
Ba'da maghrib Ubaydillah dan Lintang masuk ke dalam kamar pengantin mereka, setelah mereka sholat mahgrib berjamaah bersama orang tua dan Art nya Lintang.
Di dalam kamar, cukup lama mereka diam, canggung, bingung, kikuk itulah yang terjadi,Lintang masih merasa malu sebetul nya dengan kejadian tadi shubuh, dan Ubaydillah yang biasa nya aktif kini ia seakan kehilangan gaya.
Eheem,, suara deheman Ubaydillah memecah ke heningan, lalu Ubaydillah membuka jas nya dan kemejanya, kini tinggalah t-sirt putih yang ia kenakan sebagai dalaman dan celana panjang saja.
Karena tak ada yang memulai, maka Ubaydillah menghampiri Lintang yang duduk di sisi tempat tidur, "dek Lilin sayang tidak mandi?" ucap Ubaydillah.
"Mm.. Mandi koq kak Davi sayang" ucap Lintang.
"Ya sudah mandi saja terlebih dulu, kak Davi ingin rebahan sebentar " ucap nya
"Iya kak Davi sayang," lalu Lintang pun berjalan menuju kamar mandi dan Ubaydillah merebahkan tubuh nya di atas kasur yang sudah di hias sedemikian rupa..
Tak lama Lintang keluar dari kamar mandi masih dengan pakaian lengkap, dan Ubaydillah memperhatikan Lintang, namun ia bingung melihat Lintang malah ingin keluar kamar
"Dek Lilin sayang mau ke mana, memang tidak jadi mandi? " tanya Ubaydillah dan menghentikan langkah nya Lintang.
"Ah em, ini kak Dav sayang, ingin meminta tolong mamih untuk membantu membuka pa..paak..kaian Lilin, oppss" Lintang merasa malu.
"Hehehe memang di sini tidak ada orang yang dapat di mintai tolong" ucap Ubaydillah menyeringai serta menghampiri Lintang, dan menuntun Lintang ke kamar mandi.
"Kak Dav mau apa?" tatapan polos Lintang pada wajah Ubaydillah.
"Loh katanya ingin di tolong membuka kan pakaian, kak Davi sih paling ahli dalam hal buka membuka hehe" ucap Ubaydillah
"Iihh hayo kak Davi sayang sudah pernah membuka pakain wanita lain ya?! Tuding Lintang lalu cemberut.
" Mmm sembarangan nuduh, maksud kak Davi, buka Usaha, buka pintu, buka laptop dan map hehe," Ubaydillah mengekeh,
" Aaa kak Davi jahil" seru Lintang dan memukul pelan lengan Ubaydillah.
"Ya sudah kak Davi saja yang membantu membukakan pakaian mu" tawar Ubaydillah kini mereka berdiri berhadapan, Lintang mengiyakan, lalu Ubaydillah mulai membuka tiara yang Lintang kenakan sebagai hiasan di kepala nya, lalu hijab bagian luar, lalu hijab bagian dalam, dan tangan nya beralih pada resleting gaun yang Lintang kenakan, ia mulai menurunkan nya dengan perlahan, tatapan nya intens pada wajah Lintang, dan Lintang memejamkan matanya, jantung Ubaydillah mulai berdetak tak beraturan, aliran darah nya terasa menghangat, begitupun dengan Lintang ia merasakan hal yang sama apalagi tangan kekar Ubaydillah kini menekan punggung nya
sembari tangan nya aktif menurunkan resleting gaun Lintang, maka Ubaydillah mendekatkan b*bir nya pada b*bir mungil Lintang yang terlihat segar berwarna cherry sehingga Ubaydillah ingin mencicipinya apakah warna dan rasanya sama, perjalanan resleting sudah hampir tiba pada haltenya, beberapa mili lagi bibir Ubaydillah mendarat bebas pada bibir Lintang, dan resleting pun mentok sudah tak dapat ia tarik lagi, Bibir Ubaydillah pun baru saja menempel pada bibir Lintang, hingga suara ketukan pintu mengejutkan Ubaydillah dan menarik cepat bibir nya.
Tok tok tok.. Non.. Non.. Ketukan pintu dan suara Art nya berpadu.
