Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 52. Si Gemezz Nackal


"Hubbyy stop! jangan ngintip!" seru Hasna ketika ia melihat Afnan bergerak.


"Siapa yang mau ngintip, aduh ini gatal juga," batin Afnan.


"Sedikit saja sayang, sedikit! masa sih sama suaminya pelit. Boleh yah, sepotong pandang deh!" Afnan malah menggoda Hasna.


"Iiikh... gak boleh! dasar suami mesum! tetap pada posisi itu," ucap Hasna lebih terdengar seperti peringatan.


"Eum hehe... suami mesum?! hmffff, kata-kata dari mana tuh? ada ya suami mesum sama Istri? hihi," gumam batin Afnan.


Namun, pada akhirnya Afnan memilih menyerah. Ia diam dengan posisi seperti tadi, gatal pun ia tahan sampai merem melek menahan gatal pada kakinya.


"Sudah By... boleh melihat ke sini," ujar Hasna.


"Haaamm." terdengar kelegaan dari Afnan, kini ia dapat menggaruk kakinya yang gatal.


Setelah menggaruk kakinya yang gatal, Afnan pun membalikkan tubuhnya menghadap Hasna.


"Astaghfirullah, paha!" pekik Afnan setengah berlonjak kerena terkejut dengan pemandangan indah di hadapan. "Oooppss..."


Afnan sontak mendekap mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ketika Afnan berbalik ia terkejut melihat ke arah Hasna.


"Ikh kenapa sih By, lihat paha saja sudah mau pingsan! bagaimana kalau lihat yang lain- lainnya," Celoteh Hasna sembarang.


"Memang boleh yah lihat yang lain-lainnya?" goda Afnan sambil memiringkan tubuhnya, memindai Hasna dari atas sampai bawah.


"Eh, enggaaaakkk!!!" pekik Hasna sembari menyilangkan tangan menutupi dada nya.


"Lagi Byby siiihh, kasih baju nya yang bawahnya pendek begini, memangnya tidak ada yang lebih panjang dari baju ini, By?


pasti Byby sengaja ya?" tanya Hasna dengan yakin nya.


"Tidak sayang! memang hanya itu baju yang paling besar. Sudah mari bobo lagi," jawab Afnan.


"Mari By!" Hasna berjalan nyelonong begitu saja.


"Loh sayang, sini Aku gendong lagi."


"Ikh Byby ngarep! enggak mau, nanti Byby macam-macam!"


"Hadduhh nih anak bener bener bunglon. Bisa begitu manis, tapi bisa berubah mendadak pahit, Hiihiii .... sabar ya Afnan Al-jaris. Ingat usianya memang masih labil, nanti pada saat nya tiba ia tidak akan lepas dari pelukan, masa sih gak akan berhasil ku pelet dengan ramuan doa, Insya Allah! Aamiin." Gumam Afnan.


"By... ayok!! Koq malah bengong. Katanya mau bobo, kalau Byby bengong di situ, lalu siapa yang akan memeluk Nana ketika bobo? masa kak Ubay sih!" Ucap Hasna di ambang pintu.


"Eh ia ayok, sembarangan Ubay yang peluk." Gerutu Afnan sambil berjalan mengejar Hasna.


Hasna sudah berada di Atas kasur, "Byy! sini deh," pinta Hasna dengan gaya manjanya. Afnan menghampiri Hasna tanpa curiga. Lalu ia naik dan ikut duduk di tempat tidur.


"Iya sayang!" ucap Afnan.


"Byy..." ucap Hasna makin memanjakan nada suaranya, sambil menusuk nusuk pelan lengan Afnan dengan telunjuknya.


"Iya sayang! Byby di sini, katakan saja jangan malu-malu, hendak bicara apa?" tanya lembut Afnan memandang wajah Hasna dengan seksama.


"Nana lapar, hiiii!" seringai Hasna.


"Hufff, Astagfirullah!" seru afnan frustasi. "Di fikir, mau ajak bobo sambil pelukan. Gak taunya mau bilang lapar!" protes halus Afnan.


"Uumm Byby marah ya? Koq begitu bicaranya?"


"Enggak sayang, gak marah koq! nih senyum xhiiiiiiii." Afnan menarik ke dua sudut bibirnya dengan ibu jari dan telunjuk nya.


