afnan.


"Mungkin 15 menit hingga 1 jam pak, namun berdoa saja kurang dari 30 menit" ucap dokter.


"Baiklah dok saya permisi, dan saya akan ikut menanti hingga keluarga ibu ini dapat di hubungi dok" ucap Afnan.


"Silahkan pak, Alhamdulillah jaman sekarang masih ada anak anak yang perduli" ucap dokter itu.


Afnan pun membimbing Hasna keluar ruangan, dan memabawa nya duduk di bangku tunggu.


Lintang yang baru saja keluar, ia pun menghampiri Ubaydillah dan memeluk nya, "Yang maafkan Lilin " ucap nya, "ia tapi nanti jelaskan apa yang terjadi" pinta Ubaydillah.


Devano dan Angela juga ikut duduk di bangku tunggu.


*******


Terimakasih telah membaca, maaf jika cerita author telah menimbulkan emosi hingga menimbulkan perasangka buruk, Author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, namun ingatkan saya dengan nasihat bukan men judge apalagi menyetempel dahi saya dengan CAP buruk๐Ÿ™๐Ÿ‘Œ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡mari budayakan berHUSNUDZON ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