Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 68. Jadi Abi


Continued--


Afnan mengecup kening Hasna lama, itu sebagai perasaan Afnan yang tak dapat di ungkapkan.


Lalu, Afnan menarik tubuh Hasna merapat pada tubuhnya, tepatnya berada di atas tubuhnya yang kini bersandar pada susunan bantal sebagai penyangga bahunya, mereka berdua masih di dalam selimut yang sama sebagai penutup aurat mereka.


"Terimakasih sayang."


"sama sama By."


Hasna masih malu-malu, ia membenamkan wajahnya pada dada beton Afnan yang kini polos. Kulit mereka saling menyentuh tanpa ada penghalang.


"Sebagai hadiah untuk sebuah segel. kamu, mau minta apa?"


tanya Afnan


"Tidak ada By! tidak perlu hadiah apapun. Nana ikhlas, dan hadiahnya sudah Nana dapat koq."


"Apa itu, Sayang?" tanya Afnan.


"Hadiah-nya adalah seorang Afnan Al-jaris, dia hadiah terindah dari Allah." jawab Hasna dengan kesungguhan.


"Masya Allah! terimakasih By! sudah mau bersabar dengan kelakuan Nana dan sudah


sangat memanjakan Nana juga." Sambung Hasna kembali.


"Hem, Itu lain Sayang. Setiap hari, kamu berhak atas ku. Aku ingin kamu meminta sesuatu padaku. Sebutkan saja, Sayang! apa yang kamu inginkan?" tanya Afnan kemudian.


"Huum, kalau boleh sih, Nana... Ingin tinggal di rumah terpisah dari rumah utama ini, By! hanya berdua, yaitu Nana dan Byby!


masih di lingkungan Ponpes ini, tidak mengapa. Nana sudah merasa nyaman berada di area Ponpes ini. Namun, Nana ingin rumah yang lebih kecil, tanpa art ataupun pengurus rumah lainnya." tutur Hasna


"Jika... rumah itu sederhana? jauh dari kesan mewah juga, bagaimana?" tanya Afnan.


"Nana mau!" Hasna langsung setuju. "Nana capek dengan kemewahan, By! kalau ada yang sederhana namun, nyaman! kenapa tidak." Hasna tersenyum pada Afnan.


"Baik. Nanti sore, Aku tunggu di area belakang ponpes ini.


Biar Nurmala yang menemani kamu kesana." Ujar Afnan.


"Memangnya, ada apa By? di area belakang ponpes ini?"


tanya Hasna penuh selidik.


"Lihat saja nanti!" jawab Afnan.


"Nanti jika Byby sedang keluar, lalu Nurmala menemui mu.


Kamu ikut sama dia yah, dia yang akan membawa kamu menemui Byby di sana!


Byby akan menunggu mu di sana." jawab Afnan.


"Ia By! nanti Nana ikut Nurmala." balas Hasna.


"Ok! nanti kamu ikut Nurmala, sekarang...ikut Byby melegalisir ulang segel yang baru saja di buka, yuk!"


"Iih Byby, apa sih? Nana kan masih malu! masih sakit juga, sisa buka segel tadi." pekik Hasna.


"Ya makanya legalisir ulang Sayang, agar rasa sakitnya hilang." bujuk Afnan.


Lalu Afnan menjahili Hasna, ia mencoba menaikan adrenalin mereka berdua, awalnya mulai dari kejahilan Afnan. Berbalas kejahilan Hasna kembali untuk kejahilan Afnan. Hingga tahap klitikan klitikan kecil, gigit gigit manja, cubit cubit sayang.


Berlanjut kembali pada getar getar cinta, dawai dawai asmara, denting denting rasa, sampai mereka tidakk tahan untuk menari bersama mencapai puncak kebahagiaan menaiki singgasana pelepasan kepuasan rindu yang menggebu dan diakhiri dengan derai kepuasan batiniah dari keduanya.