"Ya sudah! tapi Nana lapaar!" rajuk Hasna sambil memajukan bibirnya. "Lalu solusinya bagaimana?"


"Solusinya... ya makan dong sayang. Sebentar yah, lihat di kulkas ada bahan makanan atau tidak! kamu tetap di sini, jangan keluar! Kak Ubay tidur di depan Televisi soalnya, jangan sampai dia lihat itu mu." Tunjuk Afnan pada paha Hasna yang terpampang nyata.


"Baik Byby sayang!"


Ucap Hasna tersenyum pada Afnan. Senyuman yang bikin perasaan Afnan lumer.


"Mmm... membuat roti panggang saja," gumam Afnan.


Sepuluh menit, kemudian Afnan membawa roti panggang beserta teh manis hangat ke kamar.


"Sayang nih makanan nya, tetapi hanya ada roti tawar saja."


Yang di ajak bicara tidak merespon, lalu Afnan meletakan nampan yang ia bawa di meja samping tempat tidur.


Ia berputar ke arah tempat tidur yang berlawanan arah dari tempat ia berdiri tadi, Karena Hasna berbaring miring ke arah sebaliknya itu.


"Eemm tidur! Hehe,Naa... Nana, Puas ya kamu ngerjain Aku! Mmmm... dasar si gemesin"


Gumam Afnan, lalu ia menyelimuti tubuh Hasna.


Tidak lama terdengar suara Adzan subuh berkumandang.


"Masya Allah... sudah Subuh, Alhamdulillah ya Allah masih kau pertemukan Hamba pada subuh-Mu hari ini Ya Rabb." ucap syukur Afnan.


Lalu Afnan bergegas, untuk


mengambil air wudhu dan setelah selsai, ia membangunkan Ubaydillah.


"Sob... Sob... Hei udah adzan subuh, bangun! ayok kita sholat berjamaah," pinta Afnan.


"Heemm, "gumam Ubaydillah, masih mengantuk, "Tunggu sebentar bro! Ana ambil wudhu dulu," Ubaydillah berjalan sempoyongan. Tidak lama ia kembali dengan wajah yang lebih segar Karena air wudhu.


"Ayok atur shafnya." Afnan bersiap pada posisi mengimami.


"Bismillah... Ussalli fardhzo subhi roka'tainni mustaq billal qiblati Imaman lillahi ta'ala, Allah hu akhbar!"


Setelah selsai sholat, Afnan pamit pada Ubaydillah untuk tidur. "Sob ke kamar dulu ya, Ana belum memejamkan mata, sama sekali sebentar pun."


"Masya Allah! di fikir baru bangun dan tidurnya pulas."


"Hhhaaa boro -boro! Ana Di kerjain si gemesin Nana semalam-malaman."


"Hehe... Ustadz bro! takluk nya Sama si gemezzz nackal, ahahaha."


"Sstt... berisik ah, nanti doi kebangun, bisa berabe sama kelakuannya, mana Ana belum tidur!"


"Hihi...ok, ok... selamat di kerjain si gemezzz nackal Ustadz, Hehe"


"Ah bisa saja Anta, Sob."Mereka berdua terkekeh serempak.


"Ya sudah! tolong urus mobil Nana, yang berada di sekolah, lalu bawa pulang ke sini saja. Sama izinkan Nana gak masuk hari ini, kasian biar dia istirahat dulu." pinta Afnan. "Sama minta delivery makanan dari resto, takutnya nanti Nana bangun lapar dan cari makanan."


"Okke boss Ustadz, laksanakan!" seru Ubaydillah.


"Hehe terima kasih," ucap Afnan sembari menepuk pundak Ubaydillah lalu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Afnan melihat Hasna belum pindah posisi. Setelah Afnan membuka baju koko dan kain sarungnya, kini ia mengenakan t-shirt dan celana pendek. karena kantuknya sudah tidak dapat ia tahan, maka ia pun menaiki tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping Hasna yang saat ini membelakanginya. Lalu Afnan masuk ke dalam selimut yang Hasna kenakan dan kini ia tertidur memeluk Hasna dari belakang hingga tak berapa lama ia pun ikut terlelap.


**********.


Hoooaammmzzz!!!


Author juga Ikut bobo dulu. Bye Readers gemez kesayangan... yang sudah melek ayolah


Vote


Like


And komen


yass! 🙏🙏😇😇