"Ya sudah, kamu mandi saja dulu, biar kak dav bukakan pintu" ucap Ubaydillah dan ia hanya mengecup kilas dahi Lintang.
"Ii.. Iya kak Dav" ucap Lintang gugup, dan berusaha melepas pakaian nya lalu mandi
Ubaydillah Melangkah menuju pintu kamar , dan ia membuka pintu tersebut, ia lihat Art nya sedang berdiri di depan pintu.
"Iya Mbak ada apa, Lintang nya sedang mandi" sapa Ubaydillah ramah.
"Eh anu, Non dan den Ustadz di tunggu makan malam oleh Tuan dan Nyonya" ucap Art nya.
"Oh begitu, ya sudah nanti kami ke sana ya, setelah Lintang mandi" ucap Ubaydillah
"Baik den Ustadz" ucap si Art dan berlalu.
Kini Ubaydillah duduk bersandar pada kepala dipan dengan kaki nya menjuntai ke lantai, ia sedang menunggu Lintang keluar dari kamar mandi, ia raba bibir nya dengan ibu jari....
"Hehe baru saja menempel belum melekat, rasanya nangung sekali padahal sedikiiit lagi, Paling dua atau tiga detik lagi seperti nya, eh ke jeda iklan lewat, ahhai sabaarr hihi" Ubaydillah cengengesan ia tak sadar Lintang telah keluar dari kamar mandi mengenakan dress mini tosca tanpa lengan dan panjang nya hanya setengah paha, dan Lintang sedang memperhatikan nya.
"Kak Davi kenapa kok senyam senyum sendiri? " tanya Lintang sembari menghampiri nya
"Ah tidak ada apa apa, hanya ada iklan lewat" ucap Ubaydillah dan meraih tangan Lintang lalu ia menarik nya hingga Lintang jatuh di pangkuan nya, "aww astagfirullah" ucap Lintang karena terkejut, dan belumpun Lintang membenarkan posisi duduk nya ia sudah di buat gelagapan karena serangan bibir Ubaydillah yang menyerang Bibir nya lembut namun pasti hingga ia kesulitan bernafas, " mm mm" gumam Lintang lalu ia menarik diri, dan pagutan Ubaydillah pun terlepas begitu saja " haaa.. aaaahhh.. aahh" Lintang ter engah ia mengambil nafas sebanyak banyak nya, mulut Ubaydillah masih menganga seperti saat sedang mengemut lollipop lalu ada yang mencabut nya.
"Hmmmm..." Akhir nya Ubaydillah menghembuskan nafas agar merasa lega.
"Maaf.. Maaf kak Davi sayang, Lilin merasa kehabisan nafas, ya habis kak Davi mulai nya tiba tiba gitu Lilin kan terkejut" ucap Lintang malu dan menunduk.
"Heee.. Kak Davi juga minta maaf ya, tak seharusnya berbuat begitu" ucap nya sama malunya lalu ia mengangkat wajah nya menatap langit langit kamar.
Lalu mereka berpelukan masih dengan Lintang di pangkuan Ubaydillah
"ya Allah.. Alhamdulillah akhir nya ngerasain juga pelukan sama cewek, oohh Ternyata begini ya rasanya pelukan dan ci*m*n, hiii empuk empuk merinding gimana gitu" batin Ubaydillah.
Lintang melepas kan pelukan nya dari Ubaydillah.
"Oh mbak, katanya kita di tunggu om dan tante untuk makan malam" ucapan Ubaydillah.
"Mm..begitu, eh koq om dan tante, Papi dan Mami kak Davi sayang" ucap Lintang
"Eh ia itu maksud nya heee" ucap Ubaydillah
"Ya sudah ayo makan dulu, biar ada tenaga untuk nanti malam naik naik ke puncak Gunung" celoteh Ubaydillah
Lintang tak mengerti apa maksudnya Ubaydillah, dia hanya mengerutkan dahi
"Loh memang nya kak Davi mau hiking malam malam?" tanya Lintang
"Iya sayang" bisik Ubaydillah
"Loh koq, sama siapa?" tanya Lintang kembali, ia masih tak mengerti mengapa suaminya malah akan naik gunung malam malam.
"Sama kamu dong sayang heee" ucap Ubaydillah menyeringai.