Afnan betul betul terjaga staminanya. Ia sanggup melakukannya berkali kali dalam rentang waktu berdekatan, dia sudah dapat mulai kembali. Hingga Hasna yang masih belia saja, yang harusnya hasrat muda masih tinggi tingginya, namun ia menyerah.


Hasna yang dulu pernah mempertanyaan seberapa buasnya Afnan? kini terjawab sudah! beruntung Afnan adalah orang yang dapat menekan sebuah keegoisan, ia lebih memilih menina bobokan Istrinya, agar dapat beristirahat.


Akhirnya mereka terlelap bersama, sampai pada waktunya Ashar tiba. Afnan terbangun Karena rintihan Hasna. Di lihatnya Hasna sedang berpegangan pada sisi dipan berusaha untuk bangkit , ia terlihat bergetar tidak mampu berjalan, matanya terpejam menahan kesakitan.


Namun bukan Hasna namanya kalau ia tidak berusaha terlebih dahulu menguatkan tubuhnya untuk Bangkit.


Afnan melihat itu dan ia sadar, ia baru saja menggauli istrinya yang masih sangat belia betapa tidak usia Hasna belum pun sembilan belas tahun, dan dirinya sudah hampir tiga puluh dua tahun, perbedaan yang amat mencolok, walaupun dari segi fisik nampak serasi dan seimbang namun, tetap Saja Hasna hanyalah anak anak baginya dan ia telah memperdayanya berkali kali siang ini.


"Astagfirullah Sayang! mengapa tidak membangunkan Ku? agar aku membantu mu!" Ujar Afnan dan dirinya setengah berloncat dari kasur.


"Maaf sayang! sakit ya?" tanya Afnan kemudian, sembari ikut meringis.


"Um!" Hasna hanya mengangguk pelan.


'Ya sudah, sini Byby bantu. Maafin Byby sekali lagi, Sayang! sudah egois menyakitimu." ucap lirih Afnan penuh penyesalan.


"Tidak By! jangan mengatakan seperti itu, Nana ikhlas dan bahagia, memberikan hak yang memang sudah sepantasnya Byby terima." ucap Hasna yang kini berada di gendongan Afnan menuju kamar mandi.


"Kalau begitu, kamu berendam air hangat dulu yah. Byby beri wewangian therapi."


"Ia By, terima kasih." Hasna tersenyum pada Afnan.


"Ya By!" Lalu Afnan mandi janabah di tempat mandi biasa berbilas air shower. Setelah mandi, ia segera berpakaian.


Tak lupa Afnan, membersihkan tempat tidur yang berantakan akibat perduelan si sabuk coklat dan si sabuk hitam.


Ketika Afnan membuka seprei, pandangan Afnan tertuju pada bercak noktah merah sebagai bukti dari kesucian Hasna. Ia tersenyum bangga, bahagia dan rasa syukur yang tidak henti hentinya.


Afnan tidak salah dalam memilih Istri. Seorang perempuan yang nakal, nyeleneh dan terlihat gahar di luar, namun ia wanita yang mampu menjaga kesuciannya.


Betapa banyak remaja di masa kini yang terlihat polos di luar namun, dol di dalam.Akan tetapi, tidak dengan Hasna. Ia nampak dol di luar namun, polos di dalam.


"Abi terimakasih! Abi sudah percaya pada Afnan, saat Afnan memohon untuk mengkhitbah Hasna. Lihat Bi, menantumu masih suci." Afnan bicara sendiri.


Setelah semua selsai, seprei telah di ganti dengan yang bersih, lalu ia hendak beranjak ke dapur menyiapkan makanan untuk Hasna, sebelumnya ia pamit kepada Hasna.


"Sayang!"


"Ia By?"


"Byby turun sebentar, tidak mengapa kan? jika Byby tinggal?" tanya Afnan dengan hanya menyembulkan kepalanya di pintu.


"Ia By! tidak apa apa," jawab Hasna.


"kalau mau udahan, tunggu Byby dulu, Sayang! jangan bangun sendiri,. kamar mandi licin, kamu jalannya masih risih dan gemetaran."


"Baik By!!"


"Ok! Byby turun!"


Lalu Afnan turun dari lantai dua menuju dapur, ia melewati Ubaydillah yang sedang bermain PS.


"Assalamu'alaikum, sob." sapa Afnan.


"Wa'alaikum Salam,Bro!" balas Ubaydillah.


Hari ini Ubaydillah memang libur, sudah terbiasa seperti itu jika libur dari pekerjaannya. Ia akan menjelma menjadi anak usia belasan, Ba'ada jum'atan ruangan itu akan di kuasa olehnya untuk bermain game PlayStation.


Dari kecil, Abi dan Umi terbiasa memanjamjakan Ubaydillah, dan Afnan tidak merasa keberatan, toh Ubaydillah saudaranya, adik laki lakinya, walaupun tidak ada pertalian darah di antara merekanamun, itu bukan penghalang untuk Afnan menyayangi Ubaydillah.


Ubaydillah juga bukanlah anak yang besar kepala, ia anak yang sopan dan rendah hati. Pak Kyai tetap menyamakan dirinya dengan Afnan dari segala hal, termasuk hukuman ketika ia berbuat kesalahan.


Afnan mengambil hari libur dari bisnis-bisnisnya itu hari jum'at. Sabtu dan Ahad adalah baktinya kepada pesantren, Afnan akan sibuk mengajar ketika hari Sabtu dan Ahad.


Berbagai macam kegiatan, ia akan melatih para santri, dari mulai belajar bela diri, panahan, kegiatan di aula hingga bercocok tanam. Afnan akan melepas atribut pebisnisnya pada dua hari tersebut.


Ubaydillah yang baru melihat saudaranya sejak dari kemarin sore di arena tracking. Lalu ia menghampirinya, Ubaydillah melihat rambut Afnan basah.


Lalu muncul ide untuk menggodanya.


"Ahim...perasaan gak hujan deh! tapi kok mamase bro klimis gitu?" Ubaydillah mengekeh.


"Hem, apaan sih! nih anak, baru ketemu malah ngledek. Bukannya cun tangan nih biar berkah." balas Afnan sembari menyikut pelan pinggang Ubaydillah.


"Asik... sebentar lagi mamase bro Jadi Abi nih." Ubaydillah makin gencar menggoda Afnan.


"Haits, anak kecil tau apa? hush hush. Sana-sana!" usir Afnan dengan tertawa.


"Hadeeh, mulai bucin!" Ubaydillah berlalu sambil masih cekikan.


Afnan melanjutkan kegiatannya menyiapkan, jus, susu, salad buah dan tidak lupa nasi serta lauk pauknya untuk Hasna.


Setelah selsai ia membawanya ke kamar. Saat melewati Ubaydillah, ia bertanya


"Abi sama umi kemana, Dek?"


"Ke kampung sebelah, jenguk yang sakit." jawab Ubaydillah.


"Oh, pantas sepi. Nah itu, main sendirian saja, santri santri


sekomunitas dengan Anta kemana?" tanya Afnan lagi.


"Pada pulang kampung, noh si bule Singapore juga Ikut ikutan mudik, Ana merana tak ada lawan!" Ubaydillah pura-pura sedih dengan memajukan bibirnya.


"Gak perlu pura-pura bikin muka jelek, yang ada tambah ganteng!" Afnan tertawa.


Memang biasa rumah itu akan ramai dengan beberapa santri putra, menemani Ubaydillah main game. Santri di pesantren tersebut juga, banyak yang berasal dari luar negri.


"Baiklah, Ana ke atas."


"Ok, A'a bro!"


Sesampainya di kamar, Afnan membantu Hasna, memakai pakaian dan menemani ia berwudhu, lalu mereka pun sholat Ashar berjamaah, ini pertama kalinya mereka sholat berjamaah.


Bersambung.