"Sama aku...???" gumam Lintang
"Ya sudah ayok makan dulu, papi, mami sudah menunggu dari tadi" ajak Ubaydillah.
Dan mereka pun menuju meja makan dan benar saja orang tua Lintang sudah menanti nya di meja makan, lalu mereka pun makan bersama.
Di kediaman Hasna....
Tepat nya di kamar Hasna, Afnan dan Hasna sedang berbincang masalah Abinya yang kenal dengan papi nya Lintang.
"Oohh jadi perusahaan papi nya Lintang itu sponsor perjalanan Abi dan byby?" tanya Hasna
"Iya sayang, beberapa kali Byby dan Abi mendapat sponsor travel yang sama, hingga kita juga pernah beberapa kali bertemu dan mengobrol dengan papi nya Lintang ketika di luar negeri, dan Akhir nya karena sering jumpa maka, ada sebuah agen travel jakarta antar kota yang didirikan antara kerjasama Abi dan papi nya Lintang, dan seperti nya masih berjalan hingga saat ini, asisten Abi yang mengurus nya" tutur Afnan
"Ya ya ya sekarang Nana mengerti mengapa Abi dan papi nya Lintang saling mengenal" ucap Hasna yang bersandar pada dada Afnan.
Namun saat Hasna sedang berfikir dan masih bersandar pada dada Afnan, koq ada sesuatu yang terasa merayap terasa dingin Seperti benda logam di lehernya sedang di tarik oleh Afnan dan benda itupun akhir nya bertengger di leher nya Hasna meraba nya.
"Kalung By?" tanya Hasna
سنةحلوة
"Sanah Helwah sayang" bisik Afnan "Happy Milad sayang" dan kembali Afnan berbisik khawatir Hasna tidak mengerti pada Ucapan pertama nya, (selamat Ulang tahun)
"Barakallahu Fiiki umrik" : 'semoga Allah memberkahi usiamu' (perempuan \=Ki).
Hasna terkejut karena ia sendiri lupa akan hari lahir nya, lalu ia mengingat ingat tanggal berapa hari ini, dan kalau benar, ber arti masih satu hari lagi fikir nya, namun ia sempat bergumam dan Afnan masih dapat mendengar nya " Wafiika Barakallah": 'semoga Allah juga memberkahi mu' (laki laki \=ka )
"Amiiin" timpal Afnan
"Mmm.... Sebentar ya by Nana ingin lihat wujud kalung nya seperti apa" ucap Hasna, lalu bergeser dari pelukan Afnan dan turun dari tempat tidur menunju kaca bssar yang menempel di dinding
Dan setelah sampai kaca, maka terlihatlah sebuah kalung berlian yang sudah melingkar di lehernya, kalung yang terlihat simple nan cantik dan tidak terlalu mencolok, dan itu betul betul selera Hasna.
"MasyaAllah byy bagus sekali, Nana suka, uuunncchhh cantiikk, Terimakasih byby" pekik nya, dan ia menghampiri Afnan setengah berlari.
"Eh pelan pelan sayang, koq lari lari begitu" ucap Afnan yang sedari tadi bersandar pada kepala dipan sedang asik senyam senyum memperhatikan prilaku istrinya yang bagi nya sangat menggemaskan.
"Hiiii maaf byy, Nana terlalu senang" , ucap Hasna saat sudah duduk di pangkuan Afnan, menghadap Afnan dan mulai mengecupi bagian wajah suaminya, "Terimakasih by, Terimakasih " ucap nya, cup pipi kanan dan kiri, cup dahi, cup kelopak mata kanan dan kiri, cup hidung Afnan.
Dan Afnan membiarkan nya,namun saat kesempatan untuk bertindak lebih jauh itu ada, maka ia pun membuat Hasna hampir tidak dapat bernafas dengan serangan block bibir dadakan hingga berlanjut ke tahap menyusuri sungai kasih sayang, mendaki bukit cinta yang berbaris sempurna dan ber akhir di puncak ken*k*atan surga Dunia.
**********
Selanjut nya terserah para Readers tercintah, 🙉🙉🙈🙈😬😬💪📝🆙
Terimakasih sudah membaca 🙏 😍